
LOLITA POV
Tangan seseorang menyusup ke dalam bajuku dan bergerak mengelus pelan perutku. Aku pun membuka mataku perlahan, menemukan suamiku yang telah berganti pakaian dari sebelum aku tertidur karena kelelahan.
“Axel tidak tidur?” tanyaku padanya yang masih terjaga.
“Aku sudah kenyang tidur di pesawat. Malam ini aku ingin melihatmu lebih lama. Memandangi wajah istriku yang cantik ini,” ucapnya membuatku perlahan mengembangkan senyum. Rasanya manis sekali mendengar Axel mengatakan itu, seolah aku adalah wanita yang paling bahagia di dunia ini.
“Aku juga ingin lebih lama menyentuh bayi kita. Bagaimana keadaannya ya? Aku khawatir karena Bi Tikah bilang, kau terus muntah dan sulit untuk makan apapun.”
“Maaf,” ucapku. Aku tahu, aku memang bukan ibu yang baik sampai tidak bisa makan dengan baik untuk memberi nutrisi anakku.
“Berhentilah meminta maaf. Kamu tidak salah apapun, Sayang. Aku yang salah karena tidak bisa menjaga kalian,” ucapnya kembali kumengingat kejadian beberapa jam yang lalu. Malam ini memang malam yang panjang untuk kami berdua.
“Tapi Axel, aku ingin nasi goreng buatanmu.”
Axel menolehkan kepalanya ke arahku. Menatap mataku lekat-lekat dan tersenyum. Dia mencium keningku lalu beranjak dari ranjang.
“Aku senang mendengarmu meminta sesuatu padaku. Kau harus sering-sering meminta sesuatu padaku agar aku merasa berguna sebagai seorang suami.”
Aku pun bangun dari baringanku dengan susah payah karena tubuhku masih lemah. Axel segera berlari memutari ranjang dan membantuku sehingga aku bisa membisikkan sesuatu ke telinganya.
“Kalau begitu, aku akan memintamu untuk terus mencintaiku dan anak-anak kita. Jangan pernah tinggalkan kami hingga Tuhan yang memisahkan.”
Axel memegang keningku lalu menatap mataku. “Apa ketika kau sakit, kau jadi berubah menjadi wanita dewasa?”
“Axel!!” aku memukul dadanya kesal. “Memang selama ini Loli bukan wanita dewasa?”
Axel terkekeh seraya mengangkat tubuhku ala bridal membuatku sedikit terpekik, tapi juga memeluk erat lehernya agar tak jatuh. Di saat sepert ini, aku jadi ingat pernyataan cintanya beberapa menit yang lalu. Bi Tikah benar, Axel sangat mencintaiku. Seperti aku yang mencintainya.
“Kemarin,kau dewasa saat di atas ranjang saja,” bisiknya membuatku langsung melotot ke arahnya. Axel kembali terkekeh dan mencium pipiku.
“Tapi…, kaulah Loli-ku. Wanita yang aku nikahi dan akan menjadi seorang Ibu dari anak-anakku. Terima kasih karena sudah menjadi yang paling sempurna untuk hidupku.”
Aku tersipu malu mendengarnya. Kenapa Axel tiba-tiba semakin terdengar menjadi manis sekali. Aku semakin menyukainya. Aku semakin jatuh cinta pada suamiku sendiri.
……………………………………………………………………
Ibu mertuaku datang dengan membawa oleh-oleh dari luar kota. Aku pun dengan senang hati membukanya satu persatu hingga terkejut melihat sebuah mainan anak kecil dan juga pakaian ibu hamil yang sangat aku suka warnanya.
“Mama terima kasih. Loli suka sekali,” ucapku pada ibu mertuaku. Wanita itu sangat baik dan murah senyum. Begitu juga ayah mertuaku tak henti menatapku dengan mata berbinarnya. Axel bilang, mereka sangat senang mendengarku hamil.
“Sama-sama, Sayang. Mama juga terima kasih karena sudah menjadi bagian dari kami. Mama dan Papa sangat senang saat mendengar kami akan memiliki cucu. Di hamil tua nanti, kamu tinggal di rumah Mama ya. Mama khawatir sekali sama kamu.”
Aku mengangguk semangat. “Loli sudah lama tidak pernah merasakan pelukan Mama. Loli boleh minta peluk?” tanyaku.
Raut wajah Ibu mertuaku nampak berubah dan menatap ke arah Axel. Aku lihat, Axel mengangguk pelan dan ibu mertuaku pun beranjak dari duduknya. Dia memelukku dan kudengar isakan tangisnya.
“Terkadang, Mama juga memikirkan kamu di sini bagaimana kabarnya. Mama takut Axel tidak bisa memperlakukanmu dengan baik, tapi sekarang Mama tenang karena melihat kalian seperti ini.”
“Maafin Mama dan Papa karena baru bisa datang kesini. Padahal kamu udah minta ke Axel buat ketemu Mama ya. Kamu pasti terkadang rindu Mama kamu. Rumah kami terbuka kapan saja untukmu Lolita.” Ucap Ayah mertuaku dan aku tersenyum lebar mendengarnya. Aku memiliki ayah dan ibu lagi dari suamiku. Aku benar-benar berterima kasih pada Axel karena sudah menghadirkan orangtua baru untukku.
“Nenek bagaimana Ma?” tanya Axel.
“Sudah jauh lebih baik. Nenek juga setelah dibujuk akhirnya mau pindah ke rumah kita.”
Aku lihat Axel nampak menghela nafasnya seraya mengangguk. “Akhirnya mau pindah juga. Pasti sulit ninggalin semua kenangan di rumah itu. Nenek masih suka bengong sendiri ya?”
Mama nampak mengangguk.
“Sudah Ma, kita makan saja yuk. Papa sudah sangat lapar,” ucap Ayah mertuaku tiba-tiba membuat suasana mencair.
Aku pun berusaha bangkit tapi masih sedikit oleng membuat semuanya nampak khawatir. Axel pun memegangi tanganku kuat, dia membawa tubuhku lebih dekat dengannya.
“Lolita baik-baik saja?” tanya ayah mertuaku pada Axel.
“Semalam Lolita demam dan beberapa hari sulit makan karena terus muntah.”
“Ya Tuhan, sudah ke rumah sakit? Harus minta rujukan obat dan terus kontrol, supaya tahu perkembangan ibu dan anak,” kata Mama.
Aku dan Axel memang sudah sepakat untuk tidak mengatakan apapun tentang sesuatu yang terjadi sebelum hari ini. Biarlah semua itu menjadi rahasia kami.
“Nanti malam, mau ke rumah sakit Ma. Sekalian cek kandungan juga.” Kata Axel menjawab pertanyaan Mama.
“Yahh sayang sekali, Mama sama Papa gak bisa ikut. Hari ini setelah mengantar Reyes ke bandara. Kita langsung mau ketemu temannya Papa.” Kata Mama seraya berjalan perlahan di samping Axel yang juga memapah jalanku menuju ruang makan.
“Iya Ma, Axel bisa sendiri kok,” kata Axel dan Papa mengacak rambut Axel dengan senyum lebarnya.
“Huhh dasar, anak Papa sudah mau jadi Ayah saja. Rasanya cepat banget ya Ma lihat Axel sama Reyes besar.”
Mama terkekeh. “Papa sih ngerasa cepat. Mama ngerasanya lama,” kata ibu mertuaku seraya mengambil posisi duduknya di ruang makan.
Axel pun membantuku duduk dan meminta Bi Tikah untuk tak lupa membuatkan susu hamilku.
“Tapi meskipun lama, seorang ibu tidak akan pernah menyesal untuk memutar kembali waktu di mana bisa merawat anaknya. Tak peduli anak kita bandel, nakal dan susah diatur. Ibu yang baik pasti akan melakukan apa saja demi anaknya bahagia.”
Seandainya saja kata-kata itu bisa aku dengar dari ibu kandungku. Kiranya, aku tidak akan pernah merasa kesepian dan kenangan yang buruk tentang masa laluku.
***
Makasih banget yang sudah ikutin ceritaku. Cerita ini sangat ringan, tidak banyak konflik. Hanya menceritakan sisi kesedihan dan kebahagian pemeran utama aja. Btw, aku juga punya cerita yang lain. Yuk mampir:
-My Father's Friend
-Justin
-My Maid is Mine