
BRAK!!!!
Sedang asyik makan bersama, suara debuman keras terdengar dari lantai atas. Bi Tikah nampak lari ke arah kami dan membisikkan sesuatu ke arahku. Aku pun langsung beranjak dari dudukku dan menuju ke kamar Reyes.
“HUA!!!” teriak Reyes begitu aku membuka kamarnya dan tagannya bergerak menggambil botol kaca minyak wangi miliknya.
PRANG!! Dia melemparnya ke kaca riasnya hingga kaca itu hancur lembur dan serpihan kaca berjatuhan ke atas lantai.
Aku menghampirinya dan menarik tangannya ketika sebuah botol kaca lainnya ingin dia lemparkan entah kemana.
“Kau gila!! Apa yang kau lakukan?! Ini rumahku! Kau menghancurkan barang-barangku,” kataku padanya. Reyes pun melepas botol kaca itu hingga pecah di atas lantai tepat di dekat kakinya. Dia berjalan ke ranjang tidurnya dan duduk di ujung sana.
Tak lama kudengar isak tangisnya dan Papa datang dengan sangat hati-hati. “Ada apa?” bisik Papa padaku. Aku pun mengangkat bahuku dan melihat ke ambang pintu di mana Loli berdiri di sana.
“Ma, tolong bawa Loli ke bawah,” pintaku pada Mama yang berada di sampingnya. Mama pun segera menyentuh pundah Loli dan mereka meninggalkan kami ber tiga, para laki-laki di kamar.
Papa pun menghampiri Reyes dan duduk di sisinya. Pria yang selalu menjadi sosok ayah yang baik untuk kami menyentuh punggung anak bungsunya. Pria itu mengelusnya pelan dan membiarkan adikku menangis semaunya.
“Aku akan kembali dua hari lagi. Aku ingin tinggal di sana selamanya.”
“Apa?” suaraku meninggi. “Kau gila? Bagaimana dengan Mama dan Pa-“ Papa menggerakkan tangannya memintaku berhenti.
“Ada apa? Papa kan sudah pernah bilang. Jangan pernah memutuskan apapun saat kau marah. Pikiranmu sedang tidak tenang, Nak.”
“Zia…,” nama itu, akhirnya nama itu bisa aku dengar dari bibirnya. “Aku bertemu Zia,” ucapnya membuatku menghela nafas sejenak.
“Dia memaafkanku tapi sedikitpun dia tak membiarkanku memberikan penjelasan. Dia memintaku untuk tak menemuinya lagi karena sebentar lagi dia akan menikah dengan pria yang dicintainya.”
Papa pun terkekeh. Dia menepuk punggung belakang Reyes. “Kau ini, memang masih menjadi anak bontotnya Papa,” ucapnya membuatku terpaku melihat betapa santainya Papa setelah Reyes puas menuai banyak beling di atas lantai.
“Ada pepatah yang mengatakan bahwa masih banyak ikan di laut. Ketika kau tidak mendapatkan apa yang kau inginkan. Bukan berarti kau tidak bisa melanjutkan hidupmu. Kamu harus memikirkan 10-20 tahun ke depan,” kata Papa mulai memberi Reyes pengertian.
“Apa yang terjadi jika kau terus terpuruk dengan kehidupanmu yang seperti ini? Kau tahu? Tidak ada manusia yang tak egois. Kalaupun ada, sesekali manusia itu tetap akan mencintai dirinya sendiri saat semuanya meninggalkan dirinya. Kau bukan anak kecil lagi yang kalau kehilangan cinta, itu berarti kehilangan segalanya. Kau harus bangkit lagi dan mengatakan kalau semuanya akan baik-baik saja. Bangkit dan terus hadapi adalah hal yang terbaik untuk melihat apa yang akan terjadi 10-20 tahun ke depan.”
“Kamu anak Papa, anak Papa pasti bisa melalui semuanya dengan caranya sendiri, tapi bukan dengan menghindar dari kenyataan sesungguhnya. Pindah keluar negeri tidak akan menjadi obat yang paling manjur untuk menyembuhkan lukamu. Pindah keluar negeri hanya akan membuatmu lupa sementara lalu kembali mengingat lagi di saat kesempatan itu ada. Orang bilang, cara manjur untuk menyembuhkan luka cinta adalah menemukan cinta yang lain. Papa rasa, tidak ada salahnya untuk mencoba.”
Reyes nampak terdiam. Aku pun menghela nafasku dan keluar dari kamar Reyes seraya menutup pintu kamarnya. Aku tahu, ayah adalah yang terbaik. Semoga aku juga bisa menjadi ayah yang baik untuk anakku.
………………………………………………………………………
Reyes terlihat membaik. Dia memelukku dan menepuk punggungku setelah tadi pamit lebih dulu pada Lolita. Memang kurang ajar! Dia diam-diam mencuri pelukan istriku dan membisikkan sesuatu yang aku tidak tahu apa.
“Dasar nakal! Kau menghancurkan kacaku!” sergahku dan Reyes terkekeh.
“Lebih baik bukan, daripada merebut istrimu yang lucu itu.”
“Hei!! Sekali lagi kau mengatakan itu akan aku tonjok kau!” kataku dan Reyes pun tertawa.
Aku pun memperhatikan wajahnya yang tentu saja masih menyimpan luka. Awalnya aku tidak mengira dia akan memutuskan kembali hari ini. Padahal liburannya masih sekitar dua minggu lagi, tapi nampaknya dia memang sudah merencanakan ini. Dia sudah tahu akan Zia tolak kedatangannya sehingga memutuskan untuk memesan tiket sejak semalam.
“Terima kasih atas tumpangannya. Ketika aku kembali lagi ke sini, aku akan membawakan oleh-oleh untuk keponakanku.”
“Hahaha baiklah, aku akan tunggu kepulanganmu,” ucapku dan aku dengar suara Mama yang memberi wejangan simple untuk Lolita.
“Nanti mama juga coba tanya-tanya sama teman Mama yang sering yoga di sana ya,” kata Mama.
“Iya Ma, makasih Ma. Nanti Loli juga sesekali akan main ke rumah Mama.”
“Iyalah harus. Pokoknya pas hamil tua, kamu di rumah Mama aja ya, Sayang,” pinta Mama sampai menggenggam tangan istriku kuat.
Lolita jelas mengangguk semangat karena aku yakin dia juga sebenarnya agak kesepian di sini, tapi saat kami sedan berdua bukankah lebih baik sepi? Hihihi.
“Papa pamit ya,” ucap Papa padaku dan aku menyalami tangannya, begitu menyusul menyalami Mama.
“Terima kasih sudah datang. Kau menyetirnya jangan mengebut ya!” kataku pada Reyes dan Reyes tersenyum seraya mengangguk.
“Axel, jangan lupa ya beri perhatian yang lebih juga untuk Lolita. Ibu hamil biasanya agak sensitif. Jadi kamu harus lebih sabar, peka dan memberinya pengertian, mengerti?”
“Iya, Ma,” ucapku sudah puas mendengar kata-kata itu sejak tadi.
Reyes pun terlihat sudah menyalakan mobil. sementara Mama sekali lagi mencium kening istriku seolah anak kandungnya adalah Loli bukan aku.
“Duhh Mama masih berat ninggalin Lolita.” Katanya membuatku menggeleng. Emang dasar si Mama nih rasa khawatirnya keterlaluan. Ahhh, sial! Aku juga begitu terhadap Lolita. Bukankah berarti, buah jatuh memang tak jauh dari pohonnya.
“Loli baik-baik saja, Ma. Ada Bi Tikah juga yang banyak bantu Loli.”
“Yasudah Mama dan Papa pulang ya,” Mama masuk ke dalam mobil dan menurunkan kaca mobilnya.
Terlihat Papa tersenyum ke arah kami dan mereka melambaikan tangan bersama. Aku mendekat ke Loli memeluknya dari samping dan Loli pun melambaikan tangannya.