My Idiot Wife

My Idiot Wife
33: Pregnancy



Lolita POV


Treng!! Sebuah baskom berisikan ikan jatuh ke atas lantai.


“Hei!!!” seseorang berteriak di depanku. Lalu hal tak terduga untuk hari senin ini datang padaku. Jambakan rambutku di tangannya membuatku meringis kesakitan.


“Kau tahu? Sepatuku beli di Spanyol, sialan!” teriaknya padaku.


“Sakit,” kataku memegangi rambutku yang dia tarik sangat keras. “Kau yang menabrakku. Aku tidak menjatuhkannya,” belaku pada diri sendiri karena memang itulah yang aku rasakan tadi.


“Oh ya? Aku tidak merasa melakukannya, bagaimana?” dia melepas tarikannya dengan kasar hingga tubuhku terpelanting ke atas lantai.


“Aku tidak mau tahu! Sekarang cepat bersihkan!” katanya menyodorkan kakinya ke arahku. Sebuah sepatu berwarna hitam mengkilat itu memang terlihat sangat mahal, tapi aku berani bersumpah kalau aku sama sekali sudah memegangnya dengan erat. Aku merasa, dia yang berjalan ke arahku sengaja menabrakku hingga baskom yang berisikan ikan itu jatuh mengenainya.


“Kenapa diam saja?” tanya wanita itu.


Aku mendongakkan kepalaku ke arahnya. Beberapa orang di kelas ini berdiri di sampingnya seraya menatapku garang. Aku tidak tahu apa yang terjadi di sini padaku. Semuanya terasa cepat sekali berlalu. Kepalaku pun pening, tapi aku mendengar suara yang memanggilku dan beberapa dari mereka berteriak.


“Lihat kakinya! Kakinya berdarah!”


“Lolita!” suara itu masih dalam pendengaranku hingga aku akhirnya menutup mataku perlahan dan hilang kesadaran.


…………………………………………………………………


Kepalaku terasa berat, tapi aku mendengar suara yang nampak aku kenal.


“Chef Valdi,” panggilku begitu perlahan aku lihat bayangan dirinya berada di sampingku sedang berbicara dengan seorang dokter.


“Lolita, kau sudah sadar?”


Aku berusaha mengangkat tubuhku, tapi Chef Valdi melarangnya.


“Jangan bangun dulu. Kau tetap berbaring saja. Keluargamu sebentar lagi akan ke sini. Aku sudah menghubungi Kakakmu.”


“Mas Aldi?”


“Iyah , dia bilang akan segera kesini,” ucapnya membuatku terdiam. Beberapa kali aku ke rumah untuk menjenguk Mas Aldi dan makan Papa, tapi Mas Aldi seperti biasanya bersikap dingin padaku. Kali ini…, apakah dia akan datang?


“Lolita!!” aku dengar suara di ambang pintu. Mas Aldi datang dengan nada kelelahannya. Perlahan membuatku tersenyum melihatnya yang nampak khawatir padaku. Dia berlari ke arahku dan memegang tubuhku.


“Mereka bilang kau berdarah. Di mana yang luka?” tanyanya dan aku pun melirik ke arah Dokter yang bersama Chef Valdi.


“Anda keluarga dari Ibu Lolita?” tanya Dokter itu dan Mas Aldi mengangguk masih dengan nafasnya yang tak beraturan.


“Ibu Lolita sedang mengandung. Kini sudah berumur 2 bulan.”


“Apa?” aku terkejut. Begitu Chef Valdi dan Mas Aldi melirik ke arahku.


Mas Aldi menggenggam tanganku seraya menepuknya seolah memberiku ketenangan. Aku tidak tahu ini kabar baik atau bukan. Aku hamil, tapi kenapa tadi berdarah?


“Seharusnya Bu Lolita tidak melakukan berat dulu atau terlalu banyak beraktifitas. Kandungannya cukup lemah, tapi untung saja tidak terjadi hal yang fatal karena bayinya masih baik-baik saja,” ucap sang Dokter membuatku menghela nafasku perlahan. Aku pun tersenyum lebar.


“Sementara biarkan Bu Lolita istirahat dulu dan tak melakukan banyak kegiatan, mungkin itu saja.”


“Baik Dok. Terima kasih banyak,” ucap Mas Aldi.


“Sama-sama. Kalau begitu saya permisi dulu,” ucap Dokter itu dan berlalu. Mas Aldi pun kini berbalik ke arahku dan wajahnya perlahan kembali dingin.


“Kau membuatku khawatir,” katanya. Aku tahu meskipun wajahnya berekspresi tak seperti yang aku inginkan, tapi sebenarnya Mas Aldi sangat sayang padaku.


“Kau satu-satunya keluarga yang aku punya. Kau harus jaga dirimu!” ungkapnya dan aku mengangguk.


“Maaf,” ucapku, tapi Mas Aldi tak menanggapinya. Dia hanya mengeluarkan HP-nya dan melepas genggamannya.


“Aku membawa kekasihku ke sini. Sepertinya aku berlari terlalu cepat hingga meninggalkannya. Aku akan cari di dulu dan menghubungi suamimu.”


“Mas,” aku menarik tangan Mas Aldi dan menggeleng. “Axel sedang keluar kota. Telepon Bi Tikah saja ya.”


Sebelum aku menjawab. Chef Valdi pun mengulurkan tangannya. “Saya Valdi. Chef tempat Lolita belajar kursus memasak dan saya yang membawanya ke rumah sakit.”


Mas Aldi pun menerima jabatannya. “Aldi. Terima kasih sudah menolong Adikku.” Lalu dia kembali menyentuh kepalaku. “Kau dengannya sebentar ya. Aku keluar sebentar.”


Aku mengangguk dan Mas Aldi segera keluar dari ruanganku.


“Aku kira kau sungguh single. Ternyata kau sudah punya suami.” Kata Chef Valdi seraya menarik sebuah bangku dan duduk di samping ranjangku. “Hahhahaha ternyata aku bodoh mengharapkanmu.”


Aku menoleh ke arah Chef Valdi. “Chef bilang, pacar itu seorang laki-laki yang mengatakan kalau dia cinta padauk. Axel sudah mengatakannnya padaku.”


Chef Valdi mengangguk pelan. “Nampaknya pernikahanmu dengannya tidak begitu menyenangkan. Orang menikah itu didasari cinta, Lolita. Jika kau menikah tanpa mendengar kata cinta darinya. Aku yakin sekali, kalau pernikahan kalian dilaksanakan tanpa kalian inginkan, tapi aku tidak mau mencapuri hal itu. Kau sudah menikah. Kau mempunyai sebuah hubungan dengannya.”


“Hubungan apa?”


Chef Valdi terkekeh mengacak rambutku. “Hubungan suami istri tentunya. Dia sudah berhasil membuatmu hamil. Aku iri padanya,” kata Chef Valdi membuatku semakin tak mengerti.


“Kenapa Chef iri pada Axel?”


“Karena dia bisa menikah denganmu, mencintaimu dan menyukaimu sebanyak yang dia mau.”


Aku tak begitu mengerti apa yang dia maksud dengan sebanyak yang Axel mau, tapi aku menemukan sebuah kesedihan di wajahnya.


“Oh ya aku minta maaf karena terlambat menolongmu. Lebih baik, kau tidak datang lagi ke tempat kursus. Aku takut ada hal lain yang lebih buruk dari apa yang terjadi hari ini.”


Aku menggelengkan kepalaku. “Aku sangat ingin belajar memasak. Axel menyukai wanita yang pintar memasak.”


Chef Valdi tertawa. “Kau sangat ingin pintar memasak karena ingin membuatnya jatuh cinta padamu?”


Aku mengangguk. Memang awalnya tidak seperti itu, tapi setelah Axel bilang dia suka wanita yang pintar memasak. Aku jadi semakin ingin bisa memasak.


“Bagaimana kalau aku yang datang ke rumahmu? Aku akan mengajarmu khusus.”


“Benarkah?”


Chef Valdi mengangguk dan menarik tanganku. “Tapi sekarang kau harus istirahat dulu. Jika kau rasa sudah merasa fit kembali. Kau bisa menghubungiku kapan saja.”


“Terima kasih Chef. Chef sudah sangat baik padaku.”


Tak lama kami berbincang. Mas Aldi pun kembali dengan membawa seorang wanita di sampingnya. Wanita yang aku tahu pernah membuat Mas Aldi menangis. Sekali seumur hidupku melihat Mas Aldi begitu sedih karenanya.


“Lolita, ini kekasihku. Perkenalkan namanya Zia. Kau suah pernah melihatnya sekali waktu itu di rumah,” kata Mas Aldi dan aku jelas mengingatnya. Dia memang wanita yang membuat Mas Aldi menangis.


“Zia, ini Lolita adikku.”


“Zia,” kata orang itu mengulurkan tangannya padaku. Aku pun menyalaminya, tapi entah kenapa tangannya dingin sekali. Padahal AC ruangan ini tidak dipasang begitu dingin.


Aku pun melihat perubahan wajah wanita bernama Zia itu. Dia tersenyum kaku padaku dan menyentuh perutku dengan tangan gemetar.


“Selamat karena kau akan menjadi seorang Ibu,” katanya dan aku tersenyum padanya.


“Terima kasih. Aku senang bertemu denganmu,” kataku.


“Oh ya Zia, ini Valdi. Dia seorang chef di tempat Lolita kursus. Dia yang menolong Lolita tadi.” Kata Mas Aldi kini beralih mengenalkan Chef Valdi dan mereka bersalaman santai. Tak seperti aku yang bersalaman dengannya terasa kaku.


“Aku sudah menghubungi Bi Tikah. Dia bilang akan datang dengan Reyes, adiknya Axel. Memangnya dia ada di sini? Aku belum pernah bertemu dengannya.”


Aku mengangguk pelan. “Iya, dia di sini sudah hampir sebulan. Dia sedang liburan.”


“Oh begitu.”


“Aldi, kita harus kembali ke kantor. Nanti akan ada rapat penting,” ucap Zia pada Kakakku dengan wajahnya yang tidak bisa kuartikan.


.......................................................


Terima kasih yang sudah menunggu :( Jangan lupa like dan komentarnya ^^