My Cold Friend Is My Husband

My Cold Friend Is My Husband
chapter 8. Gaun pernikahan



Akhirnya mereka sampai di toko busana langganan milik keluarga Brady. Yuki dan Cyan malu karena mendapat sambutan dari para pelayanan disana. Sang desainer menghampiri Nyonya Brady dan menyapanya.


"Ooh... ini calon mantu nya ya...? Ampun... deh, cantik banget. Aku janji bakal pilihin gaun yang paling bagus khusus buat keluarga kamu, " Ucap Lina, sahabat lama Nyonya Brady.


"Hahahaha, makasih ya. Ayo Yuki, kamu ikut tante Lina nyari gaun yang menurut kamu bagus dan nyaman buat di pake, bunda gak akan maksa kamu suka sama pilihan bunda. " Ucap Nyonya Brady sambil mengelus bahu Yuki.


"Iya bun, makasih. " Jawab Yuki malu.


"Cyan kesana yuk, kita cari baju couple juga, " Ajak serena sambil menarik tangan Cyan.


"E, eh?! tapi!!!


Sementara Cyan asyik menilai gaun yang dipilih Serena, Yuki bingung karena mau memilih yang mana. Semuanya sangat cantik dan indah.


" Coba kamu masuk ke ruang ganti dulu, pake yang ini. " Titah Bunda sambil memberikan gaun putih pada Yuki. Ia sadar kalau sedari tadi Yuki memandangi baju itu.


Yuki senang dan menuruti perkataan bunda. Ialu masuk ke ruang ganti dibantu oleh para pelayanan yang ada disana. Saat keluar, bunda tampak senang melihat Yuki.



"Mmm... menurut bunda sama ayah gimana? " Tanya Yuki ragu, Yuki takut mereka tidak menyukainya.


"Cantik, bagus kok. " Begitu komentar singkat dari ayah Brady.


"Bunda suka banget! kamu pinter pilihin baju ya? " Ucap bunda juga.


Wajahnya memerah karena pujian yang berlebihan dari kedua orang tua Leon.


"Mau pilih gaun lagi? " Tanya Bunda semakin semangat.


"Eh?! "


"hayoh, pilih pilih, yang banyak! " Seru bunda.


Yuki memandangi banyaknya gaun yang berjajaran indah itu. Sambil memperkirakan apakah Leon suka dengan gaun itu.


"Kenapa nak? "


"Eh? Nggak kok... kepikiran aja. Waktu mau kencan, Leon negur aku gara gara bajunya pendek banget, seksi katanya bun. Leon juga bilang gak suka kalo aku ngumbar aurat gitu... hehehe, " Jelas Yuki sambil cengengesan. Bunda memandang suaminya dan tertawa bersama.


"Kena juga kamu ya nak. bunda belum bilang ya kalo Leon gak suka ciwik sexy? Dia emang gitu, makannya, walaupun bunda di rumah dan ketauan pake celana pendek diatas lutut, Leon suka ngambek dan gak bakal ketemu bunda sampe bunda ganti celana. " Jawab Bunda yang berbagi cerita keluh kesah tentang Leon.


"Makannya bun, Aku mau hati hati aja. Pilih gaun juga yang simpel sama panjang. "


"Bagus deh kalo gitu, sok sok, pilihin lagi. " Bunda mengeluarkan logat Sunda yang membuat suaminya tertawa geli.


Setelah beberapa jam memilih gaun untuknya, mereka pun akhirnya kembali pulang. Yuki senang setelah mendapatkan gaun dari keluarga Leon, apalagi itu adalah pilihannya dan tidak dapat tentangan dari keduanya.


Tidak lupa sebelum pergi, bunda dan ayah Brady memberikan beberapa makanan dan buah untuk Deon sebagai hadiah dan permintaan maaf karena tidak bisa menjenguk.


"Dari siapa ini? banyak banget, " Ucap Deon bengong.


"Siapa yang bilang kamu bakal makan semuanya hah? Bagi bagi lah, " Ketus Cyan sambil ciki dari Deon.


"Eeeh, nanya dong kok. makasih deh, "


"Dari bunda dan ayahnya kak Leon, tadi kita diajak jalan jalan sama mereka, katanya salam dan minta maaf karena gak bisa jengukin kamu, " Sahut Yuki sambil merapikan baju Deon.


"Oalah... bunda nya kak Leon toh, waalaikumsalam, "


"Kapan Deon bisa pulang? " Tanya Deon kemudian.


"Gimana mamah aja, kamu kudu sabar, " Jawab Cyan sambil melahap nasinya.


"Iya, terus? gimana? minta maap gak? " Tanya Yuki penasaran.


"Ho-oh, dia minta maap terus bawa kursi roda dan ajak Deon ke taman sana. " Jawab Deon lagi.


"Siapa namanya? kayaknya dia naksir kamu deh, "


"Namanya... Litta, dia nulisin nama sama nomor HP di tangan Deon, "


"Hebat ni anak. Orang nyari pacar di sekolah, ini dapet pacar di rumah sakit, " Sahut Cyan sambil mengacak rambut Deon.


"Lah... mana mungkin mau sama Deon, gak mungkin lah... " Jawab Deon sedikit kecewa.


"Ooh... jadinya udah mulai merasakan cintah nih adik aku? " Tanya Yuki julid.


"Yaiyalah, Deon orang normal, " Jawab Deon yang ditertawakan kakak kakak laknatnya.


Di sisi lain...


Leon baru saja terbangun dari tidur panjangnya, ia segera pergi ke kamar mandi dan shalat maghrib. mungkin Leon lelah sekali setelah membersihkan toilet sekolah, makannya tidurnya lelap. ia pun mulai menuruni anak tangga untuk makan malam bersama keluarganya.


"Selamat malem bocil... cie... yang baru bangun, " Sapa serena padanya.


"Hm, "


"Dia belum ngumpulin nyawa seutuhnya kak, makannya dari sekarang sampe 20 menit ke depan gak akan banyak ngomong, " Jawab Rezel yang sudah mengerti bagaimana Leon.


Tanpa banyak bicara lagi, Leon mengambil piring dan nasi serta lauk pauk yang sudah di siapkan di sana. Bunda dan ayah hanya tersenyum menanggapi putra bungsunya.


Leon merasa aneh melihat ayahnya yang ikut makan hari ini, serta bundanya yang terasa lebih ceria daripada biasanya.


tapi Leon masa bodo, karena sekarang ia malas berbicara. ketika sedang makan, seseorang menekan bel rumah Brady. Bunga yang merupakan asisten rumah tangga paling muda itu segera membukakan pintunya.


Ceklek...


"Om! Leyon!" Teriak nya dari pintu, membuat Leon mengalihkan pandangannya padanya.


"Dih, bocil. " Ketusnya pelan.


Anak itu segera berlari menuju Leon dan memeluk Leon. membuat Leon agak kesal, tapi ia hanya tersenyum tipis menanggapinya.


"Jangan lari lari, " Kata Leon sambil mengelus kepalanya.


"Aku kangen banget sama om Leon! Makannya aku dateng langsung ke sini, om Leon baik baik aja? " Tanyanya langsung, setiap tamu yang datang ke rumahnya pasti menanyakan keadaannya sekarang.


"Iya, baik. " Jawabnya singkat.


Keponakan Leon itu bernama Aqeela, umurnya sudah menginjak 15 tahun, dan kenzo yang berumur 14 tahun. Mereka adalah keponakan Leon yang sangat gemar dan selalu menempel padanya.


"Kenzo gimana kabarnya? " Tanya Rezel padanya.


"Baik kok kak, tante om, sama kak seren gimana kabarnya? "


"Alhamdulillah baik, kalian sama siapa kesini? mana ibu sama ayah? " Tanya Bunda lembut.


"Nggak ada, mereka lagi keluar kota. kita kesini diem diem karna di rumah gabut banget, " Jawab Aqeela sambil duduk di dekat Leon.


"Mmm... gitu? jadi sekarang kalian mau nginep ceritanya? " Tanya Rezel lagi yang diberi anggukkan mantap oleh keduanya.


Mulai sekarang sampai kedepannya, Leon bakal dibuat bengek oleh kedua tingkah keponakan nya yang selalu membuatnya naik pitam. Sebelum mereka besar saja Leon sudah sering kambuh karena emosi. tapi ia akan mengontrolnya mulai sekarang.


sekalian latihan bagaimana ia nanti menjadi seorang ayah kan?