My Cold Friend Is My Husband

My Cold Friend Is My Husband
Chapter 14. Manja



Yuki pulang dengan menaiki motor bersama Rezel atas permintaan Leon. Iya, secuek cuek nya Leon, ia kasihan jika melihat Yuki berjalan kaki sendirian lagi. Apalagi tadi pagi ia melihatnya berlari supaya tidak terlambat.


"Padahal aku bisa pulang sendiri Zel," Ucap Yuki di dekat telinga Rezel.


"Leon yang minta, gak maksud apa apa, Sekalian gua juga mau jenguk dia," Jawab Rezel lagi.


"Kalian co cweet banget siiih... Beda berapa menit?" Tanya Yuki penasaran.


"Beda setengah jam, mau apa? Komplen karna gak kayak upin ipin yang beda lima menit? gua gak suka upin ipin,"


"Terus sukanya apa?"


"Doramenyon, gua suka doramenyon," Jawab Rezel datar.


"Alasan kamu gak suka upin upin apa? Padahal upin upin rame lho..."


"Gak gede gede, dari tontonan gua lima tahun sampe mau umur 17 tahun mereka tetep aja TK,"


"Haha... Gitu doang? Aneh ah kamu mah, Eh Zel, mampir ke pasar bentaran dong, aku mau beli sayuran buat Yeon." Ucap Yuki sambil menepuk bahunya pelan.


"Yoo sip,"


Rezel pun membelokkan motornya menuju pasar swalayan terdekat. Mereka memilihkan beberapa sayuran untuk Leon.


"Leon suka ikan, beli ikan juga," Monolog Rezel.


"Tapi uangnya gak akan cukup..."


"Gak usah hemat hemat banget, Leon juga ngerti buat pengeluaran harian," Jawab Rezel.


"Oooh... Yaudah deh, kalo Zel bilang gitu."


Setelah selesai berlama lama di pasar, akhirnya mereka kembali naik motor dan langsung pulang ke rumah.


"Assalamualaikum..." Ucap Yuki sambil membuka pintunya pelan.


"Leon dimana?" Tanya Rezel saat masuk ke rumahnya.


"Kayaknya dia ada di atas, soalnya aku gak nyuruh dia buat ke bawah," Jawab Yuki sambil membuka tali sepatunya dan mulai menaiki anak tangga satu persatu.


Krieeet...


Yuki membuka pintu kamarnya pelan pelan dan mengintip ke dalam kamarnya. Terlihat Leon yang masih terbaring lemah di atas kasurnya.


"Yeon... bangun yuk, aku beliin susu beruang buat kamu, ada buah kesukaan kamu juga," Ucap Yuki yang membangunkan Leon dengan Lembut.


"Dah... Pulang..." Kata Leon yang membuka sedikit netranya.


"Hu-um, aku udah pulang," Jawab Yuki yang ikut sedih melihat keadaan leon begini.


"Gua ngantuk... tapi dingin... gua juga... sesek... dada gua sakit..." Ucap Leon terbata, entah ia mengigau atau memang ia sadar sepenuhnya.


"Terus gimana? Mau ke rumah sakit? Biar sekalian periksa kenapa dada kamu sakit gini," Tawar Yuki sambil mengusap peluh di dahi Leon yang terus bercucuran dingin.


"Nggak mau... Gak mau kesana... Leon... Leon udah bosen kesana... terus..." Jawab Leon dengan nada merengeknya. Entah kenapa dalam sesaat sikapnya seperti bayi yang merengek tidak mau di suntik.


"Udah bosen? Kenapa bosen? " tanya Yuki yang bernada seperti ibu, mereka seperti memainkan sebuah drama.


Yuki meminta Rezel membawakan telmometer untuk mengecek suhu tubuh Leon sekarang. anak ini memang sering tumbang, sehingga beberapa alat darurat pasti ada di rumahnya.


"Kenapa di cek...? Leon gak papa... Cuma... pengen tidur aja..."


"Yeon, kamu demam tinggi! Kalo di biarin bisa bisa kamu tipes! Ke rumah sakit ah," Bujuk Yuki setelah ia duduk di sebelah Leon.


"Nggak mau... nggak mau kesana..." rengek Leon sambil memeluk Yuki dan menaruh kepalanya perut Yuki.


"Yeon, kamu panas banget. Jangan gini ah, bobo lagi bobo, " Titah Yuki yang mengeluarkan wajah merah Leon dari perutnya dan memegang kedua pipi lembutnya.


"Diem disini tapi... Jangan kemana mana..." Pinta Leon yang membujuk Yuki untuk tidak pergi kemana mana.


"iya, aku disini dan gak bakal kemana mana. Udah ya? kamu mau minum susu nya kan sekarang?" Tanya Yuki lagi memastikan agar Leon meminum susu beruang agar demamnya mereda, dan dengan cepat Leon mengangguk.


"Anak baik... Sekarang nyender bentar ya, aku bukain susunya."


Setelah dibuka, Leon meminum nya walaupun akhirnya ia muntahkan kembali karena mual. Tidak ada satu pun makanan yang masuk ke perutnya karena selalu ia muntahkan, sampai beberapa kantong sudah habis karena muntahnya yang hampir setiap menit.


"Hosh... hosh... cape..." Keluh Leon setelah ia memuntahkan makanan terakhir, ia menyerah dan menaruh kantung itu.


"Hmm... Yaudah, bobo lagi ya?"


Leon mengangguk pasrah dan menyenderkan kepalanya ke bahu Yuki. Kini ia menempel bak Lem pada Yuki, karena itulah kebiasaanya kalau sakit parah.


Rezel tepat waktu membawa dokter pribadi ke rumah Leon. Dokter mulai menyuntikan obat antibiotik dan paracetamol ke kantung infusan Leon. Kini ia menjadi lebih tenang dari sebelumnya.


"Gimana dok, keadaannya?" tanya Yuki penasaran.


"Hmm... Keadaan kayak gini emang suka bikin dia ngigo, ngigo nya aneh dan kemana mana kan? Dia gak akan nyadar kalo dia ngomong kayak gini, saya udah kasih obat penenang selama 5 jam, setelah habis, akan saya beri lagi sampe Leon bener bener habisin infusannya." Jelas dokter sambil tersenyum ramah pada Yuki, ia pun pamit keluar dan mengajak Rezel untuk berbicara dengannya.


"Apa Leon ngeluhin kalo asma nya kambuh?"


"Nggak dok, katanya sampe sekarang baik baik aja," Jawab Rezel yang membuat Dokter senang.


"Bagus deh, alhamdulillah kalo gitu, saya jadi gak usah bawa tabung oksigen lagi. Dijaga ya, Leon nya. "


"Iya pasti dok itu mah, Istrinya perhatian gitu, mana bisa sampe gak betah kan?" Jawab Rezel yang membuat dokternya terkekeh.


"Kalo gitu saya pamit ya Zel, semoga keadaan kamu juga baik baik aja,"


"Siap dok, Rezel mah sehat terus,"


Tidak lupa sebelum pergi, ia juga pamit pada Yuki dan Yuki mengucapkan terimakasih atas pertolongannya pada Leon. Ia pun pergi mandi dan terus di hantui bayangan saat Leon manja padanya. Apakah itu memang Elang? Ia benar benar malu sekaligus senang jika Leon mulai terketuk hatinya.


Kejadian yang sebenarnya terjadi...


Leon yang merasa sudah mendingan itu malah melakukan sesuatu, ia mencoba mengganti spray kasurnya dengan yang baru dan memasukannya kedalam mesin cuci, tapi ia lupa bagaimana cara menyalakannya karena pikirannya sedang tidak murni dan tak bisa mencerna sesuatu.


Makannya kenapa tadi rumahnya berantakan, deterjen berhamburan kemana mana, Spray dipasang dengan tidak rapi, itu semua kelakuan Leon yang tidak sengaja terjadi.


Kini leon bisa tertidur dengan tenang sambil menggenggam tangan Yuki.


bersambung...