My Idiot Wife

My Idiot Wife
36: Love You Forever



AXEL POV


Benar-benar mereka keterlaluan membuatku mati dibuat penasaran. Jantungku rasanya tak pernah berhenti berdetak tak keruan seperti ini. Memikirkan apa yang terjadi pada Loli sungguh membuatku tak bisa bekerja dengan maksimal. Alhasil, aku memutuskan lebih dulu dan menyerahkannya pada Damar meski Irene bersumpah padaku untuk tidak memiliki kerja sama apapun lagi setelah proyek ini selesai.


Pak Jani memberhentikan mobilnya di depan teras dan aku segera turun dari mobil dengan jantung yang berdegup sangat keras.


“Lolita!” teriakku seraya melonggarkan dasiku yang terasa semakin membuat dadaku sesak.


“Aden akhirnya pulang juga,” suara Bi Tikah yang tergopoh-gopoh menghampiriku.


“Apa yang terjadi? Kenapa semua orang tidak bisa dihubungi?”


“Anu, Den. Non Loli dua hari yang lalu punya masalah sama teman di tempat kursusnya. Non Loli didorong sampai jatuh ke lantai dan tiba-tiba aja darah keluar.”


“Apa?”


“Non Loli hampir keguguran Den.” Mendengar itu kakiku terasa lemas. Aku hampir saja terjatuh jika tidak Pak Jani tahan dari belakang.


“Tapi Dokter bilang bayinya lebih kuat dari yang diduga sehingga tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.” Lanjut Bi Tikah lagi membuatku menghela nafas lega. Ternyata kabar baik dan buruk yang Reyes maksud adalah ini.


“Lalu kenapa Loli meminta kalian untuk memutuskan hubungannya denganku?”


Terlihat Bi Tikah menundukkan kepalanya. “I-itu bisa Aden tanyakan langsung ke Non Loli, tapi Den-“ Bi Tikah kini mengangkat kembali kepalanya untuk melihat ke arahku.


“Tolong mengerti perasaan Non Loli. Keadaannya saat ini juga sangat memburuk. Non Loli gak mau makan apapun kecuali bubur kecap. Dia juga tidak bisa berhenti muntah dan mungkin itu yang membuat Non Loli enggan makan. Non Loli terus mikirin Aden kapan pulang dan sekarang Non Loli sedang demam di kamarnya.”


Rasa sakit yang hebat dari kepala hingga ujung kaki ketika aku mendengar apa yang Loli alami. Aku langsung berlari seperti orang gila menuju kamar kami dan benar apa yang Bi Tikah katakan. Istriku terbaring lemah di atas ranjang dengan sebuah handuk kecil di keningnya.


“Non Loli memang mudah terkena demam. Bibi taruh di sini ya susunya. Tadi Non Loli belum sempat minum susu, tapi Bibi udah suapin bubur.”


“Terima kasih Bi,” ucapku dan Bi Tikah keluar dari kamar kami.


Aku pun meraih tangannya dan menciumnya dengan lembut.


“Maafkan aku karena berulang kali tak bisa menjadi suami yang baik untukmu.”


“Axel,” suara lirih Lolita perlahan membuka matanya.


“Sayang, ini aku,” ucapku padanya dan Lolita berusaha membawa tubuhnya bangun dari ranjang. Aku pun membantunya, tapi tiba-tiba dia mendorongku dengan tenaga seadanya seolah dia menolak bantuanku.


“Lolita,”


“Kenapa kamu pulang? Bukannya ada Irene di sana?” Aku yang mendengarnya langsung terkejut karena dia mengetahuinya.


“Aku bisa menjelaskannya,” kataku perlahan berjalan kembali ke arahnya, tapi tiba-tiba Lolita menangis.


“Aku mengalaminya lagi. Semua orang tidak ada yang menyukaiku. Semua orang memusuhiku dan memandangku hanyalah orang bodoh yang memalukan. Aku hanya benalu dan merugikan semua orang di kelilingku hingga bayiku hampir saja mati karena hal itu.”


“Jangan bicara seperti itu. Kamu sama sekali bukan benalu. Kamu-“


“Bahkan suami yang sangat aku cintai tak pernah peduli padaku. Di mana kamu waktu aku mengalami hal menyeramkan ini?! Kamu pergi dengan cinta pertamamu itu dan meninggalkanku di sini sendiri!!” teriak Lolita dengan air matanya yang terus mengalir dan sebuah rasa frustasi menyelimutinya. Aku tidak tahu harus berbuat apa, tapi aku akui kesalahanku yang tak bisa menjadi suami yang baik untuknya.


“Sayang maaf, tapi aku harus melakukan proyek besar ini. Ini demi kamu juga, demi masa depan kita dan anak kita.”


Lolita terdiam, tapi kini mata tajamnya menatapku dengan penuh amarah.


“Apa maksudmu? Ini anak kita, Sayang.”


Loli menggelengkan kepalanya. Dia menyeka air matanya dengan kasar dan bibirnya terlihat sangat membengkak karena menangis.


“Hanya aku yang selalu merasa menginginkan kehadirannya. Kau tidak punya hak apapun untuk anakku.”


“Lolita dengarkan aku, Sayang. Milikmu adalah milikku. Milikku adalah milikmu. Kita berdua akan menjaganya bersama. Kita sudah berjanji pada Tuhan untuk hidup bersama dan menjaga anak-anak kita.”


Lolita kembali menggelengkan kepalanya dan kali ini dia menenggelamkan wajahnya ke dalam bantal dengan posisi miring.


“Kau tidak mencintaiku,” ucapnya sangat lirih.


Aku pun tersenyum mendengarnya. Lalu perlahan aku bantu dia duduk dari baringannya dan menyingkirkan semua rambut yang menutupi wajahnya. Aku lihat tangannya masih terus melingkar di atas perutnya seolah menjaga bayinya. Sementara aku perlahan mengusap air matanya yang terus berjatuhan.


“Aku tahu aku salah. Aku berbohong padamu dan tidak bisa mengajakmu di perjalanan ini. Aku meninggalkanmu hingga harus mengalami hal menyeramkan yang tak pernah kau inginkan. Aku salah, tapi aku tetap suamimu. Aku sangat mencintaimu. Sangat, sangat, sangattt mencintaimu sebagai istri dan ibu anak-anakku. Aku tidak mau-“ entah kenapa perasaanku seperti melow. Aku tidak tahu kapan mengeluarkan air mata seperti apa yang terjadi pada Loli.


“Aku tidak mau kehilanganmu.” Kutarik dirinya ke dalam pelukanku. “Aku sangat mencintaimu,” bisikku ke dalam telinganya. “Hingga rasanya aku ingin mati saat aku tidak bisa mendengarkan kabar apapun darimu. Kau tahu? Semalaman aku tidak bisa tidur saat Reyes bilang ada kabar baik dan buruk untukku. Aku bahkan tidak bisa makan dan bekerja karena memikirkanmu. Kau yang terus memenuhi otakku sepanjang hari hingga aku memutuskan untuk pulang. Kau sungguh membuatku khawatir,” ucapku finally keluar begitu saja dan aku rasakan pelukan Lolita mengetat.


Aku pun mencium kepalanya dari samping dan membiarkan kami tenggelam ke dalam rasa rindu yang menusuk bersama.


“Loli juga sangat mencintai Axel. Jangan pernah meninggalkan Loli. Hanya Axel yang Loli punya.”


“Sutt, kau punya semuanya, Sayang. Banyak orang yang mencintaimu seperti aku. Jangan fokus pada mereka yang tidak mencintaimu. Mereka hanya iri padamu,” kataku dan Lolita melepas pelukan kami.


“Tapi apa Axel senang Loli hamil?” katanya mengelus pelan perutnya lembut.


Aku pun mengecup bibirnya. Lalu menyeka air matanya yang turun.


“Sangat bahagia. Kau wanita hebat. Kau wanitaku yang sangat hebat, Lolita. Terima kasih karena sudah mengandung anak kita. Kita akan menjadi orang tua. Aku janji akan membuat kau dan anak-anak kita bahagia.”


“Janji?” Loli mengangkat jari kelingkingnya ke arahku.


Aku hanya mampu terkekeh karena melihat kelakuannya yang kembali seperti anak kecil. Padahal beberapa menit yang lalu aku merasa Loli seperti orang dewasa pada umumnya. Orang dewasa yang bisa marah, cemberut, menangis dan juga merasakan rasa cinta yang dahsyat dari pasangannya.


Ya Tuhan, aku sangat mencintainya.


“Janji,” ucapku dan menggapai jarinya dengan jariku.


“Aku berjanji akan terus mencintaimu seumur hidupku.”


“Terima kasih,” ucap Lolita kembali memelukku, tapi aku mendorongnya pelan karena aku belum puas.


“Kenapa hanya aku yang berjanji? Kau juga harus berjanji!” amukku padanya.


Aku juga ingin mendengar janjinya padaku.


“Loli janji akan mencintai Axel seumur hidup Loli dan melahirkan banyak anak yang cantik dan tampan seperti kita,” ucapnya membuatku gemas sekali mendengarnya.


“Tapi aku tidak akan membuatmu merasakan kesakitan berkali-kali, Sayang. Cukup tiga saja untukku,” ucapku seraya membawanya tidur perlahan ke atas ranjang. Menyelipkan lenganku di lehernya dan kembali mengecupi bibirnya yang perlahan membuatku bergairah, tapi aku tidak bisa melakukannya. Lolita harus banyak istirahat.


..............................................................


Bumil labil wkwkww, jangan lupa like dan komenya^^