My Idiot Wife

My Idiot Wife
14: Bad Husband



***NOTED: Sebelumnya mau ngasih tahu IDIOT di sini sesuai dengan judul punyaku yang pakai bahasa inggris ya. Jadi jangan tanya\, kok LOLI-nya kayak gak idiot? hihiihihi. Idiot dalam bahasa inggris itu artinya orang bodoh. Di sini penulis menggambarkan LOLI sebagai sosok yang agak LOLA (loading lama) dan polos. Jadi jangan dipatokkan idiot yang kalian pikirkan^^  ***


 


SELAMAT MEMBACA^^


 


AXEL POV


Aku sedikit puas dengan menghukum Lolita dan besok aku ingin mendengar pengakuan kesalahannya. Jika dia tidak mengaku, maka aku akan menambah hukumannya.


“A-axel!!”


Aku mendengar suara Lolita memanggilku dengan nada yang begitu aneh. Antara nada menangis dan juga kesulitan bernafas. Aku pun bangun dari baringanku dan melihat Lolita yang memegang dadanya. Benar, dia menangis tapi seraya memegangi dadanya yang seperti sesak.


“Axel, aku sesak,” aku jadi mengingat kata-katanya tadi. Jadi, dia benar-benar sakit?


Aku pun segera beranjak dari ranjang dan berjalan menuju ke arah sofa.


“Ma-af,” katanya perlahan menarik tanganku dan menggenggamnya erat membuatku langsung kalang kabut. Apa maksudnya dengan kata maaf itu? Kenapa dia seperti ini? Dia sungguh membuatku khawatir.


Aku segera menelepon pihak hotel berharap mereka bisa memanggil dokter yang cepat. Setelah selesai menghubungi mereka. Aku segera kembali dan mengangkatnya ke atas ranjang.


“A-xel, hiks, hiks,” dia masih terus menangis seraya memegangi dadanya. Aku duduk di sampingnya seraya memegangi tangannya.


Apa yang terjadi padanya? Kenapa bisa seperti ini?


“Sutt coba pelan-pelan tarik nafasmu. Jangan sambil menangis ya. Coba hentikan tangisanmu!” ucapku sedikit menghentaknya karena baru pertama kalinya aku melihat orang sesak nafas seperti ini, aku menjadi panik luar biasa. Bukannya menghentikan tangisnya, tapi aku dengar dia malah menangis semakin keras membuatku merasa bersalah. Aku pasti salah sudah membentaknya.


“Hiks, hiks, a-aku s-sakit,” kata Lolita membuatku terdiam.


Apa aku sudah sangat keterlaluan padanya? Sejak di pantai, dia sudah mengatakan kalau kakinya sakit bahkan sampai di hotel pun dia juga bilang kalau dia sedikit sesak, tapi aku…, aku masih saja memarahinya. Padahal keadaan Lolita sedang sakit. Kalau saja tadi aku mendengarkan keluhannya yang sesak. Mungkin dia tidak akan mengalami hal kesulitan nafas seperti ini.


“A-xel, n-nafasku,” katanya lagi meremas seprei dan aku tak sadar meneteskan air mataku. Bisa-bisanya di saat istriku sendiri sakit. Aku malah membentaknya sementara Irene yang sakit saja bisa aku perlakukan dengan lembut. Bukankah aku tidak pantas menjadi suami!


“A-Axel ma-af,” katanya lagi. Aku menggelengkan kepalaku dan menarik tangannya.


“Sutt sudah tidak apa-apa, tarik nafasmu pelan-pelan ya. Jangan seperti ini,” kataku lirih tidak tega melihat istriku sendiri kesulitan bernafas. Aku sungguh takut menghadapi situasi seperti ini.


Ting, nong, ting nong. Kudengar suara bel berbunyi. Cepat, aku berlari ke arah pintu dan membukanya.


“Pak Axel?”


“Iya, Dok, tolong istri saya,” kataku segera mempersilakannya masuk.


…………………………………………………………….


“Sepertinya Bapak tidak tahu ya kalau istri Bapak mempunyai riwayat penyakit sesak nafas.”


Aku menggelengkan kepala.


“Penyakit istri Bapak ini sewaktu-waktu akan kambuh kembali di saat kondisi istri bapak tidak fit seperti saat ini. Saya rasa, istri anda kelelahan dan dia alergi udara dingin. Jangan lupa minum obatnya, makan yang teratur dan istirahat yang banyak. Fisik istri anda lumayan lemah.”


Aku mengangguk mengerti dan berterima kasih pada dokter yang sudah pihak hotel bantu untuk menghubunginya. Setelah aku membayar pengobatannya dan mengantar dokter itu keluar dari kamar. Kembali aku melihat keadaan Lolita yang kini tertidur. Aku duduk di sampingnya dan menyingkirkan rambut kecil yang menutupi keningnya.


“Mas Aldi!!” teriak Lolita tiba-tiba terbangun dari tidurnyaa membuatku terkejut.


“Ada apa?” tanyaku memegang pundaknya dan Lolita segera memelukku sangat erat.


Lalu kudengar dia kembali menangis seperti anak kecil. “Suttt, Dokter bilang kau harus tenang. Tidak boleh menangis seperti ini lagi. Kau mau sesak nafas lagi seperti tadi, hemmm?” kataku memberinya pengertian seraya mengelus pelan punggungnya untuk menenangkannya.


Lolita pun melepas pelukanku dan dia menundukkan kepalanya dalam-dalam. “Kenapa Lolita masih hidup?” tanyanya seraya mengusap air matanya dengan kasar.


Sementara aku semakin mendekatkan posisi dudukku ke arahnya. “Kamu bicara apa sih? Sudah yuk, kamu perlu banyak istirahat,” kataku perlahan mendorong pundaknya untuk kembali berbaring dan Lolita menurutiku. Hanya saja, dia memunggungiku seraya memeluk gulingnya.


Aku pun naik ke atas ranjang bergabung dengannya dan mengusap kepalanya lembut dari belakang karena dia tidak mau memejamkan matanya.


“Ayo istirahat. Ini sudah malam,” kataku, tapi dia menggelengkan kepalanya.


“Axel,” panggilnya padaku. Dia membalikkan tubuhnya dan menatap mataku.


“Hemmm.”


“Kenapa Loli masih hidup? Loli ingin mati saja,” katanya membuat dadaku merasakan sesuatu yang tak biasa. Aku kembali mengingat bagaimana cerita Mama yang mengatakan Ibunya Loli meninggal karena bunuh diri.


“Kenapa kamu ngomong seperti itu?”


Lolita menggelengkaan kepalanya. Lalu membuat dirinya berbaring memperhatikan langit-langit hotel. Aku kembali melihat Lolita meneteskan air matanya, malah membuatku takut kalau dia memikirkan sesuatu yang aneh-aneh.


“Kenapa menangis lagi?” tanyaku padanya meski tangisannya tak bersuara, tapi sungguh membuatku  terluka karena melihatnya tak bisa berhenti menangis.


“Waktu Loli kecil, Mas Aldi pernah meninggalkan Loli di pantai. Loli kira, Mas Aldi hanya ingin membeli es krim, tapi hari itu Mas Aldi tidak menjemput Loli sampai malam. Loli takut, Loli sendirian dan Loli mulai merasakan sesak nafas karena kedinginan. Hari itu, Loli berdo’a agar Tuhan menyabut nyawa Loli saja. Loli tidak mau hidup seperti ini. Menjadi orang bodoh dan menyusahkan semua orang yang ada di samping Loli, tapi Tuhan berkata lain karena Loli masih hidup. Ayah menemukan Loli dan memarahi Mas Aldi habis-habisan membuat Mas Aldi semakin membenci Loli. Sejak hari itu Loli takut. Loli benar-benar takut. Loli takut kalau Mas Aldi kembali membuat Loli harus mengalami hal menyeramkan itu lagi.”


Aku terhenyak mendengarnya.


“Dan malam ini Loli kembali melewati hari menyeramkan itu lagi. Hanya bedanya…,” Loli terdiam membuatku meremas tanganku sendiri. “Hanya bedanya orang itu bukan Mas Aldi, melainkan suami Loli sendiri.”


“Saat sesak nafas tadi. Loli kembali berdo’a pada Tuhan agar cabut saja nyawa Loli supaya Axel tidak lagi mempunyai beban apapun dari Loli, tapi lagi-lagi Tuhan tidak mengabulkannya dan Loli takut…, Loli benar-benar takut, hiks, hiks,” dia kembali menangis membuatku menariknya ke dalam pelukanku. Aku merasakan tubunya bergetar ketakutan membuat hatiku semakin terluka karena hal yang terjadi padanya semua karena diriku.


Ya Tuhan! Seharusnya aku tak melakukan itu. Aku sungguh sudah membuatnya ketakutan dan kembali membangkitkan mimpi buruknya.


“Apa salah Loli pada Axel? Loli sudah nurut pada Axel untuk tidak ikut ke rumah sakit dan menunggu Axel mejemput Loli, tapi kenapa Axel memarahi Loli? Apa salah Loli? Loli akan meminta maaf. Loli janji, Loli akan meminta maaf dan nurut pada Axel,” katanya di dalam pelukanku.


“Sutt sudah, kau harus berhenti menangis karena sakitnya bisa kambuh lagi.”


Loli menggelengkan kepalanya. “Tidak apa, biar Loli mati saja. Tidak ada yang sayang dengan Loli lagi selain Ayah.”


Aku terdiam dan menatap wajahnya. Menyingkirkan rambut yang menutupi wajahnya yang semakin terlihat membengkak karena menangis. Aku pun mengecup bibirnya serta matanya.


“Jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku tanpa seizinku. Kau harus menurut padaku, mengerti?!”


Lolita nampak menghentikan tangisannya dan menatap mataku dalam-dalam. Dia mengulurkan tangannya ke dalam leherku, perlahan kami menautkan sebuah ciuman untuk mengungkapkan bahwa janji ini harus ditepati.


“Maafkan aku membuatmu terluka,” bisikku dan kami tertidur bersama di dalam sepi yang perlahan menelan malam.


****


Aku nangis sampai kebawa tidur buat part ini hahaha. Btw, aku enggak memaksa kalian suka ceritaku. Mau baca silakan, kalaupun enggak ya enggak apa-apa ^^ Dan aku enggak memaksa kalian percaya kalau di dunia nyata ada Loli karena mungkin kalian belum ketemu tapi aku udah pernah, sampai bisa terinspirasi buat cerita ini. Beberapa komen juga ada yang bilang dia pernah juga nemu orang seperti ini. Meski mungkin seribu satu, tapi mereka tetap enggak pernah minta dilahirkan dalam keadaan kurang~ siapapun ingin semuanya sempurna tapi kesempurnaan hanya milik Tuhan~ Thanks for reading!