
AXEL POV
“Oh ya kekasihnya yang kamu pernah cerita itu ya. Bukannya mereka bertengkar? Kamu bilang, waktu itu Aldi nangis ngejar cewek itu.”
“Iya, tapi Axel aku sepertinya mengingat kata-kata Reyes sebelum pergi tadi.”
“Apa?” tanyaku. Nampaknya dia mulai mengingatnya.
“Dia minta aku untuk memberikan salamnya pada Mas Aldi. Aku baru ingat setelah Mas Aldi menelepon tadi. “
“Kamu yakin dia Reyes bilang begitu?” tanyaku malah tak yakin. Kenapa Reyes menitipkan salamnya pada Aldi. Anehnya, kenapa tak mengatakannya dengan terang-terangan pada Lolita. Kenapa harus membisikkannya segala.
“Iyah aku yakin. Dia juga bilang salam untuk Zia, pacarnya Mas Aldi. Ehhh aku jadi tahu apa arti pacar loh.”
“T-tunggu Zia?” tanyaku cukup kaget mendengar nama itu lagi.
“Iya, namanya Zia. Dia cantik sekali dan baik. Aku yakin Mas Aldi berubah karenanya.” Kata Lolita dan aku pun menghela nafasku pelan.
Pantas saja Reyes bisa sepatah itu, tapi mungkin apa yang Papa katakan tadi siang benar. Masih banyak ikan di laut. Mungkin mereka bukan jodoh dan sudah waktunya Reyes melupakan Zia untuk memulai hidupnya yang baru. Setidaknya Reyes sudah bertemu dengannya dan memastikan kalau wanita itu sudah memaafkannya. Bukankah itu lebih baik dari rasa bersalah yang terus menghantuinya.
“Axel, kok malah gantian kamu yang bengong. Kamu lagi nyetir ih!! Loli gak mau kenapa-kenapa ya,” ucap istriku membuatku terkekeh.
“Siap sayang,” kataku tersenyum sekilas ke arahnya. Kalau pepatah ikan di lautan masih banyak berlaku untuk kehidupan Reyes.
“Jadi sekarang Axel gak penasaran lagi kan apa yang Reyes bisikkin ke Loli?”
“Iyahh udah gak lagi kok. Maaf ya kalau aku terlalu pencemburu,” ucapku pada Lolita dan aku lihat Lolita malah tersenyum-senyum seolah meledekku.
“Loli senang kok kalau Axel cemburu. Kan Axel pernah bilang, cemburu itu tanda cinta. Kalau begitu Axel cinta sama Loli.”
Aku terkekeh mendengarnya dan mengacak rambutnya. “Dasar istriku ini.”
“Tapi Axel karena Loli udah kasih tahu apa yang Reyes bisikkin, bukannya Loli harus dihukum?”
Aku melirik ke arahnya tak percaya dengan pertanyaan itu lagi. “Kamu benar-benar nakal ya. Tadi apa kata Dokter?”
“Iya-iya,” Loli mencebikkan bibirnya nampak sedih, tapi aku jutru sangat tak percaya dia akan mengatakan tentang hukuman itu berulang kali. Mungkin benar apa yang Dokter Alika katakan. Hormone ibu hamil terkadang menyeramkan.
“Tapi sesekali boleh kan?” tanyanya lagi membuatku menghela nafas panjang.
“Iyah, Sayang. Sesekali boleh, tapi gak sekarang. Mungkin besok, besok, besok, besokkkkkkkkknya lagi.”
“Ihhh Axel jahat! Loli kan mau dihukum!”
………………………………………………………………………………………
Lolita benar-benar merengek tiada henti. Aku pun tak ada pilihan lain selain mewujudkan kemauannya dan saat ini dia tidur terlelap dengan dengkuran halus yang tak pernah aku dengar sebelumnya. Benar-benar hebat! Dia mulai bisa mendengkur seperti itu. Bukankah tandanya, dia kelelahan.
Aku mengusap perutnya yang belum terlihat begitu besar, tapi sudah memberikan ribuan kebahagiaan untuk Lolita dan lebih khususnya aku yang sejak pertama kali tidak bisa membayangkan bagaimana bisa menikahi wanita seperti Lolita. Dia sungguh wanita yang hebat yang tak akan pernah bisa aku samakan dengan wanita lain. Tuhan sangat berbaik hati padaku hingga mengirimkan wanita lembut dan cantik sepertinya.
"Baby, i'm really falling in love with you,"bisikku di telinga Lolita yang tertidur.
Aku pun menarik selimut menutupi tubuhnya yang tak menggunakan kain sehelai pun dan sedikit tertawa mengingat kejadian beberapa jam yang lalu ketika Lolita keluar dari kamar mandi. Mama memberikan kado lingerie yang jelas-jelas Lolita tidak mengerti apa fungsinya. Dia hanya tahu Mama memberikan intruksi untuk memakainya setelah mandi malam ini. Alhasil yang awalnya Lolita merengek tentang hukuman. Akhirnya aku pura-pura menyalahkan Lolita yang tidak sabar dengan hukuman itu. Padahal, aku pun tidak bisa lagi menahan untuk tidak melakukannya. Lolita..., dia semakin menawan ketika hamil dan aku tidak lagi bisa menahannya.
Sekali lagi aku menatap wajah Lolita dan tersenyum. Tak lupa memberikan kecupan di kening, mata, hidung, pipi dan juga bibirnya. Membisikkan kata-kata manis karena dia sudah berusaha terus menjadi yang terbaik untuk dirinya dan diriku.
From: MAMA
Kalau ada apa-apa langsung hubungi Mama ya. Bi Tikah juga kasih nomer Mama yang baru. Dia kan yang standby selalu jagain Lolita.
Aku pun tersenyum membacanya dan membalasnya dengan singkat. Lalu lanjut sebuah pesan dari Damar dan Irene.
From: DAMAR
Kami sedang menuju bandara. Aku senang mendengar Lolita hamil dan tentu saja siapa yang ingin mengatakannya juga pada si nenek sihir itu. Aku juga akan merahasiakannya karena bahaya sekali jika dia tahu. Aku baru tahu kalau dia menyeramkan. Kau pikir saja! Dia menendang pantatku dengan high heels-nya. Dia benar-benar gila! Aku tidak mau melakukan perjalanan bisnis dengannya lagi.
Aku hanya mampu terkekeh membacanya seraya menggelengkan kepala. Mungkin akan seru jika Damar dan Irene bersatu. Damar yang sering bermain wanita dan Irene si wanita posesif. Apa jadinya jika mereka disatukan di dalam sebuah pernikahan.
From: Irene
Ini terakhir kalinya aku bertemu dengan laki-laki sialan itu. Dia tak pantas menjadi tangan kananmu. Dia ********! Dan ini terakhir kalinya aku kerja sama denganku. Aku sudah tidak punya toleransi lagi karena kau seenaknya pulang tanpa sepengetahuanku.
Membaca kata-kata “laki-laki sialan itu” membuatku merinding membayangkan Damar berdua dengannya. Pasti menyulitkan sekali untuk menjadi satu pikiran dengan wanita ini.
TRING!!! TRING!! Tak lama Hp-ku berdering. Aku lihat nama Damar berada di layar Hp-ku. Aku pun segera mengangkatnya dan…,
“Sial!! Gue gak akan pernah mau ketemu dia lagi!” teriak Damar membuatku harus menjauhkan Hp-ku dari telinga dan aku melirik ke arah Lolita yang nampak bergerak gelisah.
Aku pun menarik selimut sebatas lehernya dan turun dari ranjang mengambil boxerku yang tergeletak di atas lantai.
“Kau berisik sekali! Lolita sedang istirahat. Dia sangat kelelahan hari ini,” kataku dan suara di ujung sana nampak menghela nafas panjangnya.
“Kau tahu? Kami melewati malam yang panjang kemarin di kamar pesanan kita. Dia mabuk berat begitu tahu kau pulang tanpa izin padanya. Aku pun terpaksa menemaninya mabuk dan mendengarkan curhatannya. Kami tidak ingat apa-apa lagi setelah sama-sama mabuk.”
“Lalu?”
“Kau pikir saja? Apa yang terjadi. Aku saja benar-benar tak mengingatnya tapi pagi itu dia berteriak seakan aku penjahatnya. Dia menendang pantatku dengan sepatunya yang tajam itu.”
Aku pun memijat keningku perlahan. “Jadi, kau bermalam dengannya?”
“Ya semua berlalu begitu saja. Tidak ada yang tahu bagaimana asal mulanya.”
“Aku akan meminta maaf padanya,” kataku.
“Ya!!!!!” teriak Damar. “Untuk apa meminta maaf? Memangnya aku yang salah? Aku tidak melakukan apa-apa!” marah Damar dan aku pun bingung entah harus bagaimana karena bukan hanya kerja sama kami saja yang rusak, tapi pertemanan kami pun pasti akan rusak.
“Ahh lupakan saja. Dia juga sudah berjanji tidak akan menghentikan proyek ini. Dia bilang, proyek ini sama berharganya untuknya. Jadi kau tak perlu meminta maaf apapun padanya. Kau berhak menemui Lolita di waktu terpuruknya.”
“Terima kasih, kau memang yang terbaik.”
“Ya, tapi jangan lupa gajiku naik tiga kali lipat.”
“Kau gila!!” teriakku dan sambungan teleponnya tiba-tiba mati membuatku kesal, tapi aku ingat Lolita masih tertidur. Aku pasti sudah mengganggunya.