
Haru kembali ke kelasnya setelah mendapatkan teguran dari gurunya. Dari hari ke hari, Haru mendapat Bullyan dari Aji, bahkan tidak ada yang mau menolongnya karena mereka takut di keluarkan.
Haru kesal karena ia belum fasih berbahasa indonesia. Ia juga tidak akan bisa melawan mereka jika tidak mau di keluarkan dari sekolah.
"Loe adalah b*ngsat yang lebih dari b*ngsat! Berani beraninya loe ngelawan Aji..."
Bahkan pengikutnya pun ikut membencinya, ia bahkan pernah di seret ke gudang dan di pukuli disana. Sang Ayah tidak tahu kalau anaknya adalah korban Bullying. Ia sibuk menjalankan bisnis demi kelangsungan hidup mereka dan tidak ada yang mengenali mereka lagi di sana.
"Bagaimana perkembanganmu di sekolah nak?" Tanya B.I ketika sedang makan malam.
"Semuanya baik baik saja," jawab Haru dalam bahasa jepangnya.
"Benarkah? Tapi... Yang kulihat wajahmu selalu saja murung, apakah benar kau tidak apa apa? Apa aku harus memeriksanya langsung?" Tanya B.I lagi, khawatir karena Haru selalu murunh setiap harinya.
"Tidak usah. Jangan melakukan apapun, aku baik baik saja," Jawab Haru sambil tersenyum.
B.I tenang tenang saja dan menuruti perkataan putranya itu, ia benar benar tidak tahu apa apa mengenai sekolah putranya.
Tiada hari tanpa jebakan di sekolahnya, Haru bahkan selalu di poyoki anak cewek nakal juga di sekolahnya.
"Loe tuh ganteng, boleh k*ss kan?"
"No!" Ia bahkan hampir di cabuli oleh wanita wanita nakal yang menjadi pengikut aji.
Ia juga pernah di biarkan kedinginan saat mereka menyiramnya dengan air es dan membiarkan gudang terkunci. Beruntung seseorang membuka gudang dan menolongnya. Karena orang itu menolong Haru, kini haru di pukuli dua kali lipat karena berani keluar dari gudang itu. Sampai Haru benar benar babak belur kali ini.
Asisten yang selalu stand by di rumah terkejut melihat Haru babak belur. mereka hampir saja menelpon B.I karena keadaan Haru. Namun haru berusaha menahannya agar B.I tidak tahu keadaannya.
"Kalo gitu, Bibi bantu obatin ya den, " Pintanya dengan lembut pada Haru.
Haru di obati si bibi dengan pelan pelan, ia melamun dan tidak merasa kesakitan sama sekali. membuat bibi khawatir saja.
"Sakit nggak den?" Tanya Bibi padanya, Haru hanya menggelengkan kepalanya.
"it doesn't hurt," Jawab Haru agar si bibi paham, namun sekeras apapun bibi, ia tetap tidak paham pada bahasa di keluarga ini. Ia hanya bisa berbicara dengan Johan, yang selalu mentranslate bahasa mereka ke bahasa indonesia.
Setelah selesai mengobati Haru, Bibi turun ke bawah dan menemui Johan. Johan menanyakan apa yang terjadi pada Haru. Bibi tidak tahu keadaannya karena haru sengaja bercerita menggunakan bahasa jepang agar bibi tidak paham ucapannya.
"Hoo~ Jadi anak ini mau maen maen rupanya..." Gumam Johan kesal.
Johan pun masuk ke kamar Haru tanpa mengetuk pintunya, tapi ia malah melihat Haru yang sedang tertidur.
"Hei, hei, hei. Kamu gak bisa nipu saya Haru~ Kamu harus bilang semuanya ke saya, apa yang terjadi sama kamu," Ucap Johan yang membuka selimut haru, Haru tak merespon apapun.
"Haru~ Kalo kamu kayak gini, saya bakal laporin ke ayah kamu." Ancam Johan yang membuat Haru terbangun.
Ia pun duduk sambil cengengesan, Johan sempat terkejut karena melihat Haru yang babak belur. Akhirnya Haru bercerita tentang dirinya yang membela gurunya tetapi malah disuruh tunduk kepada pemilik sekolah itu membuat Johan geram saja.
"don't tell my dad about this. You promise right?" Ucap Haru pada Johan, Johan hanya mengangguk saja sambil tersenyum.
Ia kembali menyuruh Haru tidur, dan ia akan membangunkannya nanti untuk makan. Saat keluar, raut wajahnya nampak serius dan marah pada orang yang membully tuannya.
"Kali ini gua bakal keluarin kartu gua," Gumamnya pelan.
Keesokan harinya...
Tempat duduk Haru di hancurkan oleh Aji hingga ia tidak punya tempat duduk. Jangan salah, Johan adalah sekretaris kaya yang sudah lama bekerja sama dengan B.I sekian lamanya. Ia kini memaksa anaknya untuk pindah sekolah ke sekolah Haru, siapa dia?
"Haaaah..." Haru hanya menghela nafas sejenak dan entah dimana ia mau duduk.
"Anak anak, silakan duduk di tempat masing masing," Ucap Guru yang baru saja masuk kelas. Haru mengangkat tangannya dan menjelaskan bahwa ia tidak punya tempat duduk.
"Yaudah, kalo gitu... kamu berdiri aja sampe ada bangku,"
Haru terkejut mendengar jawaban gurunya, apa apaan maksudnya? Ia bahkan menyuruhnya berdiri dan bukan menyuruhnya mencari bangku? Benar benar buruk disini, begitu pikirnya.
Guru menjelaskan bahwa akan ada murid baru yang masuk ke kelas mereka. Aji dan teman temannya tersenyum sumringah, mereka akan mendapatkan target baru.
"Halo... Saya Jiandra Horisuki Mahesa, kalian boleh manggil saya Jiho," Ucap anak baru itu tersenyum ramah.
"Wahh! Anak baru nya putra direktur Horisuki?!"
"Anak cerdas di sekolah sebelah kan?!"
Aji menggertak giginya, ia kira anak baru itu akan bertingkah seperti Haru yang memang tidak bisa berbahasa indonesia.
Guru mempersilahkan Jiho duduk, tapi ia segera melirik gurunya.
"Bapak gak liat? Temen saya aja yang disana nggak duduk, apalagi saya yang baru dateng." Ketus Jiho tersenyum smirk.
"O,oh iya. T,tolong kasih dua bangku buat mereka," Titah Guru pada murid disana.
Karena Jiho yang kekeh ini duduk bersama Haru, terpaksa mereka menyiapkan meja baru dan dua bangku baru lagi. Kini mereka duduk berdua walaupun Haru canggung pada Jiho.
"Hei, gak usah canggung. Kita temenan oke? Gue Jiho, loe siapa?" Tanya Jiho tersenyum ramah.
"Haru, my name is Haru." Jawab Haru malu.
"Ya! Haru ya??? Kita temenan oke?" Ucap Jiho tersenyum senang. Haru hanya tersenyum senang, apakah ini peluang untuk mendapatkan teman?
Walaupun Haru berteman dengan Jiho, tapi Aji tidak akan pernah berhenti membully Haru sampai kapan pun, kecuali Haru pergi dari sekolahnya. Haru juga belajar bahasa indonesia denga Jiho, untuk mempermudahnya berkomunikasi.
BRAK!
Aji memukul meja dan mengajak Haru berduel di kelasnya gara gara kesal, padahal Haru tak salah apa apa, tapi ia terus saja melampiaskan semua kekesalannya pada Haru.
"Duel sekarang juga!" Tantang Aji yang membuat Jiho menatapnya tajam.
"Apa? Kenapa harus duel? Gua kan gak salah apa apa sama loe," Jawab Haru menolak ajakan Aji. Jiho hanya tersenyum mendengarnya, ia senang karena Haru lancar berbahasa indonesia walaupun masih terbata.
"Gak ada pengecualian! Loe harus Duel sama gua kecuali loe pergi dari sekolah ini!!!"
"Lah emang apa hak loe ngajak duel kayak gini?" Tanya Jiho kemudian, ia kembali menatap Aji dan berdiri.
Mereka berdebar, akankah terjadi perkelahian antara anak cerdas dan pemilik sekolah ini? Jiho semakin mendekati Aji ke depan.
"Loe itu gak ada apa apa nya. Toh yang berkuasa bapak loe, loe cuma numpang nama doang. Bukan seenaknya kali, loe bisa bully orang kayak gitu, apalagi omongan loe yang gak bisa dijaga." Berbeda sekali dengan Jiho yang sebelumnya yang sangat ramah pada siapa saja. Kini suasana di kelasnya membeku, hanya ada antara jiho dan Aji.
Aji tidak dapat melawan perkataan Jiho. Entah kenapa mulutnya seperti tidak mengizinkannya berbicara, Jiho pun maju ke depan dan menyuruh Aji untuk minggir.
"Asal kalian tau ya? Gak usah takut di keluarin, toh diluar masih banyak sekolah yang mau nerima kalian. Kalian juga jangan takut ngelawan anak pemilik sekolah," Ucap Jiho tersenyum menatap Aji.
"Kalo sekolahnya di beli sama gua, sekolah ini berarti milik gua kan?" Senyum smirk nya bisa membuat siapa saja takut melihatnya.
"Oh ya... Jangan lupain kalo Haru adalah tuan muda penerus bapaknya yang adalah seorang MAFIA kejam di Jepang," Ucap Jiho melirik Haru, teman temannya ikut melirik Haru dengan tatapan terkejut.
Aji terpatung sesaat, bukannya MAFIA hanya ada di dalam sebuah cerita? Ia tak percaya dan menarik haruto keluar dari kelas.
Tetapi disini Haru tak diam saja, akhirnya ia bisa melawan Aji setelah di yakinkan Jiho untuk melawannya. Jiho nampak senang melihat anak itu dengan aktifnya memukuli Aji.
Tapi sayangnya, perutnya tiba tiba sakit sehingga Aji memukulinya jauh lebih keras dari sebelumnya. Karena hal itu pula, ia harus masuk rumah sakit, ternyata ia keracunan makanan dari kantinnya yang sudah kadaluarsa.
"Ini kamu ngelakuin apa lagi sampe kayak gini?" Tanya B.I heran pada putranya.
"Haru di bully om, dia berantem sama anak pemilik sekolah, makannya jadi begini." Jawab Jiho santai, haru membelalakkan matanya kaget, kenapa Jiho dengan mudahnya mengatakan hal itu?
"B,bukan ayah. T,tadi Haru keracunan makanan..." Sahut Haru pada bapaknya.
"Putra ayah di bully? Kalo gitu, ayah bakal nyusul ke sekolah sekarang. Jiho, ikut saya." Ucap B.I tanpa ragu.
"Lah ayah! Kok nekat gitu?! Ayah!"
Tanpa pikir panjang, B.I dan Jiho pergi ke sekolah keesokan harinya. Jiho berpakaian lebih gagah dari biasanya, apalagi penampilan B.I yang untuk ukuran seorang ayah itu terlalu tampan bagi para murid.
"Ada apa bapak sampe kesini?" Tanya Kepala sekolah memakai bahasa inggris.
"Gak usah bahasa inggris, saya udah bisa bahasa indonesia." jawab B.I padanya.
"Saya mau anda bertanggung jawab atas putra saya yang sudah menjadi korban Bully di sekolah nya. Apa gak ada penindakan terhadap siswa nakal di sekolah? Bahkan dia juga sudah membela gurunya yang memang tidak di hormati oleh siswa tapi malah menyuruhnya tunduk?! Memang bisa seperti itu?!" Jelas B.I sambil berdiri dari tempatnya.
'Aduh... penampilan Om bener bener berasa kek masih muda...' Batin Jiho malu.
Kepala sekolah menjelaskan bahwa Aji adalah anak pemilik sekolah, jadi mereka tidak bisa bertindak apa apa. B.I menyuruhnya untuk memanggil pemilik sekolah itu, ia akan menjelaskan semua kelakuan Aji pada ayahnya.
Perdebatan pun terjadi cukup lama antara mereka sampai pada akhirnya B.I mengancam akan menghancurkan sekolah itu jika mereka tidak meminta maaf kepada Haru.
Akhirnya semua para guru datang menjenguk Haru ramai ramai dan meminta maaf atas semua kelakuan mereka, Aji pun turut serta karena dia adalah dalang utama dari pembullyan itu.
Jiho puas melihat semua itu, ia membisikkan sesuatu pada haru yang membuat haru tertarik.
"Kalo gak mau diinjek, loe juga harus berani dan gagah, jadilah anak nakal, yang gak terlalu nakal, oke?" Bisik Jiho padanya.
bersambung...
(Foto dibalik layar sebelum akting.)