
Yuki terus menggenggam tangan bunda karena gugup, padahal mereka biasanya tidak seperti itu. Bunda membuka pintu dan menyuruh Yuki untuk ikut masuk. Walaupun begitu, Yuki tetap enggan masuk karena takut Leon terkena serangan panik lagi. Bunda berusaha membujuknya untuk ikut kedalam, tapi Yuki tetap iya iya saja.
Bunda melihat Rezel yang sedang membujuk Leon sambil mengusap kepalanya, seperti yang biasa Rezel lakukan pada Leon jika ia marah.
"Eon~" Panggil Bunda dengan nada yang selalu ia pakai ketika memangil putra bontotnya.
Leon hanya melirik bundanya dan kembali menenggelamkan wajahnya ke boneka kesayangan Yuki.
"Udah lama bunda gak liat kamu, masa kamu mau cuekin bunda sih...? Bunda denger kamu sakit, makannya langsung kesini," Ucap Bunda mendekati Leon.
"Ya," Jawabannya hanya singkat, seperti biasa.
"Sekarang bisa cerita kan sama bunda? Hm?" Leon hanya berdecih sebal, ia pun kembali membaringkan tubuhnya dan menarik selimutnya. Ayah, Rezel dan Bunda sudah capek membujuk Leon.
Padahal seharusnya yang marah itu Yuki, tapi ini malah Leon. Ternyata ada kesalah pahaman diantara mereka. Leon ingin Yuki langsung yang membujuknya, bukan bundanya. Di sisi lain, Yuki menyangka bahwa Leon marah terhadapnya karena menanyakan hal yang seharusnya ia tanyakan. Begitulah kesalah pahaman di antara mereka.
"Yaudah, kalo Eon gak mau cerita sama siapa siapa. Berarti... Bunda pulang ya? Soalnya kamu gak mau bilang apa apa," Ucap Bunda lagi, Leon tak menyahut sama sekali.
Yuki menyarankan kalau Rezel harus menemani Leon, biarkan ia berada di kamar satunya lagi. Rezel setuju setuju saja, tapi... Yang benar saja jika ia harus tidur bersama Leon sementara istrinya beda kamar dengannya.
Leon benar benar tidak bangun lagi, ia malah melanjutkan tidurnya yang tadi sempat terpotong karena bapaknya datang. Dan di subuh sekali...
Leon bangun lalu melaksanakan shalat subuh sendirian, ia lalu bersiap siap untuk pergi ke sekolah lebih pagi karena sekarang adalah acara kelasnya dimulai.
Tidak lupa Leon menuliskan surat untuk Yuki yang berisi:
"Gua pergi ke sekolah, gak usah nyariin gua lagi. Loe sarapan dan ke sekolah bareng Zel aja,"
Begitulah surat yang ditinggalkan di kamar Yuki, ditambah, ia menyetel alarm yang lebih pagi dari sebelumnya supaya Yuki bangun pagi juga.
Baru saja ia membukakan pintu, udara dingin menusuk kulitnya, ia lupa tidak membawa jaket. Saat hendak naik ke kamarnya lagi, ia melihat bi minah yang sudah berdiri untuk memberikannya jaket. Leon hanya tersenyum tipis dan izin untuk berangkat duluan.
Ia melangkahkan kakinya keluar rumah dan berjalan, hitung hitung olahraga, pikirnya. Ia juga membawa baju ganti untuk nanti, katanya... Mereka akan melakukan photo shoot dulu sebelum akhirnya melayani para siswa yang hadir di caffe sana sebagai daya tarik caffe tersebut.
Tidak terasa ia berjalan cukup lama dan akhirnya sampai di sekolah. Ternyata ia bukanlah orang pertama yang ada di sana, Haru, Alex, Air, jiho, dan beberapa teman temannya yang lain sudah mulai menyiapkan dekorasi. Mereka terkejut dengan kedatangan Leon yang tiba tiba rajin mau datang pagi.
"Kenapa nih? Tiba tiba dateng pagi, ada angin apa nih?" Tanya Jiho jahil, Leon hanya mendelik saja padanya. "Sok kenal," Ketusnya yang membuat Jiho tersenyum kesal.
"Hahaha... Itu cuma sapaan pagi lho, Loe pagi pagi udah bete terus nanti gimana pas layanin tamu tang dateng? Loe kudu senyum ya? Senyum sapa dan ramah pada tamu itu kunci agar tamu bisa nyaman dengan pelayanan yang kita kasih buat mereka^^" Jelas Jiho pada Leon, kini ia hanya mengangguk paham.
Leon tidak tahu bagaimana jika ia tersenyum, apakah akan terlihat aneh karena ia memang jarang tersenyum atau... Malah menjadi senyuman manis karena ia selalu menyembunyikan senyumannya?
"Yaudah, ganti baju aja dulu. Kita photo shoot dulu, fotographer nya udah siap," Sahut Alex padanya, Leon cukup terkejut karena penampilan Alex yang menurutnya cocok dengan vibesnya.
"Ya," Seperti biasa, ia hanya menjawab simple.
Sementara itu...
Yuki baru saja terbangun di jam enam pagi, ia terkejut dengan surat yang ditinggalkan Leon di atas mejanya. Ia kembali sedih, namun disana Leon mengatakan kalau ia baik baik saja dan jangan menangis. Benar juga, ini adalah hari H yang ia tunggu karena ingin melihat Leon tampil. Ia juga harus ceria untuk melayani pelanggan yang datang ke caffe nya nanti.
Rezel juga cepat cepat bangun dan mandi, memgingat ia juga akan melakukan photo shoot hari ini. Ia kesal karena Leon tak membangunkannya. Saat buru buru turun, ia malah bertabrakan dulu dengan Yuki.
"Sorry! Gak sengaja!" Seru Rezel meminta maaf padanya.
"Gak papa gak papa, aku juga gak liat kamu lari," Jawab Yuki padanya.
"Dapet surat dari Leon?" Tanya Rezel sambil menunjuk Yuki, Yuki mengangguk cepat karena ia melihat Rezel yang terburu buru.
"Ke sekolah bareng, iya?" Tanya Reze lagi. "Huuh, bareng," jawab Yuki.
"Kalo gitu, hayu." Ajak Rezel padanya.
Bi Minah yang melihat keduanya terburu vuru begitu sepertinya tidak akan sempat sarapan pagi, ia pun membungkuskan bekal untuk mereka dan juga untuk Leon.
"Leon juga gak sarapan?!" Tanya Yuki kaget, bisa bisanya ia meninggalkan sarapan juga.
"Iya non, den Leon gak sarapan, katanya buru buru," Jawab Bi Minah Khawatir.
"Kalo gitu, biar aku aja. Aku bakal kasihin ini ke Yeon,"
"Yu, udah siap belom?" Sahut Rezel yang sudah memanaskan motornya dari tadi.
"Iya, hayu." Jawab Yuki sambil pamit pada bibi.
Rezel pun melajukan motornya menuju sekolah. Saat ia terburu buru masuk untuk memarahi Leon, tiba tiba otaknya jadi dingin saja saat melihat Leon sedang melakukan photo shoot. Ia melongo melihatnya, termasuk Yuki yang baru saja datang karena ditinggal oleh rezel di tempat parkir.
Rezel melongo melihat Leon yang sangat serius dalam photo shoot itu, ia pun cepat cepat masuk ke kelasnya dan mengganti baju. Yuki masih canggung untuk mendekati Leon lagi, padahal ia sangat ingin memujinya dan memberinya semangat seperti biasanya.
"Lama banget bangunnya," Ucap Leon saat melihat Rezel yang sedang mengancingkan bajunya.
"Gara gara loe yang gak bangunin gua, udah tau gua itu kebluk." Jawab Rezel lagi kesal.
Leon hanya diam sambil memainkan ponselnya, saat Rezel sedang memakai jas nya, ia terus mendengar Leon terbatuk batuk, membuatnya semakin khawatir saja kalau ia belum sembuh sepenuhnya.
"Kalo gua istirahat terus, mata gua busuk karna kelamaan istirahat, uhuk uhuk. Gak baik, uhuk uhuk." Jawab Leon lagi sambil terus memukul dadanya.
"Ya beda lah, gimana sih? Loe kan posisi nya lagi sakit. Kalo misalnya loe gak istirahat, nanti loe malah keterusan kambuh, alamatnya ke rumah sakit lagi."
"Gak mungkin... Gak akan kayak gitu. Lagian jantung gua normal kok, jadi jangan khawatir yang berlebihan ah, kayak bunda aja. Lagian gua kesini buat bikin Miyu seneng, gua kudu nunjukkin kalo gua bisa senyum dan nyapa orang," Jawab Leon lagi. Ia tak menyadari ada Yuki yang mendengar semua percakapan nya kalau ternyata Leon memaksakan diri datang ke sekolah hanya demi dirinya.
Sebelum melanjutkan pekerjaannya lagi untuk mendekor, ia berlari dulu untuk membawakan obat milik Leon di rumahnya, yang ia simpan saat tahu masalah Leon.
Setelah semuanya berkumpul, Jiho kembali membagi tugas dengan para siswa siswi disana, mulai dari menghias, yang membuat kopi, mempromosikan, dan lain sebagainya.
Leon sempat terkejut karena tidak melihat Yuki disana. Ia pun memberanikan diri untuk bertanya pada Jiho dimana keberadaan Yuki saat ini, namun sang ketua ternyata tidak mengetahui keberadaan Yuki.
Yuki sempat lupa dimana ia menaruh obat batuk, makannya ia agak lama di rumah. Seperti biasa, ia berlari dari sekolah ke rumah dan dari rumah, kembali ke sekolah.
Setelah sampai, ia langsung melihat Leon disana yang tengah mengobrol dengan Jiho, obrolan serius, hingga Yuki sulit untuk berbicara dengan Leon sekarang. Padahal ia tidak tahu kalau mereka sedang membicarakan dirinya.
Yuki kembali patah semangat karena Leon tidak meliriknya sama sekali. Ia pun pergi dan membantu dekorasi saja sampai ada waktu untuknya berbicara dengan Leon.
"Yoo! Persiapannya tinggal 3 menit lagi, mari bersemangat karena kita kedatangan tamu spesial. Senior legend yang namanya sering diharumkan sekolah pun bakal dateng berkunjung^^ Makannya kita harus bikin caffe ini jadi meriah oke? Siap?" Ucap Jiho membangkitkan semangat para anggotanya.
"Katanya denger denger senior itu ganteng,"
"Katanya juga mereka sering banget menangin banyak perlombaan makannya sampe dikenang sampe sekarang,"
"Ya siapa yang gak kenal mereka coba? Udah ganteng, berprestasi, ah! Udah bagus lah,"
"Kan generasi selanjutnya ada disini... Hahahaha,"
"Siapa?"
"Leondra, Arsenio, Brady."
"Anak yang udah terkenal pinter sejak masih dalam kandungan,"
"Bego lu! Ya kali dalam kandungan!"
"hahahaha, Nggak lah nggak. Dia udah pinter dari TK, semua puisi bahkan perlombaan gak ada yang gagal, makannya dia juga suka di banggain kepala sekolah. Selain itu, salah satu dari senior legend itu adalah sepupunya, makannya otaknya gak beda jauh kan?"
"Bener juga, emang Leon sih, cuma satu aja yang kurang,"
"Avaan tyuh?"
"Sikap dinginnya yang nyebelin, dia gak bisa di ajak ngobrol anjir! Susah banget kalo belom deket,"
"Ya gitu lah, haha..."
Yuki tersenyum mendengar banyaknya pujian untuk suaminya. Apakah memang suaminya ini anak yang seperti itu? Ia bahkan belum pernah melihatnya berlomba lagi sejak tahun kemarin yang adalah lomba terakhir saat mereka sekolah. Mungkin tahun ini akan di adakan lomba yang seperti itu lagi.
Di tengah lamunannya, ia disadarkan Jiho yang menyuruhnya memberikan baki pada Leon dan teman teman nya yang lain, ia juga di suruh untuk mengganti bajunya.
"Lah buat apa? Aku kan bagian sapu sapu,"
"Ya kali wajah kayak kamu di jadiin peran sapu sapu doang, jadi maid," Ucap Jiho yang membuat Yuki memerah.
"What?! Jadi Maid?!"
**Bersambung...
...perkenalkan model kita pada hari ini**... ...
...{Leon}...
...{Rezel)...
...{Air}...
...{Alex}...
...{Haru}...
...{Axel}...