My Idiot Wife

My Idiot Wife
24: Angry



***NOTED: Sebelumnya mau ngasih tahuu IDIOT di sini sesuai dengan judul punyaku yang pakai bahasa inggris ya. Jadi jangan tanya, kok LOLI-nya kayak gak idiot? hihiihihi. Idiot dalam bahasa inggris itu artinya orang bodoh. Di sini penulis menggambarkan LOLI sebagai sosok yang agak LOLA (loading lama) dan polos. Jadi jangan dipatokkan idiot yang kalian pikirkan^^  ***


SELAMAT MEMBACA^^


Axel POV


Axel POV


Aku mengepalkan tanganku keras. Berulang kali menghubungi nomer Lolita atau rumah tak ada yang mengangkat. Begitu pulang pun aku tak menemukan siapa pun di rumah. Itu tandanya Bi Tikah juga ikut dengan mereka.


Pekerjaanku lagi-lagi aku bawa ke rumah. Sialnya, kenapa aku sangat khawatir dengan apa yang Reyes akan lakukan dengan Lolita. Kenapa juga mereka belum pulang, membuatku sejak tadi hanya bisa bolak-balik di depan teras. Ini sudah malam dan aku takut kalau udara dingin malam ini tak bagus untuk Lolita. Meskipun dia bilang tidak selalu kambuh, tapi tetap saja aku sangat mengkhawatirkannya.


“Tuan, lebih baik tunggu di dalam saja,” ucap Pak Jani, supir pribadiku, tapi aku menolaknya.


“Tidak Pak, saya akan menunggu mereka sampai mereka pulang,” ucapku pada Pak Jani seraya duduk di bangku karena aku sudah merasa lelah berdiri sejak tadi.


Tak lama aku duduk, sebuah mobil pun masuk ke dalam rumah membuatku langsung kembali berdiri dan memasukkan tanganku ke dalam kantung celana.


Aku lihat Lolita di kursi samping kemudi di mana Reyes tengah membuka mulutnya lebar-lebar dan mendapatkan sebuah makanan yang Lolita suapkan ke arahnya.


Kemarahanku benar-benar memuncak karena mereka bisa-bisanya bermesraan di depanku. Sementara aku sangat khawatir menunggu mereka pulang, sementara Bi Tikah aku lihat tertidur di kursi belakang dengan nyenyak. Seharusnya, dia mengawasi apa yang Lolita lakukan dengan si brengsek ini.


“Axel!!!” aku dengar suara teriakan Lolita yang tersenyum semringah seraya berlari ke arahku.


“Kau sudah pulang?” tanyanya, tapi aku tidak mau menjawabnya.


Setelah aku memastikan Lolita baik-baik saja. Aku pun membalikkan tubuhku untuk masuk ke dalam. Namun Lolita terus memanggilku, tapi aku mengabaikannya. Sekilas aku justru mendengar Pak Jani memarahi Bi Tikah dan mengatakan kalau aku sangat khawatir dengan Lolita karena tak mengangkat panggilanku.


………………………………………………….


Aku tahu apa yang aku rasakan sekarang. Rasa kesal, khawatir dan juga amarah yang menggebu-gebu telah menjadi satu, tapi rasanya aku ragu untuk mengeluarkannya.


Tok, tok, tok,


“Masuk,” kataku seraya kembali pura-pura berfokus pada laptopku. Aku membawa semua pekerjaanku yang tertunda karena ulah Reyes.


“A-Axel, a-a-apa aku boleh masuk?” suara Lolita.


Aku melihat ke arah pintu di mana Lolita hanya menyembulkan kepalanya ke dalam. Aku pun menyandarkan tubuhku di kursiku dan menghela nafas dari mulut perlahan.


Bisa-bisanya wanita ini membuatku sangat khawatir. Sekarang wajah polosnya ini membuatku sangat ingin memeluknya. Aku rasa, aku benar-benar sudah gila.


“Masuklah,” kataku dan Lolita pun masuk ke dalam ruanganku seraya membawa nampan berisikan makanan.


Dia berjalan pelan ke arahku seraya menundukkan kepalanya membuatku mulai mengerti semua kebiasaan dan tingkahnya. Dia tahu, ketika aku marah, maka kepala menunduk tanda dia akan meminta maaf.


“Maaf,” ucapnya, benar saja apa yang aku katakan barusan. Dia pun menaruh nampan yang dia bawa di atas meja kerjaku.


“Untuk?” tanyaku.


“Karena saat kau pulang aku tidak ada di rumah. Seharusnya sebagai seorang istri, aku melayanimu, menyiapkanmu makan dan membantumu membawakan tas kerjamu.”


Aku menggelengkan kepalaku seraya tersenyum tanpa dia tahu.


“Siapa yang mengajarimu untuk mengatakan kata-kata tadi, hem?”


“Ehhh?” dia mengangkat kepalanya. “Maksud Axel?”


“Kau bukan pembantuku, kau istriku, jadi untuk apa kau melakukan itu semua?”


“T-tapi kata Bi Tikah, Loli harus meminta maaf seperti itu.”


Aku terkekeh mendengarnya. Istriku yang polos dan menggemaskan. Seperti biasanya, dia akan menjadi orang yang sangat polos.


“Aku tidak marah karena itu, kau tahu?”


Lolita menggelengkan kepalanya. “Loli tidak tahu.” Katanya dengan meremas bajunya membuatku terus memperhatikannya.


Aku tidak tahu kenapa aku bisa menyukainya, tapi aku menyadari satu hal bahwa wanita yang kusukai ini istriku.


“Kau ingin aku kasih tahu?” tanyaku padanya.


Lolita menghentikan gerakan remas bajunya. Dia menatapku dan menganggukkan kepalanya.


Aku pun memundurkan kursi kerjaku lalu menariknya hingga kini Lolita berada di atas pangkuanku.


“Dengarkan baik-baik,” kataku padanya.


“Axel, kenapa cium Loli?”


“Karena kau tidak tahu kesalahnmu di mana.” Jawabku.


Lolita kembali meremas bajunya. “Maaf, Axel pasti sangat marah ya. Tadi Axel tidak menyahut saat Loli memanggil Axel.”


Aku menyingkirkan rambutnya ke belakang telinganya dan memeluk pingganya semakin erat supaya dia tidak jatuh dari pangkuanku.


“Kemarin malam bukankah sudah aku katakan, hem? Kau tidak boleh pergi dengan siapapun. Pria manapun sekalipun itu Reyes, Adikku.”


“Tapi…, tadi Reyes mengajak Loli ke taman. Reyes bilang Axel memperbolehkannya.”


“Aku tidak mengatakannya. Lalu kenapa kau tidak mengangkat telepon?”


“Reyes bilang kalau mau jalan-jalan tidak boleh bawa HP supaya tidak fokus main HP. Di sana, Reyes membelikan Loli gelembung, es krim dan yang manis-manis.” Aku melihat mata Loli yang berbinar-binar. Sebelumnya, ketika aku mengajaknya ke Bali. Dia tak pernah seperti ini ketika menceritakannya, tapi kenapa hari ini?


Aku pun mendorong Lolita hingga Lolita turun dari pangkuan terhuyung hampir jatuh, tapi dia berpegangan dengan meja.


“Yaudan sana! Kau bersama Reyes saja!” kataku berdiri dari bangkuku lalu memunggungi Lolita dengan menatap langit malam di luar jendela ruangan kerjaku.


“Ihhh Axel kok marah sih! Loli gak mau sama Reyes, Loli maunya sama Axel,” katanya seraya memeluk tubuhku dari belakang membuatku tak kuasa untuk tak tersenyum mendengar kata-katanya.


Tingkahnya seperti ini benar-benar membuatku semakin menyukainya. Dia seperti anak kecil yang sedang merajuk orang dewasa.


“Bohong! Kau saja bersenang-senang dengan Reyes. Lalu aku untuk apa?”


“Mungkin kalau hari ini bisa terulang kembali. Loli ingin melakukannya dengan Axel, tapi apa Axel mau melakukannya?”


Mendengar itu membuat tanganku perlahan menyentuh lengannya yang memelukku erat di pinggangku. Aku membalikkan tubuhku dan mengangkat tubuhnya ke atas meja kerjaku.


“Kalau kau mengatakan apa yang kau suka. Tentu saja aku akan melakukannya.”


“Benarkah?”


Aku pun menganggukkan kepalaku. “Memangnya apa lagi yang ingin kau lakukan?”


“Menonton berdua dengan Axel. Mencoba beberapa mainan di timezone?” Mendengar kata-katanya yang ke dua membuatku langsung mengernyitkan alisku.


“Yang ke dua itu apakah tidak terlalu kekanak-kanakan?” tanyaku padanya.


Lolita mencemberutkan bibirnya “Axel bilang akan melakukan apapun yang aku mau?”


Aku pun mengalah. “Baiklah, lalu apa lagi?”


“Memiliki anak?”


Aku tertawa mendengarnya, tapi jujur saja aku juga sangat ingin melihat Lolita hamil. Apa dia akan terlihat menggemuk?


“Kenapa Axel tertawa? Memangnya Axel tidak mau?” tanya Lolita kembali mencemberutkan bibirnya.


Aku menggelengkan kepalaku. “Aku sangat ingin. Jadi, bagaimana jika kita melakukannya sekarang?”


“Melakukan apa?” tanya Lolita polos membuatku menyubit pipinya.


“Aww Axel sakit!” lenguhnya. Aku pun menurunkannya dari meja ketika dia mengelus pipinya yang aku cubit.


“Kau akan tahu setelah aku mengisi energiku,” ucapku menarik nampan yang tadi dia bawa karena aku sampai lupa tidak makan malam. Sepulang tadi, aku hanya sibuk mengkhawatirkannya dan setelah melihat Loli baik-baik saja. Aku segera ke kamar untuk membersihkan diri meski hati ingin marah, tapi setelah mandi aku merasa tenang.


“Axel, tapi Reyes baik padaku. Dia juga menceritakan masa kecil kalian.”


Benarkah? Apakah Reyes sebenarnya juga tak bermaksud jahat dengan Lolita atau aku? Ah aku tidak peduli. Tetap saja aku tidak suka kalau istriku Reyes ganggu.


“Suapi aku,” kataku memberikan sendok padanya pura-pura tak mendengar apa yang dia katakan tadi.


“Memangnya Axel sakit?”


“Tidak.”


“Terus kenapa minta disuapin? Kan Axel sudah besar,” kata Lolita dengan polosnya dan kali ini membuatku kesal karena tadi saja dia menyuapi Reyes.


“Tadi kau menyuapi Reyes, sekarang kenapa suamimu yang minta tidak mau?”


“Tapi Reyes kan tadi sedang menyetir. Dia lapar dan tidak bisa makan sambil menyetir.”


Aku langsung melotot ke arahnya dan Lolita langsung merebut sendok yang aku pegang. “Axel jangan marah dong. Lolita suapin ya,” katanya langsung membuatku tersenyum dan aku mengacak rambutnya. Lagi-lagi dia menggemaskan.