My Cold Friend Is My Husband

My Cold Friend Is My Husband
Chapter 32. Cepet sembuh Yon



Yuki masuk ke kamar Leon. Ia bisa melihat sisi lemah Leon yang sesungguhnya. Ia terbaring di ranjang orang sakit dengan macam alat bantu yang terpasang di tubuhnya. Yuki mendekati ranjang Leon dan duduk di kursi yang sudah di sediakan.


"Yon, ternyata separah ini ya? Kenapa kamu gak bilang? Apa emang alesannya karna takut aku ninggalin kamu?" Ucap Yuki sambil menempelkan tangan Leon yang hangat di pipinya.


"Harusnya aku yang minta maaf Yon, aku harusnya denger penjelasan kamu kan? Kamu pasti marah kan makannya jauhin aku?"


"Sekarang, aku gak bakal nanya hal kayak gitu lagi sama kamu. Aku janji, aku bakal nungguin kamu sampe kamu sembuh,"


"Makannya, Cepet sembuh Yon." Ucap Yuki sambil mengecup tangan Leon, sejak awal, Yuki memang sudah menyukai Leon. Ia sudah menerima Leon, karena Yuki orang yang mudah menerima siapa pun, apalagi Leon yang adalah seorang suaminya sekarang. Ia harus memusnahkan kata "kesal,benci, dan marah" pada Leon.


Tidak memerlukan waktu yang lama bagi Leon untuk sadar. Ia sudah membuka kedua netranya, kini ia menatap Yuki yang masih asyik menggenggam tangannya.


"Bangun dong Yon... Aku mau minta maap," Ucap Yuki lagi padanya, saat ia tersadar, ternyata Leon sudah bangun dan sedang menatapnya kini.


"Hah?! Yon?!" Kata Yuki terkejut. Leon hanya mengedipkan matanya dua kali, entah isyarat apa itu, namun Yuki paham bahwa Leon sedang mengisyaratkan kalau ia sudah sadar.


"Hh,haus..." Kata Leon pelan.


"O,oke, a,aku ambilin minum dulu," Yuki buru buru mengambil air lengkap dengan sedotannya dan kembali lagi pada Leon.


Ia membantu Leon untuk bangun dan meneguk air nya. Ia pun kembali berbaring dan Yuki memasangkan masker oksigennya lagi.


"Yon, apa yang sakit?" Tanya Yuki lembut, ia tersenyum hangat padanya. Leon kembali menatapnya dan mengisyaratkan untuk mendekat padanya, Yuki tidak paham dan mendekat saja pada Leon.


Leon memandangi wajah Yuki lebih dekat cukup lama, ia lalu membuka masker oksigennya dan mengecup bibirnya.


"Haaaahhh..." Ia tidak bisa berlama lama terlepas dari alat bantu pernapasannya jika keadaan nya sedang tidak stabil seperti itu.


Yuki masih melamun tak percaya, apa yang di lakukan Leon tadi? Bagaimana jika ia tidak sedang dalam keadaan seperti itu?


"Hosh... Hosh... Hosh... Maaf... Hosh... Hosh... Hosh..." Kata Leon yang berusaha mengatur napasnya. "Eh?!" Yuki tersadar dan kemabali memakaikan alat bantu pernapasan untuk yang kedua kalinya pada Leon.


"Ye,yeon. M,maksudnya a,apa ya? J,jangan ngode yang aneh aneh. Kamu lagi sakit hei," Ucap Yuki salting, wajahnya memerah karena malu.


"B,bentar! A,aku panggilin dokter dulu,"


'Haaah... Haaah... Sesek...' Batin Leon terngah engah.


Leon pun hanya pasrah saat mengecupnya, ia belum berani jika harus melakukan k*ss dengan Yuki. Hanya mengecupnya saja sudah membuat nya sesak nafas, apalagi berciuman.


Dokter kembali memeriksa Leon dan menyarankan agar waktu istirahat Leon jangan di ganggu, karena terlalu lelah, makannya ia seperti itu.


Leon melewatkan malam puncak acara sekolahnya, begitu pula dengan Yuki yang harus siap menjaga Leon 24 jam. Setelah beberapa hari beristirahat, akhirnya Leon berani menceritakan semuanya pada Yuki, tentang apa yang terjadi padanya, ataupun masa kecilnya.


"Zel udah pernah transplantasi jantung pas umur 12 taun karna di anggap mampu. Sedangkan gua, jantungnya gak bisa di operasi dulu karna kemungkinan besar, bisa ngerenggut nyawa gua. Katanya sih... Parah banget, makannya gak bisa di operasi dulu. Haaah... Yang pada akhirnya gua tetep gini gini aja sampe sekarang. Sejujurnya... Gua udah pernah lamaran 5 kali, Bunda terobsesi banget sama yang namanya nikah muda. Di hari pertama perjodohan, Gua dalam keadaan sakit. Gua muntah, mimisan, asmanya kambuh, dan berakhir pingsan. Dari situ mereka jadi gak mau ngelakuin perjodohan sama gua. Ya gua mah, bersyukur, karna ujungnya yang gua nikahin elu, bukan orang lain. Loe udah tau kan, apa yang paling gua takutin?"


"Iya, gua paling takut ditinggalin, gua gak suka sendirian. Karena, ketika gua kambuh, harus ada orang yang nemenin gua buat bantuin gua. Makannya... Gua sengaja bilang ke bunda, tolong jangan kasih tau elu, kalo gua penyakitan. Karna... Dari semuanya gua cuma percaya sama loe, walaupun baru beberapa hari kenal," Ucap Leon mengakhiri ceritanya, ia tertunduk kala Yuki menatapnya dengan tatapan sedih, ia meremat selimutnya karena kesal. Kenapa ia harus bernasib seperti itu?


"Haaah... Pasti abis ini loe mau minta bunda buat cerai sama gua, gua—"


Yuki memeluk Leon lagi dengan erat, ia merasa bersalah karena tidak bisa menjaganya. Padahal ia sendiri yang berjanji akan melindunginya, tapi ia malah bersikap seperti itu. Leon tersenyum tipis dan memeluk Yuki juga.


"Aku janji bakal jagain kamu, aku gak mau kehilangan kamu Yon, aku udah suka sama kamu. Aku gak akan ninggalin kamu apapun keadaan kamu," Ucap Yuki sambil memegang wajah Leon.


Leok hanya tersenyum senang mendengar jawaban Yuki.


Sayangnya Yuki harusHarus tetap bersekolah memenuhi keinginan sang suami. Ia tidak boleh bolos sekolah hanya karena menjaganya seharian di rumah sakit. Giliran Bunda yang datang dan menjaga Leon. Bunda memberinya bubur supaya Leon mau makan, Leon menerimanya dengan senang hati.


"Ya allah nak, kamu kurusan lagi. Suka makan gak sih? Gini nih, kalo gak di perhatiin," Ucap Bunda sambil mencubit pipi lembutnya.


"Bunda, justru Leon jadi gemukan semenjak nikah sama Miyu. Kemaren berat badan Leon naik sekilo." Jawab Leon menggerutu kesal.


" Jangan boong kamu sama bunda. Emang bunda gak tau berat badan kamu kemarena berapa hm? Kamu turun 5 kilo lho, berat badan kamu jadi 50 kilo." Ucap bunda lagi khawatir.


"Hmm... Yah... Gimana ya bun? Mungkin Leon sering olah raga, makannya Leon turun kan? Bukannya bagus kalo Leon turun ya? Nanti... Miyu nya makin suka sama Leon," Jawab Leon malu malu, wajahnya memerah tatkala menyebut nama Yuki.


"Ooh... Jadi kamu olahraga ekstrim biar badan kamu bagus gitu? Olahraga sampe turun drastis kayak gitu? Tanpa kamu olahraga juga Yu udah suka sama kamu sayang, dia suka banget ceritain banyak hal tentang kamu." Ucap Bunda lagi padanya.


"Masa iya?" Tanya Leon mendelik pada bundanya. "Kamu jadi cerewet ih... Kamu jadi bawel iihh..." Ucap bunda mengalihkan pembicaraannya, kini beliau terus menggoda Leon sampai ia tersedak bubur.


"Duh duh duh, maapin bunda sayang! Ini minum minum," Titah bunda sambil menyodorkan air putih padanya.


Setelah selesai minum, tampaknya kesusahannya tidak sampai disana saja. Leon mengucurkan darah dari hidungnya, ia mimisan karena panas dalam.


"Aaahhhh! Leon...~" Bunda panik melihat Leon mimisan. Ia buru buru membawa tisu dan mengelap hidungnya, tapi ketika Bundanya sedang mengkhawatirkan keadaannya sekarang, Leon malah tertawa cengengesan. Membuat bunda memincingkan matanya dengan tajam.


"Hobi ya, kamu suka bikin bunda khawatir hah?!" Ucap bunda dengan nada tinggi. bukannya takut, Leon malah kembali tertawa karena lucu.


"Bun... Udah bun. Bunda tau kan, kalo Leon emang suka mimisan? Leon kurang minum bun, makannya mimisan." Jawab Leon tertawa.


"Haaah! Harusnya banyakin minum dong, jangan minum air es mulu. Gak baik buat kesehatan kamu, mau bunda larang buat beli es jeruk lagi? Nanti bunda suruh si amang nya biar gak lewat depan rumah kamu!" Ancam Bunda nya yang membuat Leon cemberut.


"Iya iya... Leon gak bakal banyak banyak minum es, cuma 3 kali sehari." Jawab Leon yang membuat bundanya harus mencubit pipinya karena kesal.


"Aaahhh! Aaahh! Udah udah, jangan cubit lagi. Bundaaaa!" Teriak Leon saat bundanya mengencangkan cubitannya pada Leon.