
***NOTED: Sebelumnya mau ngasih tahu IDIOT di sini sesuai dengan judul punyaku yang pakai bahasa inggris ya. Jadi jangan tanya\, kok LOLI-nya kayak gak idiot? hihiihihi. Idiot dalam bahasa inggris itu artinya orang bodoh. Di sini penulis menggambarkan LOLI sebagai sosok yang agak LOLA (loading lama) dan polos. Jadi jangan dipatokkan idiot yang kalian pikirkan^^ ***
SELAMAT MEMBACA^^
Lolita POV
Aku banyak belanja keperluan untuk memasak
hari ini. Axel bilang, dia menyukai wanita yang pintar masak. Karena itu, aku
meminta Bi Tikah untuk mengajari aku masak. Jadi aku tidak hanya mendapatkan
ilmu di kelas masakku saja, tapi dari Bi Tikah pun aku mendapatkannya.
“Non, apa ini tidak kebanyakan?” tanya Bi
Tikah padaku.
Aku pun melihat semua bahan makanan yang
kubeli. “Memangnya ini kebanyakan ya Bi?” tanyaku pada Bi Tikah.
Bi Tikah mengangguk, tapi aku tidak peduli
karena aku harus bisa masak supaya Axel bisa suka padaku.
“Tidak apa-apa, Bi. Axel bilang, dia
menyukai wanita yang pintar memasak. Hari ini Bibi ajarin Loli masak ya,”
ucapku memegang lengan Bi Tikah, tapi Bi Tikah malah tertawa pelan.
Dia menempuk tanganku lalu menatap ke
arahku. “Non, Non pasti sangat suka Den Axel ya?”
Mendengar itu aku tidak mengerti. Aku
sangat suka Axel? Maksud Bi Tikah apa?
“Sangat suka Axel? Loli tidak mengerti.”
Kataku pada Bi Tikah. Kali ini Bi Tikah melepas genggaman tanganku pada
lengannya. Dia meraihnya dan menarikku duduk di atas kursi meja makan.
Lalu Bi Tikah menggenggam tanganku erat
membuatku menatap matanya yang kini juga menatapku. “Belajar memasak itu perlu
proses, Non. Menurut Bibi Non sudah mulai bisa sedikit demi sedikit mengerti
bagaimana memasak. Sejauh ini juga menurut Bibi, Non sudah menjadi istri yang
baik untuk Den Axel. Setelah kalian pulang dari Bali. Den Axel banyak bertanya
tentang Non Loli pada Bibi. Bagi Bibi, Den Axel juga sudah sangat menyukai Non
hingga ingin tahu bagaimana kehidupan Non sebelum menikah. Tanpa Non menjadi
wanita yang pintar memasak pun, Den Axel memang sudah jatuh cinta pada Non.
Jadi, jangan terlalu memasakkan diri untuk melakukan hal ini dan itu yang malah
membuat Bibi khawatir.”
Aku semakin tidak mengerti apa yang Bi
Tikah katakana padaku, tapi entah kenapa hatiku terasa berbunga-bunga.
Kata-kata yang melekat di otakku saat Bi Tikah mengatakan hal tadi hanya, “Den Axel juga sudah sangat menyukai Non”.
Jadi,
bukankah itu artinya Axel menyukaiku?
………………………………………………………………
Hari ini aku membuat tumis kangkung,
perkedel, telur balado dan ikan kembung pedas. Tak lupa juga membuat pudding
serta menyiapkan buah-buahan yang segar. Makanan hari ini terlihat sangat
banyak dan Bi Tikah bilang kalau aku seharusnya mengantarkan makan siang untuk
Axel. Axel harus mencoba masakanku agar dia semakin menyukaiku, begitu kata Bi
Tikah.
Aku pun menghubungi Axel.
“Tuttt…, tut…,”
Belum diangkat oleh Axel. HP-ku tiba-tiba
diambil oleh seseorang. Aku pun membalikkan tubuhku dan melihat pria bernama
Reyes itu berbicara dengan Axel di HP-ku.
“Ohh ya, maaf aku ingin izin denganmu. Hari
ini aku dan istrimu akan keluar sebentar. Kami ingin sedikit bertamasya mencari
udara segar. Kasihan sekali istrimu hanya di rumah saja. Apalagi dia masak
banyak makanan karena ada aku di sini. Aku rasa, cuaca siang ini sangat cocok
untuk kami jalan-jalan.”
“…………………”
Aku pun segera berjalan ke arah Reyes
berusaha menggapai HP-ku, tapi tinggiku dengannya tak seberapa sehingga aku
tidak bisa menggapainya.
“Kembalikan Hp-ku,” kataku tetap berusaha,
tapi Reyes tidak juga memberikannya. Dia malah tetap menanggapi apa yang Axel
katakan diseberang sana.
“Apa? Boleh? Baiklah, aku dan Lolita akan
segera pergi. Terima kasih Kakakku yang tampan! Kau tahu sekali kalau aku juga
sangat jenuh di rumah ini. Aku kan di Indonesia sedang berlibur, bye!!” katanya
menutup teleponnya. Kemudian memberikannya kepadaku.
Aku pun menatap layar HP-ku yang sudah dia
matikan panggilannya.
“Aku sudah izin dengan suamimu. Bagaimana
kalau kita keluar? Kau mau ke mana? Beli es krim? Gulali? Atau hal lainnya?”
“Es krim?” tanyaku berbinar. Rasanya aku
“Iya. Sekalian siapkan saja makanan yang
kau masak itu untuk bekal. Aku akan mengajakmu ke taman. Biasanya di tama nada
es krim dan juga makanan manis, kau mau?”
“Mau!!!” kataku sangat senang seraya
berloncat-loncat.
Reyes terkekeh melihatku sangat senang dia
ajak keluar. Dia pun mengacak rambutku lalu menarik tanganku.
Kami menyiapkan tamasya dadakan ini bersama
Bi Tikah yang juga Reyes ajak bersama kami.
…………………………………………………………
Apa yang Reyes katakan memang benar. Aku
mendapatkan es krim dan juga makanan manis lainnya di taman. Bahkan aku bisa
memainkan sebuah gelembung seperti anak-anak lainnya.
Dulu, waktu ku kecil, aku rasa, aku tak
pernah melalui hari-hari seperti ini. Ayah sangat menyayangiku, tapi Ayah sibuk
bekerja. Sesekali Ayah datang ke kamarku dan mengobrol. Bahkan paling lama Ayah
bertahan di sampingku hanya saat kami makan malam bersama Mas Aldi juga, tapi
bagiku obrolan itu benar-benar canggung karena Ayah hanya berfokus padaku.
Sementara Mas Aldi seolah Ayah abaikan membuatnya semakin membenciku.
“Non, jangan lari-lari,” aku mendengar
suara Bi Tikah yang juga sedang memakan es krim yang Reyes belikan.
“Huftt, sudah, aku menyerah,” kata Reyes di
sampingku. Dia terlihat kelelahan mengejarku sementara aku masih sangat ingin
berlari kencang seraya menerbangkan gelembung-gelembung ini.
“Ahhh ayolah!!! Kejar aku lagi.” Kataku
merengek pada Reyes, tapi Reyes menunjukkan telapak tangannya di depanku dengan
nafas yang tersenggal.
“Sudah ya, aku benar-benar lelah. Aku
menyerah karena larimu sangat cepat,” katanya membuatku kecewa.
Aku pun menaruh tempat gelembung-gelembug
yang aku pegang ini di sebelahnya. Lalu ikut duduk di sebelah Reyes seraya
menatap kakiku.
Mas Aldi juga dulu pernah mengatakan kalau
lariku sangat cepat. Mengingat itu, aku menjadi rindu masa-masa itu. Masa di
mana Mas Aldi terkadang bisa saja berubah menjadi orang yang sangat peduli
denganku, tapi juga bisa menjadi sebaliknya.
“Sedang memikirkan apa?” tanya Reyes
tiba-tiba membuatku menoleh ke arahnya.
Ternyata dia ikut memperhatikan sepatuku
yang kudapat dari Mas Aldi. Aku sangat sering memakai sepatu ini karena
menurutku sepatu ini sangat nyaman dipakai dan aku selalu mengingat Mas Aldi
setiap aku pergi. Aku ingat, meskipun Mas Aldi seolah menyuruhku pergi dari
hidupnya, tapi dia tak pernah benar-benar berniat membuatku hilang dari
hidupnya.
Aku tahu, beberapa saat dia pasti ingin
bisa bernafas tanpaku. Aku tahu, aku hanya benalu di hidupnya dan aku tahu
kalau dia tidak begitu suka jika aku berada di dekatnya, ya aku tahu, aku
sangat tahu itu.
“Aku merindukan Kakakku,” ucapku pada
Reyes.
Setelah mengatakan itu, aku tak mendengar
apapun dari Reyes, tapi aku mendengar helaan nafas darinya.
“Aku juga terkadang merindukan Kakakku,
tapi aku sangat membencinya.”
Aku mengangguk pelan. Meskipun bersaudara,
wajar jika terkadang menyimpan kebencian. Bersaudara bukan berarti tak pernah
bertengkar dan iri hati, tapi saudara adalah tempat pulang. Jika tidak ada satu
orang pun yang membantu di luar sana. Saudara akan menjadi tempat utama kita
pulang.
“Dia merebut wanita yang kucintai dan aku
sangat membencinya.” Ucap Reyes.
Aku memperhatikan tatapan mata Reyes yang
terus saja menatap sepatuku. Aku tidak tahu apa masalah mereka. Toh, aku tidak
akan mengerti apa yang terjadi di antara mereka, tapi aku sangat yakin kalau
Reyes hanya emosi. Terlihat dari kepalan tangannya yang mengeras. Dia seperti
sedang mengenang sesuatu yang terus terlintas dipikirannya.
“Den Reyes, Non Loli, ayo makan. Bibi sudah
siapin ni!” teriak Bi Tikah pada kami.
Aku pun menarik tangan Reyes agar segera ke
Bi Tikah. Ternyata setelah mengenalnya, dia tak begitu menakutkan seperti
kemarin.
……………………………………………………..