
Leon mulai meletakkan barang barangnya di lantai dan mulai membuka kain satu persatu. Ia memandangi ke sekitarnya, Ternyata tak seseram yang dibilang Rezel.
"Mau mulai bersih bersih nya?" Tawar Axel pada Leon.
"Sok,"
Mereka pun mengambil perlatan kebersihan, seperti sapu, pel, dan lain lain. Yuki memulainya dengan menyapu, sementara Alex dan axel sibuk mengelap kaca rumah, sementara Leon membuka kain dan mengecek semua perabotan rumah barunya.
"Caapeee..." Keluh Axel diluar.
"Yon, aku boleh gak nelpon Clara sama Laras buat bantu bersih bersih? Kayaknya gak akan cukup sekarang," Ucap Yuki meminta saran Leon.
"Sok," Jawabnya simple lagi.
Axel dan alex saling memandang satu sama lain. Sekarang sikap Leon sangat dingin dari sebelumnya, bahkan pada istri barunya sendiri.
Leon juga mengambil lap kain dan mulai ikut mengelap kaca jendela rumahnya. Leon menargetkan Ruang tamu, kamar mandi, dan kamarnya dulu yang dibersihkan. Biarkan sisanya besok.
"Udah, mereka lagi otw kesini, makasih ya Yon," Ucap Yuki senang.
"Ya,"
Rezel menepuk bahu Leon dan bertanya kenapa ia begitu lada Yuki. Jawabannya simple, hanya karena tidurnya yang kemana mana seperti bocil.
"Hah! Yaelah gitu doang? Lu ngambek?" Tanya Rezel tertawa.
"Lu gak tau?! Dia sampe nendang pantat gua! Gak enak tau gak..." Jawab Leon malu, wajahnya memerah karenanya.
"Hiya hiya. Gak usah ngambek lagi lah, gak baik kalo suami istri ngambek lama lama. Lagian, liat? Yuki lucu lho, dia manis." Ucap Rezel memandangi Yuki.
Sring!
Leon menatap Rezel dengan mata yang bak seperti singa itu. memperingatkan bahwa jangan dekat dekat dengannya. Walaupun Leon belum terlalu bisa menerima Yuki, tapi ia sudah berjanji bahwa suatu hari nanti ia akan mencintainya dengan tulus.
"Iya, gak akan gua rebut. Biasa aja kali ah," Ujar Rezel setelah mendapat tatapan maut dari Leon.
Kemudian, datanglah Clara dan Laras dengan segala kerandoman mereka. Mereka sangat senang bisa di undang ke rumah baru Yuki.
"Asik! Nanti maen kesini aja lah, jangan jauh jauh. Kalo jauh ntar suaminya nyariin," Ucap Clara meledek Leon.
"Buruan ganti baju, ato pergi." Ancam Leon setelah menghampiri Clara.
"Uuuhh... Gak tau kenapa sekarang gue ciut kalo sama loe. Gue takut," Jawab Clara sambil membawa kaosnya dan pergi. Yuki hanya tertawa menanggapi keduanya. Seperti anak kecil.
Setelah lamanya mereka beres beres, akhirnya mereka bisa duduk dan beristirahat. Yuki membawa air jus yang ia buat tadi saat semuanya tengah sibuk bersih bersih.
"Nih nih, diminum," Tawar Yuki pada teman temannya, ia juga menuangkan jus ke gelas milik Leon dan memberikannya.
"Nih, punya kamu." Kata Yuki sambil tersenyum.
"Ya, makasih." Jawab Leon menerima dengan senang hati.
Axel dan Laras melongo melihat mereka. Apakah sebelumnya Leon bisa begitu? Ia bahkan tak pernah menerima air minum dari orang lain.
"Wajar lah, dia kan istrinya," Ucap Laras sambil mengenyahkan pikirannya.
"Kalo gitu... Loe mau gak jadi istri gua?" Tanya Axel menggoda laras.
"Maaf, gue udah punya Devan. Kalo dia tau dia marah gede sama loe," jawab Laras menolak.
"Pawangnya Singa rupanya... Loe gak mau punya pawang kucing kek gua? Hm? Imut imut gini? hm? hm?"
"Ogah, gak mau ah." Tolak Laras mentah mentah.
"oke fine! kita musuhan!" Ketus Axel sambil memalingkan wajahnya dari Laras.
"Oke! Gak papa!"
Yuki dan teman teman yang lainnya tertawa karena drama yang dibuat Axel dan Laras. Bisa jadi mereka ini Queen and King drama di sekolahnya, tidak ada yang tidak menunjuk mereka sebagai pemeran antagonis dan protagonis pria. Makannya, jika mereka bercanda begitu, mereka tengah berakting, jadi jangan di anggap serius.
"Udah gelap, gua harus pulang." Ucap Alex sambil berdiri.
"Mau pulang sekarang?" Tanya Leon padanya.
"Hm, gua juga harus jemput adek gua di tempat les. Sorry gak bisa lama lama," Jawab Alex menyesal.
"Gak papa, Salamin ke Lintang. Makasih udah mau bantu," Ucap Leon sambil tersenyum tipis.
Alex pun meninggalkan teman temannya. Disusul Clara, laras dan Axel. Mereka juga hendak pulang setelah shalat maghrib, mereka tidak bisa menginap karena tidak mungkin juga mereka seenaknya di rumah Leon.
Keadaan sekitar kini menjadi sepi karena semua teman teman Leon dan Yuki sudah pulang, termasuk Rezel.
"Jadi sepi..."
"Iya, mau gimana lagi?"
"Yeon mau makan apa makan malam ini? Biar aku ke warung sekarang," Ucap Yuki menawarkan makan pada suaminya.
"Mau keluar? Kita cari makan aja diluar, siap siap," Jawab Leon sambil beranjak pergi menuju kamar.
"Beneran? Kita makan di rumah aja, kamu pasti cape abis bersih bersih tadi," Teriak Yuki dengan suara lembutnya.
"Bukan gua aja yang cape, loe juga cape, Biar instan dan loe gak perlu masak hari ini,"
Yuki hanya tersenyum menanggapi sikap Leon yang menurutnya sedikit hangat. Mungkin pelan pelan Yuki bisa merubah sikapnya.
Mereka pun jalan jalan keluar sambil mencari restoran terdekat dan tidak terlalu mahal. Walaupun kartunya black card, ia tidak bisa menghamburkan duitnya karena Yuki menyuruhnya hemat.
"Disini aja," Ajak Yuki sambil menarik tangan Leon dan masuk kedalam.
"Disini enak gak?" Tanya Leon dan diberi jempol dua jempol oleh yuki.
"Banget! Tadinya aku mau ngacungin empat jempol aku, tapi gak mungkin," Jawab Yuki sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal.
"Bener ya? Kalo gak enak, loe yang bayar."
"bentar! Aku lupa kamu pemilih makanan! Gimana dong? Aku gak bawa dompet... Aaah... Yeon... jangan gitu dong..." Rayu Yuki yang membuat leon gemas melihatnya.
"Iya, gak papa." Jawab Leon yang membuat Yuki kembali tersenyum sumringah.
"Gitu dong..."
Makanan pun tiba...
Untung saja Leon menyukai makanan yang ada disana. Ia tak terlalu pemilih kecuali dalam sayuran. Leon begitu lahap memakan makanan yang begitu masuk ke mulutnya. Yuki senang bisa melihat Leon begitu, tanpa ia sadari, ia menatap leon cukup lama.
"Kenapa? Gak seneng liat gua makan?" Tanya Leon mendelik.
"Hah?! Gak seneng darimana nya sih pak boss??? Liat nih, hm! Hm! Aku senyum... aku senyum liat kamu makan, aku suka liat mulut kamu yang menggembung kayak balon. Lucu tau gak?"
"B,bisa gak sih gak usah jujur jujur amat... bentar," Leon tiba tiba meneliti wajah Yuki.
"Kenapa?" Tanya Yuki heran.
Leon mendekatkan tangannya ke dekat sudut mulut Yuki. Yuki sadar dan memejamkan matanya karena tak berani menatap Leon lama lama.
"Ngapain pake tutup mata segala? Bersihin tuh, loe naro sisa makanan di sudut bibir loe buat sampe lebaran?" Tanya Leon datar.
"Eh?!"
"Liat nih, cemong. Muka loe cemong," Lanjut Leon sambil mengambil tisu dan mengelap sisa makanan di sudut bibir Yuki.
"Iih... Jangan gitu... Malu..." Gumam Yuki sambil menyentuh sudut bibir yang baru saja di lap Leon.
"Bukan drama korea, gak usah malu." Jawab Leon sambil melanjutkan makannya.
Setelah kenyang, Yuki mengajak Leon ke indomerit terdekat untuk membeli es krim. Ia memandangi banyaknya es krim yang tersusun rapi di sana.
"Mau juga?" Tanya Leon yang diberi anggukkan oleh Yuki.
"Beli, yang mana aja." Jawab Leon.
Yuki mengangguk mantap dan membeli dua es krim memakai uang Leon lagi. Ia memberikannya satu untuk Leon lalu berjalan menuju jalan pulang.
"Sekarang jam berapa ya?" tanya Yuki sambil mengecek ponselnya.
"Jam setengah sembilan, mau pulang aja?" Tanya Leon balik.
"Iya, capek. Pinggang aku sakit... encok sih ini..." Keluh Yuki sambil memegang pinggangnya.
Leon pun mengangguk setuju dan memilih untuk pulang juga. Mereka tidak menyadari bahwa ada yang memerhatikan mereka sedari tadi.