My Cold Friend Is My Husband

My Cold Friend Is My Husband
Chapter 31. Maaf~



Deg!


Tentu saja Leon kaget setelah mendengar pernyataan dari Yuki bahwa ia akan menjauhi Leon mulai sekarang? Ia sadar ada kesalahpahaman di antara mereka.


"M,miyu... B,bukan gitu..." Kata Leon yang berusaha menahan Yuki pergi, tapi Yuki tetap berlari menjauhi Leon.


"Itu... Salah paham..." Gumam Leon kemudian.


Alex merangkulnya dari belakang dan berusaha menyemangatinya agar Leon tidak terlalu mempermasalahkannya.


"Semangat. Gua yakin loe bisa cari solusinya, gak usah sedih kek gitu," ucap Alex sambil tersenyum, tapi sepertinya Leon sudah berkaca kaca, ia pun menyeka air matanya agar tak terlihat Alex.


'Yah... Leon nangis,' Batin Alex yang hanya tersenyum tipis.


"Kapan ya? Terakhir kali gua liat loe nangis?" Tanya Alex kemudian.


"Gua gak nangis," Jawab Leon ketus.


"Dah, gak usah boong. Loe gak usah nahan nahan kalo mau nangis, loe boleh nangis sepuasnya, semau loe, gak ada yang larang cowok buat nangis. Kadang cowok juga butuh nangis, gua gak akan pergi sebelum loe berhenti nangis. Kalo loe mau, gua bisa jadi sandaran loe," Ucap Alex sambil mengusap punggung Leon, yah... Sekuat apapun ia, jika orang tersayangnya seperti itu, tentu saja ia akan menangis.



Tidak ada yang tahu penyebab Leon menangis kecuali Alex. Alex jadi kesal pada Yuki yang tiba tiba meninggalkan dan menjauhi Leon, Ia berjanji akan menasihati Yuki dan mengatakan pada Yuki bahwa Leon menangis, mungkin itu bisa menjadi alasan agar Yuki kembali padanya, tapi dipikir pikir juga... Konflik rumah tangga mereka memang agak rumit, begitu kata Alex.


Setelah agak tenang, Air memberinya inhaler karena ia merasa Leon sesak, terdengar dari suara mengi nya, sepertinya Leon sudah menahannya dari tadi.


"Lu gak papa? Kita istirahat aja ya? Gak usah ikut buat yang ini, nanti yang ada asma loe makin jadi." Ucap Air menenangkan Leon. Leon menggelengkan kepalanya, ia akan tetap melanjutkan acara ini sampai selesai.


"Ahahaha, gua jelek banget. Jangan liat gua," Jawab Leon berusaha menutupi wajahnya, Air juga tertawa melihatnya malu malu kucing begitu.


"Kalo lagu selanjutnya... Loe cuma duduk aja, lagunya slow kok. Slowmotion, orange sama Its okay. Jadi gak akan capek amat, "


"Yah... Thanks ya," ucap Leon lagi oada Air, Air hanya memberinya dua jempol sambil tersenyum.


Setelah beberapa tampilan, akhirnya mereka tampil untuk yang kedua kalinya. Semuanya nampak biasa saja, sampai Leon kembali terbatuk batuk lagi. Jiho langsung naik ke atas panggung dan membawa Leon turun ke bawah, jadi haru terpaksa mengambil alih part milik Leon.


Yuki yang sedari tadi hanya menonton akhirnya pergi ke belakang panggung. Ia sadar kalau ternyata ia tak dapat meninggalkan Leon sendirian, ia juga sadar kalau ia sudah menyayangi Leon. Dengan obat obatannya, ia berlari menghampiri Leon yang kemungkinan besar asma nya kambuh. Ia nampak tersengal sengal dan kesulitan bernapas, seolah udara di sekitarnya hilang.


"Haah... Haah... Haah..." Leon berusaha mengatur napasnya. Yuki juga merogoh inhaler milik Leon di sakunya dan mengocoknya, ia langsung menghubungkan mouthpiece pada mulut Leon, tapi Leon malah berhenti menghirupnya dan malah memalingkan wajahnya.


"Kenapa gak di isep?! Loe mau mati hah?! Cepet hisep!" Bental Rezel yang membuat Yuki sedikit tidak nyaman karena membentak Leon di saat saat begini. Rezel ikut turun dari panggung di lagu kedua karena khawatir pada Leon juga.


"Haah... Haah... Bukan... Yang itu... Haah... Haah..." Rintih Leon pelan.


Yuki agak mengernyitkan dahinya dan memeriksa kalau ternyata ia salah. Ia salah mengambil inhalernya karena terburu buru.


"Miyu! Haah... Haah... Haah..." Tentu saja Yuki menoleh tatkala Leon memanggilnya.



"Kenapa loe terus ngehindar...? Bahkan gua lagi kambuh pun loe masih bisa ngehindar...? Loe gak suka sama gua karna gua gak jujur sama loe...?" Ucap Leon sekuatnya sampai ia memukul dadanya agar bisa berbicara dengan Yuki.


"Yon, jangan di paksain ngomong kalo gak kuat," Bujuk Rezel mendadak lembut kembali.



"Gua gak bisa kayak gini terus... Gua... Hosh... Hosh... Hosh... Gua gak nyaman kalo loe ngejauh terus... Gua janji... Gua bakal jujur kalo loe... Mau tetep disini... Hosh... Hosh... Hosh..." Leon bahkan tak mendengarkan ucapan Rezel.



"Gua gak mau ditinggalin... Cuma itu alesannya, gua sengaja nyembunyiin penyakit gua biar loe gak ninggalin gua, biar loe tetep mau ada di sisi gua,"


"Gua janji... Mau jadi yang terbaik... Gua janji mau jujur tentang semuanya.... Uhuk uhuk! Hosh! Hosh! Hosh!" Napasnya kini memburu lebih cepat dari yang tadi, Leon sudah tidak bisa berkata kata lagi. Jika yuki tidak mau tetap bersamanya, sudahlah, Leon sudah pasrah.


Jiho dan Rezel menepuk nepuk pipi Leon agar Leon tidak tertidur dan tetap sadar, ia benar benar sudah lemas sekali, bahkan tubuhnya sudah tidak bisa ia kendalikan. Di tengah ia benar benar akan tidur sepenuhnya, sebuah pelukan datang, ia masuk ke dekapannya.


Ia melihat senyum seseorang yang terukir di bibir kecilnya. Leon pun ikut tersenyum tipis melihatnya kembali.


" Maaf..."


"Yeon, yeon gak boleh bobo ya? Ambulan bentar lagi dateng, kamu harus kuat ya? Aku gak bakal ninggalin kamu, sampe kapan pun," Ucap Yuki menangis, ia tak bisa melihat Leon seperti ini lagi.


"Makasih..." Ucap Leon terbata sambil mengeratkan genggamannya.


Tak lama dari itu, Leon benar benar tak sadarkan diri. Ambulan datang mengangkut Leon ke rumah sakit. Yuki diizinkan ikut untuk menemani Leon menuju rumah sakit. Masker oksigen terus terpasang di wajah pria tampan itu sampai mereka tiba di rumah sakit. Bankar terus di dorong menuju ruang UGD.


Yuki berharap Leon baik baik saja. Padahal ini baru satu hari mereka tidak berbicara, tapi Leon sampai begininya karena hal itu.


Yuki juga menelpon kedua orang tuanya, memberi tahu kalau Leon masuk rumah sakit. Bunda segera pergi ke rumah sakit tanpa memikirkan kalau pekerjaannya juga masih menumpuk, demi Leon, apapun itu akan ia korbankan, bahkan tamu istimewa sekali pun.


Setelah sampai disana, kebetulan pemeriksaan juga baru saja selesai. Yuki kembali memeluk Bunda karena takut kalau keadaan Leon cukup serius.


"Keadaan Leon hari ini memang lebih parah dari sebelum sebelumnya, entah itu memang dari aktifitas yang berlebihan, atau memang faktor pikiran. Selain itu, jantungnya kembali melemah, detak jantungnya sempat tidak normal karena ambulan terlambat membawanya kemari. Kalau dipaksakan lagi, jantungnya bisa mengalami gagal jantung, jadi saya sarankan jangan sampai melakukan aktifitas yang lebih berat lagi," Jelas dokter pada Bunda dan Yuki.


"Yuki minta maaf bunda, Yuki gak bisa jagain Leon. Yuki juga salah karena udah interogasi Leon sembarangan tanpa tau kalo leon emang gak baik baik aja, maapin Yuki bunda..."


"Kamu gak salah sayang, Leon emang udah lemah dari kecil, jangan nangis lagi ya? Mending kamu jengukkin Leon ke dalem, ya? bunda nunggu ayah dulu, baru ikut masuk," Jawab Bunda sambil menyeka air mata menantunya, dan Yuki memgangguk mengerti dan mengucapkan terimakasih.


Bersambung...