My Idiot Wife

My Idiot Wife
EXTRA PART [Damar-Irene]



Extra part ini bersifat random ya, tidak ikut dengan part2 sebelum epilog. Jadi memang acak saja alurnya.


 


 


 


Irene POV


“Aku akan bertanggung jawab,” satu kalimat yang jelas sekali terngiang di telingaku hingga akhirnya di sinilah kami.


“Aku akan menyimpannya saja,” kata pria itu melepas cincin pernikahan kami. Dia menyimpannya ke dalam kotak bewarna merah beludru. Sementara aku hanya mampu melamun seraya memutar cincin yang hinggap di jariku.


“Kenapa masih melamun? Aku sudah melakukannya kan? Sekarang kau ingin apa lagi?” suaranya meninggi dan aku menatap ke arahnya garang.


Dia membalas tatapanku dengan nafas yang memburu. Aku pun menghela nafas panjangku lalu beranjak dari sofa seraya berjalan pelan menaiki tangga.


“Kamarmu di ujung,” kataku padanya seraya masuk ke dalam kamar dan membanting pintu dengan keras.


“Apa?! Maksudmu, kita sudah menikah, satu atap rumah tapi tinggal di kamar yang berbeda?” aku masih mendengar teriakannya, tapi aku menutup telingaku sendiri dengan bantal.


“Jika Ibuku datang untuk menengokmu. Apa yang akan kau katakan padanya?” teriaknya lagi, tapi aku tak mau menanggapinya.


Pernikahan yang sederhana, cinta yang tidak ada, kecelakaan yang tak di duga dan kehancuran yang menyedihkan. Aku yakin semuanya sudah Tuhan atur untukku, tapi entah kenapa dari semua masalah yang aku alami. Hanya satu yang membuatku selalu merintih kesakitan. Hati ini tetap merasakan perih ketika mengingat Elena.


Bagaimana kabarmu, Elena?


Aku meraih bingkai foto di atas nakas dan menatap wajah adikku yang malang ini. Senyumnya yang selalu ceria pasti sudah mulai meluntur. Aku benar-benar merindukannya, tapi apa aku bisa bertemu dengannya?


“Elena, maafkan Kakak. Kakak tidak bisa menepati janji Kakak sama Ayah. Ayah pasti sangat kecewa dengan Kakak.”


Tok, Tok, Tok,


“Irene, buka pintunya. Aku sedang bicara! Kenapa kau terus seperti ini!” teriaknya.


Memang hubunganku dengan Damar tidak baik. Awalnya, aku berpikir tidak perlu ada yang perlu ditanggungjawabkan. Aku bisa mengurus anakku sendiri, tapi ternyata semuanya terjadi begitu saja. Max menipuku. Selama dia menjalani hubungan denganku, ternyata dia mencari kelemahan perusahaanku. Tak hanya itu, sekretarisku, asistenku dan semua karyawanku beberapa di antaranya sudah berada di bawah pengaruhnya. Sialnya, memang dari awal mereka bukan orang kepercayaanku. Justru mereka aadalah orang kepercyaan Max.


Semuanya telah Max ambil semua termasuk adikku. Seandainya bukan karena mansion ini…, rumah peninggalan nenek kami ini. Elena pasti tidak akan menikah dengan orang brengsek itu dan aku tidak akan menikah dengan Damar. Aku menikah dengan Damar karena terpaksa, aku tidak punya siapapun lagi selain dirinya.


“Irene!!!! Buka pintunya!!”


Aku menutup telingaku semakin keras dengan bantal dan perlahan nyenyak ke dalam mimpiku yang indah. Di mana ada aku, nenek, Ayah dan Elena tengah bermain bersama. Ibuku…, dia meninggalkan kami ke luar negeri dan menikah lagi dengan orang Australia. Itu terakhir kali cerita yang aku dengar dari Ayah.


…………………………………………………………………………………


Aku terbangun ketika mendengar suara jam weker. Aku lihat jam menunjukkan pukul 7 pagi. Aku pun segera bangun dari baringanku dan mengingat apa yang terjadi kemarin.


Ahh Damar, dua hari yang lalu kami menikah dan tidak ada rasa di antara kami yang terjalin meski sedikit.


“Bi!!! Bibi!” aku beranjak dari ranjang dan membuka kunci kamarku. Aku lihat ke arah bawah sangat sepi.


Tidak ada siapa pun di rumah besar ini membuatku teringat apa yang terjadi padaku. Aku sudah tidak punya apapun hingga semua pelayan di mansion ini pun terpaksa aku berhentikan.


Aku tidak mampu membayar mereka lagi dan gaji Damar jelas tidak sebanding dengan milikku selama ini. Damar hanya asisten biasa di kantor Axel. Meski itu cukup membiayai kami, tapi bukan berarti dia mampu membayar semua pelayanku yang berjumlah 15.


Sekarang aku hanya mempunyai satu supir pribadi dan juga pekerja yang bertugas untuk mencuci baju di rumah ini. Untuk urusan masak tentu saja aku bisa melakukannya sendiri.


Ketika aku turun dari tangga. Aku lihat seseorang di atas sofa dengan TV menyala. Nampaknya Damar tertidur di depan TV.


“Damar, bangun! Kau harus bekerja! Ini hari senin!” kataku penuh penekanan seraya membangunkannya dengan kesal karena bisa-bisanya dia tidur nyenyak sekali di hari senin.


“Uhhh semalam aku begadang menonton bola. Aku ingin tidur 10 menit lagi ya, Ma.” Ucapnya menganggapku ibunya.


PRAK!!


Aku pun memukul pantatnya dengan keras membuat Damar langsung terkejut bukan main dan membuka matanya lebar-lebar.


“Awwww sakit sekali!! Ya tuhan!! Kenapa kau memukul pantatku!” katanya seraya mengelus bokongnya sementara aku mengikat rambutku dengan asal seraya berjalan ke arah dapur.


“Sudah sana cepat bersiap-siap. Aku akan masak untuk sarapan,” ucapku.


Hari ini aku akan masak nasi goreng udang dan jus jeruk. Mungkin itu menu paling tepat untuk hari senin. Meskipun aku tidak lagi bekerja. Damar tetap butuh asupan yang bagus bukan? Dia sumber uangku satu-satunya untuk terus bertahan hidup.


…………………


Damar telah siap ke kantor. Dia membawa dasinya dan memberikannya dengan kaku ke arahku. Pertama kalinya harus memakaikan dasi seseorang yang berstatus menjadi suamiku.


“Aku akan pulang malam,” katanya ketika aku tengah memakaikan dasinya.


Aku mendengus pelan lalu sedikit mencekiknya dengan dasi yang aku pakaikan. Damar terbatuk-batuk karenanya dan aku mengambil posisi dudukku di depan nasi goreng yang sudah aku masak.


“Terserah aku tidak peduli,” kataku dengan nada kesal. Memangnya dia mau ngapain di luar sana sampai tidak akan pulang cepat, tapi apa peduliku? Aku menikah dengannya hanya karena aku tidak mau terlihat menyedihkan. Setelah kehilangan segalanya, aku juga harus mengalami hamil seperti ini tanpa suami. Aku tidak mau semua mantan karyawanku membicarakanku di kantor dan juga menjelekkan Elena karenaku.


Damar terlihat mengambil air minuman dan menyantap makanan buatanku dalam diam. Sementara aku yang seakan kehilangan mood untuk sarapan hanya bisa meminum susu dan jus jerukku.


“Semalam Mama nelepon dan nanya kabar kamu.”


Ibunya Damar memang sangat baik. Dia wanita yang lembut dan penuh kasih sayang. Baru dua hari yang lalu usai pernikahan kami tak bertemu. Wanita itu sudah menanyakan kabarku. Damar juga sudah memperingatiku jika nanti tiba-tiba ibunya datang ke sini. Aku tidak perlu kaget karena ibunya memang cukup protektif. Tidak seperti anaknya yang begajulan seperti ini. Bahkan saat aku hamil seperti ini, bisa-bisanya dia bilang akan pulang malam.


“Salam untuk Mama. Aku baik-baik saja,” kataku dan Damar mengangguk. Tak sadar aku lihat nasi goreng yang dia santap sudah habis ludes sangat bersih. Nampaknya Damar sangat kelaparan.


“Aku berangkat,” katanya beranjak dari duduknya dan menghampiriku. Dia akan mencium keningku, tapi aku memundurkan kepalaku dan melotot ke arahnya.


“Tidak ada morning kiss?”  tanyanya. Aku pun membuang wajahku kembali pada nasi goreng yang belum aku sentuh sama sekali.


Aku tak menjawab pertanyaannya dan aku dengar helaan nafasnya yang panjang seraya berjalan jauh meninggalkanku. Aku pun menatap kepergiannya dengan sesuatu yang entah apa mengganjal di hatiku. Punggung belakangnya yang gagah membuatku teringat pada Ayah. Pria yang penuh dengan kehangatan.


“Ahhh kenapa belakangan emosiku terus memburuk,” keluhku pada diri sendiri dan mengaduk nasi goreng buatanku. Aku harus memaksakan diri untuk makan. Kalau tidak, aku bisa sakit dan Ayah semakin sedih karena melihatku seperti ini.


Tapi HUEK!!! Baru saja aku mencoba satu suapan masakanku, ternyata rasanya asin sekali.


“Damar…,”


Dia tidak mengatakan apapun ketika memakan masakanku. Bahkan dia menghabiskannya sampai bersih. Tidak mungkin kan karena dia lapar, dia bisa menghabiskan makanan seasin ini.


Tak sadar aku pun tersenyum karenanya. Dia pasti tidak mau melukai perasaanku. Dia sungguh seperti Ayah.


 


*******


***Damar POV ***


Setelah merasakan nasi goreng extra asssssiiiinnn milik istriku sendiri. Aku pun sedikit merenung selama di perjalanan. Aku tahu, ini semua sulit untuknya. Dia melakukan yang terbaik untuk hidupnya dan pasti semuanya tak mudah.


Drrtttt… sebuah pesan masuk.


Vinna


Nanti malam kau jadi datang kan?


Sebenarnya aku izin pulang malam pada Irene karena Vinna akan merayakan ulang tahunnya di bar. Dia teman senang-senangku di diskotik, tapi aku sudah menghindari diskotik sejak Irene datang menemuiku dengan perut besarnya dan aku bilang akan tanggung jawab padanya.


Aku juga sudah mengatakan ini pada Vinna, tapi Vinna ingin di hari ulang tahunnya ini menjadi pertemuan kami yang terakhir.


Damar


Sepertinya tidak bisa. Maaf, aku tidak bisa menemuimu lagi.


Aku pun turun dari mobilku dan berjalan ke arah gedung kerjaku. Disinilah kami bertemu, di sebuah perjalanan bisnis yang tak biasa hingga menyeret kami pada takdir untuk berjanji bersama pada Tuhan.


Aku sudah bukan pria lajang lagi. Aku pria yang sudah menikah dan akan mempunyai anak.


…………………………


“Bagaimana menurutmu?” tanya Axel begitu aku membaca ajakan kerja sama dari Max. Pria brengsek yang sudah merebut perusahan istriku.


“Aku tidak tahu karena jika kau bertanya padaku. Tentu saja ada dendam tersendiri di hatiku. Dia sudah membuat istriku kacau seperti ini.”


“Hahahahah,” aku malah mendengar tawa dari bibir Axel. Pria itu menepuk bahuku dengan wajah menyebalkannya.


“Akhirnya kau punya emosi tersendiri untuk merasakan emosi wanita yang kau nikahi. Bagaimana rasanya menikah? Bukankah seharusnya aku memberikan THR untuk kalian honeymoon?” tanya Axel membuatku ingin memukul kepalanya jika saja aku tidak ingat kalau dia bosku.


“Belum menikmati manisnya. Masih pada tahap yang paling pahit. Jadi, boro-boro honeymoon. Malam pertama aja kagak ada. Yang ada malah disuruh tidur di kamar lain.”


“Waduhh pisah ranjang?”


Aku pun mengangkat bahuku.


“Yaudah sabarin aja. Tau sendiri sifat Irene seperti apa, tapi entah kenapa aku yakin sekali kalau dia sebenarnya orang yang baik.”


“Yaa memang hakikatnya semua manusia kan baik tidak ada yang jahat. Aku juga sebenarnya ingin banyak bicara dengannya. Ada banyak hal yang ingin aku tanyakan tentang kehamilannya. Apakah diawal kehamilannya dia mengalami morning sickness. Pernahkah dia merasa rindu padaku atau memikirkanku meskipun hanya sekali. Aku dengar-dengar, ada yang mengidam seperti itu. Apa Lolita juga seperti itu?”


“Huhh setiap hari, ketika aku pulang kerja. Dia selalu bilang merindukanku. Dia memelukku semalaman dan minta dihukum terus,” aku tahu apa arti minta dihukum karena itu kalimat yang mereka gunakan untuk…( ya kalian tahu).


“Selain itu Lolita juga semakin dewasa. Dia semakin terlihat keibuaan dan sangat cantik. Auranya kecantikannya pun semakin bertambah. Dia juga semakin…,” Axel membisikkan sesuatu ke telingaku. “Dia semakin sexi,” katanya membuatku merinding mendengarnya.


Ahhh kalian jangan aneh dengan percakapan seperti ini. Bukan hanya perempuan yang sering membicarakan kami, tapi laki-laki pun sering bergosip tentang kalian.


“Sudah, sudah jangan diteruskan lagi. Kau sih enak nanti pulang ada yang manjain. Nanti, aku pulang yang ada kena muka jutek Irene lagi karena mood-nya benar-benar semakin jelek.”


“Hahahaha sabar ya,” Axel menupuk bahuku lagi membuatku gusar.


“Ehhh tapi…, mana sini jatah honeymoon-ku,” aku menyodorkan tanganku padanya.


“Tidak jadilah. Kau bilang tidak akan mungkin honeymoon dengannya. Untuk apa juga aku memberikannya padamu.”


“Tapi kan aku bisa menabungnya. Bisa untuk biaya persalinan nanti.”


Axel menggelengkan kepalanya seraya duduk di bangku kebesarannya. “Masalah itu gampang. Kau kan bisa meneleponku.” Katanya seraya kembali sibuk dengan pekerjaannya.


Aku pun tersenyum. Tuhan memang sangat baik. Aku diberikan teman yang kebaikannya tiada habis.


……………………………………………………………………….


Mobilku masuk ke dalam pekarangan mansion besar milik keluarga istriku. Satu hal yang aku sadari saat memasuki pekarangan rumah besar ini adalah betapa sepinya keadaan rumah ini.


“Aden udah pulang?” tanya Pak Wawan setelah menutup kembali pintu gerbang.


“Iya Pak. Rumah ini sepi banget ya Pak. Selama ini memang seperti ini?”


“Yaaa sebelumnya mah kan banyak pelayan di sini Den. Termasuk istri saya sama anak saya juga kerja di sini, tapi semuanya pada dipecat karena Non gak bisa lagi gaji para pelayan di sini.”


Aku pun terdiam. Pantas saja Irene masakan nasi goreng saja asin sekalii. Bodoh juga aku tidak berpikir kalau rumah sebesar ini tidak punya pelayan banyak. Irene pasti terbiasa hidup enak.


“Sebenarnya Den. Saya dan istri saya sudah kerja lama di sini. Makanya, saya dan istri mah meskipun gak dibayar gak apa-apa, tapi Non Irene gak mau. Non Irene gak mau kalau pekerjaan kami di rumah ini sia-sia saja tanpa digaji. Jadi, Non Irene meminta istri dan anak saya pulang saja. Saya aja yang tetap di sini untuk jadi supir pribadi Non Irene.”


Aku terhenyak sejenak. Aku sadar, kenapa Irene baru datang padaku ketika kandungannya sudah sangat membesar dan di saat dirinya tidak memiliki apapun lagi. Aku tahu kalau dia tidak membutuhkan apapun dariku. Kalaupun aku menjadi suaminya, aku hanyalah debu yang berterbangan di penglihatannya.  Aku tidak berguna.


“Besok tolong hubungi istri dan anak Bapak ya. Saya akan memperkerjakan mereka lagi di sini. Kasihan juga Irene sendiri di rumah. Dia pasti kesepian.” Kataku dan Pak Wawan nampak mengangguk semringah.


Sementara aku masuk ke dalam rumah dan menemukan Irene yang sedang sibuk dengan laptopnya.


“Tidak jadi pulang malam heuh??” tanyanya tapi dengan mata yang fokus pada laptop.


Aku pun mendekatinya dan ingin mencium keningnya, tapi seperti yang dia lakukan tadi pagi. Dia melarangku untuk menciumnya.


“Tidak ada night kiss juga?” tanyaku padanya dan dia tak menjawab seperti yang tadi pagi dia lakukan.


Dia masih sibuk dengan laptopnya seperti tengah membaca berkas penting. Aku mengerti kalau jiwa wanita karirnya tak mungkin hilang begitu saja, tapi aku kan baru pulang kerja. Apa dia tidak mau melirikku barang sedikit pun? Axel bilang, Lolita selalu bilang sangat merindukannya saat pulang dari kantor. Padahal biasanya sebelum hamil, dia tak pernah melakukannya.


“Ughhh aku lelah sekali hari ini,” kataku melempar tasku pelan ke sofa dan menjatuhkan diri di sampingnya ingin mencari perhatian.


Namun ya…, dia tak peduli.


“Huhuhuh kakiku kram. Aduhhh sakit sekali,” kataku lagi pura-pura mencari perhatiannya, tapi dia tetap tak peduli.


“Lelah karena bersenang-senang dengan wanita lain di luar sana, heuh?” suara Irene membuatku memanyunkan bibirku.


Aku pun menempelkan kepalaku di bahunya seraya ikut asik memperhatikan apa yang sedang dia kerjakan di layar laptop.


“Apa harus sekasar itu bicara dengan suamimu? Aku tidak pernah lagi mencari wanita lain di luar sana sejak aku bilang akan bertanggung jawab padamu. Aku pernah janji pada diriku sendiri jika memang hari itu datang. Hari di mana aku harus mempertanggunngjawabkan semua kesalahanku pada seorang wanita. Aku pun akan berhenti untuk bermain-main lagi.”


Irene berhenti mengetik sesuatu lalu menutup laptopnya. Dia beranjak dari duduknya hingga aku menyingkir dari bahunya.


“Oke, aku sebuah kesalahan, kau puas?!” ucapnya dengan nada tidak menyenangkan dan tentu saja ekspresi yang tidak ingin kulihat. Ekspresi setelah enam bulan kami tak bertemu dan dia datang dengan sejuta kesedihan yang disimpan dalam dada.


Irene langsung berjalan menuju lantai atas seraya memegangi perutnya dan membanting pintu kamarnya seperti kemarin.


Dan aku..., selalu salah di matanya.


 


******


Like, Komen ya^^