My Idiot Wife

My Idiot Wife
EXTRA PART [Axel-Lolita]



JANGAN BINGUNG SAMA ALURNYA. EXTRA PART INI MEMANG BUKAN CERITA SETELAH EPILOG YA! INI MEMANG HARUSNYA ADA SEBELUM EPILOG/ SEBELUM END. TAPI KARENA DARI AWAL AKU BUAT CERITANYA SEPERTI ITU. JADI TIDAK AKAN AKU MASUKKAN SEBELUM EPILOG MELAINKAN JADI EXTRA PART MEREKA^^ ENJOY!!


Extra part ini bersifat random ya, tidak ikut dengan part2 sebelum epilog. Jadi memang acak saja alurnya.


Axel POV


Dia bilang film yang membuatnya dewasa? Memang film apa? Aku hanya bisa terkekeh pelan mengingat pertanyaan Loli tadi. Memang benar kata Damar, sepertinya kali ini aku yang terlihat semakin bodoh di hadapannya. Lucunya, mungkin dulu Lolita tidak banyak bergaul dengan dunia luar. Aku tahu dari Aldi dan Bi Tikah kalau dia selalu mengurung dirinya di kamar. Dia hanya keluar untuk belajar ketika guru privatnya datang.


Setelah itu dia tidak punya memiliki teman untuk berbincang. Ayahnya ataupun Aldi sibuk dengan bisnis. Sedangkan Bi Tikah hanya sesekali bisa mengajak Lolita bicara karena dia sendiri yang menutup diri. Sehingga rasanya wajar ada banyak pertanyaan yang selalu dia ajukan padaku. Hal-hal yang bahkan anak kecil tahu, tapi dia tidak sama sekali mengerti.


Bi Tikah benar, Loli tidak salah pada hidupnya. Dia berhak bahagia, mendapatkan kehidupan yang layak. Teman, suami, anak, cinta dan juga kebahagiaan. Dia berhak mendapatkan apa yang orang lain juga dapat.


“Axel, apakah tidak terlalu berlebihan?” tanya Lolita mematut dirinya di depan cermin karena aku baru saja memanggil seseorang yang bisa mendadaninya.


Kami akan hadir reuni SMA di sebuah hotel. Sudah jelas, kalau kami tidak bisa menjadi yang biasa saja. Aku ingin menjadi yang luar biasa, menunjukkan ke semua orang bahwa istriku sangat cantik.


“Tidak, Sayang. Kau selalu terlihat cantik,” pujiku menyingkirkan rambutnya ke belakang punggungnya dan mengecup lehernya sejenak.


Ah tidak! Aku tidak boleh melakukannya lagi. Cukup sudah!


“Loli jadi kaya mau menikah lagi, hi, hi, hi,” dia terkikik sendiri menyentuh bibirnya sendiri. Sepertinya mengingat moment kami saat menikah.


“Kau benar, aku juga terlihat seperti mempelai pria,” kataku berdiri di sampingnya dengan tangan di dalam saku. Lalu baru menyadari bahwa rambutku masih cukup berantakan. Aku pun mengambil pomadeku di atas meja rias lalu mulai merapikannya dan tersenyum puas saat Lolita memandangiku dengan terpesona.


Aku tahu matanya memberikan makna bahwa suaminya sangat tampan. Ini bukan pertama kalinya dia menatapku seperti itu, tapi entah kenapa kali ini aku merasa seperti dilucuti olehnya. Aku pun memangut bibirnya sejenak karena merasa istriku terlalu cantik untuk diajak keluar. Aku takut mereka justru menyukaiku istri cantikku ini.


“Tutup mulutmu, Sayang. Aku tahu, aku tampan,” bisikku di telinganya dan Lolita nampak salah tingkah.


Dia terlalu mengagumiku hingga bibirnya sedikit terbuka. Lucu. Tiada habisnya dia selalu mengagumiku. Seharusnya aku tidak perlu cemburu dengan Chef Valdi. Loli benar, dia tidak pernah bohong bahwa dia tidak mungkin berpaling dariku. Dia bilang, aku lebih tampan dari Chef Valdi dan itu sudah cukup membuatku yakin bahwa Lolita tidak akan berpaling dariku.


“Habis Axel tampan sih! Nanti kalau bayi kita laki-laki apakah akan setampan ayahnya.”


Aku yang mendengarnya gemas sendiri. Namun sebelum menjawabnya, aku langsung mengangkatnya ala bridal. Lolita pun melingkarkan tangannya di leherku kuat.


“Kalau bukan mirip ayahnya, memang mirip siapa lagi?” tanyaku dan Lolita nampak mulai berpikir. Well, dia mulai lagi.


“Tapi bukannya yang membuat bayi ini kita berdua? Tidak adil jika hanya mirip Axel,” protesnya dan aku akui, dia terkadang cerdas di hal-hal yang begitu intim untuk dibicarakan.


“Kalau begitu kita akan membuat bayi perempuan yang mirip denganmu,” ucapku seraya pelan-pelan menuruni tangga supaya tidak jatuh karena saat ini aku sedang menggendong dua nyawa.


Begitu sampai di bawah, Lolita merapikan bajunya sejenak seraya menggerutu. “Axel aja enggak mau ngehukum Loli, enggak mungkin kita bisa buat bayi lain kalau Axel enggak hokum Loli!” gerutunya membuat terkekeh mendengarnya dan melihatnya yang mencemberutkan bibir.


Aku mengelus pelan kepalanya dan mengecupnya. “Nanti, Sayang. Kita buat satu-satu dulu. Tidak mungkin bisa dua. Lagipula, kita belum tahu jenis kelamin anak kita yang pertama ini cewek atau cowok. Bulan depan, kita baru bisa memeriksakannya.”


Loli mengangguk pelan dan menempel di lengan kananku. “Loli sudah tidak sabar!” katanya.


Aku mengangguk setuju. Aku juga tidak sabar ingin tahu apakah bayi kami laki-laki atau perempuan.


“Bi Tikah! Loli sama Axel pergi ya!” teriak Loli begitu kami akan keluar dari rumah.


Kami pun masuk ke dalam mobil ketika Bi Tikah baru saja muncul dengan kemoceng di tangannya. “Non Loli, Den Axel, hati-hati ya di jalan!” kata Bi Tikah melambaikan tangannya dan Loli ikut melakukan apa yang Bi Tikah lakukan.


Sebelum aku mengeluarkan mobil, aku lihat Pak Jani di depan sudah siap membuka gerbang. Lalu, mobilku pun keluar perlahan dari pelataran rumah menuju jalan raya besar.


“Nanti kita pulang jam berapa?” tanya Lolita membuatku terkekeh pelan. Bahkan kami belum sampai di tempat tapi dia sudah menanyakan pulang.


“Bagaimana jika kita menginap saja di hotel, Sayang? Kau suka berendam bukan? Aku akan memesan layanan yang terbaik untukmu.”


“Benarkah?” tanya Lolita dan aku mengangguk pelan.


Lolita nampak kesenangan. Dia bertepuk tangan dan aku bayangkan jika kami di kamar, mungkin dia akan loncat-loncat di atas ranjang.


“Loli juga mau dipijat ya! Badan Loli sedikit pegal karena Axel tadi,” ucapnya di akhir katanya menyalahkanku yang sudah menghukumnya beberapa jam yang lalu.


Benar-benar dia bisa mengkambinghitamkan apa yang aku lakukan padanya dan mengambil keuntungan lain, tapi lucunya dia mengulum senyumannya dan mengedipkan matanya seolah memohon padaku.


“Iya, iya, tapi kalau begitu aku tidak akan menghukummu lagi sampai anak kita benar-benar lahir.”


“Axel!” teriak Lolita membuat telingaku sakit.


“Axel jahat!!” katanya memukul lenganku hingga menimbulkan tawa di bibirku.


“Kamu sendiri yang bilang tubuhmu pegal karenaku? Yasudah kalau begitu kan aku tidak perlu melakukannya lagi,” kataku dan tiba-tiba wajah Lolita berubah sedih.


Dia pun membuang pandangannya ke arah luar “Kalau begitu, Loli tidak usah dipijat saja, daripada tidak Axel hukum lagi,” ucapnya sangat lirih nyaris tak terdengar, tapi aku rasanya hanya bisa menggelengkan kepala dan terkekeh dalam hati.


Lolita sangat lucu. Dia selalu semangat ketika aku bilang akan menghukumnya. Dasar nakal!


“Benar nih, kamu tidak mau?” tanyaku pura-pura menawarkannya. “Aku juga akan minta pelayanan pijat loh di hotel. Kamu tidak mau sekalian.”


Lolita menolehkan kepalanya ke arahku. Dia menggigit bibirnya sendiri. “Loli…” lalu dia mereemass tangannya sendiri. “Hmm, apa Loli boleh? Tapi Axel tetap akan menghukum Loli kan?” tanyanya dengan ragu.


Sekarang rasanya mudah membuat Lolita merasa terancam. Aku bilang tidak akan menghukumnya, dia pasti akan segera luluh.


“Kita lihat saja nanti,” kataku masih fokus dengan kemudiku. Lolita pun semakin mencemberutkan bibirnya membuatku ingin tertawa saja.


“Axel, boleh ya,” katanya lagi masih membujukku.


Aku hanya mengangkat bahuku sebagai jawaban sehingga menimbulkan napas berat yang keluar dari bibirnya. Loli mengelus pelan perutnya sendiri dan bicara pada bayi kami.


“Kalau nanti tidak bisa buat bayi lagi, berarti kamu anak satu-satunya, Dek,” katanya membuatku langsung meledak tertawa geli.


Lolita terlalu polos. Andai dia tahu bagaimana aku tidak bisa membayangkan kalau kami tidak bisa melakukan hal intim lagi. Dia kira, hanya dia yang tersiksa? Justru aku yang akan sangat tersiksa.


“Axel kenapa ketawa?! Memangya lucu?! Loli enggak suka dengan Axel! Loli kesal!” teriaknya. Aku kembali tertawa geli dan mengusap pelan kepalanya.


“Aku hanya bercanda, Sayang. Jangan dibawa serius.”


Wajah Lolita memerah, cenderung merona. Dia pun menyandarkan kepalanya di lenganku yang dia peluk.


“Axel sih, bilangnya begitu. Loli kan enggak mau Axel berhenti ngehukum Loli. Loli senang kok kalau Axel menghukum Loli, benar deh! Loli enggak bohong!” katanya dengan ke dua jarinya yang dia angkat membentuk angka dua.


“Iya, iya, aku tahu, tapi sudah ah jangan dibicarakan terus. Nanti aku malah ingin gimana?”


“Ya, enggak gimana-gimana. Loli juga ingin terus kok!” katanya dengan senyum yang sangat lebar. Benar-benar lebar dan polos.


Aku hanya mampu mengehela napasku pelan. Dia ingin terus?! Jika Damar mendengarnya, Loli bisa diberikan julukan ‘Loli nakal’.


***


 


Axel memintaku untuk tak pernah jauh dengannya. Dia ingin tanganku berada di lengannya. Sebelum kami benar-benar masuk ke dalam hotel. Axel membisikkan sesuatu padaku.


“Kau sangat cantik, Sayang. Kau harus tahu itu. Jangan pernah menerima tawaran dansa dari siapapun. Kau hanya akan berdansa denganku.”


“Dansa?” tanyaku. Aku pernah ayah ajarkan dansa, tapi itu sudah lama sekali. Ayah menyukai dansa dan hamper setiap hari libur, aku mendengar alunan lagu lembut danmelihat ayah bergerak ke sana ke mari di ruang kerjanya.


“Iyah, kau bisa berdansa? Kau ingat sekolah kita dulu ada kursus berdansa. Hanya orang-orang terpilih yang bisa bergabung. Sayang, aku tidak berbakat,” kekehnya, sementara aku sama sekali tidak pernah mengingat hal itu.


Bagi Axel, masa SMA adalah kenangan, tapi bagiku masa SMA adalah masa yang kelam.


“Kau siap?” tanyanya ketika kami berjalan perlahan ke dalam sebuah ruangan mewah yang penuh oleh banyak orang dan tentunya penuh suara mereka yang asyik berbincang bahkan tertawa.


Lalu kudengar suara ramai yang tadi memenuhi telingaku seketika berhenti. Mendadak mereka yang tengah sibuk berbincang menolehkan kepala ke arah kami. Aku pun merapatkan tubuhku mendekat Axel.


“Axel, ada apa?” bisikku seraya menggigit bibirku sendiri.


“Axel!” teriak seseorang dari kejauhan dan suara seperti orang kagum menjadi penyambut kedatangan kami. Mereka bertepuk tangan ketika Axel melambaikan tangannya ke atas sebagai tanda sapaan.


“Tersenyumlah, ini bukan hal yang buruk bukan?” bisik Axel lalu mendaratkan ciumannya di pipiku yang entah kenapa aku merasa lega sekali.


“Axel! Bagaimana kabarmu! Tidak kusangka kau pamerkan kemesraanmu itu,” ucap seseorang yang aku tidak tahu siapa. Axel melepas genggaman tanganku pada lengannya dan memeluk pria dengan rambut pelontos itu.


“Kiko, rambutmu kemana?” ledek Axel dan pria itu memukul bahu Axel. Mereka terlihat sangat akrab, begitu pula dengan orang-orang yang kini menyalami Axel bergantian.


“Kau tetap menyebalkan. Oh ya, Lolita, maaf aku tidak bisa datang ke pernikahan kalian,” kata Kiko menyalamiku dan aku berusaha untuk tersenyum.


“Kedatangan kalian sepertinya sangat dinantikan,” katanya dan aku tiba-tiba mengingat kalau pria ini nampaknya pernah merendahkanku saat masih sekolah, tapi ah sudahlah, aku harus bisa melupakan masa lalu. Biarkan semuanya menjadi kenangan buruk.


“Lolita,” seseorang memanggilku.


Aku pun menolehkan kepalaku ke sumber suara. Aku masih ingat betul siapa wanita ini. Ya, dia Rena. Mantan kekasih Axel yang datang ke pernikahanku dan menghinaku. Aku pun berjalan mundur pelan hingga tiba-tiba Axel menangkap tubuhku.


“Kau baik-baik saja, Sayang,” bisik Axel sangat pelan tapi aku bisa mendengarnya dengan baik. Axel menggenggam tanganku lalu menyalami Rena. “Hai Rena, bagaimana kabarmu?” tanya Axel dan Rena Nampak tersenyum lebar sekali.


“Aku baik, oh ya Lolita akum au minta maaf soal terakhir kita bertemu, aku tahu itu tidak pantas. Kau mau memaafkanku kan?” tanyanya mengulurkan tangannya padaku.


Aku menatap tangannya sejenak, lalu bergantian pada Axel yang kini juga mengembangkan senyumannya padaku. Axel menganggukkan kepalanya pelan seolah meyakinkanku.


Aku pun mengulurkan tanganku perlahan membalas uluran tangannya. “A-aku memaafkanmu,” kataku langsung kembali menarik tanganku dan semakin merapatkan tubuhku pada Axel karena semakin banyak orang berkumpul melingkari kami.


“Kau terlihat sangat cantik malam ini. Axel juga terlihat tampan. Aku salah mengatakan kalian tidak cocok. Sekarang aku sadar kalau kalian sungguh coco saat bersama. Apalagi, sepertinya kalian akan memiliki buah hati ya. Aku berdoa semoga kalian sehat,” kata Rena terlihat begitu tulus mendoakanku dan bayi di kandunganku.


Axel mengelus pelan perutku dan dia mencium kepalaku dari samping. “Iya, ini anak pertama kami. Karena itu, sebelum aku tidak bisa lagi berkumpul dengan kalian. Hari ini aku datang bersama Lolita. Oh ya, kalian bisa pesan apa saja. Aku akan membayarnya,” kata Axel membuatku langsung menatap Axel. Namun Axel sibuk kembali melambaikan tangannya pada semua orang.


Begitu teman-teman Axel berhenti melingkari kami dengan nada bahagianya karena Axel bilang akan membayarnya. Aku pun langsung bertanya padanya.


“Axel!” lirihku. “Kenapa tiba-tiba?” tanyaku dengan nada pelan.


“Tidak apa-apa. Anggap saja rasa syukur kita untuk baby. Mereka tidak seburuk yang kamu pikirkan kan? Semuanya sudah berlalu, Sayang. Aku janji padamu untuk melindungimu. Jadi semuanya sudah selesai dan sekarang aku ingin kiata berdansa. Jika kamu lelah katakan saja, kita ke kamar yang sudah aku pesan.”


Aku mengangguk mengerti.


***


Axel mengangkatku ketika aku lelah. Sebelum tidur, dia memijat kakiku dan menceritakan bagaimana dia bisa berpacaran dengan Rena. Dia bilang, sebenarnya itu semua tidak sengaja. Awalnya hanya keisengan Kiko yang menjodohkan Axel dengan primadona sekolah. Semua tahu kalau Axel adalah pria yang disukai banyak wanita dan Rena digandrungi oleh banyak pria. Kiko merasa mereka berdua sangat cocok dan mencetuskan untuk mengirim surat lebih dulu ke Rena tanpa sepengetahuan Axel. Semua terjadi begitu saja karena Axel tidak mungkin mengatakan kalau surat itu bukan darinya. Alhasil, mereka jadian diam-diam. Rena ingin Axel bisa memberitahu pada semuanya kalau mereka sedang memiliki hubungan, tapi Axel menolaknya. Hubungan itu tak lama karena Rena tidak tahan dengan Axel.


Di akhir cerita ini, Axel tertawa atas jalan cerita cintanya. Dia bilang, dipikir-pikir, dia memang tidak pernah benar-benar menjalani hubungan serius oleh wanita manapun. Baru kali ini denganku, langsung menikah dan pacarana setelahnya. Axel bilang, sebenarnya dia ingin kami berdua dulu saja, tapi karena Axel merasa aku sangat ingin bayi. Dia tidak punya pilihan lain selain mengabulkannya. Toh, mempunyai anak adalah anugerah dari Tuhan.


Aku pun memeluk Axel erat. “Axel, Loli senang bisa mendengar cerita Axel. Loli juga senang karena Loli adalah wanita yang beruntung. Terima kasih sudah menjaga Loli dengan baik.”


“Bukan hanya kamu saja yang aku jaga, Sayang. Sekarang aku juga jaga anak kita. Jadi kamu juga harus ingat kalau kamu ini ibu hamil. Kamu juga harus jaga anak kita, mengerti?!”


Aku mengangguk lalu Axel seperti biasa membantuku dalam melakukan apapun sebelum tidur. Karena sudah terlalu malam, aku tidak ingin mandi. Axel membantu mengusap tubuhku dengan air hangat, mencuci muka dan menggosok gigi. Setelah itu kami kembali ke atas ranjang hotel yang sangat nyaman. Aku menempelkan kepalaku di atas dada Axel seraya memainkan jariku di atasnya.


“Axel, besok Loli mau jenguk Mas Aldi, boleh?”


“Oh ya, waktu dekat ini Aldi akan nikah ya dengan Zia. Kamu sudah punya ide akan memberikan dia hadiah apa?”


Aku lupa, aku tidak kepikiran akan memberikan apa. “Kira-kira apa ya? Axel sudah punya ide?” tanyaku balik. Axel pun nampak diam. Aku kira dia tertidur, tapi ketika aku mengangkat kepalaku ke arahnya. Dia terlihat sedang senyum-senyum sendiri.


“Bagaimana jika kita belikan baju malam pertama,” kekehnya membuatku langsung memukul dadanya.


“Axel! Loli serius! Memangnya untuk apa beli baju malam pertama? Apa bedanya kalau nanti mala ke dua, ke tiga dan ke empat,” protesku, tapi aku langsung mengingat sesuatu.


“Oh ya, bagaimana jika baju yang seperti Mama pernah belikan untukku?” tanyaku pada Axel dan Axel nampak kesal dengan kalimatku. Dia membalikkan tubuhnya membelakangiku.


“Axel! Loli kan sedang bicara!”


“Aku juga tadi udah bilang, mending beliin baju malam pertama. Ya baju yang pernah mama beliin itu, baju buat malam pertama.”


Aku menggaruk kepalaku. “Oh gitu ya. Soalnya Loli enggak ingat kemarin pakai malam ke berapa,” kataku seraya menyengir ke arahnya.


“Uhhh dasar istriku ini. Hukuman aja tahu! Giliran bajunya enggak tahu!”


“He he he, berarti nanti Loli pakai baju itu lagi ahh kalau Axel mau hokum Loli.”


“Ck ck ck, kamu enggak bosan apa ngomongin hukuman terus? Setiap ngobrol pasti ujung-ujungnya hukuman!”


Aku menggelengkan kepalaku dan memeluk Axel dari belakang. “Enggak dong! Axel kan hebat kalau lagi hukum Loli!”


Setelah mengatakan itu, aku dengar Axel tertawa. Dia membalikkan badannya dan memelukku. “Sudah waktunya tidur, baby,” katanya mengelus perutku.


Tinggal satu bab lagi!!!  Akhirnya selesai!! Sangat berterima kasih karena sudah baca karyaku^^


Ditunggu ya extra part akhirnya>>>


 


 


 



Geys! Jangan lupa baca karyaku yang lain loh! Ada 4 karya yang udah selesai jadi jangan takut digantungin heehehe.  Nyesel deh kalau enggak baca wkwkw. Jangan lupa like, komen, share dan juga follow aku ya!


Btw, kalau kalian bingung caranya gimana sih caranya bisa baca karyaku yang lain? Kalian bisa search aja dengan judul di atas atau kalian bisa klik foto profilku nanti pilih karya dan akan muncul karya2ku^^