My Cold Friend Is My Husband

My Cold Friend Is My Husband
Chapter 34. Mencari Deon



Yuki mematung sesaat setelah mendengar suara lembut yang memanggil namanya. Ia menoleh dengan kaku pada sumber suara itu.


"Ngapain kamu kayak gitu?" Tanya Leon tiba tiba.


'Hah?! Yeon gak nyadar kan, kalo di punggung aku ada luka?!' Batin Yuki takut, semoga saja dirinya tidak melihat luka di punggungnya.


Yuki cepat cepat kembali menarik bajunya dan memasang wajah khawatir saat Leon mendekatinya. Leon memeluk Yuki dari belakang sedangkan ia menekan bagian yang terkena pukulan itu. Bagaimana pun juga, Leon tidak boleh tahu.


"Eehehehe, kenapa nih? Kamu bergelayut manja kayak gini," Ucap Yuki yang menahan rasa sakit itu, ia pun memegang tangan Leon dan berbalik padanya.


"Loe gak dateng dari kemaren, udah dua hari gak jenguk." jawab Leon cemberut, tampak dari wajahnya kalau ia sangat kecewa.


"Mmm... Ngambek lagi nih ceritanya ya...? Oke, kamu mau apa? Mau kita jalan jalan?" Tawar Yuki padanya, Leon menggelengkan kepala dengan cepat.


"Apa dong? Mau peluk?" Tanya Yuki lagi, Leon kembali menggelengkan kepalanya.


Yuki bingung bagaimana membujuk Leon lagi, dengan iseng ia bertanya "Mau cium?" Tanya Yuki, Leon langsung menganggukkan kepalanya.


"Lah? Giliran cium mau..." Kata Yuki julid.


"Ini, disini." Kata Leon sambil menunjuk bibirnya, Yuki gemas ingin mengusilinya. "Disitu?" Tanya Yuki padanya, Leon senang dan kembali mengangguk. Leon pun memejamkan matanya untuk bersiap siap, wajahnya sangat memerah padahal belum melakukannya.


Yuki terkekeh geli dan berjinjit. Sayangnya, Yuki tak menepati janjinya, ia malah mencium pipi Leon yang membuat Leon semakin kesal.


"Kenapa gak disini?" Tanya Leon merajuk.


"No, belum waktunya." Jawab Yuki sambil menggelengkan kepalanya.


"Kok belum waktunya...? Tau ah," Ketus Leon yang pergi meninggalkan Yuki, ia telungkup sambil memeluk gulingnya.


"Hahahaha, kok makin marah ni anak gemesin...? Jan marah dong ah, nanti bengek lagi..." Ledek Yuki padanya, Wajah Leon kembali memerah karena malu.


"Pa~rah! Loe ngeledek gua? Iya? Kenapa? Kenapa emang kalo bengek lagi? Huh! Lagian udah SAH juga apa salahnya minta cium kan?" Gumam Leon yang terus berceloteh dengan bibir kecilnya.


"Iya iya, nanti deh nanti... Aku nya belum siap. Kemaren juga aku belum siap. Jantung aku deg deg deg deg terus yon, kamu gak ngerti perasaan akyu hah?" Ucap Yuki yang menghampiri Leon dan memeluknya.


"Ngapain nyamperin? Sana gih," Usir Leon yang mencoba menjauhi Yuki. " Ya ampun, bilangin bunda nih ya, kamu terus manja kayak gini, hm?"


"Bilang aja sana. Ngadu kalo gua ngusir loe," Jawab Leon tak peduli. "Yeon~" Panggil Yuki lagi, Leon tak menyahut sama sekali.


Karena kesal Leon merajuk seperti ini terus padanya, terpaksa ia membalikkan tubuh ringan Leon dan menciumnya sekali lagi.


"Cukup?" Tanya Yuki malu. Leon semakin memerah dan kembali membalikkan tubuhnya menghadap tembok.


"Loe! Parah loe!" Teriak Leon malu.


"Eeehhh! Kamu yang minta duluan lho ya?! Jangan salah heh!" Jawab Yuki ikut malu.


Keduanya tidak saling menatap satu sama lain karena sama sama malu. Leon semakin memeluk gulingnya dengan erat karena geram dengan wajah gemas Yuki tadi.


'Gawat gawat gawat! Jantung gua beneran gak baik! Jangan gitu lagi, gak baik banget buat jantung gua yang lemah ini!' Batin Leon sambil meremas dadanya.


'Aku gak salah kan kayak gitu? Dia nya udah bilang kalo kita udah SAH. Apa artinya Yeon udah nerima aku? Aaahhh!!! Ingin kuteriak!' Batin Yuki semakin senang.


"Mau sampe kapan kayak gitu heh?!"


"Eh?! Rezel? Sejak kapan—" Yuki langsung menoleh kembali pada Leon.


"KENAPA GAK DI TUTUP PINTUNYA WEH?!" Teriak Yuki malu, ia memukul Leon pelan.


"Maap! Lupa!" Jawab Leon malu.


"Ahahahaha, apa nanti gua juga bisa kayak gitu ya ama istri gua? Cepet turun, di tunggu bunda." Titah Rezel pada keduanya.


"Iya iya," Jawab Leon lagi.


Yuki menyuruhnya keluar dulu agar ia bisa mengganti bajunya. Leon menurut saja dan pergi keluar duluan menemani bundanya yang sudah menunggunya sedari tadi.


"Anteng banget ya sama Yuki?" Tanya Bunda yang membuat Leon senyam senyum malu, ia menganggukkan kepalanya pelan.


Di susu Yuki, ia pun menuruni anak tangga dan kembali dengan bundanya. Tidak lupa Bunda memberikannya pelukan dan kecupan manis di dahi Yuki.


"Nih ya, Bunda kesini mau ngomong yang penting buat kalian. Leon di diagnosis kalo penyakit jantungnya makin buruk dan belum ada pendonor yang pas buat dia," Ucap Bunda, terdengar dari suaranya kalau bunda gemetaran dan sedih. Rezel merangkul bundanya supaya lebih tenang, sedangkan Leon hanya tertunduk.


Leon merasa bersalah karena selalu membuat bunda menangis. Apa yang harus ia lakukan agar bunda nya berhenti menangis jika mendengar tentang kondisinya yang kian hari semakin memburuk?


"Bun, maapin Leon ya? Leon gak mau bunda nangis terus kayak gini. Dari dulu bunda nangis terus deh kalo denger tentang Leon dari dokter. Lagian... Ya, mau gimana lagi kan bun? Leon gak bisa nentang apa kata dokter. Leon janji bakal kontrol terus, Leon gak akan buat bunda nangis lagi ah," Ucap Leon sambil memegang kedua tangan bundanya, Yuki juga menyeka air matanya yang sempat keluar tadi.


"Bunda sayang banget sama kamu, Bunda gak mau liat kamu kesakitan terus, ngeluh terus kalo jantung kamu sakit. Bunda gak mau liat kamu nangis gara gara asma kamu kambuh terus, bunda juga gak mau kamu ngedrop lagi kayak kemaren. Udah ya...? Yang nurut sama bunda, sama Yuki, sama Rezel, sama ayah, kakak juga, ya?" Ucap bunda yang terus menangis sambil memeluk Leon. Leon hanya tersenyum miris dan mengangguk pelan.


Rezel juga terharu melihat bunda dan Leon, ia sama sekali tidak iri walaupun bunda memberi perhatian yang lebih pada Leon. Rezel ikut memeluk bunda dan mengusap punggungnya agar tidak terlalu menangis lagi. Yuki yang sedari tadi tersenyum pun ikut memeluk Leon dan Bunda.


Entah kenapa seketika genre nya berubah menjadi drama. Setelah itu pun, bunda memutuskan untuk makan malam di rumah Leon dan Yuki, tidak lupa Yuki dan Leon mengajak Ayah, Cyan dan serena, karena kedua orang tuanya sedang berada di kalimantan untuk urusan pekerjaan, sedangkan Deon belum membalas pesan Yuki dari tadi.


Entah kenapa seketika genre nya berubah menjadi drama. Setelah itu pun, bunda memutuskan untuk makan malam di rumah Leon dan Yuki, tidak lupa Yuki dan Leon mengajak Ayah, Cyan dan serena, karena kedua orang tuanya sedang berada di kalimantan untuk urusan pekerjaan, sedangkan Deon belum membalas pesan Yuki dari tadi.


"kenapa Yu?" Tanya bunda padanya.


"Oh, ini bun. Deon gak jawab chat aku terus, aku takut Deon kenapa napa," Jawab Yuki khawatir.


"Dia juga gak jawab telpon abang," Sahut Cyan melihat ponselnya.


"Kalo gitu, Leon bantu cari." Sahut Leon pula, Cyan mengangguk setuju.


"Gua ikut," Jawab Cyan serius.


"Zel izin dulu ya? Lagi bantuin bi Minah masak," Ujar Rezel yang sedang mencuci ikan.


"Alesan lu mah!" Jawab serena sambil menjitak Rezel.


"Hmm... Yaudah, hati hati di jalan," Ucap Bunda mengingatkan pada keduanya.


"Makasih bun,"


Leon dan Cyan pergi menaiki mobil milik Leon. Leon mempunyai mobil, tapi bahkan ia belum bisa menyetirnya, makannya Cyan yang menyetirnya.


"Gimana Yuki? Aman gak?" Tanya Cyan padanya. "Aman bang, Miyu baik banget sama saya." Jawab Leon tiba tiba formal, ia canggung sekali pada Cyan.


"Gak usah canggung gitu kali, gua kan abang loe juga. Jangan saya saya-an, gak cocok buat loe yang dingin, hahaha." Ucap Cyan lagi.


"Gitu ya? Leon dingin ya bang? Abang kapan mau nikahin kakak?" Tanya Leon langsung, pantas saja begitu. Leon kan tidak suka basa basi.


"Yaudah iya, tunggu aja tanggal mainnya. Abang bakal cepet cepet nikahin kakak lu, secepatnya," Jawab Cyan malu, Leon hanya tertawa mendengar jawabannya.


"Sejak kapan es lu cair? Perasaan lu tetep beku kalo ama siapa siapa. Bahkan ama gua juga, lu kan awalnya gak suka ama gua, lu selalu jauhin Serena dari gua, tapi sekarang lu malah dukung gua cepet cepet nikah sama Serena," Pernyataan yang membludak itu membuat Leon malu.


"Oh iya? Kapan Leon kayak gitu? Gak pernah tuh," Jawab Leon memalingkan wajahnya.


"Hmm... Gak usah pura pura loe. Bahkan ketika mau gua bawa ke rumah sakit aja kagak mau gara gara saking bencinya ama gua,"


"Yah... Karena waktu itu abang ngeselin dan... Nyeremin. Iyah, kek gitu. Wajah abang sangar banget, makannya gak suka." Jawab Leon to the point lagi.


"Hooo... Jadi loe liat dari luarnya aja ya? Iya?"


"B,bukan gitu bang—"


"Parah sih... Harus gua apain abis gua nikah ya?"


"Bang, abang jangan gitu bang,"


"Pht! Canda kali, gak usah dibawa hati." Jawab Cyan terkekeh melihat Leon takut.


Mereka pun berhenti di sekolah Deon. Entah mengapa firasat Cyan mengatakan kalau Deon ada masih di sekolah. Disana menunjukkan jam 18.00 dan sekolah Deon sudah sepi. Karena setiap di tanyakan pada teman dekat Deon, mereka bilang Deon sedang menjalani hukuman.


"Nih, pake." Titah Cyan sambil memakaikan Hoodie pada Leon. "Dih, gak dingin bang," Jawab Leon sambil memakai hoodie itu.


"Gik dingin bing, boong lu mah. Muka udah pucet kayak gitu, kalo Seren tau gua bawa loe pulang dalam keadaan sakit, gua bakal di marahin abis abisan, jadi... Jangan sakit." Ucap Cyan mengalihkan pandangannya, Leon tahu bahwa memang aslinya Cyan sangat mengkhawatirkannya. Ia bersyukur banyak sekali yang menyayanginya.


"Makasih," Ucap Leon lagi, Cyan hanya mengangguk dan memberikannya elusan di kepala Leon.


"Good, anak baik." Jawab Cyan tersenyum tipis.


bersambung...