
Setelah melalui perdebatan yang cukup panjang, akhirnya keduanya dapat beristirahat. Leon langsung merebahkan saja di atas kasur king size nya. Sedangkan Yuki masih di ambang pintu karena masih malu dan canggung.
"Kenapa diem disana? " Tanya Leon datar.
"E, emang bener ya? kita harus bobo satu kasur? " Tanya Yuki tiba tiba.
"Emang loe mau tidur di lantai? "
"Nggak sih...
" Yaudah, kalo dingin ya naek ke kasur, kalo mau nya di lantai, tidur aja sana. " Jawab Leon tanpa pikir panjang.
Ia menarik selimut nya dan menghadap ke tembok untuk segera tidur. Hari yang benar benar melelahkan, untung asma nya tidak kambuh lagi. Yuki pun mengambil selimut dan benar benar tidur di lantai. Entah memang keinginan nya, atau karena sakit hati karena Leon. Leon menyadari bahwa Yuki tidur di lantai, ia tak habis pikir. Lantai itu kan dingin, sudah begitu hanya modal selimut dan bantal.
"Bangun, loe aja yang tidur di kasur, biar gua yang tidur di lantai. " Ucap Leon yang membangunkan Yuki, walaupun sebenarnya iantak boleh tidur disana dan kedinginan.
"Nggak papa Yon, aku tidur disini aja. enak kok, "
"Lu boong. Cepet naek atau gua yang gendong lu kesini? " Ancam Leon yang mulai kesal sekaligus mengantuk.
Dengan mendengus kesal, Yuki naik ke kasur dan Leon yang tidur di bawah, namun Yuki segera menarik tangannya dan menyuruhnya tidur bersama nya.
"Katanya gak mau satu kasur? sekarang mau satu kasur? " Tanya Leon padanya, ia sengaja memojokkan yuki.
"Lah enggak! Kalo kasurnya segede ini, bisa bisa aku tidur kemana mana, aku gak bisa dikasih yang lega lega. " Jawab Yuki beralasan, namun Leon hanya mengangkat satu alisnya.
"J, jadi... kita batasin pake guling aja, gimana?" Tanya Yuki lagi dan Leon masih saja menatapnya heran.
"Aku gak mau kamu sakit dan masuk angin, kalo kamu sakit aku yang repot. lagian besok hari sabtu, kita sekolah. kalo kerja kelompok, kamu gak ada aku sendirian, " Jelas Yuki panjang lebar.
"Fiks, pake guling. " Jawab Leon sambil naik ke atas kasur.
Ia akhirnya bisa tidur dengan nyaman disana. hanya tinggal menghitung detik, ia sudah tertidur pulas. Sebaliknya dengan yuki yang sulit untuk tidur karena satu ranjang dengan pria, padahal suaminya sendiri.
Ketika subuh tiba...
Yuki perlahan membuka matanya, mencoba untuk mencerna sesuatu dulu sebelum akhirnya benar benar terbangun.
"Hmm...? "
Setelah sadar sepenuhnya, ia membelalakkan matanya kaget. Ia ada di pelukan Leon, bahkan sepertinya sekarang ia tidak bisa keluar darinya. Wajahnya perlahan memerah saat menatap Leon, ia memandangi wajah Leon yang sangat mulus dan lembut. Nampaknya Leon kedinginan karena wajahnya memerah.
'Boleh nggak ya, megang? ' Batin Yuki terdiam.
'Ish, mana mau dia kayak gitu? Dahlah, mending mandi dulu, '
Yuki pelan pelan melepaskan pelukan Leon darinya, ia hendak pergi ke kamar mandi. Lagi lagi Leon mengernyitkan alisnya karena terganggu, Yuki buru buru lari ke kamar mandi dan mengunci pintunya.
"Huuuh.... Selamat akhirnya, "
"Gile! kalo tiap tidur aku kayak gitu gimana??? Emangnya aku kemana mana ya kalo tidur??? Malu banget.... " Gumam Yuki sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Ia pun mandi dengan tenang sampai tak terasa hampir 30 menit ia di dalam kamar mandi saking nikmatnya. Saat keluar dari sana, ia melihat Leon yang tengah duduk di kasur sambil mengenakan baju koko.
"Lu telat sholat subuh, " Kata Leon datar.
"Eh?! "
"Udah jam setengah enam, cepetin." Lanjut Leon menyuruh Yuki shalat.
Yuki cepat cepat mengambil mukena dan shalat di sana. Leon hanya melihatnya sambil sesekali membereskan kasurnya bekas tadi tidur. Setelah selesai, ia menyuruh yuki untuk keluar karena ia akan mengganti pakaiannya.
"Gua gak suka telat, ganti baju sekarang. masuk sekolah, " Ucapnya begitu dingin, entah mengapa nadanya seperti kesal pada Yuki.
"I, iya iya. " Yuki pun berjalan menuju pintu dan keluar dari kamarnya.
Leon menghela napas panjang atas kelakuan Yuki tadi malam padanya. Tidurnya benar benar tidak tenang.
Leon memang sudah tertidur karena lelah. Yuki yang tidak bisa tidur itu juga mulai memejamkan matanya, saat sudah terpejam dan benar benar terlelap, ia malah seenaknya menendang ****** Leon. Tentu saja itu membuat Leon terbangun dan membelalakkan matanya kaget. Ia terperanjat dan duduk sambil melipat kedua tangannya di atas perut.
"Ck, Miyu, loe geseran sana. " Kata Leon sambil berusaha membangunkan yuki.
"Huaaahhh... Bakso... "
"Bakso? Hh, loe ngigo? anjir, "
Leon pun membenarkan posisi tidur Yuki dan kembali tertidur, gangguan kedua, Selimut nya ditarik Yuki hingga ia kedinginan. Leon terbangun lagi dan merebut selimut miliknya. Kali ketiga... Benar benar tak terbatas, Yuki berada di sebelahnya dan memeluk Leon, namun anehnya, ia tidak sadar dan malah tidurnya lelap sekali. Makannya Leon tidak tahu apa yang terjadi setelah gangguan kedua itu.
Tiba lah mereka di sekolah...
Yuki cemas karena takut ada yang membocorkan kalau mereka sudah menikah. Namun lagi lagi Leon meyakinkannya bahwa tidak ada yang tahu kecuali teman dekat mereka. mau tidak mau Leon juga harus akrab dengan teman teman Yuki.
"Acieee... Pengantin baru. Udah bikin belom nih? " Tanya Clara sambil berbisik.
"Bikin? Bikin apa? " Tanya Yuki balik.
"Loe jangan jadi kompor, gak akan ada yang kayak begituan, " Sahut Leon sambil melirik Clara sinis.
"Eh? Gak salah lah, bukan jadi kompor, tapi kan harus. iya gak ras? " Tanya Clara lagi padanya.
"Gak usah didengerin, kata kata sesad itu. Fokus ke pelajaran loe, kalo loe dapet nilai kecil, malem ini loe tidur di lantai. Gak usah naik ke kasur, " Ancam Leon yang membuat Yuki cemberut.
"Aku kan gak se pinter kamu yeon... otak aku pas pasan. Cuma bisa ngitung uang bendahara aja... " Jawab Yuki sambil memainkan jarinya.
"Apalagi pelajaran kimia yang bikin otak aku meledak! Bom! "
"Gua bakal ajarin, asal loe paham, gua sabar. " Jawab Leon tanpa melirik nya.
"Aasiikk... makasih yeon... "
Leon yang mengabaikan Yuki. Kembali seperti biasanya dimana ia akan menjadi orang dingin pada waktunya. Supaya anak anak lain tidak curiga padanya.
Setelah sekolah...
Mereka kembali pulang ke rumah dan mendapati semua barang barang sudah di kemas rapi di dalam koper. Mereka curiga kalau mereka pindahan hari ini.
"Mobil, motor, semuanya udah siap, kamu siap kan? Ngurus rumah dan bertanggung jawab atas istri kamu? " Tanya Papah will.
"Iya, " Jawabnya singkat.
"Kok gitu sih??? Jangan loyo dong, semangat! Ya? Semangat! Bunda juga udah panggilin temen kamu biar bisa bantuin kamu beres beres disana, " Sahut Bunda sambil memegang bahu Leon.
"Ya, "
Bunda hanya tersenyum menanggapi putra nya, masih ada rasa kecewa di dalam dirinya.
"Kamu harus jaga kesehatan ya nak, sekarang rumah kamu pisah dari bunda. Kamu harus mulai mandiri dan biasa in minum obat teratur, bunda gak mau liat kamu masuk rumah sakit lagi. sesekali bunda bakal jengukin kok, ya? " Ucap Bunda berbisik di telinga leon, ia hanya menarik napas panjang dan membuangnya perlahan.
"Bunda harus janji, gak akan kasih tau hal ini ke miyu. Cuma ini yang leon minta, jangan kasih tau apa apa tentang penyakit leon ke Miyu, " Jawab nya perlahan, dengan suara yang bergetar. Bunda tahu kalau leon takut kehilangan, makannya ia tidak mau memberitahu Yuki.
Yuki yang melihat Leon memeluk bundanya, hanya tersenyum tipis, sepertinya memang sedekat itu hubungan Leon dan Bundanya. Yuki juga menghampiri Bunda saat bundanya memanggilnya.
"Yuki harus sabar sama Leon, anaknya nakal, tapi bisa manja juga. Leon agak pilih pilih makanan, jadi bunda bakal buatin daftar, apa aja yang gak disukain Leon. Tolong atur makannya ya, Akhir akhir ini bunda dapet kabar dari bibi kalo Leon jarang makan. Bunda takut Leon sakit, Jadi Kamu harus ngerti ya? " Ucapnya panjang lebar.
"Siap bun, bakal yuki jaga. Kalo perlu, yuki bakal buat yeon bisa maakan semuanya. Gak perlu khawatir, " Jawab Yuki dan diberi anggukkan oleh bunda.
Mereka pun siap pindah ke rumah baru. Leon kembali mendapat nasihat dari Reza untuk menjaga putri nya dengan baik, karena yuki tidak bisa dibentak apalagi dimarahi. Kalau begitu, ujungnya bakal menangis dan gak akan keluar kamar. Tapi Leon merasa sekarang yuki tidak begitu, kalau ia membentak nya, yuki hanya akan cemberut, tidak lebih. Tapi ia hanya menganggukkan kepalanya paham.
Tiba lah mereka di rumah baru yang besar dan agak... sedikit mengerikan karena sudah 10 tahun ditinggalkan.
Saat masuk, semua perabotan rumah nya ditutupi kain putih agar masih bagus dan awet. rumahnya memang sangat berdebu, bisa jadi mereka menghabiskan waktu satu minggu untuk membersihkannya.
"Gede banget, ini rumah kakekmu? " Tanya Yuki kagum