My Idiot Wife

My Idiot Wife
27: Chef



***NOTED: Sebelumnya mau ngasih tahuu IDIOT di sini sesuai dengan judul punyaku yang pakai bahasa inggris ya. Jadi jangan tanya, kok LOLI-nya kayak gak idiot? hihiihihi. Idiot dalam bahasa inggris itu artinya orang bodoh. Di sini penulis menggambarkan LOLI sebagai sosok yang agak LOLA (loading lama) dan polos. Jadi jangan dipatokkan idiot yang kalian pikirkan^^  ***


SELAMAT MEMBACA^^


Lolita POV


“Lolita!” panggil seseorang membuatku menolehkan kepala ke arah sumber suara.


“Chef Valdi,” ucapku tersenyum lebar ke arahnya yang berlari kecil ke arahku.


“Sudah kuduga itu kau. Sebentar lagi akan masuk. Ayo ke kelas bareng,” ucapnya mengulurkan tangannya padaku.


Aku pun menatap tangan itu dan mendongak ke arahnya. Dia menganggukkan kepalanya ke arahku membuat tanganku perlahan menyambut ulurannya. Baru kali ini aku merasa mempunyai seorang teman laki-laki yang baik seperti ini. Padahal kami baru bertemu beberapa kali di kelas karena aku anak baru di kelas memasak Chef Valdi, tapi Chef Valdi nampaknya sangat baik padaku. “Kau sedang apa memangnya?” tanyanya begitu aku bangun dari dudukku. Kami berjalan di lobby menuju tangga karena kelasku ada di atas.


“Ohh aku baru saja sampai dan tadi kesiangan hehehe,” aku tersenyum kuda ke arahnya. “Terus aku makan bekal dulu sebentar karena aku lapar sekali.”


Dia memberantakan rambutku seraya tersenyum lebar juga ke arahku seperti apa yang aku lakukan tadi.


“Aku kira, kau sedang menungguku,” katanya dan aku tidak mengerti apa yang Chef Valdi katakan.


“Memangnya untuk apa aku menunggu Chef Valdi?" tanyaku padanya.


Chef Valdi pun terdiam sejenak tak melangkahkan kakinya kembali untuk menaiki tangga. Senyumnya pudar entah kenapa seraya menatapku serius membuatku sedikit tidak nyaman, tapi beberapa detik kemudian dia menyungginggkan senyumnya.


“Kau ini, aku hanya bercanda. Jangan dibawa serius,” katanya lagi memberantakan rambutku membuatku harus merapikannya ulang.


“Hari ini akan memasak apa Chef?”


“Kita akan belajar mengolah ikan salmon. Kau suka ikan salmon?”


Mendengar ikan salmon, aku jadi mengingat Ayah. Ayah sangat suka ikan salmon. Dalam seminggu Ayah bisa memakannya dua sampai tiga kali karena saking menyukainya.


“Su-“


“Chef Valdi!!” belum aku menyelesaikan jawabanku. Seseorang dari belakang kami meneriakkan nama Chef Valdi.


“Chef, seminggu tidak bertemu rasanya rindu sekali,” kata wanita itu yang tiba-tiba datang dan memeluk lengan Chef Valdierat. Aku tidak tahu siapa namanya, tapi wanita itu cantik sekali. “Kau sudah pulang?” tanya Chef Valdi padanya seraya melepas lengannya dari pelukan wanita itu.


“Aku punya oleh-oleh untuk Chef Valdi,” wanita itu memberikan sebuah handbag berwarna coklat kepada Chef Valdi.


Lalu wanita itu menatapku yang berada di samping Chef Valdi dengan tidak suka.


“Dia siapa?” tanyanya.


“Ohhh kenalkan, namanya Lolita. Dia anak baru di kelas memasakku,” ucap Chef Valdi dan aku tersenyum ke arahnya.


“Aku Lolita,” kataku mengulurkan tanganku padanya, tapi dia menepis tanganku dan menarik Chef Valdi hingga meninggalkanku yang terdiam.


Apa dia tidak suka denganku? Apa dia marah padaku? Tapi kenapa? Apa salahku? Aku baru saja bertemu dengannya, tapi dia sudah bersikap seperti itu padaku. Tiba-tiba perasaan tidak enak menyeruak di hatiku. Aku jadi kasus pembullyanku saat kecil, tapi semoga saja hal-hal mengerikan seperti dulu tidak terjadi lagi padaku.


........................................................................


Wanita bernama Anggia itu nampaknya disukai banyak orang. Dia membagikan oleh-olehnya dari Spanyol kecuali padaku. Entah kenapa, dia memusuhiku di hari pertama pertemuan kami hingga membuatku tidak nyaman.


Drett-Dret-Dret. Hpku bergetar tanda sebuah telepon masuk dan aku melihat nama “Suamiku” di layar HP-ku.


“Halo, Axel.”


“Pak Jani masih menungguku, Sayang. Sepertinya kau pulang sendiri saja, bagaimana?”


“Berarti Loli pesan ojek online saja ya?” tanyaku.


“Iya, hati-hati ya. Aku akan pulang cepat jika pekerjaanku selesai.”


“Iyah.” Jawabku singkat begitu melihat Anggia lewat di depanku bersama teman-teman kelas masakku yang lain. Mereka tertawa bersama dan melewatiku seolah aku hanya patung.


“Lolita, kau baik-baik saja? Suaramu sedikit terdengar aneh,” ucap Axel di seberang sana.


“Ada yang ingin Loli ceritakan tentang hari ini. Nanti Axel cepat pulang ya,” pintaku.


“Iyah. Yasudah Loli mau pesan ojek online dulu ya.”


“Baiklah, hati-hati di jalan.”


“Iyah.” Kataku lalu mematikan sambungan telepon kami dan membuka aplikasi ojek online.


“Lolita, kau belum pulang?” asyik sedang HP-ku. Aku kembali melihat Chef Valdi yang berlari ke arahku. “Kau belum pulang?” tanyanya lagi begitu sudah berada di hadapanku.


“Ini aku akan memesan ojek online,” kataku memberitahu padanya aplikasi yang sedang kubuka saat ini.


“Bagaimana jika aku antar saja. Kau mau kemana?”


“Ohh itu, aku-“


“Sudahh tidak usah menolak. Aku tidak menerima penolakanku,” katanya seraya menarik tanganku.


..................................................................


“Wahh ternyata rumah kita searah. Kalau begitu aku antar saja setiap hari.”


Aku melambaikan ke dua tanganku. “Tidak usah, ada Pak Jani yang menjemputku.”


“Masa sih? Tapi tadi kenapa kamu malah pesan ojek online?”


“Pak Janinya sedang tidak bisa menjemputku,” kataku pada Chef Valdi yang mengehentikan mobilnya begitu melihat mobil lain di depannya berhenti.


“Yasudahlah kau sampaikan saja pada supirmu. Kalau mulai seterusnya aku yang akan mengantarmu pulang. Daripada kamu nungguin lama juga, tapi nanti ternyata gak jadi jemput. Mending sekalian pulang denganku. Kita satu arah juga jadi aku tidak merasa direpotkan kok.”


“Oh gitu ya, oke deh nanti aku bilang sama Pak Jani biar aku pulang bareng Chef Valdi saja. Biar Pak Jani juga gak bolak-balik jemput aku dan Axel.”


“Nahh gitu dong.” Kata Chef Valdi dan aku tersenyum ke arahnya.


“Tapi..., nanti Anggia-“


“Sudah, jangan bicarakan dia kalau kita lagi bersama. Dia bukan pacarku. Lagipula aku tidak sama sekali tertarik dengannya.”


Aku pun mengangguk-ngangguk pelan. “Begitu ya,” kataku.


“Iyah tidak perlu dipikirkan. Oh ya, kalau aku boleh tahu. Kau..., hemmm, apa sudah punya pacar?”


Pacar? Apa itu? Aku menggarukkan kepalaku. “Pacar itu-“


“Kalau kau tidak mau menjawabnya tidak apa-apa. Aku hanya bertanya.”


“Memangnya pacar itu apa?” tanyaku padanya.


Chef Valdi tertawa seraya mengacak rambutku. “Pacar itu seorang laki-laki yang mengatakan kalau dia cinta padamu dan kau menerimanya hingga kalian mempunyai sebuah hubungan.”


Aku terdiam sejenak. Axel tidak pernah mengatakan kalau dia mencintaiku. Berarti aku tidak punya pacar.


“Ohh itu. Tidak. Axel tidak pernah mengatakan dia cinta padaku. Jadi aku tidak punya pacar.”


“Hahaha begitu ya. Sepertinya kau menyukai seseorang bernama Axel itu, tapi bertepuk sebelah tangan.”


Apa lagi itu? Bertepuk sebelah tangan, entahlah aku tidak mengerti apa yang Chef Valdi bicarakan.


“Kalau begitu. Semasih janur kuning belum melengkung, aku akan berusaha memenangkan hatimu.” Ucapnya menolehkan kepalanya ke arahku seraya tersenyum. Dia masih santai dengan kemudinya, tapi aku tidak mengerti apa maksud yang dia katakan. Janur kuning itu apa?


..............................................................


NOTE: Kita perlu banyk bersyukur. Di luar sana yg entah 1.000 banding berapa ada yg tdk bisa bergaul seberuntung kita.


Aku enggak tahu ya, kalian udah pernah bertemu orang seperti Lolita ini. Tapi beberapa komen aku lihat, ada yg bilang anak muridnya seperti itu, ada juga kakak ipar dan teman sebangkunya. Dan  kalau aku pribadi, aku udah pernah ketemu orang yang kaya Lolita. Di mana orang ini cantik, sekolah bersama anak-anak biasa/ bukan cacat mental/ berkebutuhan khusus.


Tapi seperti yang aku gambarkan juga di sini. Dia tuh bener-bener lugu, LOLA, lamban, (mohon maaf) otaknya tidak sampai dengan kita). kadang menyerap apapun itu butuh waktu. Bahkan dia enggak tahu yang dimaksud pacaran itu apa (ini real). Dia malah ngeibaratin, pacar itu cowok2 yg chatan sama dia wkwkwkw (jadi pacarnya dia banyak katanya). Ini orang yang sekolah bareng aku loh, yang memang gabung sekolah dengan anak biasa gitu.


Kebayang gak kalau Loli gimana, sekolah aja cuma di rumah, pernah sekolah di luar pun cuma setahunan dan terpaksa keluar karena di bully terus. Ibarat kata, boro2 mau mikirin pacaran, atau mikirin bergaul bisa ketawa tiwi, mikirin org yg peduli sama dia aja selalu ngebebanin pikirannya. Kita kan tahu istilah pacaran, pelakor, pebinor dll karena dr pergaulan dan terus terulang-terekam di otak kita berulang kali. Nah, kalau Loli, ya memang anak gak bergaul. Cuma baru menikah sama Axel baru seperti merasa punya dunia baru. Jelas dia kaget dan mulai belajar hal baru.