My Idiot Wife

My Idiot Wife
EXTRA PART [Axel-Lolita]




 


Halo ini udah extra part terakhir hehhehe. Nah, ini sekalian info ceritaku selanjutnya heehhe. Jujur aja dibanding buat cerita Irene-Damar, aku lebih matang idenya untuk Elena-MAx karena cerita Damar-irene itu udah pernah aku buat akhir tahun lalu tapi ternyata idenya benar-benar stuck, jadi aku menyerah. Tapi Elena-MAx udah bisa kalian baca di NovelToon/MangaToon. Aku udah masukin babnya dan kalian bisa search di beranda, atau kalau kalian gak nemuinnya, kalian bisa klik profilku ya terus karya, nanti pilih yang Naugthy Sugar! Jangan lupa like dan komennya^^ Dan baca karyaku yang lain ya!!


Extra part ini bersifat random ya, tidak ikut dengan part2 sebelum epilog. Jadi memang acak saja alurnya.


AXEL POV


Aku dan Lolita bangun pagi-pagi sekali. Sebenarnya aku terpaksa bangun pagi karena Loli bilang dia tidka bisa tidur. Kami pun berjalan-jalan sekitar hotel. Lolita nampak senang sekali karena aku tahu dia terlalu lama di rumah saja.


“Apa sebaiknya kita merencanakan libur, Sayang. Bagaimana kalau kita ke Bandung?” tanyaku terus menggenggam tangannya menuju restoran karena Lolita sudah mengeluh lapar.


“Loli mau! Ayo kita jalan-jalan. Loli suka jalan-jalan,” katanya dan aku mengacak rambutnya pelan.


“Baiklah, aku akan berusaha mencari waktu yang tepat. Aku usahakan kita liburan sebelum baby lahir supaya kamu senang,” kataku mencium ujung kepalanya dan Lolita tersipu merah.


“Axel, jangan cium Loli di luar. Loli malu,” katanya membuatku terkekeh, mengacak rambutnya.


Aku pun memanggil pelayan restoran. Aku memilih beberapa makanan berat dan juga pencuci mulut. Sementara Lolita terlihat bersemangat memesan ini-itu seperti orang kalap. Begitu pelayan pergi, aku pun menatap Lolita dengan serius.


“Kamu ngidam?”


Loli yang sedang tersenyum memasang wajah kebingungan. “Loli ngidam ya?” katanya seolah bicara pada dirinya sendiri. Dia mengelus pelan perutnya dan menatapku dengan wajah kebingungan.


“Ha ha ha atau mungkin wajar kamu pesan makanan banyak. Kamu kan sekarang tidak makan untuk diri sendiri. Nanti sebelum pulang kita belanja dulu ya. Susu kamu udah habis kan?”


“Loli juga mau beli es krim sama coklat boleh enggak Axel?” tanyanya.


“Iya boleh,” kataku dan Lolita jelas dengan wajah berseri-serinya mendaratkan ciumannya di pipiku.


Dia bahkan melingkarkan tangannya pada leherku dan mencium pipiku lagi beberapa kali. “Makasih! Loli senang karena Axel akhir-akhir ini selalu wujudin apa yang Loli mau.”


Aku menutup wajahku pura-pura malu. “Loli, jangan cium Axel dong! Axel kan malu karena lagi di luar. Nanti kalau orang lain liat gimana?” kataku memperagakan Lolita.


Kini Loli memukul dadaku. “Ihh Axel nyebelin! Tapi Loli sayang sama Axel,” katanya memelukku dari samping, aku pun merangkulnya dan menjatuhkan kepalanya bersandar di dadaku.


Kami menikmati orang-orang lalu lalang dengan senyuman yang merekah. Hotel ini memang menjadi tempat malam pengantin dan juga honeymoon. Sengaja ke sini karena aku juga ingin memberikan hadiah untuk Lolita karena sudah mengandung anakku.


“Axel, mereka sedang apa?” Lolita tiba-tiba menunjuk seseorang yang cukup jauh dari kami, tapi anehnya Lolita melihat adegan menjijikkan itu.


Menurutku itu terlalu norak. Seorang pria menaruh kentang goreng di mulutnya dan wanita di depannya mendekatinya perlahan dengan tawa mereka yang nampak sangat senang. Aku bisa tebak, mereka pasangan suami istri yang baru saja menikah karena cincin yang mereka pakai terlihat sama melingkar di jari ke duanya. Ah, anak baru kemarin. Aku dan Lolita sudah bukan waktunya melakukan itu. Kami akan memiliki anak dan kegiatan mesra hal seperti itu sudah tidak berkelas.


“Axel, Loli mau!” bisiknya di telingaku.


Aku menoleh ke arah Lolita. “Mau apa?” tanyaku.


“Itu…,” dia kembali menunjuk orang tadi membuatku terkejut.


“Tidak! Aku tidak akan melakukannya. Norak sekali! Memangnya dia tidak punya tangan untuk menyuapi istrinya,” sergahku menjauhkan Loli dari dekatku dan melipat ke dua tanganku di depan dada.


Lolita Nampak berkaca-kaca. Dia kembali menempel padaku dan besandar pada lenganku. “Loli ngidam nih! Mau ya!” katanya benar-benar mengambil kesempatan mengidam di tengah rengekannya.


Aku pun tetap menolak dan tahu sendiri, hasilnya Lolita mendiamkanku sampai kita selesai makan. Bahkan sampai di hotel ketika aku mengabulkan untuk meminta pelayanan pijat untuk Lolita, dia juga tetap mengacuhkanku. Hebat! Dia sudah pintar merajuk! Hahaha dasar istriku memang semakin menggemaskan!


Sebelum kami check out dari hotel. Aku memberikan hadiah pada Lolita. Sebuah kalung yang menurutku sangat cantik jika dia gunakan. Berbeda dengan wanita lain yang langsung hilang rasa kesalnya setelah melihat berlian. Lolita masih mencemberutkan bibirnya. Benar-benar tidak selesai hingga aku membelikannya coklat dan es krim yang dia mau. Bukan itu saja, sampai kami di rumah dia semakin mencemberutkan bibirnya dan mendadak minta Bi Tikah memasak kentang goreng di sore hari. Bi Tikah awalnya bingung, tapi aku memberikan isyarat pada Lolita untuk membuatkannya.


Sesampainya di kamar. Lolita masuk ke dalam selimut, menyembunyikan seluruh tubuhnya hingga tenggelam tak terlihat. Aku pun ikut masuk ke dalam selimut dan memeluknya dari belakang. “Kok ngambeknya lama sih?” tanyaku.


“Loli kesal sama Axel. Loli mau disuapin!”


“Iya, Sayang. Nanti aku suapin ya, tapi udahan marahnya,”


Lolita mengedikkan bahunya. “Loli tetap akan marah kalau Axel enggak mau suapin Loli kayak tadi.”


Well, aku tidak bisa menolaknya. Anehnya ibu-ibu mengidam. Ah, tapi bersyukurlah karena sekretarisku bilang, dia pernah mengidam menyuruh suaminya tidur di ranjang yang berbeda. Bahkan besoknya, dia tidak suka mencium bau badan suaminya. Dia bilang rasanya seperti terus mual. Beruntung anakku tidak melakukan hal mengerikan itu pada ayahnya.


***


Lolita tidak lagi marah karena ya pastinya setelah apa yang dia mau aku kabulkan. Setelahnya dia berterima kasih padaku mengenai hadiah yang aku berikan padanya. Aku senang, jika Lolita senang.


“Pagi!” aku mendengar suara orang yang aku kenal.


“Mama?” suara Lolita senang sekali. Dia langsung berhambur memeluk tubuh mama yang membawa makanan.


“Gimana kabar kamu, Sayang?” tanya mama mencium pipi Lolita seperti Lolitalah anak kandungnya.


“Baik, Ma. Kemarin Axel ajak Loli jalan-jalan. Kita belanja banyak banget! Axel jua beliin Loli kalung!” katanya dan aku mencibir di belakangnya.


“Terus Loli ngambek, Ma. Karena aku-“


Loli langsung berlari ke arahku dan menutup mulutku, sungguh lucu. Aku kira dia tidak masalah tentang itu. Setelah dia sadar kalau itu sangat norak. Dia pasti merasa malu sendiri. Sebenarnya hal itu sweet saja dilakukan, tapi jika memang dilakukan spontan. Bukan seperti Lolita yang memaksaku untuk melakukannya setelah melihat apa yang orang lain lakukan di depan mata kepalanya sendiri. Mengingat itu rasanya aku ingin menendang orang itu karena sudah memengaruhi otak Loli, hahaha.


“Apa?” tanya mama ingin tahu, tapi aku mengangkat bahuku dan mama nampak biasa saja.


Loli kembali mengajak mama untuk ikut membantunya masak dan tentu saja mama justru bawel meminta Lolita untuk tidak melakukan apa-apa selama hamil.


“Papa mana Ma?” tanyaku.


Aku mengangguk pelan mengerti. Ya, karena tentunya ayah Aldi sudah tiada. Maka papa akan menjadi orang tua ke dua untuk hidupnya. Aku sangat senang karena Aldi menganggap keluargaku ada. Aku juga senang karena sikapnya pada istriku semakin baik. Ah, salah, dia memang menyayangi Lolita. Hanya tidak menunjukkannya dengan benar. Mungkin dulu justru aku yang terlalu jahat pada Lolita dan Aldi yang membuatku seperti sekarang. Andai bukan karena terikat dengan Aldi. Aku tidak mungkin bisa bertemu dengan Lolita.


“Kamu kok diam aja sih?! Kamu mau ke kantor pakai boxer?” tanya mama padaku dan aku baru menyadarinya. Sial!


“Sayang, siapin baju aku!” kataku pada Lolita.


“Loli udah siapin semuanya kok di sofa kamar,” katanya dan aku merasa puas karena Lolita melakukan segalanya dengan sangat baik.


Aku pun kembali ke kamar untuk segera bersiap-siap menuju kantor.


***LOLITA POV***


Pernikahan yang megah. Tentunya lebih megah dari pesta pernikahanku karena Mas Aldi mempunyai segalanya. Dia juga yang sudah memberikan sokongan besar untuk suamiku.


“Sayang,” Axel langsung menangkap tubuhku hingga tubuhku tidak ada jarak sedikit pun. Pinggangku dia Tarik merapat menubruk pingganya.


“Jangan pergi dari penglihatanku, mengerti?” ucap Axel. Suaranya sangat posesif dan aku mulai terbiasa karena aku tahu kalau Axel mulai sagat mengkhawatirkanku.


Perutku yang membesar sudah menjadi kepentingannya untuk terus menjagaku. Setelah dia tahu jenis kelamin anak kami, tentu saja dia sangat senang karena sesuai keinginannya. Ya, anak kami seorang pria. Axel sangat bangga padaku karena bisa memberikannya pewaris bisnisnya.


“Axel, tapi jangan seperti ini! Loli jadi susah jalan,” kataku bergerak tidak nyaman karena Axel terlalu membuatku merapat pada tubuhnya.


Axel pun terkekeh dan mengacak rambutku yang sudah rapi, sungguh menyebalkan!


“Ahh, rambutku berantakan!” marahku dan Axel hanya menyengir kuda dan mengambil tanganku untuk dia genggam.


“Axel! Kamu bagaimana sih! Kakakmu mau menikah malah datang terlambat!” mama nampak marah pada Axel. Sementara aku hanya terkekeh karena melihat mama yang sibuk mengurus pernikahan Mas Aldi.


Seandainya, mama dan papa masih ada. Pasti keluarga kami akan sangat lengkap, tapi Tuhan tahu bagaimana membuatku bahagia. Aku sudah merasa cukup dengan keluarga Axel yang sangat perhatian padaku ataupun Mas Aldi.


“Ma, aku kan sekarang punya dua bayi,” kata Axel menggerakkan bibirnya untuk menunjukku. Aku pun langsung menginjak kaki Axel membuat suamiku kesakitan.


“Enak saja! Loli bukan bayi!” marahku memukul tubuh belakang Axel yang kini beralih memegang bahunya sendiri karena baru saja aku pukul.


“Yasudah, ayo cepat! Kamu akan menjadi pendamping Aldi hari ini! Mama enggak mau tahu!”


Kami pun segera menuju ke ruangan tempat di mana Mas Aldi terlihat sangat tampan dengan jasnya. Mas Aldi nampak kaku, dia terlihat gugup dan aku hanya mampu menyembunyikan tawaku karena baru kali ini aku melihatnya seperti ini.


“Lolita,” Mas Aldi melihatku dan segera memelukku erat.


“Hei, jangan peluk istriku sekencang itu! Dia sedang hamil anakku!” Axel menarik Mas Aldi, tapi aku langsung menarik kembali tangan Mas Aldi. Wajahku kubuat kesal pada Axel yang Axel tanggapi dengan bibir cemberutnya.


“Dia Masku,” kataku pada Axel.


Mas Aldi pun menyentuh perutku dan tersenyum sangat tulus. Jika bukan karena Mas Aldi, aku pasti tidak akan bertemu dengan Axel. Sekarang, sudah saatnya Mas Aldi juga bahagia.


“Mas senang melihatmu bahagia,” kata-kata Mas Aldi yang tak pernah kudengar sebelumnya.


“Do’akan Mas juga ya,” katanya dan dia mencium keningku cukup lama, hingga akhirnya seseorang memanggil Mas Aldi karena acara akan segera dimulai.


[…]


Semuanya nampak bahagia. Zia nampak cantik dengan gaun putihnya hari ini. Sementara aku tak kuasa meneteskan air mataku sejak acara dimulai. Bahkan ketika aku bisa pulang bersama ke rumah kami. Rumahku, Mas Aldi dan juga ada makam ayah di dalamnya.


Usai makan malam, aku pun menuju ruang khusus makan ayah. Mas Aldi yang meminta ayahku untuk tidak dikuburkan di mana pun. Meski awalnya aku piker mereka seperti tak pernah akur, tapi ternyata Mas Aldi menyayangi aku ataupun ayah dengan segenap hatinya.


“Sayang,” suara Axel berada di ambang pintu. Dia menghampiriku dan menaburkan bunga di atas makam ayah.


“Dipikir-pikir, aku tidak pernah datang ke sini dengan baik. Aku ingin menyapa ayahmu sekarang,” ucap Axel dan aku mengangguk pelan memberikan ruang lebih luas untuk Axel bisa menyentuh batu nisan ayahku.


Aku mengelus pelan perutku dan berdiri tepat di samping Axel karena tak tahan apabila harus duduk berlama-lama di atas lantai.


“Pa, saya Axel, suami Lolita. Terima kasih sudah menjaga istriku sejak dia lahir hingga dewasa. Dia wanita dan juga istri yang hebat. Sekarang kami sudah bahagia. Papa juga akan segera punya cucu dari Lolita, sementara Aldi sudah menikah dengan pujaan hatinya. Semuanya tidak ada yang perlu Papa khawatirkan. Keluargamu adalah keluargaku.”


Axel menyiram makam ayah dengan sebuah air. Lalu memelukku erat dan mencium keningku. “Aku masih ingat pertama kali kamu menangis di sini. Maafkan semua perbuatanku, Sayang. Aku janji akan menjagamu dan anak kita,” ucap Axel dengan sungguh-sungguh.


Sementara aku mengangguk pelan dan membalas pelukan Axel. “Terima kasih,” bisikku.


“Hai,” baru saja tenggelama di pelukan Axel aku mendengar suara lain di ambang pintu.


Nampak Zia dan Mas Aldi saling berpegangan tangan. “Apakah kalian sudah selesai?” tanya Mas Aldi.


Aku mengangguk dan Axel mengajakku keluar. Aku dan Zia memang belum begitu akrab. Zia memang cukup pendiam dan aku tidak mau membuatnya tidak nyaman dengan kondisiku yang serba tidak tahu ini. Aku takut kalau-kalau nanti dia kesal karena harus terus menjawab pertanyaanku, tapi pelan-pelan aku yakin semuanya pasti akan baik-baik saja.


“Reyes bagaimana kabarnya?” tanyaku pada Axel.


Axel terkekeh dan mengeluarkan HP-nya dari saku celananya. “Dia menikmati hidup barunya. Lumayan, dapat orang Indonesia di kampusnya. Aku rasa, kelulusan nanti, dia akan memperkenalkannya pada kita. Tenang saja, dia sudah melupakan Zia. Aku tahu itu sulit, tapi dia tetap harus melanjutkan hidupnya. Dia pernah bilang padaku, setidaknya dia sudah tahu bagaimana keadaan Zia sekarang. Karena Zia sudah berada di tangan yang tepat, Reyes pun sudah lega.”


Aku mengangguk mengerti dan merasa perutku lapar lagi usai makan malam bersama keluarga.


“Axel, Loli lapar lagi. Loli boleh makan lagi enggak?” tanyaku pada Axel dan Ael nampak bersemangat sekali menggenggam tanganku erat.


“Kita akan cari makan keluar. Sekalian malam minggu,” bisiknya membuatku langsung memukul dadanya, tapi tentu aku tak menolak.


Terima kasih Axel, sudah membuatku terus merasa bahagia dengan cintanya.


Akhirnya huhuhu selesai wkwwkkw. Terima kasih karena kalian sudah baca karyaku!! Mampir juga ya! ke ceritaku yang lain^^