
LOLITA POV
Aku dengar suara teriakan. Seraya memegangi selimut yang menutupi tubuhku. Aku pun berbalik dan melihat wajah Axel yang nampak kesal.
“Axel, kenapa?” tanyaku padanya.
“Ohh kau terbangun ya. Maaf kalau aku mengganggu tidurmu. Damar sungguh menyebalkan!" katanya berjalan ke arah ranjang kami dan menarik tubuhku ke dalam pelukannya.
“Aku lelah sekali hari ini. Rasanya aku tidak ingin bangun pagi-pagi untuk bekerja.”
“Yasudah makanya Axel tidur sekarang. Ini udah tengah malam loh,” kataku padanya dan Axel pun mencium keningku.
“Ayo kita tidur,” kata Axel dan aku memeluknya semakin erat.
Sebelum kami benar-benar tertidur kembali. Axel sekilas mengelus pelan perutku dan membisiki sesuatu padaku. “Aku sangat ingin melihatmu menggendut,” katanya.
Aku tidak tahu apa maksudnya itu, tapi entah kenapa aku sangat senang mendengarnya.
…………………………………………………
“Ihh Non, Bibi kan udah bilang biar Bibi aja. Non bangunin Aden aja ya, terus siapin baju kerja Den Axel untuk hari ini.”
Aku menggelengkan kepala masih asyik membuatkan nasi goreng untuk makan pagi.
“Loli udah siapin baju kerja Axel kok. Sebentar lagi masakannya juga selesai. Nanti Loli langsung ke atas bangunin Axel,” kataku, tapi Bi Tikah tetap memaksa mengambil spatula yang aku pegang.
“Udah Non Bibi aja. Non naik tangganya hati-hati ya,” kata Bi Tikah dan aku tak bisa mengelak lagi selain membiarkan Bi Tikah mengambil alih pekerjaanku.
Perlahan dengan memegangi perut pun aku berjalan ingin menuju kamar tapi aku lihat Axel sedang turun tangga membuka tangannya lebar-lebar seraya tersenyum kepadaku.
Aku pun membalas senyumannya, berjalan ke arahnya dan memeluknya. “Kau sudah bangun? Aku kira kau masih tidu,” kataku mendongak ke atas.
“Awalnya aku sangat malas, tapi aku ingat akan jadi Ayah. Jadi, aku harus bekerja lebih rajin lagi untukmu dan anak kita.”
Aku yang mendengarnya pun terkekeh pelan. Sementara Axel mencubit pipiku gemas. “Aku kaya puitis banget ya,” katanya seraya menuruni tangga yang hanya sisa dua langkah lagi.
“Enggak kok, Loli seneng aja karena Axel bilang mau jadi Ayah. Kalau gitu Loli bakalan jadi Mama dong,” kataku di sisinya yang dia gandeng erat.
“Hahaha duhhhh istriku ini,” kata Axel mencubit lagi pipiku gemas. “Yaiya dong, Sayang. Kamu Mamanya, kan kamu yang mengandung dan kamu yang melahirkan.”
Aku pun menyengir padanya dan kami masuk ke dalam ruang makan bersama. Bi Tikah nampak tengh sibuk menyiapkan makanan. Sementara kami duduk dan Axel memberikan sebuah dasi kerjanya padaku.
“Hari ini, mungkin aku akan pulang lebih malam. Kamu tidur lebih dulu saja ya,” kata Axel.
Aku pun mengangguk pelan masih fokus dengan dasi yang aku pakaikan dan tiba-tiba aku mengingat sesuatu.
“Axel, Chef Valdi kan menawarkan Loli untuk jadi guru khusus belajar masak di rumah. Sore ini, dia akan datang ke rumah, boleh kan?”
“Orang yang nolongin kamu itu?”
Aku mengangguk. “Iya, boleh ya. Chef Valdi baik sekali dengan Loli. Dia sampai mau jadi guru khusus Loli.”
“Yehh terima kasih, Axel,” ucapku mengecup pipinya. “Loli gak berdua aja kok. Nanti Loli ajak Bi Tikah juga.” Kataku dan Axel mengangguk pelan.
“Everything for you, tapi ingat ya jangan terlalu kelelahan. Kamu harus menjaga kesehatan kamu juga.”
“Iya, iya, tenang aja. Loli bakalan jadi wanita yang kuat kok!”
Axel tersenyum seraya menyentuh lembut pipiku dan mengangguk. “Kamu memang yang terkuat. Aku semakin mencintaimu,” ucap Axel membuat mataku langsung membulat.
“Ihh Axel, Loli kan jadi malu.” Aku memukul dada Axel pelan dan Axel mengacak rambutku.
“Aku memang mencintaimu. Aku sudah mengatakan yang sebenarnya kan.”
“Cie!! Non Loli wajahnya sampe merah. Non Loli pasti seneng banget tuh dengarnya. Selama ini kan Non Loli pengen banget dengar pernyataan cinta dari Den Axel.”
“Ihh Bibi, kapan Loli bilang begitu,” elakku, aku jadi semakin malu karena Bi Tikah memperjelasnya.
“Ohh gitu ya. Kalau begitu, aku akan mengatakannya setiap hari supaya kau yakin kalau aku memang sangat mencintaimu.”
“Benarkah?”
“Tentu saja, kau mau mendengarnya setiap hari kan?”
Aku mengangguk pelan. Bagiku ketika Axel mengatakan itu padaku, rasanya manis sekali dan aku ingin bisa mendengarnya setiap hari. Tak peduli itu membosankan, aku ingin mendengarnya terus menerus dari bibir Axel.
“Aku mencintaimu,” bisik Axel lalu mencium pipiku membuatku semakin memerah lagi.
Aku pun menutup wajahku karena malu dengan Bi Tikah dan aku mendengar suara kekehan dari bibir Bi Tikah.
“Yasudah, ayo makan dulu. Aku harus segera ke kantor menemui Damar,” kata Axel dan aku pun segera mengambilkan sendok untuknya.
Aku mulai membayangkan jika nanti aku punya anak. Kami akan menjadi keluarga yang bahagia dan bisa saling bertatap wajah di meja makan. Anak-anakku makan dengan wajah yang belepotan dan Axel sibuk minta dipakaikan dasi.
Ahhh aku ingin waktu-waktu itu hadir di antara kami.
“Sayang, ayo makan. Kok malah bengong?”
Aku menggelengkan kepala. Lalu meraih sendok milikku sendiri.
“Axel mau perempuan atau laki-laki? Kita kapan ya beli baju untuk anak kita?”
“Perempuan atau laki-laki yang penting kalian sehat. Makanya, kamu jaga kesehatan ya. Aku khawatir kalau kamu sakit," kata Axel dengan nada khawatirnya. Aku pun menatap matanya sejenak lalu mengelus pelan wajahnya yang tampan.
“Aku akan berusaha menjaga kesehatanku. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku.”
……………………………………………
Tinggal sisa-sisa dikit beberapa part lagi nih :( mungkin cuma 5-6 part lagi. atau bisa kurang dari itu, tapi yang pasti thank u udah baca karya-karyaku. Kunjungi yang lain ya^^ cek di profilku ^^