
Selama beberapa hari Yuki pergi ke sekolah, ia pasti mendapatkan ejekan dan hinaan dari geng pecinta Leon itu. Hari harinya tanpa Leon benar benar memberatkan, karena jika tak ada Leon, mereka berani melakukannya. Bukannya Yuki ingin menggantung terus kepada Leon, tapi jika ia melawan, perlakuan mereka padanya semakin kasar dan bahkan menyulitkannya.
Rezel sempat terkejut saat melihat Yuki yang badah kuyup ditambah luka cakar di tangannya, hidungnya yang berdarah dan luka pukulan di wajahnya.
"Yuki?! Loe kenapa?! Siapa yang ngelakuin ini ke elo?! Siapa?! Hah?!" Tanya Rezel emosi, ia benar benar akan menghancurkan orang itu jika menemukannya.
"Eh? Bukan apa apa kok Zel, aku tadi... Jatoh di wc, makannya kayak gini. Gak usah khawatir," Jawab Yuki hanya tersenyum, sebenarnya ia ingin menangis, ingin memeluk seseorang, tapi ia tak bisa melakukannya karena yang ada di depannya saat ini adalah Rezel. Bukan Clara maupun Laras.
"Yaudah, kalo kayak gitu, kita ke UKS sekarang, kita obatin lukanya," Tawar Rezel padanya, ia takut sekali jika Leon memarahinya karena tidak menjaga Yuki.
"Gak papa, aku bisa sendiri kok," Jawab Yuki yang menolak pertolongan Rezel.
"Gak bisa gitu... Gua disini abang loe, gua harus siap ngelindungin adek gua. Kalo gak ada Leon, yang jaga elu itu ya gua. "
"Tapi—"
"Nggak ada tapi tapian, kayak di sinetron aja ah, cepet. Minimal gua nganter sampe UKS, beliin obat terus gua balik. Bener," Jawab Rezel yang memotong perkataan Yuki.
Akhirnya karena tidak bisa membantah ucapan Rezel yang memang keras kepala ini, akhirnya ia menurut padanya dan ikut ke UKS. Rezel menyiapkap betadine, plester dan kapas, tidak lupa juga ia membawa sedikit es untuk mengobati memar yang ada di wajahnya.
"Kayaknya ini udah lama deh. Pas acara konser juga gini, Loe di bully?" Tanya Rezel to the point.
Deg!
Yuki terkejut menanggapinya. Anak ini benar benar cepat tanggap sekali, ia bahkan langsung tahu kalau Yuki tengah di bully keras oleh orang orang sekolah.
"Nggak lah, siapa emang yang berani bully aku? Aku kan istrinya Leon. Mana ada yang mau bully kan...? Hahahaha, canda terus nih, Zel." Jawab Yuki cengengesan, ia bahkan masih bisa mencari alasan di depan singa garang ini.
"Bohong," Ketus Rezel. "Eh?! Gak boong, ngapain aku boong?" Tanya Yuki padanya.
"Kalo kepeleset, gak akan sampe kayak gini, kalo ini dicakar kucing, gak akan kayak gini. Terus, kalo kepeleset, lu gak akan sampe basah kuyup kayak gini. Jangan boong depan gua, gua tau." Ucap Rezel dengan tajam, ia menjelaskannya dengan detail sekali.
"Nggak, udah dibilang enggak. Aku gak pernah di bully kok, kan aku anak baik. Hahaha, aku juga bukan anak pendiem kok," Jawab Yuki lagi. "Percaya aja, aku gak akan gentar buat ngelawan mereka kalo mereka berani lawan aku," Lanjut Yuki, sebenarnya itu adalah omongannya semata mata untuk membuat Rezel percaya.
"Yah, loe bisa bilang ke gua selama gak ada Leon di sisi loe. Gua gak akan apa apain loe. Lagian, gua juga udah punya pacar kok, hahahaha." Ucap Rezel tetiba tertawa saat menyebutkan pacar itu.
"Go! Aku mau liat kakak ipar aku, cepet cepet liatin ke aku ya, kakak Rezel, hahahaha." Jawab Yuki kembali cengengesan.
"Ampun dah, lain kali kita ketemu bareng, ngedate bareng juga, oke?"
Setelah percakapan berhenti, Rezel memberikan jaket miliknya dan baju olahraga padanya. Ia tak bisa memakai baju itu lama lama karena takut sakit dan masuk angin.
Yuki jadi tidak bisa fokus belajar karena mengantuk, dan biasanya jika ia mengantuk, Leon pasti mencubit tangannya agar ia terbangun dan tidak mengantuk lagi. Tapi cubitannya tidak sakit sama sekali, seperti... Cubit cubit kelinci. Begitulah kata Yuki, makannya ia akan tertawa jika Leon mencubitnya dan kantuknya akan hilang.
Hari ini adalah hari perkumpulan para bendahara setiap kelas di ruangan OSIS, untuk menentukan penghasilan uang kas kelas untuk bulan ini, apakah ada peningkatan atau tidak.
Namun sayangnya, cerobohnya Yuki, ia bahkan lupa menaruh dompet khusus yang ia jadikan kas kelas. Seingatnya, ia masih menaruhnya di kolong meja, tentu saja ia panik. Uangnya tidak akan cukup untuk menggantikan semua kas kelas yang ia kumpulkan bulan ini, karena ia tak membawa uang lebih hari ini.
"Yuki, kenapa gak masuk ke ruangan OSIS?! Kamu mau saya hukum karna telat?! Iya?! " Ujar seseorang bernama Feronica, ia adalah wakil ketua OSIS yang garang.
"I,iya. A,aku kesana." Jawab Yuki kaku.
Ia pun pasrah saja karena ketua OSIS dan wakil kepala OSIS akan memarahinya dan kembali menyebutnya ceroboh. Perkumpulan pun dimulai...
Masing masing bendahara kelas mulai menjelaskan jumlah uang mereka bulan ini.
"Miyuki, perwakilan kelas kamu berapa? Harusnya lebih gede dong, dari bulan kemaren," Ucap Feronica ketus, ia tersenyum smirk melihat Yuki.
"A,anu, k,kakak. M,maapin aku, uang yang... Bulan ini... Ilang..." Jawab Yuki kaku, ia benar benar takut pada amukan duo OSIS itu.
Gibran membelalakkan matanya kaget, ia pun berdiri dan menggebrak meja dengan keras.
"Hh, pacaran pake duit kas kelas, gak modal banget cowoknya." Ketus Feronica lagi, Yuki ingin menjawab tapi juga ingin menangis kesal.
"Apa?! Mau nangis lagi?! Terussss aja nangis, kayak anak kecil! Loe tuh udah gede Yuki, loe harus tau mana uang kas kelas, mana uang buat kepribadian loe. Jangan sampe loe make duit kelas cuma buat foya foya sama pacar loe,"
"Tapi kak, uangnya udah aku simpen di kolong meja, udah aku siapin buat bulan ini. Aku juga gak pake uang kas kelas kok, aku gak korupsi," Jawab Yuki sambil menangis, sedangkan para bendahara yang lainnya tertunduk takut.
"Ya berarti loe ceroboh, kenapa uang kas nya malah disimpen di kolong meja? Haduh! Ni anak, mau sampe kapan kelakuannya kayak anak kecil gini, capek gua liatnya."
"biasa kak, dimanja terus sama orang tuanya, makannya kelakuannya kek anak kecil terus," ketus Feronica lagi.
Yuki bingung dengan keadaan sekitar. Semuanya menatap iba padanya, Yuki tidak suka jika orang lain mengasihaninya. Gibran pun mempersilahkannya duduk kembali.
Yuki masih menangis sambil terus mendengarkan ucapan Gibran sampai selesai. Ia bukan kesal pada Gibran yang telah memarahinya, tapi ia kesal pada orang yang mengambil dompetnya.
Setelah selesai, Yuki pun mengambil tasnya dari kelas. Ia pun mengibas ngibas tangannya agar wajahnya tidak panas lagi.
"huuhh... Gak boleh nangis lagi. Aku kuat, aku udah biasa dengerin semua ucapan kak Gibran, aku gak boleh nangis! Aku bukan anak kecil lagi, aku gak di manja, aku gak pacaran pake uang kas kelas. Ini bukan salah aku, iya. Ini bukan salah aku, pokoknya," Gumam Yuki di kelasnya. Ia akan langsung pergi ke rumah sakit tadinya, tapi ia mengurungkan niatnya lagi, karena luka di wajahnya bisa membuat Leon bertanya dengan seribu pertanyaan, makannya ia mau pergi ke rumahnya dulu.
Saat ia keluar kelas, ia bahkan menyadari ada Gibran disana. Gibran yang sedang memeriksa setiap kelas, menjadi kegiatan rutinnya dalam menjalankan tugas.
"eh, permisi..." Kata Yuki sambil menundukkan kepalanya dan berlari kecil.
"Tunggu," Kata Gibran di belakangnya, secara otomatis, Yuki menghentikan langkahnya. Ia pun menoleh pada Gibran yang sedang berjalan menghampirinya.
"M,maaf kak. Aku bakal buru buru gantiin uang kas bulan ini. Maaf juga kalo tadi kesenggol dikit kak," Ucap Yuki buru buru minta maaf sebelum pak ketua ini marah lagi.
Gibran tak merespon apa apa, ia langsung berjongkok dan mengikat tali sepatu Yuki. Yuki jadi semakin merasa bersalah, ketika ia menariknya, ia akan menjadi lebih tidak sopan, tetapi jika dibiarkan, ia juga merasa tidak enak padanya.
"K,kak."
"Saya udah bilang kan? Kalo misalnya mau di pandang baik, penampilan juga harus baik. Saya udah sering banget liat tali sepatu kamu copot kayak gini." Ucap Gibran yang fokus menalikan tali sepatu Yuki.
"T,tapi aku gak enak kalo kakak dibawah kayak gini..." Jawab Yuki malu.
"Udah," Gibran pun kini berdiri dan menatap Yuki yang masih tertunduk.
"Lain kali jangan ceroboh lagi. Jangan taro uang kas kelas di kolong meja, ya?" Ucap Gibran sambil menepuk kepala Yuki pelan, ia melihat senyuman hangat terukir di wajah Gibran.
Gibran pun pergi setelah memberi nasihat pada Yuki. Yuki masih bengong melihat sikap Gibran yang tiba tiba berubah dan menasihatinya dengan lembut. Ia memegang kepalanya yang tadi di usap Gibran.
"Ahh! Apaan sih? Kak Gibran kan emang aslinya baik. Dahlah," Gumam Yuki yang mengenyahkan pikirannya.
Ia pun berlari menuju gerbang sekolah untuk segera pulang. Yuki juga diam diam menerobos rumahnya, takut jika bi Minah tahu ia terluka.
Setelah sampai di kamar, ia langsung membaringkan tubuhnya di atas kasur.
"Haah... aduh aduh! Aaahhh, iya ya? Punggung aku juga di pukul ya?" Gumam Yuki yang memegang punggungnya.
Ia pun duduk lalu beranjak dari kasurnya, ia penasaran luka di punggungnya sebesar apa. akhirnya ia memutuskan untuk melihatnya sendiri. Ia bercermin dan menoleh pada punggungnya, bajunya ia turunkan sedikit agar benar benar terlihat.
"Duh... Jadi ungu gini. Gimana dong ngobatinnya? Kalo sendiri kan susah, kalo minta tolong Yeon, nanti dia tau." Gumam Yuki sambil mengelus punggungnya itu.
"Miyu?!"
Deg!
Bersambung...