
**NOTED: Sebelumnya mau ngasih tahuu IDIOT di sini sesuai dengan judul punyaku yang pakai bahasa inggris ya. Jadi jangan tanya\, kok LOLI-nya kayak gak idiot? hihiihihi. Idiot dalam bahasa inggris itu artinya orang bodoh. Di sini penulis menggambarkan LOLI sebagai sosok yang agak LOLA (loading lama) dan polos. Jadi jangan dipatokkan idiot yang kalian pikirkan^^ ***
SELAMAT MEMBACA^^
Lolita POV
Axel sudah berangkat ke kantor pagi tadi setelah aku memasakkannya nasi goreng dengan telur mata sapi. Dia sangat menyukainya membuatku merasa senang sekali mendengarnya. Bi Tikah pun meledekku sejak tadi karena Axel memuji masakanku semakin enak dan pas sekali di lidahnya.
Aku tidak tahu harus mengatakan apa selain terima kasih, tapi sejujurnya di dalam hatiku yang terdalam. Aku masih ingin mendengar apakah dia mencintaiku. Dia semakin manis padaku, tapi kenapa Axel tak pernah sekalipun mengatakan cintanya padaku.
“Dor!!!”
“Aaa!!!” aku teriak ketika seseorang hampir mendorongku ke dalam kolam renang karena saat ini aku sedang membersihkan beberapa dedaunan yang berjatuhan ke dalam kolam dengan sebuah alat saringan.
“Kau melamun ya?” tanya Reyes padaku. Dia terlihat habis olahraga. Wajahnya yang dipenuhi keringat serta setelan olahraga sungguh membuat Reyes terlihat tampan seperti Axel.
Aku pun menggaruk kepalaku sendiri seraya tersenyum ke arahnya. “Hehehe iya,” kataku padanya.
Reyes nampak menggelengkan kepalanya lalu mengacak rambutku. Dia meneguk air minum yang Bi Tikah ambil seraya mengusap keringatnya dengan handuk kecil yang ada di lehernya. Kemudian aku lihat dia berjalan ke arah bangku di pinggir kolam, menaruh sebuah minuman di atas mejanya dan melambaikan tangannya padaku.
Aku pun menaruh alat yang aku pegang ini dan segera menghampirinya. Reyes duduk di atas bangku yang tadi dia hampiri seraya menungguku datang ke arahnya.
“Duduklah,” katanya menepuk bagian sampingnya yang kosong.
Aku melakukan yang dia minta.
“Axel akan pergi ke luar kota besok,” ucapnya tiba-tiba membuatku terkejut.
Aku pun menoleh ke arah Reyes. Pria itu meminum minumannya lagi dengan santai seraya tersenyum ke arahku.
“Kau pasti belum diberitahu ya? Mungkin nanti malam dia baru akan memberitahumu.”
Aku pun menganggukkan kepalaku.
“Terkadang aku selalu ingin tahu lebih banyak tentang dirimu. Kau tahu? Kau seperti setengah manusia dan malaikat.”
“Itu apa?” tanyaku tak mengerti. “Kenapa setengah manusia dan malaikat. Loli hanya manusia bukan malaikat.” Kataku pada Reyes dan Reyes terkekeh pelan tanpa melihat ke arahku. Dia menatap lurus entah kemana dan tangannya bergerak mengusap gelasnya.
“Iya aku tahu, kau manusia. Memangnya ada manusia setengah malaikat?” katanya lagi-lagi dengan terkekeh. Aku pun menggelengkan kepalaku semakin tak mengerti apa yang sedang Reyes bicarakan denganku.
“Kau tak punya rasa iri, dengki dan kau jarang marah, tapi aku juga tahu terkadang kau pasti akan merasa iri, dengki dan marah. Ada waktunya pula kau merasa ingin melakukan kejahatan atau kebaikan, tapi bagiku kau istimewa.”
Benarkah? Aku istimewa? Tapi Axel tak pernah mengatakannya padaku. Kenapa malah Reyes yang mengatakan aku istimewa. Reyes bukan siapa-siapa untukku, tapi Axel…,
“Kau istimewa karena kau Kakak Iparku. Kau sudah membuat Kakakku begitu jatuh cinta padamu.”
“Begitukah? Emmm, tapi Reyes, apa Loli cantik?” tanyaku padanya yang tiba-tiba dia sahuti dengan tawanya yang keras.
Aku pun langsung mencemberutkan bibirku ke arahnya dan melipat ke dua tanganku di depan dada. “Kenapa Reyes tertawa? Apanya yang lucu?” tanyaku padanya.
Reyes pun berdiri dari duduknya, dia mencubit pipiku dan menggerakkannya ke kanan dan kiri. “Kau kira, setelah aku menjawabnya memberikan arti bahwa Axel pun akan mengatakan yang sama? Kriteria pasangan setiap orang itu beda tahu!”
Aku melepas tangan Reyes dengan kesal. Lalu mengelus pelan pipiku yang sakit. “Sakit tahu!” sergahku padanya. “Memangnya kriteria pasangan itu apa sih, Reyes?”
Setelah muncul pertanyaan itu, Reyes malah menggelengkan kepalanya seraya bertolak pinggang. “Aku sungguh tidak habis pikir kenapa Axel bisa jatuh cinta padamu, ckckck. Kalau aku jadi dia, pasti sudah aku kunci kau di lemari.”
“Memangnya Loli kenapa? Kenapa Loli harus dikunci di lemari?”
“Ckckckck, sudahlah, aku akan mandi dan sarapan,” katanya seraya meninggalkanku yang hanya mampu menatap punggung belakangnya.
“Bibi!!” teriakku segera masuk ke dalam rumah. “Bibi!! Koper Loli di mana?”
………………………………………………………………
“Kau sedang apa?” suara yang aku kenal masuk ke dalam kamar dengan wajah yang lelah.
Aku tersenyum ke arahnya dan meletakkan sebuah rajutan yang baru saja aku mulai.
“Kau sudah pulang?” aku menghampirinya dan membukakan jas kerjanya.
Axel pun mencium keningku lalu membuka kancing kemejanya satu persatu. “Kau sedang apa?” tanyanya lagi duduk di atas sofa kamar kami dan mengambil rajutanku bewarna kuning.
“Aku pernah belajar menyulam dari Bi Tikah. Hari ini aku sedang mencoba mempelajarinya lagi,” kataku ikut duduk di sebelahnya.
“Kau sedang mencoba membuat apa?”
“Hemmm sepatu bayi mungkin,” kataku dan dia menoleh ke arahku seraya menyingkarkan rambutku ke belakang telinga. Dia kembali menciumiku membuatku sadar kalau Axel nampaknya akhir-akhir ini sering sekali menciumku. Menurutku Axel sangat manis, dengan sikapnya ini selalu membuatku merasa nyaman dan lebih dicintai.
“Kau benar-benar ingin segera punya baby ya?” tanyanya padaku dan aku jelas mengangguk cepat serta bergelanyut manja di lengannya.
“Iyahh Loli ingin sekali. Loli boleh kan punya baby?” tanyaku berbinar.
“Tentu saja, Sayang. Aku juga mau, semoga kita segera dititipkan oleh Tuhan seorang bayi yang lucu sepertimu.” Katanya mengelus pelan pipiku dan aku menyentuh tangannya yang berada di pipiku.
“Axel ingin laki-laki atau perempuan?”
“Hemmm untuk yang pertama sebenarnya aku ingin laki-laki. Aku ingin anak kita mewarisi bisnisku. Kau tahu Reyes tak tertarik dengan bisnis. Kemudian yang kedua baru aku ingin punya perempuan, supaya tua nanti mereka mengurus kita karena umumnya anak perempuan yang akan mengurus orangtuanya saat tua.”
“Hemm begitu ya,” kataku mengangguk-ngangguk. “Kalau begitu Loli akan melahirkan lagi setelah yang pertama. Memang Axel ingin punya berapa?” tanyaku lagi.
Axel terkekeh seraya mencubit pipiku. Lalu kini dia merubah posisi duduknya hingga menghadap ke arahku. Kakinya yang satu dia tengkuk, naik ke atas sofa lalu tangannya dia buat melipat di depan dada.
“Menurutmu berapa?” tanyanya padaku. Aku pun memutar bola mataku ke atas seraya berpikir.
“Lima? Tujuh? Sepuluh?”
Axel tertawa geli mendengar kata-kataku sementara aku menatapnya heran.
“Kok Axel malah ketawa sih?”
“Aku tidak akan membuatmu merasakan kesakitan berulang kali, Sayang. Kau kira melahirkan itu tidak sakit?”
Aku menatap Axel terdiam. Aku tidak pernah tahu bagaimana rasanya, tapi mendengar Axel mengatakan seperti itu, sepertinya itu sangat sakit.
“Tiga atau empat bagiku cukup, tapi berapa pun yang Tuhan berikan harus kita syukuri,” katanya dan aku mengangguk pelan seraya tersenyum ke arahnya.
“Ahhh aku ingin berbaring sebentar. Aku lelah sekali hari ini,” katanya berpindah ke atas ranjang dan menjatuhkannya ke sana.
Aku pun ikut bangun dari sofa. Menaruh jasnya ke ranjang kotor dan merapikan tasnya. Ketika aku ingin bergabung dengan Axel, aku malah mengingat sesuatu setelah melihat koperku. Aku sudah menyiapkan baju serta kebutuhanku nanti. Axel pasti akan terkejut juga karena aku sudah menyiapkan juga pakaian untuknya.
“Axel, apa tidak ada yang ingin kau bicarakan?” tanyaku padanya.
Axel terdiam menatap atap kamar sejenak lalu mengangkat kepalanya dan menyangganya dengan satu tangan.
“Kemarilah,” ucapnya menepuk sisinya yang kosong dan aku pun naik ke atas ranjang, berbaring miring menghadapnya.
Axel menyingkirkan rambutku ke belakang dan wajahnya perlahan mendekat ke arahku. Dia mencium bibirku dengan ringan lalu menyusupkan tangan kanannya ke bawah kepalaku. Dia memelukku erat dan menyeruakkan wajahnya ke dalam leherku.
“Sebentar saja, aku lelah hari ini,” bisiknya dan perlahan tanganku dengan gemetar menyentuh kepalanya. Aku mengusapnya pelan dan tak tahu perasaan apa yang hinggap di dalam dada.
Rasanya sakit, sesak dan ingin menangis. Tidak ada surprise untuk malam ini. Tidak ada kejutan kalau Axel akan mengajakku ke luar kota dengannya. Satu hal yang aku sadari… terkadang Axel memang terlihat sangat mencintaiku, tapi terkadang juga Axel terlihat sangat tidak menginginkanku. Axel… apa Loli hanya sebuah benalu? Apa aku tidak pantas menjadi istrinya? Kenapa Axel tidak mengatakan apapun? Apakah aku tidak penting untuknya?
.......................................................
Jangan lupa vote dan komennya :(