My Cold Friend Is My Husband

My Cold Friend Is My Husband
Chapter 28. Festival sekolah



Setelah jam 08.00, semuanya mulai bekerja sesuai dengan tema masing masing kelas. Para anggota kelas yang tidak bekerja, wajib mengunjungi kelas lain dan memberikan nilai untuk hasil kelas tersebut.


"Caffe bertemakan idol ya? Emang bisa, mereka mirip idol? Palingan cuma idol plus enam dua aja, hahahaha."


"Yaudah, kita masuk aja, emang seberapa gede nya kelas sampe bisa ngasih tema Caffe gini?"


Saat kedua wanita itu masuk, mereka langsung disambut hangat oleh Air dan Axel yang merupakan inti dari caffe tersebut. Tentu saja kedua wanita itu berteriak karena gemas.


"Aaaahhh! Kalo misalnya pelayannya Axel sama Air mah, gue mau puas puasin disini! hahahaha,"


"Annyeong! Air disini! Selamat menikmati caffe kami...^^" Ucap Air dengan gemasnya. Dinding mereka benar benar menggunakan wallpaper yang mirip dengan Caffe, ditambah foto foto grup yang sengaja di pasang disana.


"Hahahaha, kalian mau pesen apa kawan kawan? Ada buaaaanyak menu yang disini," Sahut Axel juga, dua pelayan itu sukses menarik pelanggan ke caffe itu, walaupun kecil, tapi mereka berusaha keras untuk menempatkan mereka dengan posisi ternyaman.


Selain itu, pelanggan semakin banyak berkunjung tatkala Rezel dan Leon memimpin di depan untuk mempromosikan Caffe idol mereka. Dengan wajah kaku nya, Leon berusaha untuk tersenyum sampai sampai wajahnya pegal karena keterusan tersenyum.


Bukan hanya pelayanan saja, mereka bahkan boleh foto bersama dengan pelayan cafe tersebut, sungguh unik ide Jiho dan teman temannya.


Jiho hanya tertawa puas melihat banyaknya pelanggan bahkan sampai mengantre, ia melihat para senior juga yang datang karena penasaran.


"Ini ide kamu Ho? " Tanya salah satu senior saat hendak membayar kartu sebelum masuk.


"Ehehehe... Iya kak, ide saya sama temen temen saya, silakan... dinikmati ya kak^^ Semoga kakak puas sama pelayanan kami^^" Jawab Jiho dengan memberikan senyuman manisnya.



Begitulah ramahnya Jiho, memang pantas di tempatkan di bagian penerimaan. Leon tampak lelah karna ia tidak tersenyum lagi, sekali kali Rezel mengajaknya berfoto bersama, namun Leon enggan melakukannya. Ada satu cara yang membuat Leon bisa tersenyum lagi, Yaitu istrinya sendiri, Yuki.


"Haaah... Gua cape... Gua mau istirahat bentar ya? Digantiin dulu gak papa kan?" Tanya Rezel pada Leon yang berusaha membujuknya agar membiarkan nya pergi.


"Nggak bisa. Kita sama sama cape, kalo loe istirahat, gua juga kudu istirahat. Kan waktunya barengan," Jawab Leon menolak bujukannya.


"Loe kan kuatan, loe lupa ya kalo kaki gua gak bisa lama lama berdiri? Udah sakit nih..." Ucap Rezel sambil memijat kakinya.


"Loe lupa ya kalo gua juga punya asma? Gua sesek nih..." Ledek Leon balik sambil memegang dadanya. Rezel menganga tak percaya, sejak kapan Leon pintar melawannya begini?


"Eh? Gua beneran lho, kaki gua gak bisa berdiri lama lama,"


"Gua juga beneran lho, gak bisa kecapean banget, bisa nge-drop gua, " Jawab Leon lagi, ia tersenyum smirk karena merasa menang.


"Leon..." Bujuk Rezel. "Apa Zel...?" Jawab Leon lagi, ia benar benar tidak mau kalah.


"Loe nyebelin ya sekarang?" Ucap Rezel dengan raut wajah kesal.


"Li nyibilin yi sikiring " Jawab Leon yang malah meledek ucapan Rezel.


"Leon!" Bentak Rezel lagi. "Apa zel?" Jawab leon lagi.


Sampai pada akhirnya Rezel menyerah mempersatukan Yuki dengan Leon. Setelah lama nya berdiri selama dua jam, akhirnya mereka di persilahkan untuk beristirahat sejenak. Saat Leon dan Rezel masuk, semua siswa yang bersangkutan juga nampak kelelahan, apalagi tim Aegyo macam Air dan Axel.


"Gila! Cape buanget! Omo!" Keluh Air sambil mengibaskan topinya.


"Haaaaahhhhh! Bener bener deh! Para pelanggan jadi menggila!" Sahut Axel juga, keduanya bersandar ke tembok.


"Jangankan 10 pelanggan, 5 pelanggan aja udah bikin gue cape omaygad!" Sahut Clara yang melepas bando kucingnya. Axel langsung menatap Clara yang juga ikut mengeluh.


"Apa liat liat???" Tanya Clara sensitif.


"D,diem lu ah! Cubit nih!" Ketus Clara yang hendak melayangkan cubitannya untuk Axel.


Sementara teman temannya tertawa, Leon sibuk dengan dirinya yang tak henti hentinya batuk sambil sesekali berdehem. Clara pun memperhatikan Leon dan merasa khawatir juga, di saat saat seperti ini Yuki malah tidak ada, sebenarnya dimana Yuki?


"Yon, Gue ada obat batuk. Tadi Yuki nitipin, dia khawatir loe kenapa napa, makannya ngasih obat ini buat loe," Ucap Clara mengahmpiri Leon, Rezel memperhatikannya dari jauh. Sedangkan Leon menatap obat batuk yang hendak diberikan Clara padanya. Ia pun beralih menatap Clara, " Miyu mana? Kenapa dia gak ngasih langsung?" Tanya Leon padanya, Clara bingunh harus menjawab apa padanya.


"Mmm... Itu--"


"Gua tau Miyu gak mau ketemu gua, makannya dia sengaja nitipin obatnya ke elu. Dahlah, gua gak papa." Sahut Leon sambil mengalihkan pandangannya dari Clara.


Leon jadi semakin over thinking kalau ia akan ditinggalkan oleh Yuki. Padahal kejadian aslinya...


Yuki sengaja di kurung di dalam kamar mandi dalam keadaan basah. Karena sebelumnya ia masih berada di kelas, tapi sekelompok geng wanita, yang memiliki komunitas "Pecinta Leon" turun tangan dan mengambil kesempatan itu untuk memberi pelajaran pada Yuki sebagai peringatan kalau Yuki tidak boleh mendekati Leon lagi.


"Liat aja, kalo loe sekali lagi deket deket sama leon, gue bakal kasih pelajaran yang lebih dari ini!!! Inget baik baik!"


"Gak usah sok cupu deh... Jijik liatnya, kayak A*jing juga,"


"Namanya juga orang t*lol, ya sikapnya juga membagongkan lah ya,"


"Nyadar diri padahal posisi loe ada dimana sampe sampe bisa pacaran sama Leon,"


"Harusnya loe berjuang dulu kayak kita, malah seenaknya lewat kayak angin, dengan dinginnya ngambil Leon dan pacaran sama elu,"


"Iiihh! Eweeek! Bau sampah!"


"Lah bukannya loe yang nyiram dia pake air sampah ya tadi?"


"Harusnya pake aer comberan sih,"


"Iiiuuuhhh~ Ugh! Jijik!"


"Cukup cukup, nanti kita ketemu lagi ya^^ Bye..."


Bugh!


Begitulah kejadian sebelumnya, Yuki ditampar, di siram air pel, di siram air sampah, bahkan ia sampai di ludahi. Dan sekarang tidak ada siapa siapa yang menolongnya? Yuki terus menangis sambil berusaha meminta tolong supaya ada orang yang mendengarnya. Namun sayangnya, tak ada satu pun yang mendengarnya.


Sampai pada akhirnya, ia lemas sekali, hampir saja kehilangan kesadaran, seseorang dengan tubuh tinggi sigap membawa Yuki ke UKS. Pandangannya buram dan tidak menyadari siapa dia.


"Ya ampun, siapa itu?"


"Bukannya itu senior yang banyak disebut sebut sebagai murid Legend?"


"Kenapa bawa Yuki?"


"Wah~ Kalo Leon liat bakal ngamuk,"


"Syut! Jangan ghibah heh, nanti kedenger,"


Bersambung...


Siapakah senior Legend yang menggendon Yuki itu?