My Idiot Wife

My Idiot Wife
16: Really Sorry



***NOTED: Sebelumnya mau ngasih tahu IDIOT di sini sesuai dengan judul punyaku yang pakai bahasa inggris ya. Jadi jangan tanya\, kok LOLI-nya kayak gak idiot? hihiihihi. Idiot dalam bahasa inggris itu artinya orang bodoh. Di sini penulis menggambarkan LOLI sebagai sosok yang agak LOLA (loading lama) dan polos. Jadi jangan dipatokkan idiot yang kalian pikirkan^^  ***


 


 


 


SELAMAT MEMBACA^^


 


Axel POV


Aku menarik selimut sebatas dada Lolita. Lalu mengecup pipinya yang tertidur kelelahan karena ini pertama kalinya untuk kami. “Terima kasih,” bisikku tersenyum lalu pergi keluar dari kamar untuk memesan makanan.


Lolita pasti akan kelaparan setelah bangun nanti. Apalagi siang ini aku harus check out dan kembali ke Jakarta.


“Axel!!” seseorang memanggilku membuatku menolehkan kepala kea rah sumber suara.


“Irene? Kau sudah sembuh?” tanyaku melihat wajahnya yang pucat dan berjalan ke arahku.


Dia tersenyum dan meraih tanganku. “Ini tanda terima kasihku karena kau sudah menjagaku kemarin. Maaf aku merepotkanmu,” katanya dan aku melihat isi kotak yang dia berikan padaku.


Jam rolex keluaran baru yang sedang aku incar dan Irene membelikannya untukku. “Wahhh terima kasih. Aku memang sedang ingin ini,” ucapku seraya mengeluarkan jamnya dari kotak. Lalu memakainya dengan senang hati.


“Hahahah benar tebakanku. Kau memang tidak pernah berubah. Aku sangat hafal barang koleksi favoritmu. Jika tidak jam, dasi atau sepatu, iya kan?” tanyanya dan aku mengangguk cepat.


“Terima kasih ya, aku sangat suka,” kataku menunjukkan jam yang sudah aku pakai kepada Irene.


“Jamnya sangat keren ketika kau yang memakai.” Pujinya membuatku tersenyum. “Oh ya kau mau kemana?” tanyanya dan aku mengingat tujuan utamaku tadi.


“Aku mau cari makan. Lolita, baru saja tertidur. Dia sedang sakit,” kataku dan dia mengangguk pelan. Terlihat sekali wajahnya yang tadi tersenyum berubah menjadi lesu. Aku tidak tahu apa artinya, tapi sedetik kemudian dia tersenyum dan menarik lenganku.


“Aku juga mau cari makan. Bagaimana kalau kita makan bersama? Lolita kan baru tidur. Kalau kau makan bersamanya dan menunggunya bangun, pasti akan lama bukan?”


Hemm benar juga apa yang Irene katakan. “Baiklah, ayo,” kataku seraya berjalan dengannya ke arah lift.


Irene pun melepaskan tangannya dari lenganku dan berjalan di sampingku. Begitu lift terbuka. Kami pun masuk ke dalamnya bersama dengan penghuni hotel lainnya yang akan ke lantai bawah.


……………………………………………………………………………….


Aku sudah memesan makanan dan meminta mereka membungkusnya untuk Lolita. Sementara Irene menikmati teh hangat yang baru saja dia pesan.


“Semalam, setelah kau pulang dari rumah sakit. Apa kau bertengkar dengan Lolita?” tanyanya.


Aku menggelengkan kepalaku. “Aku sedikit merasa bersalah karena meninggalkannya di pantai. Semalam dia sakit karenaku dan tadi pagi…,”


Kami melakukan hubungan suami istri yang pertama kalinya. Bukankah aku sedikit kurang ajar? Setelah membuat kesalahan. Aku malah membuatnya kelelahan, tapi melihat Lolita yang tertidur dengan senyumannya. Bukankah dia juga senang?  Entah apa yang merasukiku, tapi aku mulai ingin melupakan Irene seutuhnya. Aku hanya ingin fokus terhadap Lolita tak peduli apapun.


“Tadi pagi?” tanya Irene membuyarkan lamunanku.


“Axel, aku takut jika Lolita menuduhku sebagai orang ketiga di antara kau dengannya. Aku takut jika dia kembali datang dan menyerangku lagi,” ucapnya membuatku sedikit tidak enak hati dengan perilaku Lolita kepada Irene. Aku akui, aku memang harus menghukumnya agar jera dan tidak melakukannya lagi, tapi aku tidak tahu hukuman seperti apa yang tepat untuk Lolita.


“Aku akan membicarakannya pada Lolita. Kau tidak perlu takut. Aku minta maaf atas perilakunya yang kasar padamu.”


Irene nampak mengangguk dengan wajah pucatnya. “Nanti siang kau check out ya?” tanya Irene.


Aku pun mengangguk seraya menerima sup hangat dari pelayan. “Iya, aku sudah merapikan bajuku. Bagaimana denganmu?”


“Aku juga akan check out nanti siang karena besok aku sudah punya janji dengan client-ku.”


“Hemm begitu? Mungkin kita akan satu pesawat lagi,” kataku, tapi tiba-tiba Irene bangun dari duduknya begitu dia mendapatkan telepon.


“Maaf sepertinya aku harus kembali ke kamar untuk ganti baju. Sekretarisku sudah menghubungiku. Aku harus bertemu dengan rekan kerjaku yang kemarin aku batalkan. Sampai jumpa nanti.” Ucapnya seraya berlari meninggalkanku dan mengangkat teleponnya.


“Heii tapi kau belum makan,” kataku, tapi Irene sudah jauh berlari.


“Ada apa Pak?” tanya seorang pelayan yang mengantarkan pesanan makanan milik Irene.


“Oh tidak apa-apa. Makanan ini bungkus saja untuk istriku juga.” Kataku daripada dibuang sia-sia dan tidak mungkin tidak jadi dibeli karena pesanannya sudah datang.


“Baik Pak,” katanya dan aku kembali menyantap makananku.


“Maaf Pak, saya baru ingat mau mengembalikan ini milik temannya istri Bapak,” ucap pelayan itu memberikan sebuah anting emas berbentuk bunga kepadaku. Punya teman istriku? Tapi seingetku, ini anting milik Lolita.


“Terima kasih, tapi ini anting milik istri saya bukan milik teman istri saya.”


“Jadi wanita yang berambut panjang sebahu itu istri Bapak?” katanya lagi membuatku mengernyitkan alisku. Kenapa dia jadi ingin lebih tahu.


“Iya,” kataku singkat tidak begitu suka karena pelayan ini terlalu bawel.


“Apa istri Bapak baik-baik saja. Kemarin saya melihat dia bertengkar dengan wanita tadi. Saya kira, wanita tadi yang istri Bapak.”


Jadi benar kalau mereka bertengkar di sini. Jujur saja, aku sedikit malu mendengar ini.


“Hemm maaf bisa segera dibungkus makanannya?” kataku merasa tak nyaman.


“Oh iya maaf, Pak. Saya akan segera membungkusnya, tapi saya rasa Bapak harus memeriksa punggung belakang istri Bapak. Kemarin saya lihat, dia membentur meja sangat keras ketika wanita tadi menarik rambutnya hingga terjatuh ke lantai.”


“A-apa? Maksudmu?” tanyaku seraya berdiri dari kursiku. “Wa-wanita tadi menarik rambut istriku?”


Pelayan itu nampak terkejut seraya menganggukkan kepalanya membuatku mengepalkan tanganku. Irene, apa yang dia lakukan pada Lolita? Kenapa dia membalikkan fakta yang ada?


“Pelayan yang lain juga melihatnya. Maaf jika saya lancang mengatakan ini, tapi kemarin istri Anda terlihat sangat kesakitan meski tidak menangis setelah pertengkaran itu selesai.”


Ya Tuhan, lagi-lagi kenapa aku melakukan kesalahan? Aku benar-benar bodoh!


“Tolong cepat bungkus makanannya,” pintaku dan pelayan itu segera melaksanakan tugasnya.


Irene, kenapa kau melakukan ini? Aku kira setelah kejadian di kantor itu aku meminta maaf padanya. Dia sungguh sudah memaafkannya. Bahkan ketika di pesawat Lolita meminta maaf padanya. Dia benar-benar seperti sudah memaklumi kekurangan Lolita.