
Extra part ini bersifat random ya, tidak ikut dengan part2 sebelum epilog. Jadi memang acak saja alurnya.
Irene POV
Semalaman aku menangis. Benar kata Dokter Tezar, hormon ibu hamil memang benar-benar tidak bisa diperkirakan. Aku tahu tempramenku memang sangat jelek, tapi saat hamil nampaknya tempramenku naik dua kali lipat dari biasanya. Ah tidak! 7 kali lipat dari biasanya. Bahkan tempramen semalam tak bisa dipisahkan dengan air mata yang terus menerus turun ke pipiku. Aku tak bisa berhenti menangis hingga mataku terasa membengkak seperti ini.
Tapi apalah daya…, pagi ini aku tetap harus menyiapkan sarapan untuk Damar. Aku juga sangat lapar karena melewatkan makan malam.
“Kau sudah bangun?” suara seseorang yang sangat kukenali sudah berada di dapur dengan apron yang bertengger di tubuhnya.
Damar? Apa benar dia Damar? Ya Tuhan, sepertinya mataku rusak setelah semalaman aku menangis. Mana mungkin suamiku…, tampan sekali dengan kemejanya yang dia gulung sebatas siku dan sebuah apron yang membuatnya terlihat…,
Seksi?
“Aku sudah menyiapkan sarapan pagi. Maaf ya nasi goreng lagi, heehehe,” kekehnya. “Habis aku hanya bisa masak nasi goreng.”
Apa dia meledekku? Bahkan aku tak bisa memasak apapun. Nasi goreng buatanku kemarin saja sangat asin dan aku yakin dia sengaja meledekku yang tak becus masak untuknya.
“Irene,” Damar tiba-tiba mendekat ke arahku.
“Matamu sangat bengkak. Apa semalaman kau menangis? Maafkan aku…, aku sungguh-“
Aku pergi menjauh darinya dan mengambil posisi dudukku. “Hari ini aku akan mencoba melamar kerja di sebuah perusahaan.” Kataku padanya.
“Apa?” suara Damar meninggi.
“Tidak! Aku tidak setuju! Kau hamil tua. Kau harus banyak istirahat dan biarkan aku saja yang bekerja.”
“Aku bicara seperti ini bukan untuk mendengar kau setuju atau tidak.” Kataku seraya meraih susu hamilku yang juga sudah dia siapkan.
PRANG!!! Aku terkejut begitu Damar meraih gelas berisikan susu milikku dan menjatuhkannya di lantai.
“Kau sungguh tidak menghormatiku! Aku tahu, tingkatanku tak setinggi dirimu atau Axel, tapi aku ini suamimu! Aku di sini bukan untuk berdiri hanya melihat istriku bangun, tidur dan bekerja. Tugasku memimpin dan mencari nafkah! Semua kendali keluarga ini ada di bawahku. Kau atau siapa pun yang tinggal di sini menjadi tanggung jawabku. Kau mengerti?!”
Damar melepas apronnya dan melemparnya keras ke lantai bersamaan gelas kaca yang dia hancurkan. Lalu dia pergi meninggalkanku yang masih sangat terkejut melihat kemarahannya. Aku benar-benar terkejut karena melihat Damar bisa semarah itu. Aku kira, dia tak bisa marah, tapi ternyata…,
“Nona, Nona tidak apa-apa?”
“Bi Rina? Bibi kok bisa di sini?”
“Aden yang minta Bibi bekerja lagi di sini. Aden gak tega melihat Nona sendirian di rumah sebesar ini, tapi kenapa Aden marah seperti tadi?”
Damar? Apa benar Damar sangat peduli padaku?
……………………………
“Nona pasti kaget dengan sikap Aden ya?” suara Bi Rina memenuhi gendang telingaku. Aku pun yang sedang membaca buku di ruang kerja langsung menutupnya perlahan. Percuma juga aku punya niat untuk membaca buku. Toh, pikiranku terus saja ke Damar.
“Ohh Bibi, enggak kok. Kita memang sedang sedikit bertengkar.”
Bi Rina terkekeh seraya masuk membawa nampan berisikan susu milikku yang sudah Damar lempar ke lantai. Aku juga lihat nasi goreng buatan Damar yang sama sekali belum aku sentuh.
“Masa sih pengantin baru bertengkar,” kata Bi Rina dengan nada meledek. Aku pun hanya menanggapinya dengan senyuman.
“Arya pindah lagi kesini Bi?” tanyaku.
“Ya iya atuh Non. Kalau enggak Arya teh bisa ngambek. Dia kan fans berat Non Irene,” kata Bi Rina lagi-lagi meledekku membuatku tertawa pelan.
“Bibi nih bisa aja. Aku mau minta Arya anterin belanja ya. Baju-bajuku mulai sesak Bi,” ucapku seraya memegangi perutku yang terlihat sangat membuncit. Aku tak menyangka akan melihat perutku sebesar ini, tapi rasanya sungguh ingin menangis. Akhirnya di umurku yang tidak lagi muda ini. Aku bisa hamil anak kembar.
Ya ini anak kembar dan umur Damar lebih muda dariku dua tahun. Aku pun baru tahu saat kami tengah mengurus surat pernikahan. Aku kira, dia seumuran dengan Axel, ternyata dia lebih muda dua tahun dari kami, tapi dia sekolah lebih cepat. Dia pria yang cerdas dan terlalu banyak omong (tentu saja).
“Oh ya, apa kalian sudah menyiapkan nama?” tanya Bi Rina.
Aku terdiam sejenak. Umur kandunganku sudah beranjak 6 bulan. Kami belum sama sekali membicarakan kandunganku karena aku selalu menghindari pembicaraan ini. Entah kenapa, aku hanya tidak suka berbincang lama-lama dengan Damar. Mood-ku terasa jelek sekali saat bicara dengannya. Aku sempat berpikir apa mungkin bayi kami kesal dengan Ayahnya karena tidak langsung bertanggung jawab, tapi…, itu bukan salah Damar. Aku-lah yang salah sudah menyembunyikan berita ini. Buktinya ketika aku datang pada Damar. Dia langsung mengatakan akan mempertanggungjawabkannya.
“Damar belum tahu kalau bayi kami kembar,” kataku dan Bi Rina nampak ikut terdiam.
“Non,” Bi Rina nampak duduk di lantai. Dia menggenggam tanganku yang duduk di sofa. “Sebaiknya Non buka hati perlahan untuk Den Damar. Gak tahu kenapa, Bibi punya firasat kalau Den Damar orang yang sangat baik. Den Damar pasti peduli banget sama Non. Kalau Den Damar gak peduli sama Non. Den Damar gak mungkin minta Bibi kerja di sini nemenin Non. Den Damar juga gak mungkin marah tanpa alasan seperti tadi pagi.”
Lagi-lagi aku harus terhenyak mendengar kata-kata seperti ini. Mungkin, Bi Rina benar. Aku harusnya membuka hatiku untuk Damar. Seperti Damar yang juga membuka hatinya untukku. Aku yakin, jika tidak ada bayi ini mungkin di tak sudi menghadapi sikap tempramenku ini.
“Iren akan mencobanya Bi.”
Bi Rina nampak tersenyum. “Yasudah, Non makan dulu ya. Ini tadi masakan Den Damar gak sama sekali Bibi campur apa-apa lagi. Cuma Bibi hangatkan lagi karena tadi udah agak dingin.”
Aku mengangguk. “Makasih Bibi sudah kembali,” ucapku padanya tulus dan Bi Rina tersenyum seraya pergi dari ruangan.
Aku segera mencoba masakan Damar yang dia buatkan khusus untukku dan ternyata…, rasanya sangat enak. Tak kuasa aku menahan senyumku.
Dia pria yang manis.
………………………………
“Ini aja atuh Non bagus. Tambah cantik juga atuh,” kata Arya padaku. Umurnya terpaut sama dengan Elena. Karena itu aku menganggapnya seperti adikku sendiri. AAhh Elena…,
Aku sama sekali tidak bisa menghubungi nomernya. Sementara Max mengabaikan panggilanku. Aku ingin datang ke rumah Max, tapi aku tidak yakin apakah mereka akan membukakan pintu untukku menemui Elena.
“Gak bisa Non. Bapak udah ngelarang saya untuk anter Non kalau minta ke rumah Non Elena. Dari awal juga Bapak mah udah dilarang sama mendiang Ayah Non untuk gak terlalu dekat sama orang itu.”
“Tapi gimana kabarnya Elena? Dia sama sekali belum kasih kabar.”
“Yakin aja atuh pasti Non Elena baik-baik saja. Non Elena itu kan orangnya sangat baik. Dia ramah dan juga penyabar. Pasti ada orang yang membantunya jika Non Elena mengalami kesulitan. Orang baik pasti akan bertemu dengan orang yang baik Non.”
Arya benar. Elena anak yang baik. Sifatnya yang tenang itu membuat semua orang mencintainya. Aku juga berulang kali mengirimi pesan pada Max untuk memperlakukan adikku sebaik mungkin. Elena tidak berhak diperlakukan kasar dan seharusnya Max sudah puas menguras keluargaku.
“Ya semoga saja Elena tidak apa-apa.”
Damar POV
Pagi ini emosiku sungguh tuidak terkontrol lagi. Bahkan aku tidak bisa mengemudi sendiri dan meminta Pak Wawan yang mengantarku ke kantor karena sekujur tubuhku terasa bergetar masih merasakan emosi yang membara.
“Jangan terlalu dibawa emosi Den. Non Irene memang sedikit keras kepala, tapi dia mudah menyesali perbuatannya. Nanti juga dia akan meminta maaf pada Aden.”
Aku mengangguk pelan mendengar kata-kata Pak Iwan. Apa benar dia akan meminta maaf padaku? Lihat saja nanti atau kalau perlu aku pulang malam saja sekalian untuk sedikit menghibur diri dari rasa tertekan ini. Menghukum Irene juga yang sudah mengabaikan sebagai seorang suami.
Aku ingin dia mengerti kalau aku menikahinya tidak main-main. Meski aku pernah berpikir tidak ingin menikah karena memang inilah yang aku takuti. Kami bertengkar, kami tak baik-baik saja dalam sebuah perbedaan pendapat. Maka tak aneh semua pria merasa gila untuk mengerti seorang wanita. Wanita memang sulit dimengerti.
………………………………………………………………………
Bolak balik memperhatikan HP ternyata sia-sia. Pak Wawan bilang, Irene akan cepat menyesalinya, tapi buktinya dia tidak menghubungiku sama sekali. Bahkan aku pun tidak bisa fokus dengan pekerjaanku.
“Tidak bisakah kau berhenti memeriksa HP-mu?” suara Shawn si bule asli Amerika itu melipat ke dua tangannya di depan dada.
Aku pun menatapnya garang seraya menyandarkan punggungku di bangku. “Kenapa kau masuk tidak mengetuk lebih dulu?” tanyaku menaruh HP milikku di atas meja dan sedikit merapikan rambutku yang aku rasa sedikit berantakan. Rasanya benar-benar frustasi memikirkan istri keras kepalaku itu. Entah kenapa aku malah memikirkannya terus.
Shawn nampak mendengus pelan lalu memberikan sebuah berkas padaku. “Aku sudah mengetuknya, tapi kau tak menyahut sama sekali. Kau dipanggil bos untuk segera ke ruangannya.”
Aku pun mengangguk melihat jam tanganku seraya kembali menjauhkan punggungku dari sandaran kursi. “Sudah lewat jam makan siang?” tanyaku membuka berkas dari Shawn.
“Ckckck, aku benar-benar penasaran apa yang kau pikirkan sejak tadi. Kau sudah Teddy ajak makan keluar, tapi kau hanya memperhatikan HP kosongmu itu. Jangan bilang kau sedang bertengkar dengan nenek lampir itu!”
Aku langsung melotot apa yang Shawn katakan barusan dan berdiri dari bangkuku. “Apa kau bilang? Dia istriku! Jangan pernah katakan itu lagi!”
Bukannya takut dengan amarahku. Shawn malah terkekeh seraya menggelengkan kepala. “Kau sendiri yang memberikan julukan nenek lampir setelah perjalanan keluar kota, tapi kau juga yang marah karena aku menyebut nama itu, ckckck. Aku kira otakmu benar-benar sudah dia racuni!”
Aku mengangkat berkas ingin memukulnya, tapi Shawn langsung kabur menuju pintu dan menjulurkan lidahnya seraya keluar dari ruanganku.
Aku pun menghela nafas sejenak. Sebelum kembali duduk, Shawn membuka ruanganku seraya menyembulkan kepalanya. “Jam 8 hangout bareng kuy tempat biasa,” ucapnya seraya mengedipkan matanya.
Aku kembali mengangkat berkas yang kupegang dan Shawn kembali menghilang di balik pintu. Dipikir-pikir memang niat awal tadi pagi setelah bertengkar, aku memang ingin sedikit bersenang-senang untuk melepas penat. Apa lebih baik aku pergi aja ikut Shawn. Lagipula aku juga belum memenuhi janjiku untuk menemui Vinna terakhir kalinya. Nampaknya itu bukan ide yang buruk ketika Irene sedang marah padaku. Setidaknya bisa mengangkat beban di dada dan di kepalaku.
…………………………
White wine, favorit. Baru habis 2 gelas tidak membuatku mabuk. Sementara mataku melirik ke segala arah untuk melihat wanita yang sering menghampiriku itu sudah datang atau belum.
“Vinna sering sekali menanyakanmu,” kata Shawn. Aku pun hanya tersenyum menanggapinya.
“Sebenarnya tidak hanya Vinna sih. Masih ada wanita lain yang sering…,” Shawn menaik-turunkan alisnya.
Aku pun memukul kepalanya. “Tidak sering. Aku hanya bersenang-senang saja. Tidak sampai apa yang kau pikirkan.”
Shawn mengerang kesakitan, tapi aku bisa mendengar dengan baik kekehan tawanya. “Ya terserah kau saja, tapi yang pasti hanya Vinna yang tak bosan menanyakanmu setiap aku datang. Dia nampaknya sangat menyukaimu. Tidak ada kata pantang menyerah meskipun aku sudah katakan padanya kalau kau sudah menikah.”
“Biarkan saja. Nanti juga dia bosan sendiri,” kataku.
“Tapi dengan kau mencarinya seperti ini. Dia pasti akan berpikir kalau dia punya tempat di hatimu.”
Giliran aku yang terkekeh. “Dia dijaga baik dengan Maminya. Kau sendiri tahu tidak boleh ada ikatan apapun untuk mereka pada pelanggan. Mereka terikat dan aku tak punya tanggung jawab apapun padanya. Tanggung jawabku hanya pada Irene.”
“Jadi kau menikah hanya karena tanggung jawab? Kau tidak mencintainya begitu kan?” tiba-tiba suara seseorang yang aku kenal terdengar.
Vinna mengambil posisi duduknya di sampingku dan seperti biasanya, dia akan menempel padaku seperti perangko. Sebenarnya jika boleh jujur aku agak risih padanya, tapi mau bagaimana lagi. Hanya dia yang mau aku bayar sesuai dengan kantongku. Bahkan terkadang dia tak meminta apapun sebagai imbalan. Aku tahu kalau dia menyukaiku, tapi aku tentu tidak bisa membalas perasaannya.
“Mungkin lebih tepatnya belum,” jawabku seraya mengeluarkan rokokku lalu menyalakannya dengan tenang. Aku hanya bisa merokok saat di luar kantor dan di luar rumah tentunya karena Irene sedang mengandung.
“Lalu kenapa kemarin kau tidak datang di acara ulang tahunku?” tanya Vinna kali ini dia memeluk lenganku dengan sangat erat. Kepalanya dia jatuhkan di atas bahuku.
“Aku harus membatasi kegiatanku seperti ini. Aku bukan single lagi dan memang seharusnya aku tidak kembali ke sini lagi. Karena itu, ini terakhir kalinya.”
Vinna nampak melepas lenganku dan dia menarik wajahku agar bertatapan dengannya. “Kau sungguh tidak akan kesini lagi?” tanyanya dengan mata berkaca-kaca.
Aku pun melepas tangannya dari wajahku. “Yaa begitulah.” Kataku menuangkan minumanku lagi ke dalam gelas. “Kandungan istriku sudah semakin membesar. Aku juga harus semakin irit untuk menabung persalinan nanti. Bukan hanya itu-“
CUP! Aku terkejut begitu sebuah kecupan mendarat di pipiku. Vinna memeluk lenganku kembali semakin erat saja. “Berarti, malam ini, sungguh malam terakhir,” katanya.
Sebelum semuanya terjadi yang tidak-tidak aku segera menyingkir dan meninggalkan club karena di otakku hanya istriku! Irene! Aku akan sangat bersalah sekali melakukan ini.
****
Satu part lagi untuk mereka dan akan kembali ke Loli dan Axel ya^^