
Setelah selesai, Gibran menatap Yuki cukup lama dan di akhiri dengan tepukan pelan ke kepalanya.
"Jangan telat lagi, langsung masuk kelas," Ucapnya datar, Yuki segera mengangguk dan mengerti.
Ia pun berlari menuju ruang guru dan memberitahukan pada wali kelas bahwa Leon sedang sakit. Setelah mendapat izin, barulah ia masuk ke kelasnya dengan tenang.
"Mana suaminya? Kenapa gak masuk kelas?" Tanya Clara padanya.
"Sakit, dia demam." Jawab Yuki sambil mengibaskan tangannya karena gerah.
"Lah?! Bukannya masih aman kemaren?" Tanya Laras juga yang tadi ikut menguping.
"Iya, dia kena demam tadi subuh, kayaknya emang udah gak enak badan dari pas dia ajak aku keluar buat makan," Jawab Yuki lagi, gosip pun dimulai begitu saja.
"Ampun dah... Tuh anak sakit lagi Zel," Ucap Axel yang mendengarkan pembicaraan anak anak ciwik tentang Leon.
"Demam ya? Tadi dia udah ngasih tau gua, suruh dateng ke rumah," Jawab Rezel sambil merogoh ponselnya dari saku celananya.
"Mau jengukin sekalian? Biar bantu beres beres lagi juga," sahut alex dari belakang.
"Aku sih yess," jawab axel semangat.
"Gua juga ikut," Jawab alex dingin.
Tentu saja Rezel ikut karena ia yang akan bertanggung jawab atas Leon selain Yuki. Tiba tiba ada pemeriksaan dadakan dari ketua OSIS dan bawahannya, membuat kelas mereka tegang saja.
"Kamu, bawa hp ke kelas?" tanya Gibran pada Rezel.
"Nggak," jawabnya simple.
"Angkat tangan kamu,"
Rezel memutar bola matanya malas dan mengangkat tangannya. Entah kenapa hari ini ada pemeriksaan begini, untungnya Yuki tidak membawa ponsel.
Pemeriksaan terhadap Rezel selamat, untung ia menyembunyikan ponsel itu di sela sela ventilasi kelasnya.
"Kamu bawa hp?" Tanya Gibran dingin.
"Nggak kak, hp nya ketinggalan di rumah, karna tadi buru buru," Jawab Yuki polos.
"Oh, berarti kalo gak buru buru bakal bawa hp?" Sahut Mita, keamanan galak.
"Nggak, soalnya bakal gak boleh^^ Aku harus jadi anak rajin biar pinter kayak Leon^^" Jawab Yuki malah tersenyum sumringah, membuat Rezel membelalakkan matanya kaget.
"Leon? Leondra? Kenapa kamu jadiin dia panutan?" Tanya Gibran lagi, membuat Rezel semakin panik takut Yuki membocorkan rahasia mereka berdua.
"Kenapa ya? Karna.... Leon itu hebat banget. Dia bisa hapal walau cuma denger, kalo nggak, cuma dalam 3 menit aja udah hafal. padahal cuma baca," Jawab Yuki sambil berfikir.
"Haaah... Yaudah,"
Rezel menghela napas lega. Hampir saja Yuki mengatakan sesuatu yang bisa membuat satu kelas buming karena ucapannya. Alex mengelus punggung Rezel yang bisa bernapas lega.
"Tenang, dia gak sepolos itu kok," Ujar Alex yang ingin tertawa.
Setelah Gibran dan bawahnnya pergi, Rezel mengambil ponselnya dan memainkannya lagi. Anak anak di kelasnya menatap rezel kesal, kenapa hanya dia yang tidak ketahuan membawa ponsel? Tapi mereka tidak bisa melaporkan Rezel begitu saja karena takut.
"Rezel hebat banget gak sih? Bisa bisanya hp gak keliatan ketua OSIS, keren..." Ucap Yuki kagum.
"Bukan cuma nipu OSIS, dia bahkan bisa mengelabui guru dan kepala sekolah," Jawab Laras berbisik.
"Ooh.... sodara ipar yang keren,"
Jam pelajaran pun dimulai...
Bahasa inggris, adalah musuh Yuki. Ia sama sekali tidak menyukainya, ia tidak suka bahasa inggris terlebih harus menghafal rumus dan vocab.
Karena mengantuk, akhirnya ia tertidur dengan menaruh kepalanya di atas meja dan tangan sebagai bantalnya.
"Miyuki Oceanna Puri!"
Deg!
"Siap pak!" Jawab Yuki yang tiba tiba bangkit dari tidurnya dan berdiri begitu saja. Satu kelas menertawakannya, dan rezel menggelengkan kepalanya, bisa bisanya ia punya adik ipar yang seperti ini. Ia pun mengambil foto Yuki lagi dan mengirimkannya ke Leon.
"Kamu malah tidur! Keluar!"
"Peegeelll..." Keluh Yuki sambil memegang pinggangnya, ditambah nyeri haid yang membuatnya semakin sakit.
"Sumpah! Ci bapak buat kesel aja, udah tau hati ini mulai menerima bahasa inggris, tapi bapak malah gitu. Bikin aku nambah gak suka inggris, huuhh..." gumamnya lagi.
Sampai jam istrirahat tiba...
Yuki akhirnya bisa masuk ke kelas dan kembali menempel dengan meja yang tadi.
"Yu, kita ke kantin. Lu pasti mau bakso kan?" Ajak Laras padanya.
"Kalian aja... aku sakit..." Lirih Yuki lemas.
"Sakit?! Sakit apa?!" tanya Laras panik. "Hiks, sakit haiddd... huaaaaaa!!! Sakit banget sumpah! Gak boong," Jawab Yuki meringis kesakitan sambil memegang perut bawahnya.
"Ampun... kedatangan si merah? Gimana dong? Gue gak bisa ngapa ngapain," Jawab Laras juga.
"Gak papa, aku cuma perlu bobo bentar, nanti juga ilang," Ucap Yuki sambil tersenyum.
Rezel kembali membuat laporan pada Leon bahwa Yuki sakit haid. Karena tidak kuat mengetik lagi sebab pusing, akhirnya ia menelpon Rezel langsung.
"Beliin aja susu... sama roti... dia belum... sarapan..." Ucap Leon dengan napas yang memberat.
"Cil? Asma loe kambuh lagi?" tanya Rezel khawatir.
"Hm, tadi sempet... Cepet beliin dia susu sama roti..."
"Susu apa? Gua gak tau,"
"Susu uler,"
"Lah?! mana ada susu uler?! ngaco lu," Jawab Rezel kaget.
"Susu beruang oncom, masa lu gak ngerti juga ah... bikin gua makin bengek..."
"Bilang kek dari tadi, bear brand gitu,"
"Iya... cepetan... kasian..." jawab Leon sambil mengakhiri percakapannya dengan Rezel.
Leon benar benar pusing, ia tak bisa kemana mana, bahkan jika ingin pergi ke kamar mandi saja harua berpegangan pada tembok agar tidak jatuh. Ia pun meremas dada kanannya dan mencoba mengatur napasnya lagi.
"Huuh... gua gak boleh ngerepotin Zel lagi... apaagi Miyu... Huuh... Huuh... Huuh..."
Keadaannya semakin buruk saja. Daripada nanti ke rumah sakit, mending ia tidur kan lagi saja agar mengurangi rasa sesaknya. Penyakit jantungnya lah yang membuatnya semakin lemah. Penyakit jantung yang awal mulanya dari rezel, karena terikat batin, keduanya jadi mempunyai penyakit yang sama. Begitu juga Rezel, walaupun begitu, ia juga terkadang sering merasakan sesak seperti asma, begitulah ikatan batin yang terikat antara mereka.
"Nih, susu beruang dan roti, buat loe." Ucap Rezel ketika memberikan makanan itu untuk Yuki.
"Eh?! Gak papa kok,"
"Ini atas permintaan Leon, lu gak bisa nolak. Loe juga sakit haid kan? Ini mungkin bisa ngeredain," Jawab Rezel lagi.
"Lho? Kok Zel tau kalo aku sakit haid?" Tanya Yuki heran.
"Satu kelas tau kalo loe sakit haid, loe tadi teriak bege," jawab Rezel tak habis pikir.
"Ehek, gitu ya? Tadi aku teriak?"
"Cepet makan,"
"Gimana yeon sekarang?" Tanya Yuki sambil memotong roti menjadi dua dan membaginya kepada Rezel.
"Katanya udah baikan, nanti gua mau kesana,"
"Ini, terima rotinya." Kata Yuki padanya.
"Nggak usah, gak papa," Tolak Rezel pelan.
"Gak boleh nolak rezeki lho, pamali," jawab yuki agak kesal.
"Makasih lah," Ucap Rezel sambil menerima roti itu yang membuat Yuki tersenyum senang.
'Manis... Kok bisa bisanya si Leon belom kepincut sama ni cewek?' batin Rezel yang menatap Yuki, Yuki kembali tersenyum padanya.
Bersambung...