
Yuki masih melongo melihat kartu hitam itu. Ternyata benar benar punya kartu hitam, Yuki berkeringat dingin dan bingung bagaimana cara menukarnya menjadi duit. Leon masih menatap Yuki yang kebingungan, ingin rasanya tertawa melihat muka polosnya, tapi harus ia tahan.
"Cepetan," Titah Leon dengan wajah datar nya, Yuki sempat tersentak dengan perkataannya. "Ya, bentar dulu..." Jawab Yuki sambil menggenggam kartu itu.
"Jangan lama lama, bentar lagi masuk," Ketus Leon lagi.
Yuki benar benar bingung harus bagaimana, yang pada akhirnya ia menyerah dan mengembalikan kartu hitam itu.
"nggak papa lah... Biar aku dimarahin sama kak gilang lagi, daripada harus nukerin kartu item yang gak tau dimana tempatnya," Ucap Yuki sambil mengembalikan benda itu.
Leon sempat terkejut saat mendengar kalau yuki selalu dimarahi Gilang.
Leon pun merogoh sesuatu dari sakunya, ia mengeluarkan uang berwarna merah dan memberikannya pada Yuki.
"Abis ini gak usah nyariin gua lagi. Puas?" Ucap Leon dengan tatapan dinginnya.
"Eh? Kebanyakan,"
"Jatah buat BULAN depan," Jawab Leon sambil pergi meninggalkan Yuki dan Clara.
Masih terdiam...
ia memegang uang sebesar itu, walaupun hanya lima lembar, tapi membuatnya senang.
"kena mental gak tuh, hehehe... Akhirnya dapet bonus tambahan ya," Sahut Clara sambil merangkul Yuki keluar dari base camp itu.
"Iya, tapi maafin aku ya. Kamu jadi kena sindiran rezel,"
"Gak papa, udah biasa kok, santai..." Jawab Clara lagi.
Bel tanda masuk sekolah pun berbunyi...
Sebelum pelajaran bahasa indonesia dimulai, Pak Dhani merombak semua bangku dulu sesuai nomor urut absen.
DEG!
"Jangan bilang aku sebangku sama...
"Leondra arsenio, Miyuki oceana, duduk di bangku yang di tengah,"
'Tuh kan...' Batin Yuki pasrah.
Tadi ia mencari masalah dengan leon, dan sekarang ia malah satu bangku dengannya? Apa yang harus dilakukannya???
"mmm... maaf ya. Aku... Agak canggung gini, aku belum kenal kamu lebih deket," Ucap Yuki sebagai sapaannya.
"Yaudah, siapa juga yang nyuruh loe kenal gua lebih deket?" Tanya Leon ketus, membuat Yuki terdiam lagi. Mulutnya sangat tajam seperti pisau dan sepedas mie samyang, Begitu kata Yuki.
Akhirnya setelah perombakan selesai, mereka pun memulai belajar metode baru. Mereka harus bekerja sama dengan teman sebangku barunya untuk mengumpulkan tugas yang di berikan pak dhani. Jiwa ingin teriaknya meronta ronta. Bagaimana caranya ia bisa bekerja sama dengan anak yang jelas jelas dinginnya minta ampun?! Ingin menangis rasanya, tapi tidak bisa.
"Mohon kerja samanya ya Leon. Aku baru pertama kali kerja kelompok gini," Ucap Yuki malu malu, namun tak ada jawaban yang terdengar dari Leon. Akhirnya Yuki di abaikan lagi.
Rezel pun memerhatikan Yuki dan Leon lalu tersenyum tipis. Bisa bisanya sekarang malah sebangku abis cari masalah, pikir Rezel. Leon tidak akan bisa berbicara full ketika bersama orang yang tidak ia kenal. Makannya ia begitu, Sedangkan kembarannya jauh dari pandangannya.
Sekarang mereka bertugas membuat puisi dan satu orang perwakilan yang maju ke depan untuk presentasi dan menjelaskan makna tersebut.
"loe maju, gua bikin." Kata Leon dengan cepat.
"eh?! bentar! belom di rencanain! kenapa maen gitu aja? gak mau ah," Tolak Yuki dengan cepat, dan Leon hanya menatapnya seolah kesal padanya.
"Y,yaudah. Aku maju, tapi harus bagus lho puisinya," Ucap Yuki yang takut pada Leon.
"Loe kira gua siapa? Sampe nge-harusin buat bagusin puisinya?"
Dengan cepat, Leon pun menuliskan beberapa bait puisi dengan serius. Wajahnya yang serius itu membuat yuki berpikir bahwa laki laki ini sedikit manis, ya... Walaupun menyebalkan juga.
"Haaah..." Leon menghela nafasnya setelah selesai menuliskan puisi itu. "Ambil nih," Kata Leon sambil memberikan selembar kertas.
"hm?"
"Aku tau aku suka bawel nagihin uang kas ke kamu, tapi aku bukan koruptor,"
"Yang bilang loe koruptor siapa? Emang gua sebutin kalo Miyu adalah seorang koruptor? Nggak kan?" Tanya Leon ketus.
"i,iya sih..."
"Pokoknya pikirin apa yang mau loe omongin didepan, gak usah banyak banyak yang penting maknanya dalem," Lanjut Leon sambil menempelkan kedua tangannya di atas meja.
'Apa yang dibuat si Eon ya? Dia kan suka ngasal,' Batin Rezel khawatir saat melihat Yuki marah marah padanya.
Tinggal menunggu giliran saja ia maju kedepan, walaupun gugup bagaimana cara mengekspresikannya, Yuki akan berusaha agar menyenangkan hati teman sebangkunya.
Akhirnya, tiba lah gilirannya. Yuki membaca puisi itu dengan menghayati dan emosi ketika ada kata sesuatu yang bertanda seru. Leon tersenyum miring mendengar betapa suara Yuki yang menggelegar menyebutkan nama "Koruptor" Itu. Keren bukan? Ia menyindir para guru dan karyawan ayahnya yang menggelapkan duit keluarga nya.
"Jadi... kesimpulannya... Kalo kalian di percaya megang duit yang banyak, dan sekiranya gak bisa gantiin, jangan sampe korupsi, mending langsung minjem aja... Ya? Sekian puisi saya hari ini,"
PROK PROK PROK...
Yuki mendapatkan tepuk tangan yang lebih meriah daripada orang orang yang sebelumnya. Ia lalu berjalan menuju mejanya dan tersenyum senang pada Leon.
"keren! puisi kamu bikin orang merinding lho Ki,"
"kamu ngarang itu darimana? padahal yang lain gak kepikiran ke sana lho,"
"eh?! bukan aku kok... Yang bikin Leon, makannya puisi nya menguras emosi banget, karena yang bikinnya juga emosian^^" Ya ampun, berani sekali yuki bilang begitu di depan leon. Leon kembali menatapnya dingin, kapan dia emosi? dia tak pernah emosi sama sekali!
Akhirnya jam pulang pun tiba...
Seperti biasa, Leon dijemput kang sopir yang sudah lama bekerja di rumahnya. Sedangkan rezel harus mengikuti eskul basketnya dulu, jadi tak bisa pulang bersama.
"Gimana harinya Eon?" Tanya Pak sopir bernama Agus.
"Baik baik aja pak. Hari ini Leon bikin puisi tentang koruptor, harus di pajang sih di wajah mereka biar nyadar, bisa bisanya nggelapin uang ayah," Jelas Leon sambil bercerita panjang, kalau sudah dekat, dipastikan deh Leon bakal berubah jadi hangat dan bawel, bahkan manja pula!
"Ooh... Bikin puisi toh... pasti bagus, Eon kan udah sering lomba puisi,"
"Nggak tau, katanya gitu sih. cuma... ya udah leon acuh aja. gak ada yang seru di kelas, gak ada gelud pak," Ucap Leon cemberut.
"eeeh, kalo ada yang gelud lagi eon yang kena lho, udah. Mending damai aja... ya? Sekarang mau ke rumah sakit ato langsung pulang?" Tanya Pak agus kemudian.
"Pulang aja pak, Leon sehat kok," Jawab Leon sambil tersenyum.
"Yaudah... Kita pulang ya?"
Pak agus pun kembali fokus ke jalanan. Dan sampai rumah...
Apa yang terjadi???
**Bersambung...
Bonus poto hari ini!!!
Leondra arsenio brady**
Rezel Arsenio Brady