My Cold Friend Is My Husband

My Cold Friend Is My Husband
Chapter 26. Serangan panik (2)



Yuki terus mengeratkan genggamannya pada Leon agar Leon merasa lebih tenang. Bibi juga mengoleskan kayu putih di dada Leon agar ia merasa hangat.


"Yon... Udah Yon, aku gak bakal ninggalin kamu, apapun resikonya aku gak bakal ninggalin kamu, jadi tenang ya?"


Mendengar suara Yuki yang lembut, membuat Leon sedikit tenang dan tersenyum tipis. Setelahnya ia merasa tenang, ia masih menggenggam tangan Yuki. Yuki berjanji tidak akan mengatakan hal seperti itu lagi padanya sampai ia terasa baik baik saja.


"Kayaknya kita harus batalin janji kita buat makan malam sama bunda, aku mau kamu istirahat," Ucap Yuki pada Leon, Leon hanya mengangguk pasrah karena ia tak bisa apa apa lagi, tubuhnya memang lemas setelah tadi berjuang untuk tenang.


Bi Minah pun memapah Leon menuju kamarnya, menyuruhnya istirahat agar Leon merasa lebih baik. Sebenarnya Yuki sudah tahu semuanya mengenai penyakit Leon, ia sudah sering mendengar nasihat mertuanya untuk mengurus Leon, awalnya Yuki tidak cukup percaya pada ceritanya, tapi setelah ia mendengar cerita dari Bi Minah yang merupakan pengasuh Leon dan tahu segalanya tentang Leon, barulah ia percaya.


Bukan hanya itu saja, Yuki bahkan pernah melihatnya menghisap inhaler di kamarnya, saat mereka berlatih untuk yang pertama kalinya dan obat yang tergeletak di atas kasurnya, serta banyaknya inhaler di laci yang tidak membolehkannya laci itu dibuka Yuki. Maka dari itu, ia ingin sekali Leon untuk jujur. Tapi ternyata, keingin tahuan nya itu malah tercekat karena Leon mengalami serangan panik. Ia jadi harus mengulur waktu sampai Leon berani bercerita padanya.


Sementara Leon...


Ia terus melamun di balik selimutnya, matanya memerah karena tadi sempat menangis, sesekali ia menghisap inhalernya untuk mengurangi rasa sesaknya. Ia hanya takut ditinggalkan oleh Yuki, karena dulu, ia sempat menyukai seseorang dan tidak ada satu pun orang yang mengetahui bahwa Leon sakit keras, wanita yang disukainya mengetahui bahwa Leon memiliki penyakit serius dan meninggalkannnya begitu saja, bukan hanya itu, fakta bahwa Leon memiliki penyakit itu, ia sebar luaskan di sekolahnya, hingga tak ada satu pun yang menemaninya. Sebab itu pula, ia menjadi trauma dan memutuskan untuk tidak memberitahu siapapun tentang penyakitnya dan menutup dalam dalam rahasianya bahwa ia menyukai seseorang.


Tapi...


Disaat ia mulai menyukai Yuki, hal yang dulu malah terulang lagi, ia mengalami kejadian yang hampir sama dengan hari itu. Makannya, ia tidak tahu bagaimana harus menghadapi Yuki sekarang. Ia tak ada keberanian untuk berbicara dengannya.


Keadaannya semakin memburuk, Leon keterusan kambuh karena masalah sepele itu, ia terlalu keseringan memikirkan hal kecil sampai sampai ia sakit begitu.


"Uhuk, uhuk."


Bibi datang menghampirinya sambil membawakan bubur yang ia buat untuk Leon, bibi juga membawakan susu cokelat kesukaannya, ia duduk di sebelah Leon dan berusaha membangunkannya pelan pelan.


"Den~ Aden makan dulu yuk? Dari tadi aden gak makan terus," Bujuk bibi sambil terus mengusap Leon agar terbangun, Leon tak merespon apapun dan hanya tertidur saja.


"Den Leon udah shalat maghrib belum? Udah maghrib nih," Tanya Bibi padanya, Leon hanya mengangguk pelan, ia sudah melaksanakannya sendiri, tanpa Yuki.


"Yaudah... Kalo gitu makan dulu yuk? Bibi suapin deh," Bujuk Bibi lagi, akhirnya Leon membuka kedua matanya dan menatap bibi, sepertinya ia kembali menangis.


"Uuuhh... Kasian anak bibi, sini sini, biar bibi peluk, biar aden gak sendirian lagi, ya? Masih ada bibi kok," Ucap Bibi lagi, Leon menerima pelukan itu seperti anak kecil, ia terus mengeratkan pelukannya agar bibi tidak kemana mana.


"Tadi nyonya telpon, katanya den Leon kenapa sampe sakitnya kambuh lagi? Tapi bibi gak jelasin kamu kenapa, Nyonya sama Tuan mau kesini, jengukin kamu," Jelas Bibi yang membuat Leon terkejut, tapi ia tak bisa menyangkal.


"Sekarang makan dulu ya?"


Leon pun akhirnya membuka mulutnya dan makan bubur buatan bibi itu, bibi tidak menyangka tuan mudanya akan bersedih sampai se-begininya. Bibi hanya tersenyum sekali kali mengelap peluh di dahinya. Ia sudah menganggap Leon sebagai putranya sendiri, bahkan ia lebih menyayangi Leon, karena semua putranya sudah pergi kuliah, di biayai nyonya Brady, agar bibi tidak kemana mana dan tetap tinggal di keluarga Brady. Hanya bi Minah yang Leon sukai dari banyaknya pengasuh yang pernah mengasuhnya.


"Miyu... Mana...?" Tanya Leon pelan dengan suara seraknya.


"Non Yuki ada di bawah, katanya dia ngerasa bersalah sama den Leon, makannya gak berani temu," Jawab Bibi yang membuat Leon jadi mogok makan.


"Nggak, non Yuki gak akan ninggalin aden, jangan khawatir ya? Bibi juga percaya sama non Yuki mah, orangnya baik, cantik, pengertian, udah cocok sama kamu,"


"Bibi... Bilangin kalo Leon... Minta maaf..." Ucap Leon lagi, Bibi mengangguk pelan sambil kembali memeluk Leon.


"Kamu gak salah nak, jangan nyalahin diri kamu sendiri, ya? Istirahat ya den? Nanti kalo tuan sama nyonya udah dateng, bibi bakal bangunin aden lagi,"


Yuki masih merasa bersalah pada Leon, bagaimana caranya meminta maaf sementara Leon enggan menemuinya?


Lamunannya terbuyarkan tatkala kedua mertuanya serta kakak laki lakinya datang ke rumahnya.


"B,bunda?" Kata Yuki tak percaya.


Bunda tersenyum melihat Yuki yang agak gemukan, sepertinya ia senang bersama Leon. Bunda cepat cepat memeluk Yuki karena kerinduannya yang tak tertahankan. Lain hal nya dengan ayah yang mencari keadaan putra bungsunya.


Tanpa pikir panjang, ia langsung menaiki anak tangga menuju kamar putranya. Saat membuka pintu, hawanya sudah panas, pasti putranya sakit lagi.


"Hei, anak ayah. Ayah dateng," Ucap Ayah, dengan suara beratnya mampu membangunkan Leon.


"Aaahh... Ayah..." Kata Leon yang berusaha duduk, namun sang ayah malah menyuruhnya untuk tidur kembali.


"Gak papa nak, tidur aja. Kamu pasti pusing, Hmm... Anak ayah kenapa lagi? Kenapa sakitnya bisa dateng lagi? Apa yang kamu pikirin nak?" Tanya Ayahnya, Leon hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


"Leon gak papa, Leon cuma kecapean aja," jawabnya dengan suara seraknya.


"Yang bener...? Tadi ayah sempet telponan sama bibi katanya bukan itu penyebabnya, Coba jelasin sama ayah, kenapa?"


"M,miyu... Udah tau semuanya, yah." Jawab Leon mengawali pembicaraannya.


"Ya, terus?"


"Leon... Cuma takut aja... Kalo... Miyu ninggalin Leon... Terus... Leon belum berani ceritain semuanya ke Miyu..." Lanjut Leon terbata, ayahnya tahu betul keadaan putranya yang seperti ini.


Di sisi lain...


Yuki menangis kepada bundanya bagaimana Leon tadi, ia masih merasa bersalah sampai Leon enggan bertemu dengannya. Jadi Yuki memutuskan untuk menjauh dari Leon dulu agar Leon tetap tenang dan kejadian tadi tidak terulang lagi.


Bunda juga paham betul apa yang dikatakan Yuki. Leon, putranya memiliki trauma yang membuatnya sampai begitu.


"Tapi... Bunda rasa Leon gak hindarin kamu deh, semarah marahnya Leon, dia pasti tetep mau ketemu. Kamu nya aja kali yang over thinking. Yuk, sama bunda yuk, kita ke kamar Leon," Ucap Bunda membujuk Yuki untuk pergi bersama sama ke kamarnya.


Bersambung...