
***NOTED: Sebelumnya mau ngasih tahu IDIOT di sini sesuai dengan judul punyaku yang pakai bahasa inggris ya. Jadi jangan tanya, kok LOLI-nya kayak gak idiot? hihiihihi. Idiot dalam bahasa inggris itu artinya orang bodoh. Di sini penulis menggambarkan LOLI sebagai sosok yang agak LOLA (loading lama) dan polos. Jadi jangan dipatokkan idiot yang kalian pikirkan^^ ***
SELAMAT MEMBACA^^
LOLITA POV
Aku memperhatikan di depan cermin karena wajah dan mataku membengkak.
“Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Axel yang baru bangun dan memeluk tubuhku dari belakang. Aku pun mengingat kejadian semalam. Kemarin adalah waktu yang sangat panjang untuk kami dan aku tidak akan pernah mau melewatinya lagi.
“Axel wajahku,” ucapku seraya memegangi wajahku yang membengkak dengan mata yang sulit terbuka lebar.
“Kau terus saja menangis tiada henti,” katanya lalu menyeruakkan wajahnya ke dalam leherku.
“Ihh Axel geli!! Kamu ngapain sihh kaya gini, udah kaya kucing,” kataku terkekeh dan Axel pun menatapku dari cermin.
“Ingin mandi?” tanyanya dari cermin.
Aku pun mengangguk pelan.
“Aku bantu,” katanya dan tiba-tiba tubuhku melayang karena dia angkat. Aku pun memukul punggung Axel pelan.
“Axel, aku bisa mandi sendiri. Aku kan sudah besar. Kenapa harus kamu bantu?” kataku bingung kenapa Axel harus membantuku mandi padahal aku juga sudah baik-baik saja.
“Kamu tidak tahu kan apa yang dipikirkan oleh orang dewasa?”
Aku mengangguk pelan. Aku memang tidak pernah tahu apa yang orang dewasa pikirkan selain cinta dan pekerjaan.
“Nah sekarang ini apa yang orang dewasa sedang pikirkan,” katanya menurunkanku di dalam bath-up dan Axel nampak sibuk membuka keran.
“Axel ih!!! Kenapa sih kamu yang mau mandi duluan ngajak aku segala. Yaudah aku ngalah abis kamu aja mandinya.” Kataku seraya keluar dari kamar mandi, tapi Axel menarikku dan mengunci kamar mandi.
“Sudah aku bilang, ini yang biasa orang dewasa pikirkan dan lakukan. Kau mau menurut denganku atau tidak?”
Aku langsung mengangguk cepat. “Aku menurut padamu,” kataku dan Axel nampak terkekeh seraya menggelengkan kepalanya.
“Kau menggemaskan,” katanya padaku membuatku tersipu malu. Aku memegang ke dua pipiku yang terasa memerah.
……………………………………………………
Perutku terasa melilit. Aku lihat Axel tidak lagi berada di sampingku dan aku merasakan tubuhku sangat sakit.
“Kau sudah bangun?” tanya Axel yang muncul membawa makanan.
“Axel aku lapar,” kataku memegangi perutku lalu perlahan menarik tubuhku dengan susah payah untuk bersandar ke kepala ranjang.
“Kau baik-baik saja?” tanyanya ketika aku meringis sedikit merasakan sakit setelah melakukannya di pagi hari. Tubuhku juga terasa sangat lengket meski tadi sudah mandi.
Aku tersenyum ke arah Axel yang memesang raut wajah khawatir. “Tidak apa-apa,” kataku memegangi selimut yang menutupi sebatas dada.
“Maaf, aku pasti menyakitimu,” katanya, tapi aku lagi-lagi tersenyum karena meskipun ini pertama kalinya untuk kami. Aku sangat bahagia bisa menuruti apa yang Axel katakan. Bukankah Axel bilang, aku harus menurut padanya. Dengan begitu Axel akan terus berada di sisiku, menjadi suamiku. Axel juga tidak akan marah lagi seperti semalam bukan?
“Kau makan dulu ya,” katanya seraya mengangkat meja kecil ke atas ranjang dan menaruh beberapa makanan.
“Terima kasih. Aku sudah sangat lapar,” aku tak membuang waktu dan langsung melahap makananku. Mengingat terakhir aku makan kemarin siang yang akhirnya bertemu dengan Irene dan bertengkar dengannya.
“Pelan-pelan saja,” ucap Axel padaku mengusap ujung bibirku dengan tisu dan menyingkirkan rambutku ke belakang.
“Aku lapar,” kataku penuh dengan makanan di mulut seraya menyengir ke arahnya dan Axel mengangguk ikut tersenyum padaku.
Sibuk menghabiskan makanan. Aku merasakan Axel yang mengelus pelan punggung belakangku yang terbuka. Dia menyingkirkan rambutku ke depan dan memeluk tubuhku dari samping.
“Kau, kenapa tidak menceritakan apapun padaku?” tanyanya membuatku mengernyitkan alisku.
“Menceritakan apa?” tanyaku masih dengan makanan yang penuh di dalam mulutku.
“Kau bertengkar dengan Irene? Punggungmu memar dan berwarna keunguan,” katanya membuatku berhenti menggerakkan tanganku yang sedang makan dan mengunyah makananku dengan perlahan.
“Apa ini sakit?” tanyanya mengelus pelan punggung belakangku dan aku tersenyum meraih tangannya.
“Aku tidak merasakan apapun,” kataku padanya dan Axel nampak menatapku sangat dalam. Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan, tapi aku takut kalau dia kembali marah padaku karena aku ketahuan kembali bertengkar dengan Irene. Aku tidak menurutinya untuk tak bertengkar dengan Irene.
“Maafkan aku,” ucapnya tiba-tiba memeluk tubuhku membuatku terkejut. Aku kira, dia akan memarahiku lagi, tapi kenapa Axel meminta maaf padaku.
“Axel,” ucapku. Aku tidak tahu harus berkata apa, tapi mendengar kata maaf dari bibir Axel membuat hatiku menghangat dan merasa tenang.
Axel melepas pelukannya dan mengusap wajahku pelan. “Hari ini kita tidak jadi kembali. Aku sudah menundanya sampai besok. Hari ini kau istirahat saja di sini bersamaku. Nanti malam kita jalan-jalan sebentar untuk mencari oleh-oleh dan besok kita pulang.”
Aku mengangguk senang karena bisa menghabiskan waktuku bersamanya.
“Sekarang habiskan dulu makananmu dan istirahat kembali.”
Aku mencemberutkan bibirku. “Axel, tapi aku mau mandi.”
“Tadi kan sudah aku bantu mandi.” Katanya, tapi aku melihat ke arah tubuhku yang kulilit selimut.
“Tapi…, ini tidak nyaman.” Kataku dan dia terkekeh seraya mengacak rambutku.
“Iya aku tahu. Nanti aku bantu ya.”
Aku segera menggelengkan kepalaku. “Aku bisa sendiri,” kataku dan Axel tertawa keras.
“Yasudah, nanti aku akan memanggil pihak hotel untuk mengganti seprei dan selimutnya.”
Aku mengangguk dan kembali menghabiskan makananku. Sementara Axel kembali memelukku dari samping. Sesekali dia menyeruakkan wajahnya ke leherku dan sesekali dia mencium pipiku.
Aku pun terkadang tertawa dan dia iseng menarik-narik selimut yang menutupiku. Rasanya, hari ini tidak ingin aku lewati begitu saja. Aku ingin hal-hal seperti ini terus membuat kami tertawa bahagia.
…………………………………………………………………
“Haii kau anak bodoh! Ini bukan tempat dudukmu!” teriak seorang laki-laki bertumbuh gempal bernama Gemma itu mendorong tubuh Lolita yang tak sebanding
dengannya.
“Ini bangkuku,” kata Lolita dengan wajah yang sudah siap menangis.
“Yahh hahaha baru gitu aja udah mau nangis. Dasar bodoh!” kata Gemma lagi.
“Iya, dia sangat bodoh ya. Kemarin Ibu Rita bertanya perkalian padanya saja dia tidak
bisa menjawab.” Ucap Koko membuat teman sekelas menertawakan Lolita.
“Maklum lahh namanya juga Lolita, otaknya juga LOLA (Loading Lama)” kata Gemma lagi
membuat semuanya lagi-lagi tertawa dan Lolita menatap ke segala arah. Mereka bilang Lolita anak yang bodoh. Semuanya pun membicarakan Lolita yang naik kelas karena Ayahnya yang kaya. Kalau saja Ayahnhya tidak menyogok pada sekolahan. Lolita pasti tidak akan naik kelas.
Lolita yang mendengarnya langsung berlari keluar kelas membawa tasnya. Hari sedang
hujan dan Lolita berlari menembus hujan.
Dia tahu otaknya memang tidak sepintar temannya yang lain, tapi bukankah tidak adil
jika Lolita diperlakukan seperti itu. Lolita juga ingin punya teman dan tertawa
seperti yang lainnya, tapi nyatanya Lolita hanya sendiri dan tak bisa melakukan
apa-apa selain menangis.
“Hei!!!” Lolita yang sedang menangis melihat seorang pria memegang payung dan menutupi kepalanya.
“Kau tidak lihat ini hujan! Dasar bodoh!” kata pria itu kembali membuat Lolita ingin menangis, tapi…,
“Pegang! Kau bisa saja sakit!” katanya dengan nada membentak menarik tangan Lolita untuk memegang payungnya. Lalu pria itu berlari masuk ke dalam sekolah.
Sementara Lolita memperhatikan payung bewarna coklat garis-garis yang dia pegang dan menolehkan kepalanya ke arah pria yang sudah masuk ke dalam gerbang sekolah
“Axel!! Kau baru datang!!” Lolita mendengar pria itu dipanggil oleh seseorang. “Kenapa
kau tidak pakai payung? Bajumu jadi kebasahan,” kata Koko, pria yang tadi
mengejeknya bersama Gemma.