My Idiot Wife

My Idiot Wife
25: Cinema



***NOTED: Sebelumnya mau ngasih tahuu IDIOT di sini sesuai dengan judul punyaku yang pakai bahasa inggris ya. Jadi jangan tanya\, kok LOLI-nya kayak gak idiot? hihiihihi. Idiot dalam bahasa inggris itu artinya orang bodoh. Di sini penulis menggambarkan LOLI sebagai sosok yang agak LOLA (loading lama) dan polos. Jadi jangan dipatokkan idiot yang kalian pikirkan^^  ***


 


 


SELAMAT MEMBACA^^


**Lolita POV **


Axel menyingkir dari atas tubuhku dan menarik selimut menutupi tubuhku yang terbuka. Axel juga menarik selimut sebatas dadanya,lalu merapatkan tubuhnya ke arahku. Dia menyingkirkan beberapa rambut kecil yang menghalangi wajahku, memandangku yang juga sedang mengatur napasku perlahan. Lengannya dia masukkan ke sela tengkukku dan menciumku di pipi.


"Terima kasih," bisiknya lembut membuatku sedikit memejamkan mataku karena merasakan sesuatu yang tidak bisa aku gambarkan. Aku senang. Aku bahagia. Rasanya tidak hanya bisa diungkapkan dengan kata.


 


 


“Aku ingin bicara denganmu,” kata Axel membuatku mengubah posisiku sekarang supaya bisa melihat wajahnya. "Aku dengar kemarin kau habis ke rumah Aldi. Bagaimana kabarnya?” tanyanya.


“Mas Aldi baik-baik saja, tapi ada yang aneh dengannya.” Kataku seraya mengingat kembali ketika Mas Aldi berteriak memanggil seorang wanita bernama Zia. "Wajahnya nampak sedih dan  Loli sedikit melihat air matanya yang keluar, tapi segera Mas Aldi hapus ketika Loli turun dari mobil."


“Ada apa?” tanya Axel seraya mengelus pelan alisku lalu turun kepada pipiku dengan lembut. Aku lihat sebuah cincin berada di antara jari-jarinya seperti apa yang aku gunakan saat ini. Aku sadar, Axel semakin terbuka dengan semua orang dan mengatakan kalau aku ini istrinya. Bukankah menyenangkan?


Bi Tikah juga bilang jika Axel sudah mulai memakai cincin pernikahan kami itu berarti Axel ingin semua karyawannya tahu kalau bosnya sudah menikah dan wanita beruntung itu adalah aku.


Aku menggelengkan kepalaku. “Dia memanggil seorang wanita. Aku rasa, Mas Aldi menyukai wanita itu, tapi Loli tidak tahu kenapa Mas Aldi menangis. Apa Mas Aldi disakiti oleh wanita itu?”


“Hemmm mungkin,”Axel mengangkat bahunya. “Tapi kau tidak perlu mengurusi masalah pribadinya ya. Aku takut dia melakukan hal yang menakutkan hingga membuatku khawatir. Jangan terlalu sering ke rumah Aldi sendiri. Jika kamu ke sana, kamu harus kabarin aku dan harus bersama Pak Jani, mengerti?”


Aku mengangguk pelan dan kini aku ingin bertanya sesuatu pada Axel.


“Axel, apa orangtua Axel tidak mau main ke sini? Terkadang Loli rindu sama Mama. Sejak kecil Loli tidak punya Mama. Loli boleh gak meluk Mama Axel?” tanyaku. Rasanya ada sesuatu yang sesak di dalam dadaku. Berat sekali mengatakannya, tapi Loli sungguh ingin memeluk seorang ibu saat ini. Entah kenapa hatiku benar-benar merasa rindu dengan sosok seorang ibu.


“Aku akan memintanya untuk segera kembali jika kau ingin bertemu. Saat ini orangtuaku sedang di luar kota mengurus Nenek yang sedang sakit keras. Makanya, Reyes ikut tinggal di sini sementara karena di rumah sangat sepi.”


Aku pun mengangguk pelan. “Terima kasih, Axel.”


Axel pun tersenyum lalu mencium keningku. “Apapun yang kau inginkan. Selama aku bisa mengabulkannya pasti akan aku kabulkan.”


“Benarkah?” Axel mengangguk pelan dan aku langsung tersenyum semangat.


“Loli ingin nonton bioskop bersama Axel.”


“Baiklah akhir pekan kita akan nonton bersama.”


“Yeyyy terima kasih banyak. Akhirnya Loli bisa nonton bioskop.” Kataku riang sekali. Bagaimana tidak? Aku tidak tahu kapan terakhir kali aku nonton bioskop bersama Ayahku, tapi yang jelas itu sudah lama sekali dan sekarang aku ingin merasakan nonton berdua dengan suamiku.


.................................................................................


Aku sangat senang ketika Axel menepati janjinya. Kami berdua keluar bersama untuk nonton bioskop.


“Kau mau menonton apa? Kita ambil jam-jam terdekat ya supaya bisa menghabiskan waktu lebih banyak juga untuk jalan- jalan,” ucap Axel.


Aku mengangguk bersemangat seraya memegangi lengan Axel erat. “Nanti habis nonton, Loli mau makan es krim juga ya,”kataku mendongak ke atas karena Axel jauh lebih tinggi dariku tentunya.


“Kita nonton itu aja yuk,” Axel menarikku ke depan sebuah poster yang menyeramkan membuatku langsung memejamkan mataku dan bersembunyi di lengannya.


“Axel, itu serem sekali. Loli takut dengan film setan,” kataku. Axel pun menggenggam tanganku dan kami berjalan menjauh dari poster itu.


“Yasudah deh aku ngalah. Kita nonton genre romantis saja,” suara Axel nampak tak suka.


“Axel,” aku menahan tangan Axel yang akan berjalan membeli tiket. “Yasudah kalau Axel tidak suka. Kita nonton film setan juga gak apa-apa deh, tapi nanti Loli nempel terus sama Axel gak apa- apa ya. Soalnya Loli takut banget sama film setan,” jelasku membuat Axel yang tadi mencemberutkan bibirnya langsung tersenyum lebar.


“Tidak, Sayang. Kita kan nonton karena kamu yang minta. Jadi, aku ikutin kemauan kamu.”


“Benaran?” tanyaku berbinar menatapnya dan Axel mengangguk pelan. “Kamu tunggu di situ ya,” Axel menunjuk sebuah bangku kosong. “Aku beli tiketnya dulu.” Aku mengangguk dan berjalan pelan menuju sebuah bangku  kosong yang tadi Axel tunjukkan padaku. Namun begitu aku ingin duduk, seseorang sudah menempatinya membuatku jengkel.


“Ini tempat dudukku,” kataku pada orang itu. Orang itu pun terlihat mengernyitkan alisnya padaku. Aku menarik tangan pria dan wanita yang menempati tempat dudukku.


“Ini tempat dudukku,” kataku lagi seraya menarik mereka sekuat tenaga, tapi pria itu malah menarikku balik hingga aku terjatuh tersungkur.


“Dasar orang gila! Apa-apaan sih!” orang itu berdiri di depanku dengan tangan yang bertolak pinggang membuatku merasa takut dan merasakan sakit karena jatuh.


“Maaf Mas-Mbak,” sebelum kukeluarkan air mataku, kudengar Axel yang berlari ke arahku. Axel membantuku berdiri perlahan dan aku pun memeluk lengan Axel seperti sebelumnya.


“Axel sakit,” keluhku.


“Maafkan istri saya Mas-Mbak.” Ucap Axel pada mereka, tapi meskipun Axel sudah meminta maaf. Mereka malah melototiku tajam.


“Istrinya gila ya, Mas. Aduhhh kalau gitu jangan diajak kesini dong, malu-maluin aja,” kata orang itu membuat hatiku terluka mendengarnya.


“Aku tidak gila!” teriakku pada mereka, tapi Axel menahan tubuhku yang ingin menghadapi mereka.


“Maaf, tolong jaga ucapan Anda. Jika anda merasa rugi karena keberadaan istri saya. Saya bisa membayar berapapun yang Anda mau,” ucap Axel membuatku merasa nyaman dengan pembelaannya. Aku lihat, Axel mengeluarkan sebuah kertas kecil dari dompetnya dan memberikan pada mereka.


Mereka nampak ternganga setelah melihatnya dan aku tidak tahu kertas apa yang Axel berikan pada mereka, tapi Axel membalikkan tubuhnya setelah menggenggam tanganku erat. Kami kembali berjalan ke tempat tiket dan Axel setengah memeluk tubuhku dari samping.


“Kau tidak apa-apa?” tanyanya.


Aku mengangguk. “Tadi pantat Loli sakit, tapi tidak lagi,” kataku dan Axel mencium puncak kepalaku.


“Kau benar-benar mudah membuatku khawatir. Jangan lakukan itu lagi, mengerti?!” aku lihat pancaran matanya yang menatapku dengan penuh khawatir. Aku tidak tahu harus mengatakan apa pada Axel, tapi aku sangat bersyukur bisa melalui hari ini dengannya.


“Maaf,” ucapku menyesal telah membuatnya khawatir.


Axel menggelengkan kepalanya. “Tidak apa-apa.” Katanya mengelus rambutku halus.


“Apa Axel malu punya istri seperti Loli?” tanyaku sedikit ingin tahu apa Axel malu jika suatu saat aku lupa dengan


larangannya dan kembali melakukan hal seperti tadi. Aku tidak tahu di mana letak kesalahanku sebenarnya, tapi


dengan marahnya orang-orang tadi dan Axel membelaku. Aku tahu, sepertinya aku memang pantas dikatakan wanita yang bodoh, idiot, gila atau semacamnya. Hal itu tak aneh bagiku, bukan?


“Tidak sama sekali. Aku hanya khawatir kalau mereka menyakitimu lebih dari hal tadi,” ucap Axel terlihat sungguh-sungguh. Aku pun memeluk Axel dari samping. Rasanya seperti mimpi bisa mendengar kata-kata tadi dari bibir suamiku sendiri.


.....................................


Thanks for reading^^