
Tanggung ada 1 lagi naskahku jadi aku upload aja~ Enjoy^^
Extra part ini bersifat random ya, tidak ikut dengan part2 sebelum epilog. Jadi memang acak saja alurnya.
**Irene POV **
Perutku sangat besar. Aku tidak mengira akan sebesar ini dan tentu saja semua ukuran tubuhku membesar di segala tempat.
“Kenapa?” Damar menarik selimut menutupi diri kami yang dibasahi keringat.
Aku lihat wajahnya yang lelah tapi raut kebahagiaannya lebih mendominasi auranya malam ini. Aku senang bisa melihatnya begitu bahagia malam ini.
“Aku semakin terlihat seperti gajah,” kataku.
Damar pun terkekeh membuatku memukul dadanya. “Tuh kan kamu ketawa!” protesku dan Damar menyingkirkan rambut panjangku melewati pundakku. Lalu dia menciumnya lembut disusul dengan senyuman itu lagi, senyuman bahagianya yang tak pernah kulihat sebelumnya.
“Di mataku, kau selalu cantik.”
“Kamu mulai gombal lagi!” kataku dan Damar menggelengkan kepalanya seolah meyakinkanku kalau dia tidak berbohong.
“Aku bersungguh-sungguh dengan kata-kataku. Kau selalu cantik.”
Aku pun hanya mampu tersenyum mendengarnya dan perlahan aku berusaha membawa diriku yang terasa berat ini tidur menyamping menghadap dirinya.
“Apa aku menyakitimu?” tanyanya dan aku tahu apa maksudnya.
Aku menggelengkan kepalaku seraya menyentuh matanya yang aku puja.
“Apa sebegitu bahagianya kamu malam ini. Senyumanmu itu tidak bisa berbohong kalau kau sangat menyukaiku,” kataku dengan pedenya, tapi Damar setuju degan kata-kataku karena dia kembali senyum.
“Ya kau benar. Aku sangat bahagia, aku sangat menyukaimu. Aku mulai menyukai semua yang ada pada diri istriku. Marahmu, senyummu, usilmu, tersipumu, otoritermu, aku menyukai semuanya.”
“Tapi kenapa? Semua orang tidak suka dengan sifat jelekku, tapi kenapa kau-“
“Karena kau istriku.”
Jawaban itu lagi-lagi mampu membuatku bisu. Damar benar, apapun kekurangan dan kelebihan di dalam sebuah hubungan ini. Kami harus menerimanya karena sekarang kami sudah berstatus suami-istri.
“Terima kasih,” ucapku dan Damar mendekatkan tubuhnya ke arahku. Dia memelukku erat membuatku merasa hangat. Tidak pernah aku merasakan hal ini sebelumnya. Kulit kami beradu hanya dibaluti selimut dan aku sangat menyukainya.
“Aku akan membuatmu hamil lagi setelah anak pertama kita lahir.”
“Hahaha aku juga tidak keberatan untuk mempunyai anak banyak. Rumah kita cukup ditempati untuk 10 anak. Mereka bisa mendapatkan kamar satu per satu jika mau.”
“Kau benar, Sayang,” kata Damar mengecup keningku lama dan kami larut pada kehangatan yang kami buat.
***
Pagiku menatap perut di depan cermin dengan Damar yang sedang mengeringkan rambutku. Kali ini aku ingin bisa libur keluar dengan Damar, tapi sebenarnya aku ingin sekali menangis karena tiba-tiba mengingat Elena. Adikku, putri kecil di keluarga Gilbert itu baru saja menikah dengan pria berengsek yang telah membuatku seperti ini.
“Sayang, kenapa kamu nangis?” tanya Damar segera membalikkan tubuhku dan menghapus air mataku perlahan.
Aku menggelengkan kepalaku dan menangkap tangan Damar. “Aku hanya sedang memikirkan Elena. Setelah acara pernikahannya kemarin. Dia datang dengan wajahnya yang sedih. Aku tidak tahu bagaimana keadaannya sekarang.”
Aku pun terdiam dan mengangguk pelan mencoba percaya pada Damar. Jika saja memang itu yang terjadi, aku mungkin akan tenang, tapi setiap aku ingat wajahnya kemarin. Aku terus saja kepikiran.
“Sekarang, kita berpakaian dan cari makan yang kau inginkan. Kau bilang ingin es kelapa muda dan siomay?”
Aku langsung tersenyum semringah membuat Damar mencubit pipiku.
“Kau tahu? Jika dulu kau bukan wanita yang menyebalkan, mungkin aku sudah menikahimu tanpa kau minta!”
“Apa?! Jadi dulu aku nyebelin? Kamu bilang-“
Cup! Dia memotong kalimatku denga sebuah kecupan di bibir. Selalu saja begitu!
“Mulai deh ngomel lagi. Nanti jadi jelek loh!”cibir Damar membuatku cemberut.
“Ah sudah! Aku tidak mau keluar denganmu!” kataku seraya meningalkan Damar di kamar mandi.
Pria itu malah tertawa pelan di kamar mandi tanpa mengejarku. Bahkan dengan santai dia melebarkan senyumnya padaku dan mencolek daguku.
“Ih Mama kamu nih ngambeknya selalu begitu,” kata Damar mengelus pelan perutku yang terbuka.
Lalu suamiku berjalan menuju lemari pakaian memilihkan sesuatu yang menurut dia nyaman untukku. Tak sadar aku diam-diam tersenyum melihat gerakannya yang sibuk ke sana kemari. Bagiku, dia suami yang siaga dan juga hebat! Tak pernah terbayangkan jika aku tidak menikah dengannya. Siapa lagi yang bisa menerima keadaanku?
“Damar,” panggilku.
Damar langsung menoleh mengangkat baju yang dia pegang. “Ada apa?” tanyanya.
Aku tersenyum mengangkat tanganku. “Gendong!”
“Ha? Gendong ke mana?”
“Gak kemana-mana, mau gendong aja di kamar ini.”
Damar masih mengerutkan alisnya dan berjalan ke arahku. Dia memakaikanku baju seperti anak bayi, tapi aku sungguh menyukai perlakuannya yang sangat perhatian ini.
“Enggak bisa dong, Sayang. Enggak bisa piggy back karena perut kamu udah membesar. Aku juga udah enggak kuat angkat tubuh kamu meskipun ala-ala bridal,” katanya membuatku kembali mencemberutkan bibir.
“Tapi aku janji setelah nanti baby lahir. Aku gendong kamu dan baby kemana pun yang kamu mau!” gombalnya lagi membuatku tersenyum lembut.
Mana mungkin aku tega membuat suamiku tersiksa, tapi kata-kata Damar selalu manis dan aku selalu menyukainya.
“Damar, kenapa kamu pintar gombal! Awas kalau kamu gombalin semua perempuan! Ingat! Kamu punya aku!” kataku entah kenapa berubah menjadi nada yang sangat posesif.
Damar kembali tertawa. Dia mengacak rambutku kemudian meneka pipiku dengan ke dua tangannya hingga bibirku manyun ke depan.
“Kamu kenapa lucu banget sih, Sayang. Aku senang kamu ngomong gitu. Jadi aku tahu sisi posesif kamu ke aku. Cintaku juga gak sepihak!” katanya lalu mengecup bibirku berkali-kali hingga kami tertawa bersama.
“Terima kasih sudah menjadi pelengkap hidupku!” ucap Damar dan aku memanja pada lengannya yang kuat.
END-SELESAI~
**JANGAN LUPA KUNJUNGI KARYAKU YAG LAIN YA!! DiTUNGGU KOMEN DAN LIKENYA LOH^^ **