
***NOTED: Sebelumnya mau ngasih tahu IDIOT di sini sesuai dengan judul punyaku yang pakai bahasa inggris ya. Jadi jangan tanya\, kok LOLI-nya kayak gak idiot? hihiihihi. Idiot dalam bahasa inggris itu artinya orang bodoh. Di sini penulis menggambarkan LOLI sebagai sosok yang agak LOLA (loading lama) dan polos. Jadi jangan dipatokkan idiot yang kalian pikirkan^^ ***
SELAMAT MEMBACA^^
Lolita POV
Aku memeluk tubuhku sendiri. Udara malam ini membuatku semakin kedinginan sementara mataku tak bisa berhenti untuk menangis. Aku melihat HP-ku sendiri yang tinggal beberapa persen lagi akan mati. Sudah tiga kali aku menghubungi Axel, tapi dia tidak mengangkatnya. Bahkan ke empat kali dan ke 35 kalinya aku menghubunginya. Nomer Axel malah tidak aktif.
Aku tidak tahu harus menghubungi siapa dan tadi aku malah menghubungi Bi Tikah sambil menangis. Bi Tikah bilang, mungkin HP Axel baterainya memang sudah habis dan dia akan segera menjemputku, tapi ini sudah hampir jam 7 malam. Aku masih di pinggir pantai dengan tubuh kedinginan dan dada yang mulai sesak.
“Lolita,” panggil seseorang membuatku menolehkan kepalaku dan melihat Axel yang datang.
“Axel,” lirihku berusaha bangun dari dudukku, tapi aku malah terjatuh.
Kepalaku terasa pusing, tapi Axel nampak tidak membantuku untuk bangun. “Axel, kakiku kebas dan kepalaku pusing,” kataku, tapi Axel hanya diam saja dan memperhatikanku.
Aku pun ikut terdiam. Tak bisa melakukan apa-apa selain menunggu rasa kebas yang membuat kakiku tidak bisa bergerak.
“Ingin berapa lama kau seperti itu?” tanya Axel padaku. Aku tidak mengerti apa yang Axel katakan padaku, tapi aku berusaha menggapai kakiku dan memijitnya dengan air mata yang kembali keluar.
Axel bilang, dia akan menjemputku segera. Dia bilang, dia tidak akan lama menolong Irene, tapi kenapa dia baru datang sekarang? Bahkan di saat kakiku kebas. Dia hanya diam saja dan tidak membantuku.
“Axel, aku ingin pulang,” kataku padanya mengusap air mataku yang berjatuhan.
“Yasudah ayo. Aku juga ingin istirahat. Kenapa kau hanya duduk seperti itu.”
“A-axel, a-aku tidak kuat berjalan,” kataku dan aku lihat Axel menghela nafasnya dari mulut.
“Kau sungguh menyusahkan! Cepat bangun! Jangan manja!!” Bentaknya menarik tanganku dengan kasar hingga aku terpaksa berdiri dengan kaki yang terasa sangat sakit.
“Axel!!” jeritku begitu aku tidak kuat dengan kakiku. Aku pun menarik tanganku dan jatuh di atas pasir pantai. Ku tekuk kakiku dan menyembunyikan wajahku di atas lutut meski kakiku masih terasa sangat sakit.
“Ck, apa yang kau lakukan?! Cepat! Ayo pulang!” dia menarik lenganku, tapi aku menolaknya.
Aku mengangkat wajahku dan mendongak ke arahnnya. “Kalau Axel memang tidak mau menjemput Loli tidak apa-apa. Kaki Loli sangat sakit, Axel. Loli tidak bisa berjalan,” kataku padanya seraya menangis.
Lagi-lagi Axel nampak tidak begitu peduli dengan apa yang aku katakan. Memang apa salahku dengannya? Kenapa dia seperti ini padaku? “Yasudah aku tinggal,” katanya seraya meninggalkanku.
Aku pun melihat Axel yang sungguh menjauh dariku. Ingin memanggilnya dan memohon padanya untuk mengangkatku rasanya tenggorakan sangat kering. Aku pun hanya bisa menangis di dalam lututku. Bertanya pada diriku sendiri apakah semua orang yang membawaku ke pantai hanya bisa menyisakan luka?
Apa aku sungguh tidak boleh bahagia?
Axel mengangkatku dan aku pun menyeruakkan wajahku ke lehernya.
“Berhenti menangis! Aku sangat benci mendengar tangisanmu,” katanya membuatku menggigit bibirku sendiri.
Bukankah Axel sangat lembut padaku? Kenapa sekarang dia kasar lagi? Kenapa dia membuatku menunggunya di pantai dalam waktu yang lama.
……………………………
Setelah di perjalanan kami menghabiskan waktu dalam dia. Aku pun hanya bisa melihat Axel yang usai mandi. Dia mengusap rambutnya lalu melemparkan sebuah handuk ke arahku.
“Cepat mandi! Kau sangat bau!” katanya, tapi aku merasakan dadaku sesak.
“Axel…, aku sedikit merasa sesak,” kataku padanya.
Aku lihat, dia berdecak dan menghela nafasnya dari mulut lagi. “Kau benar-benar merepotkan! Besok lagi, aku tidak akan mengajakmu lagi berpergian karena kau sangat rewel,” katanya dan aku pun menarik tangannya.
“Tidak, tidak, aku tidak akan bicara apapun lagi. Jangan katakan itu. Aku ingin terus bisa jalan-jalan dengan Axel,” kataku dan dia menarik tangannya lalu berbaring di atas ranjang membelakangiku.
Aku pun terdiam. Terus memikirkan apa kesalahanku. Ayah bilang, kalau seseorang marah pada kita. Kemungkinan kita melakukan kesalahan dan jika orang itu marah maka kita harus meminta maaf, tapi aku salah apa?
“Ck, kenapa diam saja?! Kau bau tahu! Cepat mandi! Kalau tidak mau mandi, kau tidur di sofa saja, sana!” katanya dan aku melihat ke arah sofa.
Mungkin Axel marah karena badanku bau. Kalau aku tidur di sofa. Dia tidak akan marah lagi kan? Aku pun tersenyum seraya berjalan perlahan ke arah sofa dengan kakiku yang sakit. Aku tidak kuat jika harus mandi saat ini. Dadaku sungguh terasa sesak dan aku sangat merasa lelah ingin istirahat.
…………………………
“Mas Aldi!! Mas di mana? Loli jangan ditinggal!” aku berteriak ke sana kemari. Memperhatikan orang yang lalu lalang.
Mas Aldi mengajakku ikut ke pantai dan melihat betapa indahnya pemandangan di sini, tapi kenapa tiba-tiba Mas Aldi menghilang?
“Masss!” teriakku, tapi aku tidak sama sekali menemukan Mas Aldi.
Aku pun duduk di pinggir pantai seraya memainkan pasirnya dengan asyik. Ah mungkin Mas Aldi hanya membeli es krim sebentar. Aku kan harus nurut sama Mas Aldi kata Ayah.
Aku menggulung celana jeans-ku dan masuk ke dalam air seraya memainkan airnya. Lalu membuat rumah-rumahan bersama teman kecilku yang lain dan berjalan ke sana kemari seraya memanggil nama Mas Aldi. Aku takut kalau dia tidak menemukanku karena aku tak sadar asyik bermain ke sana kemari di daerah pantai itu, tapi…,
Hari itu aku begitu percaya pada Mas Aldi akan kembali menjemputku yang ternyata hingga malam pun Mas Aldi tidak sama sekali menjemputku. Aku mulai menangis, menekuk ke dua kakiku dan menenggelamkan wajahku di atas lutut. “Mas di mana?” kataku dan tiba-tiba saja dadaku mulai sesak karena mungkin lelah menangis dan memang aku alergi udara malam yang sangat dingin seperti di pantai ini. Perlahan, aku pun melihat beberapa orang berdatangan.
“Heiii dia sesak nafas. Cepat telepon pihak rumah sakit,” hanya itu yang terakhir kali aku dengar karena aku mulai sibuk mengatur nafasku yang bercampur dengan tangisan. Sungguh, hari itu rasanya seperti aku di ambang kematian. Aku sungguh kehilangan oksigen yang biasa aku hirup seraya memikirkan, lebih baik aku mati saja daripada harus hidup merepotkan orang lain. Toh, kalau aku mati pun tidak ada satu pun yang sedih. Bahkan mungkin mereka akan senang karena tidak akan ada lagi benalu yang mengganggu hidup mereka.
*****
Beberapa part ini bikin aku nangis sendiri buatnya. Maap kalau bikin kalian nangis juga karena emang ini mellow banget. Ngebayangin enggak sih ,orang di luar sana ada yang gak seberuntung dari kita~ tapi mereka juga berhak bahagia.