My Idiot Wife

My Idiot Wife
23: We Go!!



***NOTED: Sebelumnya mau ngasih tahu IDIOT di sini sesuai dengan judul punyaku yang pakai bahasa inggris ya. Jadi jangan tanya\, kok LOLI-nya kayak gak idiot? hihiihihi. Idiot dalam bahasa inggris itu artinya orang bodoh. Di sini penulis menggambarkan LOLI sebagai sosok yang agak LOLA (loading lama) dan polos. Jadi jangan dipatokkan idiot yang kalian pikirkan^^  ***


 


 


SELAMAT MEMBACA^^


Lolita POV


Aku banyak belanja keperluan untuk memasak


hari ini. Axel bilang, dia menyukai wanita yang pintar masak. Karena itu, aku


meminta Bi Tikah untuk mengajari aku masak. Jadi aku tidak hanya mendapatkan


ilmu di kelas masakku saja, tapi dari Bi Tikah pun aku mendapatkannya.


“Non, apa ini tidak kebanyakan?” tanya Bi


Tikah padaku.


Aku pun melihat semua bahan makanan yang


kubeli. “Memangnya ini kebanyakan ya Bi?” tanyaku pada Bi Tikah.


Bi Tikah mengangguk, tapi aku tidak peduli


karena aku harus bisa masak supaya Axel bisa suka padaku.


“Tidak apa-apa, Bi. Axel bilang, dia


menyukai wanita yang pintar memasak. Hari ini Bibi ajarin Loli masak ya,”


ucapku memegang lengan Bi Tikah, tapi Bi Tikah malah tertawa pelan.


Dia menempuk tanganku lalu menatap ke


arahku. “Non, Non pasti sangat suka Den Axel ya?”


Mendengar itu aku tidak mengerti. Aku


sangat suka Axel? Maksud Bi Tikah apa?


“Sangat suka Axel? Loli tidak mengerti.”


Kataku pada Bi Tikah. Kali ini Bi Tikah melepas genggaman tanganku pada


lengannya. Dia meraihnya dan menarikku duduk di atas kursi meja makan.


Lalu Bi Tikah menggenggam tanganku erat


membuatku menatap matanya yang kini juga menatapku. “Belajar memasak itu perlu


proses, Non. Menurut Bibi Non sudah mulai bisa sedikit demi sedikit mengerti


bagaimana memasak. Sejauh ini juga menurut Bibi, Non sudah menjadi istri yang


baik untuk Den Axel. Setelah kalian pulang dari Bali. Den Axel banyak bertanya


tentang Non Loli pada Bibi. Bagi Bibi, Den Axel juga sudah sangat menyukai Non


hingga ingin tahu bagaimana kehidupan Non sebelum menikah. Tanpa Non menjadi


wanita yang pintar memasak pun, Den Axel memang sudah jatuh cinta pada Non.


Jadi, jangan terlalu memasakkan diri untuk melakukan hal ini dan itu yang malah


membuat Bibi khawatir.”


Aku semakin tidak mengerti apa yang Bi


Tikah katakana padaku, tapi entah kenapa hatiku terasa berbunga-bunga.


Kata-kata yang melekat di otakku saat Bi Tikah mengatakan hal tadi hanya, “Den Axel juga sudah sangat menyukai Non”.


Jadi,


bukankah itu artinya Axel menyukaiku?


………………………………………………………………


Hari ini aku membuat tumis kangkung,


perkedel, telur balado dan ikan kembung pedas. Tak lupa juga membuat pudding


serta menyiapkan buah-buahan yang segar. Makanan hari ini terlihat sangat


banyak dan Bi Tikah bilang kalau aku seharusnya mengantarkan makan siang untuk


Axel. Axel harus mencoba masakanku agar dia semakin menyukaiku, begitu kata Bi


Tikah.


Aku pun menghubungi Axel.


“Tuttt…, tut…,”


Belum diangkat oleh Axel. HP-ku tiba-tiba


diambil oleh seseorang. Aku pun membalikkan tubuhku dan melihat pria bernama


Reyes itu berbicara dengan Axel di HP-ku.


“Ohh ya, maaf aku ingin izin denganmu. Hari


ini aku dan istrimu akan keluar sebentar. Kami ingin sedikit bertamasya mencari


udara segar. Kasihan sekali istrimu hanya di rumah saja. Apalagi dia masak


banyak makanan karena ada aku di sini. Aku rasa, cuaca siang ini sangat cocok


untuk kami jalan-jalan.”


“…………………”


Aku pun segera berjalan ke arah Reyes


berusaha menggapai HP-ku, tapi tinggiku dengannya tak seberapa sehingga aku


tidak bisa menggapainya.


“Kembalikan Hp-ku,” kataku tetap berusaha,


tapi Reyes tidak juga memberikannya. Dia malah tetap menanggapi apa yang Axel


katakan diseberang sana.


“Apa? Boleh? Baiklah, aku dan Lolita akan


segera pergi. Terima kasih Kakakku yang tampan! Kau tahu sekali kalau aku juga


sangat jenuh di rumah ini. Aku kan di Indonesia sedang berlibur, bye!!” katanya


menutup teleponnya. Kemudian memberikannya kepadaku.


Aku pun menatap layar HP-ku yang sudah dia


matikan panggilannya.


“Aku sudah izin dengan suamimu. Bagaimana


kalau kita keluar? Kau mau ke mana? Beli es krim? Gulali? Atau hal lainnya?”


“Es krim?” tanyaku berbinar. Rasanya aku


“Iya. Sekalian siapkan saja makanan yang


kau masak itu untuk bekal. Aku akan mengajakmu ke taman. Biasanya di tama nada


es krim dan juga makanan manis, kau mau?”


“Mau!!!” kataku sangat senang seraya


berloncat-loncat.


Reyes terkekeh melihatku sangat senang dia


ajak keluar. Dia pun mengacak rambutku lalu menarik tanganku.


Kami menyiapkan tamasya dadakan ini bersama


Bi Tikah yang juga Reyes ajak bersama kami.


…………………………………………………………


Apa yang Reyes katakan memang benar. Aku


mendapatkan es krim dan juga makanan manis lainnya di taman. Bahkan aku bisa


memainkan sebuah gelembung seperti anak-anak lainnya.


Dulu, waktu ku kecil, aku rasa, aku tak


pernah melalui hari-hari seperti ini. Ayah sangat menyayangiku, tapi Ayah sibuk


bekerja. Sesekali Ayah datang ke kamarku dan mengobrol. Bahkan paling lama Ayah


bertahan di sampingku hanya saat kami makan malam bersama Mas Aldi juga, tapi


bagiku obrolan itu benar-benar canggung karena Ayah hanya berfokus padaku.


Sementara Mas Aldi seolah Ayah abaikan membuatnya semakin membenciku.


“Non, jangan lari-lari,” aku mendengar


suara Bi Tikah yang juga sedang memakan es krim yang Reyes belikan.


“Huftt, sudah, aku menyerah,” kata Reyes di


sampingku. Dia terlihat kelelahan mengejarku sementara aku masih sangat ingin


berlari kencang seraya menerbangkan gelembung-gelembung ini.


“Ahhh ayolah!!! Kejar aku lagi.” Kataku


merengek pada Reyes, tapi Reyes menunjukkan telapak tangannya di depanku dengan


nafas yang tersenggal.


“Sudah ya, aku benar-benar lelah. Aku


menyerah karena larimu sangat cepat,” katanya membuatku kecewa.


Aku pun menaruh tempat gelembung-gelembug


yang aku pegang ini di sebelahnya. Lalu ikut duduk di sebelah Reyes seraya


menatap kakiku.


Mas Aldi juga dulu pernah mengatakan kalau


lariku sangat cepat. Mengingat itu, aku menjadi rindu masa-masa itu. Masa di


mana Mas Aldi terkadang bisa saja berubah menjadi orang yang sangat peduli


denganku, tapi juga bisa menjadi sebaliknya.


“Sedang memikirkan apa?” tanya Reyes


tiba-tiba membuatku menoleh ke arahnya.


Ternyata dia ikut memperhatikan sepatuku


yang kudapat dari Mas Aldi. Aku sangat sering memakai sepatu ini karena


menurutku sepatu ini sangat nyaman dipakai dan aku selalu mengingat Mas Aldi


setiap aku pergi. Aku ingat, meskipun Mas Aldi seolah menyuruhku pergi dari


hidupnya, tapi dia tak pernah benar-benar berniat membuatku hilang dari


hidupnya.


Aku tahu, beberapa saat dia pasti ingin


bisa bernafas tanpaku. Aku tahu, aku hanya benalu di hidupnya dan aku tahu


kalau dia tidak begitu suka jika aku berada di dekatnya, ya aku tahu, aku


sangat tahu itu.


“Aku merindukan Kakakku,” ucapku pada


Reyes.


Setelah mengatakan itu, aku tak mendengar


apapun dari Reyes, tapi aku mendengar helaan nafas darinya.


“Aku juga terkadang merindukan Kakakku,


tapi aku sangat membencinya.”


Aku mengangguk pelan. Meskipun bersaudara,


wajar jika terkadang menyimpan kebencian. Bersaudara bukan berarti tak pernah


bertengkar dan iri hati, tapi saudara adalah tempat pulang. Jika tidak ada satu


orang pun yang membantu di luar sana. Saudara akan menjadi tempat utama kita


pulang.


“Dia merebut wanita yang kucintai dan aku


sangat membencinya.” Ucap Reyes.


Aku memperhatikan tatapan mata Reyes yang


terus saja menatap sepatuku. Aku tidak tahu apa masalah mereka. Toh, aku tidak


akan mengerti apa yang terjadi di antara mereka, tapi aku sangat yakin kalau


Reyes hanya emosi. Terlihat dari kepalan tangannya yang mengeras. Dia seperti


sedang mengenang sesuatu yang terus terlintas dipikirannya.


“Den Reyes, Non Loli, ayo makan. Bibi sudah


siapin ni!” teriak Bi Tikah pada kami.


Aku pun menarik tangan Reyes agar segera ke


Bi Tikah. Ternyata setelah mengenalnya, dia tak begitu menakutkan seperti


kemarin.


……………………………………………………..