
Axel POV
Sebelum meninggalkan Lolita di rumahnya. Aku menciumnya lama. Dadaku berdesir kencang dan aku tahu kalau aku memang sangat, sangat mencintainya.
Namun ada sesuatu yang membuatku sedih. Dia tak mengatakan apapun lagi setelah aku izin pergi dengannya. Lolita, dia hanya membalikkan tubuhnya dan berjalan lurus masuk ke dalam rumahnya. Dia tidak melambaikan tangannya atau apapun itu padaku. Aku jadi menyesal karena tidak mengatakannya sejak awal. Perjalanan ini pasti akan terasa berat untuk dilalui.
“Lolita lagi, heuh?” kudengar suara seseorang di sampingku. Kami sudah berada di dalam pesawat dan Irene duduk tepat di sampingku.
Kalau saja dia membiarkan Lolita ikut dengan kami. Aku pasti tidak akan terus kepikiran seperti ini.
“Lebih baik kau pelajari lagi bisnis ini. Aku rasa ada sedikit masalah dengan anggaran dananya. Kau bisa lihat kalau ini sangat bengkak,” katanya menunjukkan angka-angka anggaran dana yang membuatku semakin pusing untuk memikirkannya.
“Kalau bisnis ini tak berjalan dengan baik. Aku akan menyalahkanmu,” ungkap Irene membuatku meliriknya tajam. Dia benar-benar iblis perempuan. Setelah kerja sama ini selesai. Aku tidak akan pernah melakukan kerja sama apapun lagi dengannya.
“Aku tahu apa yang kau pikirkan saat ini dan kau tahu jika kau berjalan jauh dariku, maka aku akan melakukan hal yang sama dengan wanita tercintamu. Aku jauh darimu, dia pun jauh darimu. Bagaimana?”
Sudah kubilang, saat kita mencintai seseorang, maka disitulah letak kelemahan kita sesungguhnya.
“Jika kau berani menyentuhnya. Aku tidak akan segan-segan membuat hidupmu hancur!” ancamku balik padanya.
Dia pun terkekeh lalu menarik lenganku ke pipinya. “Kau begitu menakutkan Axel,” ledeknya dan aku segera menarik tanganku darinya.
“Kau ingin menghancurkan hidupku seperti apa? Perusahaanku jauh lebih kuat dari perusahaanmu, kau tahu itu!” Tegasnya seraya terkekeh menertawakanku.
“Oh ya, aku tidak akan segan-segan menyerahkan diriku untukmu karena kau tahu aku menyukaimu dan aku tahu kau menyukaiku,” katanya membuatku langsung melotot ke arahnya.
“semuanya sudah berlalu. Tidak untuk sekarang. Aku hanya mencintai satu orang!” tekanku.
“Owww kau menyakiti hatiku,” katanya dengan ekspresi menjijikkan dengan tangan menyentuh dadanya seolah di sana benar-benar sakit.
“Kau tidak akan bisa menyentuhnya!” kataku penuh penekanan.
“Oh ya? Kita lihat saja nanti,” ucapnya membuat tanganku perlahan mengepal keras ingin memukulnya. Jika saja aku tidak ingat kalau dia salah satu partner kerja yang sangat berpengaruh di perusahaanku. Aku pasti sudah membatalkan kerja sama ini untuk Lolita.
Aku harus bertahan! Aku harus bertahan untuk Lolita, untuk perusahaanku, untuk semua karyawanku! Aku bisa!
………………………………………
Pukul 16.00 WIB kami sampai dengan selamat dan segera pergi ke hotel yang kami pesan untuk 4 hari ke depan. Damar langsung berlari ke tempat kolam renang untuk menggoda para wanita di sana. Bersiul-siul dengan asyik, tak lupa meminta nomer HP mereka. Sementara aku membaca beberapa berkas penting di kamar seraya menikmati segelas americano yang masih hangat.
Ting! Sebuah pesan masuk. Aku lihat dari Lolita.
Wifey
Iya Loli nggak lupa. Axel juga jangan lupa makan.
Aku tersenyum membacanya lalu meng-klik foto profil istriku yang tengah tersenyum. Ya Tuhan belum sehari aku meninggalkannya tapi aku sudah sangat rindu dengan tingkah polos dan manjanya.
Aku pun segera menghubunginya. Ingin sekali melihat wajahnya lewat video call. Menunggu beberapa menit dan wajah istriku perlahan muncul di layar HP-ku.
“Halo!! Kamu lagi apa, Sayang?”
Lolita tersenyum, tapi aku merasakan hal aneh ketika melihat wajahnya. Kenapa wajahnya terlihat sedikit pucat? Padahal sebelum aku tinggal kelihatannya baik-baik saja.
“Meneruskan rajutan kemarin dan habis melihat buku resep masak untuk kelas besok,” katanya.
Aku mengangguk, mengerti.
“Kamu kangen aku?” tanyaku yang tiba-tiba membuat Lolita terdiam sejenak. Dia menatapku dengan wajah datarnya hingga kemudian aku bisa lihat matanya berkaca-kaca.
“Loli…,” dia Nampak menggigit bibirnya lalu tersenyum menahannya. Semakin lama, aku bisa lihat sikap dewasa Lolita yang aku tahu itu pasti tak mudah untuk melatih dirinya sendiri.
“Loli menunggu Axel di rumah. Axel jangan lama-lama di sana. Loli nggak mau tidur sendiri.” Kini aku yang terdiam. Lolita benar. Kami sudah terbiasa tidur Bersama, tapi 4 hari ke depan kami tidur di ranjang yang berbeda. Aku tidak bisa merasakan pelukan hangatnya dan begitu pun sebaliknya.
Lucu, dulu sebelum aku menikah. Aku tidak pernah memikirkan hal-hal seperti ini, tapi sekarang Lolita membuatk sadar. Aku tidak hidup sendiri dan Lolita pun tidka hidup sendiri. Kami saling melengkapi dengan kehadiran satu sama lain.
“Iya, Sayang. Aku pasti pulang. Kamu jaga diri baik-baik ya,” kataku dan Lolita Nampak meganggukkan kepalanya kembali tersenyum lebar.
“Kapan-kapan Axel ajak Loli lagi ya, janji?”
“Iyahh tapi jangan di saat aku melakukan bisnis. Bagaimana kalau liburan bersama saja? Kita ajak Bi Tikah dan Pak Jani.”
“Reyes?” tanya Lolita membuatku terkekeh.
“Jangan pedulikan dia. Dia hanya anggota tambahan yang tidak dianggap,” kataku dan Lolita tertawa pelan.
“Tapi tadi Reyes beliin Loli bakso. Loli-“ Tiba-tiba Lolita menjatuhkan HP-nya dan aku hanya bisa melihat langit-langit kamar dengan suara seseorang yang sedang muntah.
Huek! Huek! Huek!
“Lolita!!” panggilku. “Lolita!!” panggilku lagi tapi aku hanya bisa mendengar suara Lolita yang sedang muntah.
Lolita sakit? Kekhawatiranku semakin meningkat. Ya Tuhan, aku kira tadi pagi dia baik-baik saja. Ternyata dia diam pun karena dia sakit? Kenapa aku sangat bodoh?!
Aku segera mematikan HP-ku dan menghubungi Bi Tikah. Aku harus memastikan ada yang menjaga Lolita selama aku tidak ada.
“Halo?” suara di seberang sana terdengar.
“Bi, ini Axel.”
“Ohh Den Axel, iya den ada apa?”
“Lolita muntah-muntah di kamar. Bisa tolong lihat? Saya benar-benar khawatir, Bi.”
“Ohh iya, tadi juga Bibi kira Non Loli hanya sakit biasa. Tadi Bibi udah ajak Non Loli ke rumah sakit tapi katanya hanya butuh istirahat. Ini bibi lagi buatkan bubur untuk Non Loli, Den. Tadi setelah dari luar, Non Loli belum makan lagi. Tadi pagi pun ketika sarapan sangat sedikit makannya.”
Aku mulai mengingat kejadian tadi pagi. Benar juga, Lolita tadi pagi makan sangat sedikit. Kenapa aku lupa? tapi bisa-bisanya dia berbohong padaku kalau dia tidak lupa makan. Loli, Loli, kau benar-benar tidak pernah absen membuat hati dan pikiranku tak keruan seperti ini.
“Yasudah Bi, nanti segera kabari saya kalau Lolita kenapa-napa.”
“Iya, Den. Bibi akan segera hubungi Den Axel.”
“Yasudah, makasih, Bi. Saya tutup teleponnya. Titip Loli ya, Bi.”
“Iyahh, Den.”
Aku pun menutup sambungan teleponku. Lalu menatap layar HP karena mendapatkan pesan masuk dari Irene. Dia bilang ada hal penting yang harus dibicarakan mengenai proposal kerja sama kami. Aku pun hanya mampu menghela napasku dari bibirku. Lalu berdiri dari dudukku bersiap menuju restoran hotel, tapi sebelumnya aku mengirim pesan kembali untuk istriku.
Wifey
Sayang, jaga diri kamu! Jangan sakit. Nanti aku terus kepikiran kamu.
.
.
.
THANK U BUAT YANG SELALU NUNGGUIN LOLI ^^ JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENNYA^^