
LOLITA POV
Aku senang karena ibu dan ayah mertuaku datang. Mereka nampak peduli sekali padaku. Begitu aku pun sangat senang atas semua perhatian mereka padaku. Sampai tiada hentinya aku tersenyum karena benar-benar membuat hatiku merasa tenang bukan main.
“Kau kenapa tersenyum seperti itu? Apa yang Reyes katakan padamu sampai tak bisa berhenti senyum-senyum sendiri?” tanyanya seraya membawakan susu milikku yang belum habis.
“Reyes?” tanyaku mengernyitkan alis. Memangnya Reyes mengatakan apa padaku?
“Tadi ketika dia pamit padamu. Aku lihat, dia membisikkan sesuatu padamu.”
“Sesuatu apa?” tanyaku lagi tak mengerti apa yang Axel maksud.
Axel nampak menyipitkan matanya ke arahku. Dia duduk di sisiku dengan memandangi wajahku sangat dekat. “Kau menyembunyikan sesuatu dariku.” Ucapnya dengan nada yang entah kenapa membuatku merasa tak nyaman.
“Loli tidak mengerti apa yang Axel maksud. Loli mau mandi ah! Awas!” kataku seraya mendorong tubuhnya hingga terjatuh ke atas ranjang. Sementara aku beranjak dari sisi ranjang.
“Baiklah kalau kau tidak mau mengatakannya padaku. Aku tidak akan mau menghukummu lagi,” ucap Axel membuatku membalikkan tubuhku.
Axel menopang kepalanya dengan satu tangannya di atas ranjang. Alisnya dia buat naik-turun seraya mengembangkan senyumnya.
Aku pun kembali duduk di sisi ranjang. “Kenapa Axel gak mau menghukum Loli? Loli kan mau dihukum sama Axel,” ucapku padanya membujuk, tapi Axel memutar bola matanya.
“Kau saja menyembunyikan sesuatu dariku. Katakan dulu apa yang Reyes bisikkan padamu.”
Aku menghela nafas kesal. “Dia tidak mengatakan apapun. Kenapa sih Axel tidak percaya dengan Loli?” marahku lalu kembali dari sisi ranjang dan membuka lemari untuk mengganti baju yang lebih nyaman. Aku ingin istirahat sejenak sebelum ke rumah sakit nanti.
“Loli, kamu marah? Aku kan hanya bercanda,” kata Axel membalikkan tubuhku hingga aku bisa melihat raut wajahnya yang khawatir.
“Maaf,” kataku menundukkan kepalaku. “Habisnya, Axel bilang gak mau menghukum Loli lagi. Padahal Loli kangen banget sama Axel,” kataku seraya menatap buku jari kakiku yang nampak sudah panjang belum dipotong.
Namun tak lama aku merasakan sebuah pelukan di pinggangku dan Axel mengangkat daguku pelan. Dia mencium bibirku dengan lembut dan menempelkan keningnya di keningku.
“Maaf deh, aku salah,” katanya membuatku tersenyum.
“Kalau begitu Loli tetap akan dihukum kan habis pulang dari rumah sakit.”
“Aku gak janji ya, Sayang,” ucap Axel membuatku melepas pelukan kami dan mendorongnya.
“Axel jahat!” aku mengambil baju gantiku asal dan berjalan menuju kamar mandi, tapi Axel menarik tanganku.
“Dengarin aku dulu dong. Sekarang kita tidak bisa hanya memikirkan kebahagiaan berdua saja, Sayang. Di dalam sini…,” Axel menyentuh perutku yang belum terlihat membesar seperti ibu hamil yang biasa aku lihat.
“Di dalam sini ada anak kita yang masih sangat lemah. Tadi kamu gak dengar apa kata Mama? Kita gak boleh terlalu sering olahraga malam bersama.”
“Ya kan kata Mama olahraga malam, bukan dihukum. Lagi pula kalau olahraga, aku gak pernah malam-malam kok,” ucapku padanya dengan nada kesal, tapi Axel malah tertawa keras. Wajahnya memerah bagai kepiting rebus. Dia mencubit ke dua pipiku dan menggerakkan keningnya di keningku seperti memperlakukan anak kecil.
“Kamu benar-benar menggemaskan ya. Maksud Mama, olahraga malam itu ya hukuman yang biasa aku kasih ke kamu.”
“Hah?” aku masih tak mengerti apa yang Axel katakan.
“Sudahlah, aku malas jelasin panjang lebar. Intinya, kita belum bisa berhubungan intim di waktu dekat ini. Kita harus memikirkan bayi kita juga, Sayang.”
Mendengar itu, aku langsung mencebikkan bibirku padanya. “Sekaliii saja,” ucapku dengan jari telunjukku.
“Baiklah, nanti kita konsulkan ke Dokter, oke?”
Aku langsung mengangguk senang.
Namun tiba-tiba Axel menarik tanganku dan mencium bibirku dengan terburu-buru. Dia menyesap bibir bawahku dan membiarkan tangannya menahan tengkukku. Begitu pun tangan lainnya hinggap di dadaku yang sedikit terasa sakit, tapi tidak mau membuat suasana menjadi keruh.Aku takut Axel tidak jadi melakukannya karena aku mengeluh sakit dan diam-diam aku pun terkekeh pelan dalam hatiku. Axel bilang tidak akan menghukumku tapi nyatanya dia pun ingin sekali melakukannya.
Nafas kami tersenggal dan Axel terkekeh pelan. "Aku rasa, aku semakin gila melihatmu. Aku harus mengontrol diriku, Sayang. Maafkan aku karena terlalu bersemangat. Satu hal yang harus kamu tahu. Aku sangat bahagia bisa melihatmu setiap hari dan aku tidak akan sabar menunggu anak kita lahir," ucap Axel kembali menghadirkan rasa kecewa di hatiku. Aku kira, dia akan menghukumku :(
"Terima kasih untuk ciuman manisnya," bisik Axel di depan wajahku seraya mengusap ujung bibirku lembut. "Kau sangat manis seperti biasanya," katanya dan entah kenapa membuatku menyentuh bibirku sendiri.
Benarkah? Aku sangat manis? Apa Axel semakin menyukaiku?
……………………………………………………………………
Sepanjang jalan aku memikirkan apa yang Reyes katakan tadi ketika pamit padaku. Aku sedikit mengingatnya tapi juga sedikit melupakannya karena aku terlalu fokus pada Mama dan Papa yang hari ini cukup membuat hatiku bahagia.
“Sudah, jangan dipikirkan. Dokter bilang hanya sampai 3 bulan saja kan. Ini buat jaga-jaga saja kok. Kalau ingin melakukannya, kita bisa sesekali saja asal jangan terlalu sering seperti sebelumnya,” kata Axel membuyarkan lamunanku.
“Axel ngomong apa?” tanyaku padanya tak begitu mendengarnya.
“Kamu beneran bengong ya. Kamu mikirin apa yang Dokter Alika bilang tadi?”
Aku menggelengkan kepalaku. “Loli sedikit ingat apa yang Reyes katakan tadi, tapi Loli juga lupa Reyes ngomong apa.”
“Huhh kamu nih ya, belum tua aja udah pikun. Emang pas Reyes pamit ke kamu. Kamu lagi mikirin apa? Ingat ya, kata Dokter Alika tadi. KAmu gak boleh terlalu banyak pikiran. Harus banyak istirahat, makan buah, sayur dan jangan lupa minum susunya.”
Aku mengangguk pelan lalu menatap jalanan di luar. Rasanya ada sesuatu yang mengganjal di dadaku mengingat apa yang Reyes katakan sebelum pergi, tapi apa?
“Sayang, kamu bengong lagi? HP kamu bunyi tuh,” ucap Axel dalam kemudinya.
Aku segera mengeluarkan HP-ku dari tas dan melihat nama Mas Aldi di layar HP-ku.
“Halo Mas Aldi,” kataku seraya mengangkat telepon darinya dan aku seolah mengingat sesuatu.
“Aku dengar Reyes sudah tidak di Jakarta?”
Mendengar pertanyaan itu dari Mas Aldi. Aku langsung melirik ke arah suamiku yang tengah menyetir. Axel yang tak tahu apa-apa menggerakkan dagunya seolah bertanya ada apa.
“Ohh iya, siang tadi Reyes pulang. Kenapa tanya Reyes Mas?
“Tidak apa-apa. Bagaimana keadaanmu?” Aneh, semakin ke sini Mas Aldi semakin berubah. Dia jadi baik, penyayang dan perhatian padaku.”
“A-aku b-baik Mas. Mas bagaimana?”
“Baik juga. Yasudah kalau begitu jaga kesehatanmu ya. Kalau ada apa-apa hubungi Mas.”
“I-iya Mas, makasih,” ucapku.
“Sama-sama. Mas tutup ya,” katanya di seberang sana dan sambungan pun terputus.
“Kenapa?” tanya Axel langsung begitu aku menatap layar HP-ku. “Kok dia nanya Reyes. Mereka saling kenal?”
“Kemarin waktu aku masuk rumah sakit. Mas Aldi kalang kabut datang untuk lihat keadaanku. Dia banyak berubah setelah aku menikah denganmu.”
“Bukankah itu bagus.”
Aku mengangguk seraya tersenyum. “Aku juga senang Mas Aldi berubah baik padaku. Sepertinya kekasih Mas Aldi yang merubahnya.”