My Idiot Wife

My Idiot Wife
10: Destiny?



*****NOTED: Sebelumnya mau ngasih tahu IDIOT di sini sesuai dengan judul punyaku yang pakai bahasa inggris ya. Jadi jangan tanya\, kok LOLI-nya kayak gak idiot? hihiihihi. Idiot dalam bahasa inggris itu artinya orang bodoh. Di sini penulis menggambarkan LOLI sebagai sosok yang agak LOLA (loading lama) dan polos. Jadi jangan dipatokkan idiot yang kalian pikirkan^^  ***



SELAMAT MEMBACA^^


Axel POV


Aku tidak tahu jika Irene berada di dalam satu pesawat yang sama bersamaku. Bahkan bukan hanya satu pesawat, tapi saat ini aku sedang berada di lobby hotel yang sudah aku reservasi untuk bermalam dengan Lolita.


“Kau lagi,” kata Irene dengan senyumannya.


“Kau juga akan menginap di sini?” tanyaku sedikit heran kenapa kami bisa kebetulan bertemu lagi meski memang Luxur terkenal dengan hotelnya para orang-orang yang sedang melakukan perjalanan bisnis di Bali.


“Takdir, mungkin?” katanya mengangkat bahunya dan aku melirik ke arah sekretaris laki-lakinya yang membawa kunci kamar hotel.


“Ibu di kamar 502.” Katanya memberi tahu dan aku pun melihat ke arah kunciku. Aku 501 dan dia 502, bukankah berarti kami bersebelahan.


“Jadi kau di lantai berapa?” tanya Irene padaku. Aku pun berjalan di sampingnya dengan menggenggam tangan Lolita yang entah kenapa semakin erat.


“Aku lantai 5,” jawabku.


“Wahh benarkah? Aku juga lantai 5. Kau kamar nomer berapa?” tanyanya lagi.


“501,” aku menunjukkan kunciku.


“Kita bersebelahan,” kata Irene dengan nada senangnya. Aku pun tersenyum mengangguk lalu masuk ke dalam lift yang sudah ditekan oleh orang yang berada di barisan paling depan.


Nampaknya, bulan ini cukup banyak pembisnis datang yang ke sini karena setahuku bisnis dari perusahan ARASA.Corp ini melibatkan banyak pembisnis di Indonesia. Beruntung sekali perusahaanku salah satunya dan mungkin Irene juga salah satunya.


Kami sampai di lantai 5, tapi tiba-tiba Lolita membisikkan sesuatu. “Axel, aku lapar,” bisiknya dan aku pun tersenyum padanya. Ahhh, jadi dia menggenggam tanganku sangat erat karena itu alasannya.


“Kita ke kamar dulu ya, kasihan juga petugasnya.” Kataku memberi pengertian pada Lolita kalau petugas pelayan hotel ini sudah membawa koper kami dan akan menunjukkan kamar yang akan kami tempati beberapa hari ke depan.


Lolita mengangguk dan kini dia mendekatkan tubuhnya ke arahku. Tanganku dia peluk semakin erat dan kepalanya menempel pada punggungku. Sebegitu laparnyakah dia sampai menempelkan tubuhnya padaku.


“Ada apa?” tanya Irene padaku.


“Ohh ini, Lolita lapar. Mungkin kami akan makan malam lebih awal,” kataku seraya melihat jam tanganku menunjukkan pukul 4 sore.


“Begitu ya, padahal aku ingin makan malam bersama kalian. Ada banyak yang ingin aku tanyakan tentang hubungan kalian. Bukankah hubungan kalian cukup menarik untuk diceritakan? Aku sungguh ingin mendengarnya,” kata Irene dan aku tidak tahu cerita seperti apa yang ingin dia dengar karena aku sendiri tak yakin kami memiliki cerita yang bagus untuk diceritakan. Tak mungkin kan aku harus menceritakan tentang kemarin?


“Tapi sayang sekali. Aku harus segera menemui rekan bisnisku setengah jam lagi.”


“Kau kesini bukan karena ingin menghadiri kerja sama dengan ASARA. Corp?”


Irene menggelengkan kepalanya. “Aku memang diundang dan diajak untuk bekerja sama, tapi aku tidak begitu tertarik. Lagi pula untuk perusahaanku sendiri tidak terlalu menguntungkan, kecuali untuk perusahaanmu. Menurutku, kau sudah bagus mengambil langkah.”


Aku pun mengangguk. Aku pikir, dia tetap akan mengambil kerja sama itu. Ternyata dia sekarang cukup berbeda. Dia mulai bisa perhitungan untuk perusahaannya sendiri. Irene benar-benar wanita yang menakjubkan. Semakin lama, dia semakin pintar dalam berbisnis.


“Kalau begitu aku masuk duluan ya,” kata Irene.


Aku pun mengangguk. “Istirahatlah yang banyak supaya tidak sakit,” kataku dan Irene tersenyum seraya masuk ke dalam kamarnya.


……………………………………………………………….


Aku tidak tahu alasan Lolita diam. Dia sama sekali tidak berbicara sejak kami sampai di Bali. Sesekali dia hanya memanja padaku. Memegangi tanganku dan juga menjatuhkan kepalanya di bahuku. Bahkan malam ini aku lihat dia termenung di balkon hotel kami entah memikirkan dan menatap apa di luar sana.


Sementara aku yang baru saja keluar dari kamar mandi hanya mampu menghela nafasku sendiri melihat tubuhnya dari bekalang. Ketika aku bertemu dengan Irene. Entah kenapa otakku selalu berpikir apakah aku punya kesempatan mendapatkannya? Dia wanita yang menakjubkan dan sungguh kriteriaku. Dia mandiri, cerdas, aktif dan juga cantik. Sementara Lolita…,


“Axel,” seseorang memanggilku. Aku lihat wajah Lolita yang pucat membuatku segera menghampirinya.


“Kau sakit lagi?” tanyaku memegang keningnya, tapi aku rasa suhu tubuhnya tidak sepanas kemarin.


Lolita menggelengkan kepalanya dan tiba-tiba memeluk tubuhku yang hanya memakai bathrobe.


“Aku suka wangimu,” katanya menyeruakkan wajahnya ke dalam leherku.


Aku pun mengelus pelan punggungnya. Terkadang juga, aku berpikir kalau aku akan sangat jahat membandingkan Lolita dengan Irene. Dia memang tidak ada apa-apanya dengan Irene, tapi entah kenapa setelah kejadian kemarin. Aku jadi selalu merasa cepat khawatir padanya. Aku tidak tahu bagaimana isi hatiku sebenarnya pada Lolita, tapi aku tak mau menafsirkannya dengan cepat. Aku ingin semuanya berjalan dengan perlahan sebelum kami melangkah lebih jauh lagi.


“Axel jangan tinggalkan Loli. Loli takut, Loli takut gak ada lagi yang sayang sama Loli,” lirihnya di dalam pelukanku.


Aku pun hanya diam saja tak menjawab. Sementara Loli semakin memelukku erat hingga aku merasakan sesuatu yang basah mengenai kulit leherku.


Aku segera melepas pelukannya dan melihat wajah Lolita yang pucat itu berganti warna menjadi merah. Dia menahan tangisnya dengan senyuman, tapi aku bisa melihat dia mengeluarkan air matanya.


“Kenapa menangis?”


Lolita tersenyum seraya menggelengkan kepalanya. “Hanya ingat dengan Ayah. Ayah yang paling sayang sama Loli, tapi Ayah udah ninggalin Loli,” katanya dengan air mata yang semakin lama deras begitu saja jatuh ke atas pipinya.


Aku pun mengusap air matanya yang jatuh dan kembali menariknya ke dalam pelukanku. Kubiarkan Lolita menangis sepuasnya di dalam pelukanku. Aku tahu, seharusnya aku mengatakan kalau aku yang akan menggantikan posisi Ayahnya saat ini dan seterusnya, tapi…, entah kenapa kata-kata itu hanya sampai di tenggorokan. Aku masih sulit mengatakannya karena aku sendiri belum yakin dengan hatiku.


“Axel, jangan tinggalkan Loli,” katanya lagi lirih.


Aku tak menjawabnya, tapi aku tetap mengelus pelan punggungnya untuk menenangkan dirinya.