
"What the-- Klean nikah?! Bukan cuma sekedar pacaran?!" Tanya Air yang bermain ke rumah Leon bersama sama.
"Ya, kita udah nikah," Jawab Leon yang menyajikan biskuit dan beberapa snack beserta minuman dingin.
"Ehehehe... Lu keliatan seneng banget, selamat ya. Tapi gua sakit hati nih, klean gak ngundang gua waktu nikah," Keluh Air sedih.
"Ya gimana kita mau ngundang kalo elu nya masih di jerman hah?!" Sahut axel angkat suara.
"Lagian kita gak rame rame amat kok, cuma temen deket sama keluarga juga," Jawab Alex juga.
"Keliatannya loe seneng banget ya?" Tanya Air lagi padanya.
"Yaiyalah, gimana gak seneng? Dapet istri cantik, imut, tanggung jawab, sabar lagi. Lucky banget kan dia?" Sahut Rezel senang. Ia adalah laki laki yang menganggumi Yuki.
"Aku siapin makan dulu ya? Mau ke pasar bentar, kalian sok aja, makan snack yang ada," Ucap Yuki yang izin pergi keluar.
"Gua anter," Jawab Leon sambil beranjak dari duduknya.
"Gak papa yon, pasar deket kok,"
"Pasar emang deket, tapi panas." jawabnya lagi.
Akhirnya Leon mengambil kunci motor nya dan mengantarkan Yuki ke pasar. Yuki pelan pelan mulai berani memeluk Leon walaupun masih takut Leon tidak suka. Tapi ternyata responnya biasa saja, bahkan Leon sendiri yang menyuruhnya memegang nya.
"Mau beli apa sekarang?" Tanya Leon padanya.
"Apa ya? Kamu maunya apa buat makan sekarang?" Tanya Yuki balik.
"Ya terserah, gua mah apapun jadi," jawab Leon acuh.
"Kata bunda kamu orangnya pemilih, gimana dong? Aku takut salah beli,"
"Gak papa, gua bakal biasain makan makanan yang loe buat, gua janji gak akan jadi pemilih lagi," Ucap Leon yang membuat Yuki senang. Akhirnya suaminya ini mau menurut padanya.
Yuki pun menggandeng tangan Leon masuk ke pasar. Sebenarnya Leon tak terbiasa pergi ke pasar, ia lebih baik menunggu di rumah dan menunggu masakan siap. Tapi kan sekarang berbeda, kemana pun Yuki pergi, ia harus ikut dan sudah berjanji akan melindunginya, apapun resikonya.
"Kamu jijik ya? Kamu gak biasa masuk pasar?" tanya Yuki yang menyadari bahwa Leon terus menghindari orang yang lewat.
"Nggak jijik nggak, gua mah ... gak jijik-an..." jawab Leon ragu, ia terus melirik sana sini.
"Hahahaha, sekarang aku ngerasain sikap kamu beda deh," Ucap Yuki sambil meraih kepala Leon.
"Beda? Maksud loe?" Tanya Leon bingung, ia tak sadar kalo Yuki terus mengelus kepalanya.
"Es nya udah cair," Bisik Yuki di telinga Leon, suara lembutnya mampu membuat Leon terdiam dan tanpa ia sadari telinganya memerah.
"Oooh.. jadi selama ini loe anggap gua es gitu? Loe beneran anggap gua es? Loe gak anggap gua manusia malah nganggap gua es?" Tanya Leon bertele tele.
"Lah?! Kamu gak tau istilah 'Es cair' rupanya...? Kamu polos banget... jadi makin gemez liatnya tau," Jawab Yuki sambil mencubit cubit pipi leon.
"Neng, sayurnya jadi di beli gak? Daritadi saya liat mesra mesraan terus," sahut si pedagang sayur.
"I,iya iya. Jadi bu, jadi." Jawab Yuki malu.
"Cih, ganggu aja..." Gumam Leon sedikit kesal.
Setelah selesai berbelanja, mereka tidak langsung pergi ke rumah, tapi pergi ke super market terdekat juga untuk membeli keperluan yang lainnya.
Kesalnya si Leon ini, Yuki malah berpencar dengannya mencari keperluan lainnya. Leon benar benar harus mencarinya, tidak mungkin ia meninggalkan Yuki di supermarket sendirian.
"Malah ilang... Gua kudu cari kemana lagi tu anak?" Gumam Leon sambil terus celingak celinguk mencari Yuki.
Tiba tiba saja keadaan menjadi riuh, Leon dikerumuni ibu ibu yang siap menyerbu diskon, dan sialnya, posisi Leon sedang berada disana.
"A,aduh... Gimana caranya gua keluar???" Gumam Leon yang berusaha mencari jalan keluar.
"Haah... Haah... haah..." Leon berusaha mengatur napasnya pelan pelan. Ia membuka sedikit maskernya dan terus meminta jalan agar bisa keluar.
Akhirnya dengan sekuat tenaga, ia berhasil keluar dengan usahanya menerobos ibu ibu itu.
"Aaahhh... Haah... haah... haah... sesek banget... haaah... haah.. " Keluh Leon sambil memegang dadanya.
Setelah selesai mengatur napasnya, ia kembali mencari Yuki di sekitaran, ia benar benar sudah lelah mencari Yuki di tempat besar itu. Saat sedang mengotak atik ponselnya, seseorang memanggil namanya dengan suara khasnya.
"Yeooonnn~~"
Leon Menoleh dan mencari si pemilik suara itu yang kini cengengesan memerhatikannya.
Yuki tertawa dan cepat cepat menghampiri Leon yang sepertinya kesal padanya. Ia pun kembali menggandeng tangan Leon dan mengajaknya pulang, tapi Leon tak mau melangkah sampai mendapat pernyataan darinya.
"Yaudah iya... Maapin aku. Tadi aku ke asyikan liat gelas gelas lucu, bando, peralatan dapur, semuanya lucu lucu." Ucap Yuki agar Leon tidak marah lagi.
"Loe gak tau? Tadi gua kejebak di antara ibu ibu, gua takut... Gua gak bisa keluar tadi," Keluh Leon yang menaruh kepalanya di bahu Yuki.
"Iya iya... Aku bener bener minta maaf sama kamu, sekarang kita langsung pulang ya? Gak baik juga buat kamu yang baru sembuh jadi sakit lagi gara gara kepanasan," Jawab Yuki sambil menepuk nepuk pelan kepala Leon.
Akhirnya mereka pun bisa benar benar pulang ke rumah. Yuki menceritakan bahwa ia bekerja magang di sebuah caffe dan sudah bolos kerja selama seminggu, Leon terkejut dengan apa yang dilakukannya.
"Kenapa loe magang? Siapa yang nyuruh loe magang?" Tanya Leon sinis, dari nada nya Yuki tahu kalau Leon tidak suka.
"Eh nggak... Maksud aku, aku tuh dulu magang sebelum nikah sama kamu, tapi sekarang udah gak pernah kerja lagi, aku kan sibuk di rumah." Jawab Yuki mencari alasan.
"Dimana caffe nya?" tanya Leon dingin.
"Deket kok, belok kiri, lurus, nyampe deh," Jawab Yuki polos.
Leon segera membelokan motornya sesuai arahan Yuki tadi dan tidak terasa sampai di caffenya. Ia segera turun tanpa bilang apa apa pada Yuki, tapi Yuki menahannya sebentar.
"Mau apa? Kalo mau minum, aku bikinin sekarang,"
"Mau bilang kalo kamu mengundurkan diri dan gak boleh magang di caffe lagi," Jawab Leon menatap yuki tajam.
'Kamu? Barusan leon bilang "kamu" ya ke aku?' Batin Yuki senang.
"Y,yaudah. Hayu, masuknya bareng aku," Jawab Yuki sambil menawarkan berpegangan tangan lagi bersama Leon.
Mereka pun masuk bersama sama dan menghadap si manager caffe. Yuki menjelaskan maksudnya datang kemari dengan alasan mengundurkan diri.
"Kenapa...? Padahal saya gak marahin kamu, saya juga gak mecat kamu walaupun bolos seminggu, jangan ya? Jangan mengundurkan diri ya...?" Bujuk manager caffe dengan wajah memelas.
"Mmm.. Gimana ya...? Ehehe... saya gak bisa nolak permintaan Leon bu ..." Jawab Yuki sambil melirik Leon.
"Kenapa? Kenapa kamu nggak bolehin Yuki kerja lagi disini? Kinerja nya bagus, bisa narik pelanggan lho," Ucap Manager pada Leon.
"Ngga bisa, saya gak bisa biarin Miyu kerja lagi, Nanti... Nanti... Nanti waktu sama saya nya jadi sedikit... uhuk," Jawab Leon malu, wajahnya memerah di balik Masker.
"Oalaah... pacarnya cemburu toh... Pacar kamu perhatian banget ya...? Yaudah kalo gitu deh, saya gak bisa nolak permintaan pacar kamu. Saya ngerti kok, jangan sia sia-in masa muda ya? Kapan lagi coba kalian bisa kayak gini lagi?"
"Ehehe... iya bu..." Jawab Yuki ikut malu.
Setelah selesai, mereka pun akhirnya bisa benar benar pulang. Ucapan Leon masih terngiang di pikiran Yuki. Apa benar gara gara ia tak bisa menghabiskan waktu nya bersama Leon?
"Diem diem kamu so sweet ya yon?" gumam Yuki pelan, ia semakin mengeratkan pelukannya pada Leon.
Bersambung...