
Cyan menanyakan dimana Deon terlebih dahulu kepada satpam yang masih menjaga disana. Satpam mengatakan kalau ia tidak melihat siapa siapa di sekolah.
"Temennya bilang kalo Deon ada di dalem pak. Buat mastiin, Boleh kita masuk dulu pak? Izinin kita ya pak, soalnya udah maghrib," Ucap Cyan ramah, Akhirnya satpam mengizinkan mereka masuk kedalam sekalian ia mengecek sekitar sekolah.
Di setiap kelas bahkan sampai ke toilet, mereka tidak menemukan Deon. Akhirnya mau tidak mau mereka berpencar untuk mencari Deon. Saat di lorong, Leon merasa merinding. Entah kenapa anginnya lebih kencang sehingga menusuk kulitnya.
"Huuhhh... Dingin, dingin apa merinding ya?" Gumam Leon sambil memegang leher belakangnya.
Leon melanjutkan langkahnya, saat hendak berjalan menuju rooftop, ia melihat seseorang terduduk di tangga. Seperti sedang putus asa karena ia menyandarkan kepalanya ke tembok. Karena gelap dan matanya minus, akhirnya ia buru buru mencari Cyan.
"Bang, jalan nya bareng aja. D,disana ada... Ba,bayangan," Ucap Leon yang memegang tangan Cyan. "Apaan sih? Halu kali loe mah, udah, cari lagi Deon nya," Jawab Cyan yang tidak percaya pada Leon.
"Ngapain sih kita nyari di sini? Padahal kan gak akan ada bang. Lagian... Abang aneh banget, kenapa bisa percaya ama insting coba," Ucap Leon malah semakin ketakutan.
Karena Cyan tidak tega melihat Leon gemetaran karena takut, terpaksa mereka jalan bersama menuju tempat yang katanya terdapat bayangan seseorang. Setelah dilihat memang cukup menyeramkan, karena lampu di matikan dan bayangannya hitam lekat.
Namun Cyan cukup pemberani karena ia sering pergi ke rumah hantu bersama serena. Sikapnya sangat sebelas dua belas dengan kakaknya, pikir Cyan.
Ia pun mendekati bayangan itu dibantu dengan senter dari ponselnya. Setelah didekati, sungguh kesal sekali Cyan yang melihat adiknya tengah tertidur disana.
"Deon! Astaga... Loe ngapain tidur disini?!" Teriak Cyan kesal, Leon pun tidak takut lagi dan segera meninggalkan satpam yang menemaninya tadi.
"Deon... Loe bikin gua jantungan..." Kata Leon menatap Deon yang baru terbangun.
"Eehehe... Ada kakak ipar. Untung kalian dateng, kalo nggak sampe besoknya Deon masih di sekolah," Jawab Deon cengengesan.
"Kenapa bisa telat gini sih? Liat! Udah jam setengah tujuh malem lho, beruntung pak satpam baik, belom pulang. Gimana kalo loe sendirian di tempat kek gini?!" Ucap Cyan marah. Ia menjewer telinga Deon.
"A,aduuhh! Sakit ngab! Udah udah, minta maap deh iya. Deon tadi piket, temen temen udah pergi duluan, hp mati, gerbangnya udah di kunci, makannya bobo aja disini," Jelas Deon pada kedua abangnya.
"Haaah... Yaudah lah, langsung pulang aja." Jawab Leon tak habis pikir, Deon kembali tersenyum sumringah. Membuat kedua abangnya heran.
"Kenapa lagi? Make senyum senyum segala?" Tanya Cyan lagi, adiknya ini benar benar nakal dan selalu membuatnya khawatir begitu.
"Gendong dong. Kaki Deon sakit, tadi kepeleset di wc, pantat Deon juga sakit soalnya tadi gedebuk nya kenceng." Jawab Deon lagi, ada ada saja dengan kelakuan adiknya ini, selalu saja membuat Cyan naik pitam.
Pada akhirnya, mereka pun pulang ke rumah dengan Deon yang terluka. Tidak lupa Leon mengucapkan terimakasih kepada satpam yang sudah mengizinkan mereka masuk.
Sepanjang jalan Cyan terus mengomel dan menasehati Deon. Leon sampai menutup telinganya karena berisik.
"Didengerin gak?" Tanya Cyan setelah selesai berbicara. "Denger kok bang, maapin deon. " Jawab Deon lagi.
Setelah sampai di rumah, Bunda terkejut melihat Deon yang terluka. Bunda memanjakannya karena rindu dengan saat saat Leon dan Rezel yang masih kecil. Sekarang bahkan Bunda tidak bisa menggendong Leon di atas pangkuannya.
"Deon kenapa kayak gini? Kamu kok bisa tidur di sekolah sih nak? Emangnya gak ada yang ngasih tau kamu?" Tanya Bunda dengan berbagai pertanyaan.
"Deon dihukum gara gara telat ke sekolah bun, kebetulan ada eskul. Eh, malah kekunci di dalem sendiri." Jawab Deon sambil menikmati susu hangat yang sudah disiapkan bunda sebelumnya.
"Hmmm... Lain kali minta tolong sama satpam, bikin bunda khawatir aja. Gimana kalo kamu kenapa nap—" Ucapan bunda terhenti saat melihat luka memar di dadanya, Adit memiringkan kepalanya saat bunda tiba tiba berhenti berbicara.
"Kenapa bun?" Tanya Deon penasaran.
"Deon, kamu kenapa?" Tanya bunda balik. "Kenapa kenapa bunda?" Deon yang semakin kebingungan, Leon yang sedaritadi sedang makan jadi ikut penasaran karena tiba tiba hening sesaat.
"Ini, dada kamu kenapa memar gini?" Tanya bunda semakin khawatir.
Deg!
"Jangan... Sentuh... Hhh... Hhh... Hhh..." Kata Deon sambil meremas dadanya. Deon mengalami sesak napas dan berkeringat dingin.
"Deon... Kamu kenapa nak?" Bunda buru buru memeluk Deon yang masih gemetaran dan kesulitan bernapas, ia tidak tahu apa permasalahan anak ini.
"Makannya jangan bentak Deon abang!" Ucap Yuki yang memukul lengan Cyan.
"Abang gak tau," Jawab Cyan panik.
"Hhh... Hhh... Hhh... Deon... Gak bisa napas...! Hhh... Hhh... Hhh..." Ucap Deon pada Bunda, ia lalu menangis karena semakin panik saat ia kesulitan bernapas.
"Udah nak, udah... Jangan nangis... Bunda disini. Tenang ya nak..."
"Deon kenapa?" Tanya Leon ikut panik, ia buru buru mengambil air untuk Deon.
Setelah lamanya menenangkan Deon, Bunda dan anak anaknya ikut lega melihat Deon yang sudah tertidur di paha Bunda.
Karena penasaran, Bunda menyuruh Cyan untuk membuka seragamnya saja, karena takut memarnya tidak hanya di dadanya.
Benar saja dugaannya, luka memarnya ada di mana mana bahkan sampai ke punggung punggung. Cyan lebih terkejut melihatnya, apalagi ia merasa bersalah karena Cyan tak tahu permasalahan adiknya.
"Aduh... Harusnya kamu lebih teliti tentang adek kamu. Jangan dibiarin kayak gini, gak boleh cuek cuek ya?" Ucap bunda menegur Cyan yang tertunduk.
"Maafin Cyan Bunda, Cyan gak terlalu merhatiin Deon." Jawab Cyan malu, Yuki tertawa karena menurutnya seperti anak kucing.
"Yaudah, ambilin dulu air es nya gih. Kita obatin satu satu. Ren, beli salep gih," Ucap Bunda sambil tersenyum, sesekali ia menggerai rambut Deon lagi.
Deon terbangun saat bunda membangunkannya untuk di obati. Walaupun Deon sebenarnya masih takut karena traumanya, ia menurut pada bunda. Bunda menyuruhnya untuk bersandar saja padanya.
"Udah ya? Jangan takut lagi, kalo udah siap cerita, ceritain semuanya sama bunda. Bunda juga ibu kamu, sama aja. Jangan canggung canggung sama bunda mah, ya?"
Deon hanya menganggukkan kepalanya saja. Ia menyayangi bunda juga namun ia masih takut untuk menceritakan yang sebenarnya terjadi padanya.
Yuki ikut menghampiri Deom dan mencolek hidung mancungnya. Ia tersenyum pada Deon yang menatapnya sayu.
"Kenapa atuh kamu teh? Bisa cerita saya Yu? " Tanya Yuki lembut, Deon malah memincingkan matanya sambil terus memeluk bunda.
"Yu jadi sombong, gak pernah buat jengukin Deon sama bang Cyan. Demen banget sama Kak Leon," Ketus Deon yang mengundang tawa serena dan Leon.
"Eeehhhh? Kamu ya?! Yu gak sombong, Yu gini gini aja. Kamu aja yang gak pernah jawab chat Yu. Emang... Emang belom sempet aja... Buat ke rumah... Sih," Jawab Yuki sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal.
"Haaaa, tuh kan... Yu manja ya ama kak Leon? Iya kaaannn?" Tanya Deon julid.
"Hah? Bukannya kebalik ya? Leon yang manja sama Yu, bukan Yu yang man—"
"EHEM!" Leon berdehem memperingatkan Yuki.
"Kamu kali yang manja! Liat, udah gede masih nempel sama bunda? Hm?"
"Bunda yang mau manjain Deon, udah. Jangan berantem lagi ya, Yuki, Deon." Ucap Bunda melerai.
"Iya bun, Yuki diem." Jawab Yuki menunduk.
Deon hanya menghela napas panjang sambil tertunduk. Apakah ia harus menceritakan hal ini pada Bunda?
bersambung...