My Idiot Wife

My Idiot Wife
EXTRA PART [Axel-Lolita]



JANGAN BINGUNG SAMA ALURNYA. EXTRA PART INI MEMANG BUKAN CERITA SETELAH EPILOG YA! INI MEMANG HARUSNYA ADA SEBELUM EPILOG/ SEBELUM END. TAPI KARENA DARI AWAL AKU BUAT CERITANYA SEPERTI ITU. JADI TIDAK AKAN AKU MASUKKAN SEBELUM EPILOG MELAINKAN JADI EXTRA PART MEREKA^^ ENJOY!!


Extra part ini bersifat random ya, tidak ikut dengan part2 sebelum epilog. Jadi memang acak saja alurnya.


Axel POV


“Sayang, kau sedang masak apa?” tanyaku memeluk Lolita dari belakang. “Aku kan sudah bilang biar Bi Tikah saja yang masak. Kamu istirahat saja.” Lolita nampak terkejut awalnya tapi dia langsung membalikkan tubuhnya dan menempel manja padaku.


“Axel sudah pulang?” tanyanya. Aku mengangguk pelan.


“Kau masak lele goreng?” tanyaku dan Lolita mengangguk lagi dengan tangan yang memeluk tubuhku erat. Kandungannya baru 4 bulan dan seperti biasanya kemarin kami pergi untuk periksa kandungan.


Bulan depan dokter bilang kami sudah bisa melihat jenis kelamin bayi kami dan Lolita Nampak senang sekali sepanjang perjalanan pulang. Dokter juga bilang kandungannya sehat begitu juga dengan Lolita. Aku bangga pada Lolita. Dia sama sekali wanita yang hebat meski awalnya aku pikir dia aneh dengan kekurangannya.


“Besok malam ada reuni SMA kita. Apa kau mau ikut?” tanyaku padanya.


Lolita melepas pelukannya. Dia mematikan kompor dan tiba-tiba mendiamkanku.


“Sayang, kenapa?” tanyaku padanya.


“Axel tahu mereka tidak menyukai Loli. Ketika kita menikah pun mereka masih saja menjelek-jelekkanku,” kata Lolita dengan nada yang begitu sedih.


Aku pun membalikkan tubuhnya dan mengusap pelan rambutnya. “Kau percaya aku bukan?” tanyaku.


“Aku tidak mungkin membiarkan mereka begitu saja. Aku akan melindungimu dan menunjukkan kalau kita akan segera punya bayi. Aku mencintaimu seperti kamu mencintaiku,” jelasku dan Lolita melepaskan tanganku dari pundaknya.


“Loli percaya pada Axel, tapi Loli tetap tidak mau datang. Mereka semua jahat. Apalagi kalau ada Rena, dia kan mantan Axel,” aku terkejut mendengarnya. Mana mungkin Lolita tahu.


Hubunganku dan Rena tidak ada yang mengetahui. Kami juga berhubungan secara diam-diam. Berpacaran pun tak lama karena Rena diam-diam memiliki kekasih lain. Dia bilang tidak tahan denganku yang terlalu cuek dan kesal karena aku tidak pernah mempublikasikan hubungan kami.


“Bagaimana bisa kamu tahu?”


“Mas Aldi yang memberitahu sebelum menikah. Dia memberikan selembar tentangmu.” Mendengar itu aku hanya bisa terkekeh pelan. Pria itu, dia benar-benar bisa mengorek tentang kehidupanku dari yang siapapun tidak tahu hingga dia bisa tahu.


“Waktu kita menikah, Rena membisikkan sesuatu pada Loli saat bersalaman,”


“Benarkah? Dia bicara apa?”


“Dia bilang Loli tidak pantas jadi istri Axel. Loli bodoh berbeda dengan Axel.” Loli Nampak mulai kembali murung. Ini sangat buruk untuk kehamilannya. Aku tidak mau membuatnya seperti yang sudah-sudah.


Aku tahu semua teman SMA-ku tidak suka dengan pernikahan kami. Meski Lolita tidak lulus bersama dengan kami, tapi semua tahu siapa Lolita. Begitu juga mereka tahu siapa aku, si jenius sejak kelas 1 SMA.


Aku duduk di atas kursi meja makan. Lalu menarik Lolita ke atas pangkuanku. “Yasudah kalau kamu enggak mau, aku hanya sedikit rindu dengan mereka, tapi besok hari libur. Aku ingin menghabiskan waktuku denganmu. Kamu ingin pergi kemana?”


Lolita nampak masih dengan raut wajah yang sama; sedih. Dia menggelengkan kepalanya lalu bangun dari pangkuanku. Dia meninggalkanku dan berjalan menaiki tangga menuju kamar. Sepertinya aku salah membahas tentang ini. Memang seharusnya aku tahu kalau Lolita tidak akan suka dengan ini, tapi… aku hanya rindu dengan teman-teman lamaku. Pasti asyik bisa bertemu dengan mereka.


“Tuan, sudah pulang?” suara Bi Tikah yang membawa beberapa belanjaan.


“Iya Bi,” kataku seraya menggulungkan baju kemejaku. Aku bersiap-siapa akan menyusul Lolita dan meminta maaf padanya.


“Yasudah Bibi siapkan makan malam dulu ya,” ucapnya dan aku segera menuju kamar.


***


Aku sudah berusaha meminta maaf, tapi Lolita nampaknya sangat kesal padaku. Aku pun menarik selimut sebatas dadanya saat melihat dia sudah tertidur dan mencium pelan bibirnya. “Maaf,” kataku lalu mengambil segelas coklat hangat yang baru saja bi Tikah buat untukku seraya menikmatinya di balkon.


Mama sejak kemarin memintaku tinggal di rumahnya. Dia sangat khawatir dengan keadaan Lolita, tapi Lolita bilang tidak mau. Dia masih ingin di sini. Jadi aku pun tidak bisa menolak.


“Axel,” tiba-tiba Lolita memeluk tubuhku dari belakang menimbulkan rasa hangat di tubuhku.


“Loli tidak bisa tidur,” katanya. Padahal aku kira dia sudah tidur.


Aku pun membalikkan tubuhku dan bergantian memeluknya dari belakang seraya mengelus pelan perutnya.


“Jangan dipikirkan lagi. Aku tidak memaksamu. Aku juga minta maaf atas perlakuan teman-temanku saat kita menikah,” ucapku mengakui bahwa memang hal itu tidak pantas dikatakan untuk Lolita. Dia tidak salah. Pernikahan ini ada karena bisnis, tapi aku sangat bersyukur pada Tuhan karena dipersatukan dengan Lolita dalam perniakahan ini.


“Apakah menurutmu kita datang saja?” tanya Lolita.


Aku pun menggelengkan kepalaku. “Tidak usah jika kamu tidak mau.”


Lolita diam tidak menjawab apapun hingga keheningan menyelimuti kami. Aku pun menyusupkan leherku di lehernya. Hampir sebulan aku tidak melakukannya. Rasanya ingin sekali memintanya mala mini, tapi aku masih sedikit takut dengan keadaan Lolita yang hamil dan ayah bilang itu wajar karena ini pertama kalinya untuk kami.


“Sayang, kamu belum mengidam apapun?” memecahkan keheningan mengingat Lolita belum pernah meminta apapun padaku.


Lolita pun menggelengkan kepalanya. “Loli Cuma mau Axel, tapi Axel enggak mau Loli,” kata Lolita mencemberutkan bibirnya membuatku terkekeh pelan karena dia selalu bicara seperti itu.


“Nanti pagi mandi bersama bagaimana?” bisikku.


Lolita pun terkekeh seraya memukul tanganku yang melingkar di perutnya. “Axel kalau mandi cepat. Loli enggak mau ah, Loli mau mandi yang lama, enggak mau diburu-buru,” kata Loli membuatku ikut tertawa.


“Yasudah besok kita berendam bersama dengan baby,” bisikku lagi dan Lolita menganggukkan kepalanya.


***


“Axel he he he geli, jangan dong,” Lolita tertawa ketika aku menggosok pinggangnya. Ini hukuman untuknya karena sudah berani membuatk cukup menegang, tapi aku tidak bisa memaksa melakukannya sekarang karena rasa parnoku yang lebih kuat dibandingkan ingin memilikinya pagi ini.


“Axel sudah! Sini Loli yang gentian gosok punggung Axel,” katanya dan aku pun mengubah posisi kami.


Lolita mulai menggosokkan tubuhku. Rasanya nyaman dan aku semakin merasa dekat sekali dengan istriku. Ternyata benar, kebahagiaan itu kita yang menentukan.


“Axel, Loli sudah memikirkannya semalam. Loli percaya dengan Axel. Axel akan menjaga Loli ketika bertemu dengan teman Axel. Loli mau pergi ke acara reuni,” katanya tiba-tiba di belakangku.


Aku pun menghela napasku pelan, akhirnya. Lalu aku membalikkan tubuhku ke arahnya. Kugenggam tangannya dan menciumnya. Sekali lagi aku menatap wajahnya dan mendekatkan wajahku memberikan ciuman ringan di pipinya.


“Kau percaya padaku? Sungguh?”


Lolita mengangguk pelan.


“Terima kasih, aku tidak akan mengecewakanmu. Nanti sore kita berangkat. Sekarang tuntaskan dulu kegiatan menyenangkan ini. Aku akan membantumu mencari baju yang tidak sesak dan nyaman,” kataku dan dia mengangguk senang.


Tuhan, aku ingin semua tahu bahwa aku mencintainya. Aku ingin Lolita percaya bahwa aku bukanlah suami yang tidak bisa melakukan apa-apa. Aku bisa melindunginya dan aku bisa membuatnya bahagia. Selama Lolita percaya. Maka aku akan memberikan yang terbaik untuknya dan tentunya untukku juga, untuk kehidupan kami. Dia istriku, dia tidak pantas dibully.


***


Lolita POV


“Axel, ini bagaimana?” tanyaku memakai dress putih yang belum pernah aku pakai. Aku rasa perutku juga belum terlalu besar. Meski akhirnya tetap terlihat membuncit, tapi aku nyaman dengan baju ini.


“Loli nyaman kok,” kataku dan Axel membantuku menyisir rambut.


“Acaranya masih nanti sore. Jadi sekarang kamu bisa istirahat dulu atau kita nonton film dulu di bawah.”


Aku mencemberutkan bibirku ke arahnya seraya meminta bantuan kembali pada Axel untuk mengganti bajuku. Axel nampak sigap sekali menjadi suami. Entah kenapa aku merasa Axel seperti mulai protektif padaku. Terkadang saat aku ingin masak saja, dilarang. Aku ingin membersihkan kolam renang di belakang, tidak boleh. Semua yang kulakukan selalu dia pantau, tapi itu kalau dia sedang ada di rumah. Jika dia sedang di kantor, aku pasti mempunyai kesempatan melakukan ini-itu.


“Kenapa cemberut seperti itu?” tanya Axel di belakang tubuhku, bertanya pada kaca yang menampilkan kami berdua dengan sibuk dengan dress putihku. Lalu hanya menyisakan dalamanku yang menampilkan seorang wanita dengan perut buncitnya.


Axel memelukku hangat dari belakang. Dia mengelus pelan perutku yang sedikit membuncit lalu menempelkan dagunya di atas bahuku. Dia mengangkat alisnya seperti tengah menunggu jawabanku.


“Loli bosan istirahat terus Axel! Loli ingin buat kue, atau camilan lainnya. Apa Loli tidak boleh beraktivitas seperti biasa?”


Axel hanya menatap kaca di depan, begitu juga aku yang menatapnya yang tak bisa berhenti mengelus pelan perutku. Sejenak kami hanya saling tatap di depan kaca. Lalu Axel menarikku dari sana untuk duduk di sisi ranjang. Dia kembali mulai sibuk mencari bajuku dan kembali memakaikanku baju seolah aku ini anak kecil.


“Axel, Loli bisa sendiri,” protesku padanya. Axel terkekeh pelan dan duduk di sampingku seraya membiarkanku memakai baju terusan ala rumahan. Baiklah, Axel memang memintaku untuk tidak melakukan apapun. BIsa-bisanya dia memberikan baju tidur padaku.


“Besok Loli mau kembali kursus masak dengan Chef Valdi lagi! Pokoknya Loli enggak mau Axel larang-larang!” aku kembali mencemberutkan bibirku di depannya. Rasanya kesal sekali karena tidak bisa melakukan apapun. Axel sudah melakukan melakukan yang terbaik untuk mencari nafkah, sedangkan aku tentunya ingin bisa memasak sebagai seorang istri.


Namun nampaknya Axel tidak suka. “Kenapa harus dengan Chef Valdi sih! Aku tidak suka dengan dia!”


“Kenapa?” tanyaku. Axel selalu bilang tidak suka dengan Chef Valdi. Apa salahnya dengan Chef Valdi? Kenapa Axel tidak suka padanya, padahal dia benar-benar baik padaku. Dia juga yang sudah rela meluangkan waktunya untukku.


“Jelas sekali dia menyukaimu! Aku tidak suka! Aku kan sudah bilang akan mencarikan yang baru!” kata Axel membuat kesal.


“Axel! Loli enggak mau! Loli cuma mau Chef Valdi! Pokoknya Loli enggak mau diganti dengan yag lain.”


Axel menatapku marah. Lalu dia menyentuh perutku pelan. “Apa anakku mengidam itu?” tanyanya padaku.


Aku bingung dengan pertanyaan Axel. “Maksud Axel apa?”


“Iyah, bayi kita mengidam melihat ketampanan Chef Valdi.”


Aku semakin tidak mengerti, tapi aku rasa Chef Valdi tidak terlalu tampan. Bagiku Axel satu-satunya yang tampan. “Chef Valdi tidak tampan kok, dia hanya baik padaku. Axel lebih tampan dari Chef Valdi,” kataku dan Axel berhenti mengelus perutku. Tiba-tiba dia tertawa kencang.


Dia mencubit pipiku hingga aku memukul dadanya kesal. “Axel sakit!”


“Kau memang benar-benar polos, Sayang. Andai saja kau mengatakannya di depan chef sialan itu. Aku yakin, dia akan malu dan tidak mau datang lagi mengajarmu.”


“Axel! Dia bukan chef sialan! Kamu kenapa sih benci Chef Valdi!”


Axel menggelengkan kepalanya. Dia berjalan menuju meja riasku dan mengambil ikatan rambut.


“Tidak, Sayang. Hanya sedikit cemburu karena dia terlihat jelas menyukaimu. Apa dia sednag belajar menjadi pebinor,” ucap Axel seraya kembali duduk di sisi ranjang, tapi kali ini dia duduk di belakangku. Dia mengikat rambutku dengan sangat rapi, lalu mendorong pelan tubuhku untuk berbaring di sampingnya. Axel mengubah tubuhnya menjadi setengah miring ke hadapanku. Lalu tangannya dia jadikan bantalan kepala, jari-jarinya memainkan alisku dengan lembut.


“Pebinor itu apa?” tanyaku.


“Perebut bini orang , Sayang. Itu istilah dari kebalikan pelakor.”


“Bini itu apa? Pelakor itu apa?”


“Bini itu artinya istri dan pelakor artinya perebut laki orang. Ya sama saja seperti selingkuh.”


“Kaya Axel dan Irene?” tanyaku dan Axel langsung melotot. Dia mencubit pipiku lagi keras, tapi aku bisa merasakan rasa kesalnya padaku.


“Aku tidak selingkuh, Sayang! Lagi pula lupakan saja hal itu. Kita sudah tidak perlu membicarakannya lagi, bukan? Irene sudah jadi kenangan untuk kita berdua. Biarkan dia menemukan jalan hidupnya sendiri.”


Aku mengangguk pelan dan memeluk Axel pelan. “Axel, kemarin dokter bilang bulan depan kita sudah bisa melihat jenis kelamin bayi kita. Loli senang sekali! Di dalam sini ada bayi yang akan Loli rawat. Terima kasih sudah mencintai Loli karena Loli sudah tidak pernah kesepian lagi. Loli punya Axel dan baby yang akan menemani Loli. Tuhan adil ya, Loli akhirnya bisa bahagia juga setelah apa yang Loli lalui sebelum ini.”


Axel mengusap lembut pipiku dia tersenyum dan terus menatap mataku. “Kenapa istriku sekarang semakin dewasa. Aku jadi ingin…”


Axel menggantung kata-katanya dan tiba-tiba senyumannya luntur. Axel terlihat salah tingkah. Dia bangun dari baringannya dan menggaruk tengkukknya sendiri. Sementara aku penasaran dengan kata-katanya yang menggantung.


“Axel ingin apa?” tanyaku memeluknya dari belakang. Aku sandarkan kepalaku di punggung belakangnya.


“Aku jadi ingin nonton film bersamamu. Ayo kita ke bawah!”


Aku pun melepas pelukannya dan mengernyitkan alis kea rah Axel. “Memangnya nyambung ya? Loli jadi semakin dewasa dan Axel mau menonton film?” tanyaku dan Axel terlihat menggaruk tengkuknya lagi.


“Film apa? Film yang membuat Loli semakin dewasa?” tanyaku lagi, kali ini Axel bereaksi sangat terkejut. Lalu matanya melotot ke arahku.


“Axel, kenapa?” tanyaku lagi melihat Axel yang nampak terlihat aneh.


“Hmm sudahlah, aku tidak bisa menahannya lagi,” kata Axel lalu tiba-tiba mendorongku kembali jatuh ke ranjang membuatku terkejut saat dia memangut bibirku. Lalu tangannya berpindah ke arah dadaku membuatku tersenyum dalam hati.


Ternyata Axel ingin ini, hi hi, hi. Aku tahu dia menahannya sejak satu bulan yang lalu. Dokter bilang tiga bulan pertama memang tidak boleh sering melakukannya, tapi mama dan papa menjelaskan pada kami bahwa itu artinya bukan tidak boleh. Hanya sepertinya Axel terlihat ketakutan setiap ingin melakukannya. Aku tahu kekhawatirannya tapi aku berkali-kali sudah meyakinkannya, meski ya… aku tahu Axel. Dia selalu keras kepala. Sama seperti ketika pagi tadi kami mandi bersama. Aku tahu dia tidak bisa menahannya, tapi dia tetap bertahan untuk tak melakukannya.


Dia begitu menyayangiku dan bayi kami, sampai-sampai takut melukainya.


“Hmmm, Axel, kita baru saja mandi,” keluhku pura-pura tidak suka dengan ide Axel saat ini untuk melakukan sesuatu yang lebih intim. Dia sudah bersiap menyingkap bajuku yang baru beberapa menit tadi dia pakaikan.


“Nanti kita mandi lagi, aku yang bertanggung jawab,” katanya dan aku hanya mampu mengulum senyumku.


Tentu saja aku tidak akan menolak. Aku menyukainya, menyukai seluruh sentuhannya.


 


 


***


Loli sih nakal wkwwkkw Axel kesian udah puasa


 


 



Geys! Jangan lupa baca karyaku yang lain loh! Ada 4 karya yang udah selesai jadi jangan takut digantungin heehehe.  Nyesel deh kalau enggak baca wkwkw. Jangan lupa like, komen, share dan juga follow aku ya!


 


 


Btw, kalau kalian bingung caranya gimana sih caranya bisa baca karyaku yang lain? Kalian bisa search aja dengan judul di atas atau kalian bisa klik foto profilku nanti pilih karya dan akan muncul karya2ku^^