My Cold Friend Is My Husband

My Cold Friend Is My Husband
Chapter 24. Bibi pengasuh



Yuki terus berusaha membangunkan Leon, tapi ternyata ia tertipu. Leon tertawa cukup terbahak bahak karena wajah Yuki yang mengkhawatirkannya.


"Buahahaha, loe panik karna gua pingsan? Ahahaha," Ucap Leon terus tertawa.


"Iiihh! Jahat deh, Kamu ngerjain aku? Iya?" Tanya Yuki kesal, kedua pipinya menggembung seperti balon, ditambah bibir kecilnya berbentuk kerucut.


Leon menatapnya lalu mengacak acak rambutnya karena gemas sampai sampai Yuki berteriak untuk menghentikannya.



"Udahan iiiii... Nanti rambutnya berantakan," Keluh Yuki menarik tangan Leon.


"Ahahaha, Iya iya. Sekarang udah jam berapa...?" Gumam Leon sambil melihat jam dinding menunjukan jam sepuluh siang.


"Udah siang, loe siapin makan gih, gua mau nge game dulu." Lanjut Leon sambil menyalakan ps nya.


"Game apa? Nyobain dong..." Bujuk Yuki sambil mengambil stik di pinggir Leon.


"Nggak boleh, loe gak bisa main," Ketus Leon merebut stik itu dari Yuki.


"Dih... Kata siapa? Sini dulu makannya, kita cobain,"


Yuki terus mencoba merebut stik itu dari Leon, tapi Leon tetap tak memberikannya untuk Yuki. Kini Yuki melipat kedua tangannya dan menatap Leon dengan tajam, Leon meliriknya sebentar lalu kembali fokus pada game nya.


"Kenapa? Mau ngambek?" tanya Leon padanya.


"Jangan harap aku makan siang sama kamu, huh!"


"Lah emang bisa...? Katanya gua lemah, Tapi loe sendiri gak kasih makan suami. Nanti loe durhaka lho sama suami sendiri," Ucap Leon yang membuat Yuki tersadar.


Ia pun beranjak dari tempatnya hendak menyiapkan makan siang, Namun Leon menarik tangannya dan menyuruhnya bermain bersama nya.


"Maen," Kata Leon datar.


"Eh?! Beneran?" Jawab Yuki senang, Leon hanya mengangguk saja.


Akhirnya Yuki bisa bermain bersama Leon, walaupun kalah, tapi ia senang karena bisa bermain ps. Selama ini ia bahkan tidak diperbolehkan menyentuh barang barangnya. Yuki merasa Leon sudah agak berubah walaupun terkadang sifatnya tiba tiba dingin.


Setelah satu jam menghabiskan bermain, Leon kembali bersandar ke kasurnya. kepalanya pusing jika berlama lama di depan layar, maka dari itu, Leon jarang sekali membuka ponselnya lagi.


Ketika hendak memejamkan matanya sebentar, sebuah panggilan masuk ke ponselnya, membuat Leon berdecih kesal.


"Halo?" Sapa Leon dengan nada malas.


"Yon, loe bisa ke tempat latihan? Kita latihan terakhir buat pemantapan besok,"


"Hm? Ini siapa? " tanya Leon mengernyitkan dahinya.


"Haru, masa loe gak kenal? Suara gua kan ciri khas, cepet ah."


"Gua cape, gimana kalo latihannya abis dzuhur aja? Gua kudu istirahat sebentar," Jawab Leon lagi.


"Yaudah, Kita latihan tanpa loe dulu aja ya? Abis dzuhur loe kesini, ke tempat biasanya."


"Ya, thanks." ucap Leon lagi, Haru pun mematikan telponnya.


'Latihan lagi...? Gua gak bisa bilang kalo penyakit gua kambuh kan? Gua gak boleh bikin yang lain khawatir,' Batin Leon lagi, ia kembali memejamkan matanya.


Yuki yang baru saja membereskan ps milik Leon terkejut saat melihat Leon yang sudah terlelap.


"Ditinggal bentar, dilirik lagi udah bobo ganteng. Kamu banyak tidur, secapek itu ya yon?" Gumam Yuki sambil menggerai rambut hitam Leon.


Yuki pun turun ke bawah untuk membuat makan siang. Tapi ia kaget saat melihat seseorang ada di dapur nya, Yuki mencoba menghampirinya dan bertanya.


"Maaf, Ibu siapa ya?" Tanya Yuki dengan sopan, ia tidak boleh menyinggung orang yang ada di depannya.


"Oh, Non Yuki. Saya Minah, Pengasuh den Leon dari kecil. Saya dipindah tugaskan kesini buat ngebantu kerjaan non Yuki." Jawab Minah dengan full smile nya.


"Ooh... Bibi, Padahal gak usah bi, Saya masih bisa buat bersih bersih sendiri disini, saya gak bisa repotin bibi," ucap Yuki malu.


"Eh? Rezel, kenapa disini juga?" Tanya Yuki padanya.


"Gua nganter bibi kesini, Bi minah yang udah ngurusin kita dari bayi. Beliau juga yang suka nganter kita ke sekolah, pokoknya... Udah Legend, udah the best, udah terbaik bi minah ini," Jelas Rezel menjelaskan bi Minah yang hebat.


"Aaah... Den Zel ada ada aja, jangan berlebihan gitu den. Bibi Malu," Jawab Bi Minah tertunduk.


"Hahaha, Bi Minah udah kayak ibu kedua kita, Jadi... Jangan pernah buat bi minah nangis lho ya?" Ucap Rezel mengingatkan Yuki agar tidak macam macam pada Bi Minah.


"Okey dokey, tenang aja. Gak akan aku apa apain kok,"


"Leon mana? Jangan bilang tu anak turu,"


"Eh? Kok tau sih...? Iya, dia lagi boteng, jadi jangan di ganggu," Jawab Yuki pada Rezel.


"Ah, kan sekarang ada jadwal latihan, Masa tidur sih?" Rezel keras kepala mau membangunkan Leon ke kamarnya.


"Yaudah, Bangunin aja sana." Jawab Yuki sambil kembali mengobrol dengan bibi.


Rezel pun naik ke atas dan membangunkan Leon dengan paksa, menyuruhnya duduk dan sadar. Tentu saja Leon mengomel karena Rezel.


"Loe mau bikin gua jantungan hah?! Jangan bangunin gua sembarangan!"


"Oke, bakal Zel inget dengan baik. Sekarang bangun dan siap siap buat latihan," Jawab Rezel yang duduk di dekatnya.


Leon terdiam sesaat dan kembali menjatuhkan dirinya di atas kasur. Rezel benar benar kesal padanya, harus ia apakan supaya kembaran laknat nya ini terbangun.


"Latihan anjir! Buat besok!"


"Ck ah! Males," Jawab Leon menarik selimutnya.


"Hoo... Mentang mentang punya istri jadi loe males buat apa apa, gitu?" Tanya Rezel padanya, Leon pun akhirnya bangun dan mendelik padanya.


"Seucap ucap ya loe? Gua gak males kali, gua juga ngasih jajan ke dia, gua juga ngasih apa yang dia mau kok. Gua udah berusaha jadi suami yang baik buat Miyu," Jelas Leon padanya, Rezel hanya tersenyum menanggapi Leon yang cerewet sekarang.


"Kalo gitu, Kita latihan! cepet!" Titah Rezel padanya.


"Yaudah iya, pergi gih. Gua mau ganti baju dulu," Jawab Leon malas.


Setelah selesai, Rezel tidak lupa untuk mengingatkannya membawa inhaler nya, tentu saja Leon tak akan melupakan barang penting untuk hidupnya, ia memang sudah lama sekali bergantung pada barang kecil itu.


"Udah siap?" Tanya Rezel padanya, Leon mengangguk pelan.


Mereka pun menuruni anak tangga dan Leon terkejut melihat ada Bi Minah disana, ia tersenyum hangat padanya.


"Den Leon," panggil bibi sambil tersenyum pula.


"Bi, gimana kabarnya?" Tanya Leon yang mencium punggung tangan bi Minah yang sudah keriput.


"Alhamdulillah baik den, Aden gimana kabarnya? Selama bibi gak ada, Aden makan teratur kan? Aden ngerawat diri baik baik kan?" Tanya bibi mengajukan banyak pertanyaan padanya, tentu saja Leon tertawa mendengar omelan bibi lagi.


"Sehat dong bi, Miyu... Jaga Leon baik baik kok, Gak mungkin Leon sakit." Jawab Leon yang melirik Yuki.


"Alhamdulillah kalo gitu mah. Jangan kebanyakan makan yang berminyak minyak, awas lho. Sekarang bibi disini, bibi bakal kontrol kamu lho ya?"


"Lah terus? Yang jaga Zel di rumah siapa dong?" Tanya Leon melirik Rezel yang sedang tertawa puas.


"Udah ada Bi Winda di rumah mah, loe harus bersyukur dapet yang baik. Gua dapet yang galak," Jawab Rezel padanya.


"Oh? Bi Winda udah pulang? Leon gak tau lho,"


"Ya makannya, nanti pas makan malem di rumah Bunda, kamu harus nyapa Bi Winda ya? Dia udah kangen sama kamu, katanya capek ngurusin den Zel di rumah," Ledek Bi minah pada Rezel, membuat Rezel malu saja.


Setelah selesai mengobrol sebentar dengan Bi Minah, Leon dan Rezel pamit untuk pergi latihan. Namun...


Bersambung...