My Cold Friend Is My Husband

My Cold Friend Is My Husband
Chapter 9. Pernikahan



Tidak terasa sudah satu bulan kedekatan antara Leon dan Yuki. Kini mereka dihadapkan takdir untuk selalu bersama selamanya, atau yang biasa disebut dengan "Pernikahan". Sejujurnya berat hati jika ia harus menikah sekarang, tapi bagaimana lagi?


Yuki juga sudah siap fisik maupun batin. Ia siap menunduk pada Leon yang acuh terhadapnya. Bahkan katanya, sampai sekarang pun Leon belum menunjukkan sikapnya suka pada Yuki. Bagaimana mereka hendak hidup bersama jika Leon belum bisa menyukainya?


Belum juga dimulai, Leon sudah gugup duluan di belakang. Rezel selalu siap membantunya untuk menenangkannya.


" Sedih sih... gua harus bobo sendiri nanti, gak ada temen. " Ungkap Rezel sambil menyeka air matanya.


"Gak usah lebay, masih ada bocil yang siap nemenin tidur loe, " Jawab Leon sambil mengelap keringatnya.


"Nggak makasih. Gua mau bobo sendiri aja, cepet siap siap, pake peci lu. abis pembacaan ayat al Qur'an, lu masuk. inget, jangan salah sebut nama. coba sebutin nama si Yuki, "


"Miyuki Oceanna puri binti bapak reza zainal Puri, ingatan gua lebih baik daripada elu yang telmi." Ketus Leon kesal.


"Oghey... sempurna. sekarang giliran loe yang masuk, nama loe udah di panggil,"


Leon pun menghela napas panjang dan mulai berjalan menuju ruangan tempatnya hendak mengucapkan kalimat ijab kabul bersama wali Yuki. Ia sudah berkeringat dingin, benar benar tegang walaupun tidak terlalu banyak orang.


"Saya nikahkan dan kawinkan Ananda Leondra Arsenio Brady bin bapak William Gandara Brady dengan putri saya Miyuki Oceanna Puri dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan uang sebesar 150 juta dibayar Tunai, "


Hening sesaat...


Leon takut salah pengucapan saat menyebutkan nama Yuki.


"Huuuh... S, Saya Terima nikah dan kawinnya Miyuki Oceanna Puri binti bapak Reza Puri dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan uang sebesar 150 juta dibayar Tunai, "


"Bagaimana para saksi? Sah? "


"SAH! " Axel yang berteriak lebih keras dari yang lain.


Leon benar benar lega karena tidak ada kesalahan yang ia buat selama ijab qabul. Yuki pun akhirnya memasuki ruangan dan mencium punggung tangan kanan suaminya dengan tulus. Leon membalasnya dengan mencium keningnya lalu memeluknya.


Teman teman mereka sangat terharu melihat mereka menikah. Apalagi axel yang memang sudah sedari kecil bersama Leon.


pernikahannya tidak terlalu besar dan mewah, seperti permintaan Leon dan Yuki. mereka hanya mengundang keluarga dan teman terdekat. Clara dan laras beberapa kali memeluk Yuki karena mereka juga pasti tidak bisa bermain bersama lagi.


"Huhuhu... dadah... semoga hidup bahagia sama kutub utara ya Yu, gue cuma bisa ngasih loe semangat dan bersabar, " Ucap Laras sambil memeluk Yuki.


"Awas kalo loe berani bikin nangis Yuki, gue bakal marahin loe, " Ancam Clara pada Leon.


"Ya, " Jawab Leon simpel.


Setelah selesai acara...


Yuki dan keluarganya pergi ke rumah Leon dulu. mereka beristirahat sejenak sambil membicarakan beberapa hal.


"Gimana masalah rumah? "


"Tinggal disini aja mah, biar deket sama saya," Jawab Bunda sambil tersenyum.


"Aah, saya juga mau liat menantu saya bun, "


"Duh, mending disini aja mah, "


"Dirumah saya aja, "


"Disini aja, "


"Rumah saya bun, "


Leon hanya memandangi perdebatan kedua orang tua mereka, sedangkan Yuki hanya fokus pada kue stroberi yang tadi sempat tidak ia makan.


"Ck, kalian debat debat yang nggak perlu ya? Papah sama Pak William udah nentuin dimana rumahnya, " Sahut Reza yang menghentikan perdebatan ibu ibu.


"Lho...? Udah? dimana yah? disini ya? " Tanya Bunda penasaran.


"Lah?! "


"Mereka punya rumah baru. Rumah yang ditinggalin Eyang Adnan, beliau ngewarisin rumah itu buat Leon kalo Leon udah nikah, " Jawab William yang membuat Leon membelalakkan matanya.


"Tinggal bedua?! " Sahut Leon kaget.


"Kenapa se kaget itu yon? Wajar kan? " Tanya Yuki sambil berusaha meyuapi Leon kue stroberi itu.


"Iya, kenapa? Ayah sama pak Reza udah sepakat kalian tinggal disana, ya pak ya? "


"Ya! Fiks no debat! " Jawab Reza yang membuat Yuki tertawa.


"Yaudahlah... emang bener ya sih mam, anak kan gak selamanya tinggal sama kita, " Ucap Bunda pada mamah Yuki.


"Iya bun, mereka juga kudu mulai mandiri dari sekarang, "


"Nah... gitu dong. kan jadi beres permasalahannya, sekarang? apalagi yang di permasalahin? " Tanya William pada semuanya.


"Gimana nanti ke sekolah? " Tanya Leon sambil mengangkat tangannya.


"Ya kita berangkat bareng lah, pake motor. ngeng, ngeng. biar co cweet, " Jawab Yuki sambil tersenyum, Leon menatapnya dan menyeka sisa selai di sudut mulut Yuki.


"Beneran nih?! Leon boleh bawa motor?! " Tanya Rezel senang.


"Iya... gak papa lah, ayah izinin. " Jawab William pasrah.


"Asik! " Seru Leon, dan Yuki juga ikut senang.


"Besok kalian pindah kesana ya? Sekarang udah malem, kalian pasti cape. Zel, kamu pindah ya ke kamar bawah, " Titah William pada Rezel.


"Kenapa gak mereka aja yah? Zel males, "


"Wehh... pengantin baru, gak boleh nawar. cepet, "


"Sehari aja kok zel, gak usah khawatir. besok juga aku pindah, " Jawab Yuki pada rezel.


"Ngomong ngomong? Seren sama Cyan mana ya? " Sahut mamah Yuki celingak celinguk.


Bunda juga ikut bingung, dia baru sadar kalau kedua anaknya hilang. Ternyata Cyan dan Serena sedang jalan jalan mencari angin setelah lelah acara tadi. Mereka membeli es krim sambil duduk memandangi langit malam.


"Gak nyangka ya, kita jadi keluarga. " Ucap Cyan tersenyum miris.


"Iya, aku juga gak nyangka... bisa secepet itu, padahal aku kira, aku bisa duluin ngenalin kamu ke bunda sama ayah, " Jawab Serena menunduk.


"hmm... gak papa ren, gak salah kok. Bunda sekarang udah kenal sama aku, aku jadi bagian keluarga kamu sekarang. Jadi udah gak ada halangan apa apa dong, kalo aku mau main ke rumah? ya kan? Yah... aku bakal tetep tepatin janji aku buat nikahin kamu, kalo kamu nya gak bosen sama aku(?). " Ucap Cyan lembut, sifatnya yang tegas hilang ketika didepan Serena.


"Kamu yakin bakal nikahin aku? " Tanya serena meyakinkan.


"Kapan aku gak tepatin janji? hm? kapan? " Tanya Cyan balik.


"Pernah kok... " Jawab serena mengalihkan pandangannya dari Cyan.


"Kapan? yang mana coba? sebutin, "


"Iya deh iya... kamu emang yang paling perfect buat aku, makasih ya. Ngomong ngomong, kamu tumben mau nurutin kata mamah kamu tentang pernikahan ini, "


"Aku udah denger semuanya dari mamah, kalo Leon punya penyakit berat, iya kan? " Tanya Cyan dan diberi anggukkan oleh Serena.


"Iya, aku juga gak tau apa hubungannya sama Yuki. kalo dari yang kata bunda, ini kayak miracle gitu, Leon cuma mau nerima Yu jadi calonnya. Kata bunda juga biar Leon bisa bahagia dan senyum." Jawab Cyan sambil memegang tangan Serena lagi.


"Kamu bener Ciel, Leon udah sering jatuh (down) semenjak tau penyakitnya makin parah. makannya dia berhenti ceria, berhenti ramah, berhenti senyum, Bunda sengaja nikahin dia biar dia bisa bahagia lagi kayak dulu, biar ada yang bisa kasih sandaran dan mau menopang hidup dia. gitu sih, ya... emang Leon anaknya lemah, tapi dia gak gampang nyerah kok, tetep mau idup. gak kayak di film film yang putus asa, "


"Iya, aku ngerti. sekarang pulang yuk, udah malem nih, gak baik buat kamu. " Ajak Cyan sambil menarik tangan Serena.