
Ketika sedang berjalan menuju tempat latihan, Leon melupakan sesuatu. Bahwa obat obatan milik dirinya berada di atas kasur, karena sebelumnya ia sempat kesulitan mencari inhalernya.
"Zel... Gimana dong? Miyu bakal tau semuanya," Ucap Leon takut, sebenarnya Rezel kasihan pada Leon karena ia hanya takut ditinggalkan. Tapi disisi lain Rezel juga merasa kalau Yuki harus tahu semuanya.
"Gak gimana gimana Yon, lu percaya sama Yuki?" Tanya Rezel sambil memegang kedua bahu Leon, Leon hanya mengangguk pelan.
"Kalo percaya, seharusnya sebagai suami, loe harus kasih tau semuanya tentang diri loe ke istri loe. Kalo loe kayak gini terus, nanti Yuki malah nganggep nya dia gak berguna buat loe, nanti dia kecewa karna dikira gak bisa apa apa. Pokoknya... Loe jelasin dengan tenang dan baik, gak akan kenapa napa kok. Gua udah yakin sama Yuki, dia gak salah jadi istri loe," Jelas Rezel, ia mengusap rambut hitam Leon agar menenangkannya. Leon hanya tersenyum tipis dan kembali melanjutkan jalannya bersama Rezel.
Setelah puas berlatih dan semua lagu sudah lulus uji coba dari Jiho, mereka dinyatakan bisa melanjutkan lagi terakhir. Jiho nampak senang melihat Haru yang walaupun sangar tapi hati hello kitty nya tidak berubah.
Jiho yang mengubahnya seperti itu. Jiho juga melihat Leon yang nampak tidak tenang daritadi. Sebagai murid sekaligus ketua kelas yang baik dan ramah, tentunya ia harus tahu permasalahan temannya kan?
"Kenapa nih? Jenuh mulu daritadi, gak semangat lagi," Tanya Jiho yang duduk di sebelahnya, tentu saja Leon mendelik padanya karena belum terlalu dekat dengannya.
"Duh... Pengen cubit tu mata^^ Gua tau loe kayak gini karna gak terlalu kenal ama gua kan? Tapi, Semoga kedepannya loe mau lebih kenal ama gua, gua juga pengen akrab sama loe," Ucap Jiho lagi padanya, ia terkesan cuek sekali, padahal saat mengajukan Haru, ia yang paling bersemangat.
"Ya," Jawab Leon begitu, Jiho kudu sabar jika ingin berteman dengan Leon, karena Leon mempunyai rahasia besar yang membuatnya sangat ingin mengetahuinya.
Setelah berlatih satu kali, Leon meminta untuk beristirahat sejenak. Tapi Jiho menawarkan untuk beristirahat di rumah saja, mengenai kondisi Leon saat ini, tidak memungkinkan untuk melanjutkan latihan yang tadi.
"Pulang aja nih?" Tanya Rezel padanya.
"Gua gak enak hati, makannya harus cepet cepet pulang," Jawab Leon gelisah, terlihat jelas jika Leon gelisah, karena ia terus menyeka keringat nya yang mengucur begitu saja.
"Yaudah, rumah udah nyampe tuh,"
Rezel hanya bisa mengantarkannya ke depan rumah karena sudah di jemput pak agus. Leon melambaikan tangannya pada pak agus dan berjanji akan bertemu dengannya saat sampai di rumah Brady.
Ia pun menghela napas panjang sebelum akhirnya masuk ke rumahnya. Ia melihat Yuki yang tengah asyik menonton tv dan tidak menyadari Leon sudah pulang.
"Eh? Yeon, kamu udah pulang? Sini sini, makan buah sama aku," Ajak Yuki padanya, seperti biasa, tidak ada yang mencurigakan darinya, tapi Leon punya firasat buruk tentangnya.
"I,iya, b,bentar." Leon pun melepas sepatu dan maskernya lalu menghampiri Yuki disana, duduk bersama Yuki disana.
Tampaknya baik baik saja, sebab Yuki tidak menanyakan apapun padanya. Atau... Yuki memang belum mengecek kamarnya dan belum menemukan obat obatan nya?
"Y,ya. Gitu aja, kayak biasa," Jawab Leon kaku.
"Kamu kenapa Yon? Kamu sakit?" Tanya Yuki menatapnya, Leon mengalihkan pandangannya agar tak menatap Yuki. Terlalu takut untuk berkata jujur padanya.
Pulang aja nih?" Tanya Rezel padanya.
"Gua gak enak hati, makannya harus cepet cepet pulang," Jawab Leon gelisah, terlihat jelas jika Leon gelisah, karena ia terus menyeka keringat nya yang mengucur begitu saja.
"Yaudah, rumah udah nyampe tuh,"
Rezel hanya bisa mengantarkannya ke depan rumah karena sudah di jemput pak agus. Leon melambaikan tangannya pada pak agus dan berjanji akan bertemu dengannya saat sampai di rumah Brady.
Ia pun menghela napas panjang sebelum akhirnya masuk ke rumahnya. Ia melihat Yuki yang tengah asyik menonton tv dan tidak menyadari Leon sudah pulang.
"Eh? Yeon, kamu udah pulang? Sini sini, makan buah sama aku," Ajak Yuki padanya, seperti biasa, tidak ada yang mencurigakan darinya, tapi Leon punya firasat buruk tentangnya.
"I,iya, b,bentar." Leon pun melepas sepatu dan maskernya lalu menghampiri Yuki disana, duduk bersama Yuki disana.
Tampaknya baik baik saja, sebab Yuki tidak menanyakan apapun padanya. Atau... Yuki memang belum mengecek kamarnya dan belum menemukan obat obatan nya?
"Y,ya. Gitu aja, kayak biasa," Jawab Leon kaku.
"Kamu kenapa Yon? Kamu sakit?" Tanya Yuki menatapnya, Leon mengalihkan pandangannya agar tak menatap Yuki. Terlalu takut untuk berkata jujur padanya.
"Gak kok, gak sakit apa apa, jangan khawatir yang berlebihan, gak baik. Kenapa tiap gua masang wajah kayak gini loe suka nanya kalo gua sakit?"
"Kenapa coba? Karna wajah kamu itu nunjukkin kalo kamu gak baik baik aja^^ Sekarang... Mending kamu ceritain semuanya tentang kamu, hal yang aku gak tau. Aku juga mau jujur sama obat ini," Ucap Yuki sambil menunjukkan obat obatan milik Leon, ternyata ia sudah menemukan semuanya.
Mata Leon membulat sempurna tatkala melihat obatnya dipegang Yuki. Wajahnya menunjukkan rasa bersalah, kini ia hanya bisa tertunduk sambil menggenggam tangannya.
Yuki mengusap kepalanya dan memeluknya, sebetulnya ia kecewa karena Leon tak memberitahunya tentang kesehatannya.
"Yeon~ kamu gak boleh sembunyiin apa apa lagi dari aku, aku kan istri kamu, masa kamu gak percaya sama aku? Aku juga berhak tau semuanya tentang kamu, aku udah bilang kan? Aku, mau Yeon jujur, jangan ada yang ketinggalan, ya?" Ucap Yuki sambil tersenyum dan menggerai lembut kepala Leon.
"Maaf..." Hanya itu kata yang ia ucapkan, ia benar benar tidak siap jika harus bercerita, karna ia tidak mau ditinggalkan.
"Iya... Aku bakal maapin kamu kalo kamu cerita sekarang, oke? Oke dong... Harus semangat,"
"Maaf..."
"Iya, aku bakal maafin kamu-- Eh?!"
Yuki menyadari bahwa Leon tidak baik baik saja, napasnya tampak tersengal sengal di tambah suara mengi yang membuatnya semakin khawatir. Selain itu, Leon berkeringat lebih banyak dari biasanya, ia mencengkram dadanya kuat sambil sesekali memukulnya.
"Yeon! Kamu kenapa?! Bi... Bi Minah..." Panggil Yuki khawatir, bi Minah segera menghampiri dan terkejut melihat Leon seperti itu.
"Astaghfirullah! Den Leon!"
Kini napasnya lebih cepat dan dalam, membuat Yuki semakin panik dan takut. Leon memejamkan matanya sejenak sambil mencoba mengatur napasnya, Yuki juga membantunya menenangkannya sambil mengelus punggungnya.
"Hosh... Hosh... Hosh..."
'Gak papa... Gua gak papa, gua harus bisa ngendaliin ini... Jangan panik...' Batin Leon berusaha tenang.
"Yeon~ Jangan gini... Kamu kenapa?"
"Tenangin Yon... Tenang... Rileks..."
"Den Leon punya serangan panik dari kecil. Dia paling takut ditinggalin dan gak suka sendiri, mungkin den Leon panik karna takut non Yuki ninggalin den Leon," Jelas si bibi pada Yuki.
"Ditinggalin?"
Bersambung...