My Idiot Wife

My Idiot Wife
12: Hospital



***NOTED: Sebelumnya mau ngasih tahu IDIOT di sini sesuai dengan judul punyaku yang pakai bahasa inggris ya. Jadi jangan tanya\, kok LOLI-nya kayak gak idiot? hihiihihi. Idiot dalam bahasa inggris itu artinya orang bodoh. Di sini penulis menggambarkan LOLI sebagai sosok yang agak LOLA (loading lama) dan polos. Jadi jangan dipatokkan idiot yang kalian pikirkan^^  ***


 


 


SELAMAT MEMBACA^^


 


AXEL POV


“Rumah sakit?!” kataku dengan terkejut. Aku pun merasakan Lolita menyentuh tanganku dan aku menoleh ke arahnya seakan mengatakan kalau semuanya baik-baik saja.


“Iya ini dari pihak rumah sakit dan saudari Irene membutuhkan wali untuk menangani administrasinya.”


“Baiklah, saya ke sana sekarang juga,” kataku seraya bangun dari duduk lalu menutup teleponku. Sementara Lolita ikut berdiri dan kembali memegang lenganku.


“Ada apa?” tanya Lolita.


“Irene masuk rumah sakit. Kau tunggu di sini saja ya. Aku akan segera kembali. Aku janji tidak akan lama,” kataku padanya, tapi Lolita menggelengkan kepalanya.


“Tidak! Aku ikut denganmu,” ucapnya semakin memegang lenganku erat, tapi aku tidak ingin dia ikut karena takut hal yang lalu kembali terjadi. Apalagi aku akan ke rumah sakit, tentu saja ini tempat umum. Bukankah akan sangat malu jika Lolita melakukan hal yang tidak-tidak.


“Lolita, dengarkan aku,” ucapku dengan lembut. “Dia selalu baik padaku dan dulu dia sangat sering menolongku saat kesusahan. Aku tidak bisa mengabaikannya begitu saja.” Kataku memberinya pengertian dan Lolita terlihat diam saja seraya menundukkan kepalanya.


“Aku janji! Aku janji akan segera kembali. Kau tunggu di sini ya. Tadi kan kau belum sempat jalan-jalan juga. Kau bisa berkeliling di sini. Aku akan segera kembali dan kita kembali ke hotel.”


Lolita nampak begitu sedih, tapi aku menarik wajahnya dan menciumnya untuk menenangkan apapun yang dia pikirkan saat ini. Sungguh, aku hanya akan menolongnya sebentar dan setelah selesai akan segera kembali menjemputnya pulang.


“Kau janji?” tanyanya ketika aku melepas ciumanku.


Aku pun tersenyum seraya mengelus wajahnya. “Iya aku janji akan segera kembali. Kau jangan pergi ke tempat yang jauh ya. Kau bisa menghubungiku jika ada apa-apa, mengerti?!”


Aku lihat, Lolita mengangguk mengerti dan aku mengacak rambutnya. “Aku pergi dulu. Jangan terlalu jauh ya!” ingatku dan Lolita lagi-lagi mengangguk.


Setelah Lolita mengizinkanku pergi. Aku pun segera berlari menuju mobil yang aku sewa selama di bali ini.


……………………………………………………………………


Aku menghela nafasku begitu melihat Irene yang sedang melamun di atas ranjang rumah sakit. Lalu perlahan aku berjalan ke arahnya seraya tersenyum. “Sudah ku bilang kan sebelumnya. Kau harus lebih banyak istirahat dan menjaga makananmu,” kataku padanya meleburkan semua lamunannya.


“Axel?!” dia terkejut melihatku berada di ruangannya. Sementara aku menarik sebuah kursi supaya bisa duduk di sisi ranjangnya.


“Maaf, aku merepotkanmu,” katanya padaku dan aku hanya mampu tersenyum. “Tidak apa-apa, kau juga dulu sering membantuku,” kataku. “Sesekali tidak ada salahnya kan jika aku menolongmu.”


“Irene,” aku berdiri dari dudukku dan menyentuh tangannya. “Ada apa?” tanyaku. “Kau bisa menceritakan apapun padaku. Kau punya masalah dengan sekretarismu? Kenapa dia tidak ada di sini? Setahuku dia tidak pernah meninggalkanmu meski sedetik di saat-saat seperti ini.”


Irene menggelengkan kepalanya. “Aku tidak punya masalah dengan Vero, tapi…,”


“Tapi?” aku mengernyitkan alisku menunggu kalimat selanjutnya.


“Ahh aku sulit mengatakannya padamu. AKu takut kau tidak percaya padaku.”


Aku menggelengkan kepalaku. “Kenapa aku harus tidak percaya padamu. Kita sudah berteman lama, Irene. Aku tahu jelas bagaimana dirimu dan kau pun begitu, bukan?”


Dia mengangguk pelan seraya menundukkan kepalanya. Jari-jarinya saling bertaut meremas satu sama lain dan aku mulai mendengar isakan tangisnya.


“Lolita,” kalimat pertama keluar begitu saja membuatku mencengkram seprei bangkar Irene.


“Ke-kenapa dengan Lolita?”


Dia menggelengkan kepalanya. “Aku tidak tahu apa salahku dengannya, tapi tadi selama kau rapat. Dia kembali menemuiku dan menjambak rambutku. Dia bilang, dia tidak suka kalau aku terlalu dekat denganmu. Bahkan dia menuduhku mencari perhatian denganmu dan sengaja memesan hotel yang sama denganku. Padahal kau tahu sendiri kalau hotel yang kita tempati terkenal dengan hotel para pembisnis.”


Aku mengepalkan tanganku, marah. Pantas saja dia tidak jalan-jalan keluar. Apakah dia keluar sebentar hanya untuk bertemu Irene dan kembali ke kamar setelah kembali melakukan hal memalukan itu lagi.


“Axel,” suara Irene membuatku menoleh ke arahnya.


“Aku tahu kau tidak akan percaya padaku bukan?”


Aku menggelengkan kepalaku. Tentu saja aku percaya padanya. Kami sudah berteman sangat lama dan Irene bukan wanita pembohong. Aku pun menariknya ke dalam pelukanku untuk menenangkannya.


“Aku minta maaf. Seharusnya, aku memang tidak meremehkannya. Dia tidak sebodoh yang aku kira.”


Lihat saja Lolita. Kau memang perlu dihukum. Aku akan mengulur waktu untuk menjemputmu karena kau sudah melakukan hal yang tak seharusnya pada Irene untuk ke dua kalinya. Aku ingin tahu dia akan jera atau tidak dengan hukumanku. Bahkan kalau bisa, aku akan meninggalkannya di Bali sendirian tanpa uang sepeser pun.


“Yasudah, sekarang kau istirahat ya. Selama Vero belum kembali dari tugasnya. Aku akan menunggumu hingga kau tertidur,” ucapku dan Irene mengangguk pelan.


Aku pun membantu Irene untuk berbaring di atas bangkarnya. Lalu mengusap air matanya dan tersenyum padanya. Lagi-lagi dipikiranku terus membandingi Irene dan Lolita. Entah kenapa aku merasa sedikit menyesal dengan perjodohan sialan ini. Kenapa juga waktu itu aku menyetujui perjanjian untuk menikah dengan Lolita. Seandainya aku tahu Irene sudah putus dengan Max, mungkin ini semua tidak akan terjadi padaku.


“Axel bisakah kau mengelus kepalaku? Aku tidak bisa tidur,” suara Irene.


Aku mengangguk melakukan apa yang dia minta.


………………………………


THX FOR READING ^^