
***NOTED: Sebelumnya mau ngasih tahu IDIOT di sini sesuai dengan judul punyaku yang pakai bahasa inggris ya. Jadi jangan tanya\, kok LOLI-nya kayak gak idiot? hihiihihi. Idiot dalam bahasa inggris itu artinya orang bodoh. Di sini penulis menggambarkan LOLI sebagai sosok yang agak LOLA (loading lama) dan polos. Jadi jangan dipatokkan idiot yang kalian pikirkan^^ ***
SELAMAT MEMBACA^^
Lolita POV
Aku sangat senang karena hari ini bisa belajar membuat zuppa keju bersama teman-teman kelas masak. Sebelum aku pulang, aku sempat mampir ke rumah untuk memberikan bolu pisang buatanku pada Mas Aldi dan aku bertemu dengan seorang wanita bernama Zia.
Aku sempat bertanya siapa wanita itu pada Mas Aldi, tapi Mas Aldi tidak menjawabnya. Baru kali ini aku melihat wajah Mas Aldi yang terlihat sangat sedih. Aku tidak tahu, masalah apa yang sedang dia lalui saat ini, tapi aku sungguh ingin menemaninya agar dia tak sedih lagi. Aku ingin izin dulu dengan Axel dan besok aku akan menginap di rumah.
“Non sudah pulang?” tanya Bi Tikah begitu aku masuk ke dapur dan Bi Tikah sedang menyiapkan makanan.
“Iya Bi, tadi Loli buat bolu pisang lohh!! Cobain dehh, Bi Ini enak banget,” kataku dan Bi Tikah segera mengambil bolu yang kubawa.
“Bibi taruh piring ya. Oh ya, Den Axel sudah pulang dan menyuruh Nona untuk ke kamar.”
“Wahh Axel udah pulang ya!! Axel!!” Aku senang sekali mendengar dia pulang. Tumben sekali dia pulang lebih cepat, tapi aku senang jika Axel pulang cepat.
Aku pun segera berlari ke arah lantai atas dan membuka kamarku. Aku lihat Axel sedang mengganti bajunya. Sementara aku segera berhambur memeluknya dari belakang.
“Axell!!” teriakku memeluknya erat dari belakang. “Loli senang deh kalau Axel pulang cepat.” Kataku menempelkan wajahku di punggungnya. “Loli jadi mudah rindu dengan Axel.”
“Lolita!!! Kau apa-apaan!” tapi tiba-tiba aku mendengar suara yang tak asing di telingaku.
Aku lihat Axel berada di ambang pintu kamar mandi dengan wajah marahnya. Sementara aku…, aku sedang memeluk siapa? Aku segera melepasnya dan suara tawa menggelegar di kamar.
Aku segera berlari ke arah Axel dan bersembunyi di balik tubuh suamiku yang baru saja habis mandi. “A-axel d-dia s-siapa?” tanyaku begitu takut dengan orang asing yang berada di kamarku. Kenapa hari ini aku banyak bertemu dengan orrang-orang yang tidak aku kenal.
“Kau!! Kenapa kau masuk ke dalam kamarku sembarangan!” marah Axel entah pada siapa, tapi yang jelas tubuhku tiba-tiba bergetar ketakutan.
Axel mungkin menyadarinya sehingga dia menarik tubuhku ke dalam pelukannya. “Kau membuat istriku ketakutan! Cepat keluar dari kamarku!” marah Axel dan pria tadi nampak mendekat ke arah kami membuatku langsung menyembunyikan wajahku ke dalam dada bidang Axel.
“Axel aku takut,” bisikku pada Axel. Namun Axel semakin mendekapku erat hingga aku bisa mencium aroma tubuhnya.
“Ck, tidak perlu marah seperti itu. Aku kan hanya ingin meminjam baju. Aku tidak bawa baju santai ke Indonesia. Makanya aku ke kamarmu dan berniat meminjam baju, tapi dia sudah main memelukku saja dari belakang,” kata pria itu.
“Yasudah ambil di lemari itu! Kalau sudah, cepat keluar! Istriku ketakutan karenamu!” Kata Axel sangat tegas membuatku merasa terlindungi.
Pria itu pun tak terdengar berbicara apapun lagi. Aku hanya mendengar sebuah lemari terbuka dan suara kekehan dari bibirnya. “Thank you,” katanya lalu kudengar sebuah pintu kamar tertutup.
Aku pun melepas pelukanku. “Axel, maaf,” kataku menundukkan kepala merasa bersalah telah memeluk orang yang salah.
“Suttt sudah tidak apa-apa,” kata Axel menyingkirkan helaian rambutku dan mengangkat daguku hingga wajah kami berhadapan. “Tapi sekarang kau mengerti kan kalau memeluk selain suamimu itu akan menyebabkan masalah. Begitu pula, jika kau jatuh cinta pada selain suamimu, kau akan berada di dalam masalah.” Kata Axel, tapi aku tidak mengerti.
“Aku tidak mengerti maksudmu,” kataku terus terang dan Axel tersenyum seraya mengacak rambutku.
“Yasudah nanti saja kita bicarakan. Kau baru pulang kan? Bagaimana kalau kau mandi dulu dan kita makan bersama di bawah. Aku sangat lapar,” ucap Axel padaku. Aku pun mengangguk seraya tersenyum padanya.
“Aku bawa bolu pisang buatanku loh!”
“Ohh ya?” kata Axel dengan wajah tampannya.
“Iyah sudah aku taruh bawah.”
“Baiklah, nanti akan aku coba. Sekarang aku akan menunggumu sampai selesai mandi.”
Aku mengangguk dan segera berjalan ke arah lemari untuk memilih baju ganti.
Aku mencuri pandangan ke arah pria yang tadi tak sengaja aku peluk, tapi aku tak berani memandangnya lebih berani lagi.
“Istrimu unik juga ya,” kudengar suara pria itu berbicara pada Axel yang sedang menikmati makanannya. Kami sedang makan malam bersama di meja makan dengan tanpa suara apapun.
“Baru kali ini aku melihatmu jatuh cinta pada wanita seperti dia.”
TREK! Axel yang sedang tenang memakan santapannya, tiba-tiba membuatku terkejut krena dia menaruh sendoknya dengan kasar hingga beradu dengan piring.
“Apa aku tidak bisa makan dengan tenang? Aku benar-benar lelah dan butuh tenaga untuk kembali bekerja.”
Pria itu pun terkekeh seraya menggelengkan kepalanya. Lalu dia menolehkan kepalanya ke arahku seraya mengulurkan tangannya. “Aku Reyes, nampaknya suamimu sedang begitu sensitif karena kedatanganku hari ini begitu mengejutkannya,” ucap pria itu dan aku hanya memandangi tangannya yang tidak aku langsung sambut.
Aku melirik ke arah Axel perlahan, dia tahu kalau aku seperti ketakutan sehingga tangannya perlahan menyentuh lenganku di bawah meja. Axel mengangguk memberi tanda bahwa aku boleh menyambut uluran tangannya.
“Lo-Lo-Lolita,” kataku menyambut ulurannya dan dia meremas tanganku perlahan membuatku menarik tanganku dengan keras.
“Aku sedang libur kuliah. Mungkin akan sedikit lama tinggal di sini. Senang bertemu denganmu, Lolita,” ucapnya mengedipkan sebelah matanya ke arahku.
“Axel,” aku bersembunyi di balik lengan Axel karena melihat tingkah pria bernama Reyes itu sangat membuatku takut.
“Berhenti mengedipkan matamu di depan istriku. Dia bukannya suka padamu, tapi malah takut.”
Reyes tertawa lagi, tapi kali ini benar-benar terdengar lepas sekali.
“Menarik sekali. Aku jadi semakin penasaran. Dia begitu unik dan menggemaskan!” katanya menggerakkan tangannya ke arahku seakan ingin mencubitku, tapi Axel memukul tangan Reyes.
“Awas saja berani menyentuhnya,” kata Axel dengan nada terdengar sedikit marah.
“Huhhh suami posesif, dasar!” ucap Reyes. “Jadi bagaimana awal ceritanya hingga kalian bisa menikah? Oh ya, Lolita, bagaimana kau membuatnya jatuh cinta padamu? Aku ingin mendengar ceritanya,” Reyes meletakkan tangannya ke telinga.
“Jatuh cinta?” tanyaku ke Reyes. Tanganku perlahan reflek lepas dari lengan Axel dan menatap Reyes dengan serius. Jatuh cinta? “Siapa yang jatuh cinta?” tanyaku.
“Ya dia,” Reyes menunjuk Axel.
Aku pun langsung menoleh ke arah Axel. Aku kira, saat ini Axel hanya menyukaiku. “A-Axel, Axel ja-ja-jatuh cinta dengan si-siapa? Axel, tidak suka lagi dengan Lolita? Kenapa Axel, jatuh cinta lagi?” tanyaku pada Axel dengan mata berkaca-kaca.
Aku lihat ekspresi wajah Axel berubah. “Aku-“
“Hahahahaha,” aku dengar suara tawa dari Reyes. Aku lihat dia bertepuk tangan dan memegangi perutnya dengan nada tawanya yang semakin geli. Memangnya ini lucu?
“Kau! Menyebalkan!” kata Axel pada Reyes membuatku tak mengerti.
“Sudah aku bilang, istrimu memang unik. Ahhh bukan unik, tapi tepatnya sedikit LOLA (loading lama).” Kata Reyes membuatku langsung menatapnya dengan marah. Apa dia bilang?
“Aku tidak seperti itu!” sergahku. Namun Reyes masih terus tertawa geli.
“Jelas-jelas aku bertanya bagaimana dia bisa jatuh cinta padamu. Bukan dia yang jatuh cinta pada orang lain,” ungkap Reyes membuatku pusing mendengarnya. Aku tidak mengerti.
“Gak tahu ah! Aku pusing!” kataku seraya berdiri dari duduk.
“Lolita, kamu mau kemana? Makananmu belum habis,” teriak Axel, tapi aku tak menanggapinya. Aku berlari ke lantai atas karena aku tidak suka di antara mereka berdua. Aku terlihat sangat memalukan di depan adiknya Axel.
……………………………………