My Idiot Wife

My Idiot Wife
35: Wait For You



Lolita POV


Aku memegang perutku yang baru kusadari kalau ini mulai sedikit membuncit. Reyes menyentuh HP-ku lalu kulihat dia mematikannya tanpa seizinku.


“Jangan diaktifkan sampai suamimu kembali, mengerti?”


Aku menatap Reyes dengan penuh pertanyaan. “Kenapa?” tanyaku padanya.


Reyes pun menghela nafasnya perlahan. “Kau ini bodoh atau apa sih?! Seharusnya kau marah karena dia tidak mengatakan apapun tentang perjalanan bisnisnya.”


Aku pun menggaruk kepalaku dan mengingat terakhir kali percakapan kami di mobil saat Axel mengantarku ke tempat kursus. “Axel bilang kok ke Loli kalau dia akan berangkat ke luar kota dengan Damar.”


Reyes mendengus pelan. Lalu dia menyandarkan tubuhnya ke sofa. Reyes menggelengkan kepalanya seraya menatapku. “Kau tanya ulang padanya setelah nanti kembali. Kau tahu? Sebenarnya aku tidak mau mengatakan ini padamu tapi melihat kejadian hari ini seharusnya Axel tahu kalau tempat itu berbahaya untukmu. Dia suamimu dan dia tidak boleh sedikitpun lengah tentang kehidupanmu. Di umurmu yang seperti ini, kau tidak pantas di-bully atau diperlakukan seperti tadi, Lolita!!” teriak Reyes membuatku ketakutan.


Mataku pun perlahan seperti dipenuhi air. Tanganku yang tengah menggenggam selimut rumah sakit pun bergetar hebat. Aku ketakutan saat Reyes berteriak ke arahku.


“Kau tahu? Axel melakukan perjalanan bisnis dengan cinta pertamanya.  Aku tahu ini berat untuknya untuk meninggalkanmu, tapi apa dia tidak bisa mengangkat teleponnya meski sebentar?! Apa pekerjaan itu lebih penting dibandingkan istrinya sendiri?! Nafasku rasanya tiba-tiba berhenti ketika mendengarmu pendarahan! Kau benar-benar membuat semua orang mengkhawatirkanmu!”


“Maaf,” ucapku menundukkan kepalaku. Tak terasa air mataku pun jatuh perlahan. Sekarang, bukan hanya sebuah ketakutan karena Reyes membentakku, tapi juga sebuah ketakutan jika suamiku sendiri meninggalkanku.


“Tapi kenapa Axel berbohong padaku?” tanyaku pada Reyes.


“Dia tidak ingin membuatmu memikirkannya. Dia benar-benar pergi hanya untuk bisnis makanya dia membawa Damar untuk mencegah apapun yang terjadi padanya di sana.” Jelas Reyes perlahan suaranya melembut ketika dia melihat air mataku terus turun deras.


Reyes bangun dari duduknya dan menghapus air mataku dengan kaku. “Ma-af aku terlalu kalut karena…,” dia menatap mataku ragu dan helaan nafasnya yang dari mulut terdengar di telingaku.


“Aku tidak ingin Axel kehilangan wanita yang dicintainya. Aku tidak ingin dia mengalami apa yang aku alami. Kau tahu? Penyesalan kehilangan seseorang yang kita cintai akan terus menghantui hidupmu seumur hidup, tapi aku rasa-“


“Reyes,” aku menyentuh tangan Reyes. “Bisa tinggalkan aku sendiri? Aku ingin istirahat. Aku tidak akan mengaktifkan HP-ku sesuai katamu,” ucapku membuat Reyes ternganga.


“Lolita jangan seperti itu. Aku- aku tadi hanya sedikit kalut. Apapun yang aku katakan sebelumnya tidak serius.”


“Tidak, kau benar. Aku harusnya membuat Axel menyesal karena sudah berbohong padaku. Mungkin penyesalan itu tidak akan menghantui seumur hidupnya, tapi setidaknya bisa membuahkan sebuah pelajaran,” ucapku entah darimana aku dapat berpikir seperti itu dan menemukan kata-kata itu, tapi Reyes nampak diam dan mengangkat bahunya.


“Baiklah, kau benar. Seorang laki-laki sejati tidak boleh berbohong meski itu menyakitkan. Aku akan mengatakan pada Axel kalau semuanya baik-baik saja sampai nanti dia pulang, kau bisa berbicara padanya tentang apa yang terjadi dan kau juga bisa menumpahkan semua keluh kesahmu,” kata Reyes padaku seraya menepuk puncak kepalaku.


Aku pun mengangguk dan perlahan berbaring di atas bangkar dibantu Reyes. “Istirahatlah. Aku akan keluar sebentar cari angin.”


…………………………………………………………………………


“Non ayo makan. Non juga harus memikirkan bayi yang Non kandung sekarang,” suara Bi Tikah memohon padaku untuk memakan masakannya.


Selang dua hari aku kembali dari rumah sakit. Semua yang aku makan terasa hambar. Aku seperti orang sakit yang kehilangan nafsu makan. Perutku pun tak bisa menerima apapun karena rasa mual yang aku alami ini sungguh dahsyat. Aku hanya mampu meminum susu yang Bi Tikah belikan, tapi itu pun tak bertahan lama karena aku akan kembali memuntahkannya.


“Kemarin kan sudah bubur juga Non. Kalau makan bubur saja mah gak ada gizinya Non.”


Aku diam tak menjawab. Rasanya, ada sesuatu yang mengganjal di dadaku sejak mendengar apa yang Reyes katakan di rumah sakit dua hari lalu. Aku terus merindukan suamiku, tapi aku tidak mau menghubunginya karena aku sangat membencinya.


“Bibi telepon Den Axel ya, biar Den Axel cepat pulang. Non terlihat pucat sekali loh karena gak makan apa-apa. Bibi benar-benar khawatir kalau-“


“Loli mau sendiri Bi. Bawain susu sama bubur kecap aja,” kataku pada Bi Tikah.


Kudengar suara desahan nafas disertai suara khawatir khas seorang ibu mendekatiku. Bi Tikah menyentuh tanganku dan mengelusnya pelan. Dia merapikan rambutku dan menyingkirkannya ke belakang telinga. “Yaudah kalau Non gak mau Bibi teleponin Den Axel, Non makan buah ya meskipun sedikit. Bibi udah beliin melon kesukaan Non.”


Aku mengangguk pelan dan Bi Tikah tersenyum padaku seraya mengelus pelan wajahku. “Bibi tahu kalau Non sangat rindu Den Axel, tapi gak baik kalau Non terus berdiri di balkon seperti ini. Udara malam benar-benar gak baik buat Non yang sedang seperti ini. Non juga gak lupa kan kalau punya alergi dingin.”


Kata-kata yang Bi Tikah katakan tadi terdengar seperti apa yang pernah Axel katakan padaku saat aku berdiri di balkon. Apa Axel sedikit pun pernah mencintaiku dengan segenap hatinya. Apa Axel pernah sangat memikirkanku hingga ingin mati rasanya jika tak bisa melihat wajahku meski sedetik. Beberapa hari ini aku terus memikirkan itu dan rasanya tidak mungkin Axel pernah memikirkannya. Axel bilang, dia mencintaiku, tapi apa itu hanya kata-kata belaka?


Axel tidak pulang lebih cepat saat aku mematikan HP-ku. Seharusnya, dia segera pulang jika dia tak mendapatkan kabar apapun dariku. Bukankah begitu? Seperti apa yang Reyes katakan padaku kalau rasa kehilangan itu akan menghantui seumur hidupnya. Bukankah Axel seharusnya mengabaikan pekerjaannya dan mencariku. Bertanya bagaimana keadaanku atau apa yang terjadi hingga aku tidak mengabarkannya tentang apapun.


“Bi, apa Axel pernah mencintaiku meski itu sedikit? Bibi pernah bilang kalau cinta itu tidak dipaksakan. Cinta itu murni, tulus dan-“


“Den Axel sangat mencintai Non Loli, tapi kita tidak bisa menebak bagaimana dia mencurahkan rasa cintanya pada Non Loli. Semua orang punya caranya tersendiri dalam menyampaikan rasa cintanya dan kita tidak bisa menilainya dengan sesuai apa yang kita pikirkan.”


“Tapi Axel tidak pulang sama sekali meskipun orang rumah tidak ada yang mengabari keadaan Loli. Apa Axel benar-benar tidak peduli?”


“Non kok bicara seperti itu? Den Axel bekerja pun untuk Non Loli. Kalau masalah cinta pertamanya, Bibi pikir Den Axel sudah tidak pernah tertarik lagi. Selama ini, Bibi pikir sudah jelas sekali kalau Den Axel sangat mencintai Non Loli.”


“Itu cuma tebakan Bibi sama Reyes aja, tapi aku gak pernah merasa kalau Axel seperti itu.”


“Sutt Non sepertinya butuh istirahat.” Bi Tikah membawaku ke dalam kamar. Lalu dia perlahan membantuku berbaring di atas ranjang.


“Bi,” aku menarik tangan Bi Tikah saat dia akan meninggalkanku dan entah kenapa mataku tiba-tiba berkaca-kaca saat kembali memikirkan Axel.


“Loli sangat mencintai Axel. Loli sayang Axel. Loli-“


“Suttt Bibi temani Non Loli tidur ya,” kalimat terakhir yang aku dengar sebelum aku memejamkan mataku. Aku Lelah. Aku Lelah memikirkan semuanya.


Axel, Loli rindu Axel.


.......................................................


Aku nggak tahu bisa sampai berapa part tapi jangan lupa dukungannya, baik komen dan like ^^