
Setelah letihnya berlatih selama satu minggu dan Leon tidak punya banyak waktu bersama Yuki, Akhirnya mereka di undang acara makan malam bersama Bunda dan Ayah di kediaman Brady.
"Inget, Jangan pake baju pendek. Gua gak suka," Ucap Leon mengingatkan.
"Iya iya, lagian makan malemnya masih lama kok... Aku pengen liat kamu nyanyi sama dance." Jawab Yuki memohon.
"Nggak," Tolak Leon mentah mentah.
"Kenapa iih...? Aku nggak liat latihan kamu karna sibuk ngedekor," Ucap Yuki mengeluh, ia menyesal karena tidak melihat Leon menyanyi.
"setidak nya nyanyi satu lagu... Aja. Ya? Masa gak mau liatin ke aku sih...?"
"Kalo gua liatin sekarang, Bukan suprise namanya." Jawab Leon lagi. "Ya biarin dong, biar aku tau duluan daripada Jiho dan yang lainnya, ayo ayo." Pinta Yuki paksa.
"Haaah! Daripada gitu, anterin gua ke apotek," Ajak Leon padanya.
"Kenapa emang?! Kamu sakit apa yon? Biar aku beliin biar kamu gak cape cape kesana. Kamu kan lemah," Ejek Yuki padanya, membuat Leon semakin geram padanya.
"Gua kesel ya kalo diledek kayak gitu, Abis pulang dari rumah bunda, jangan harap tidur di kamar." Ancam Leon pergi meninggalkan Yuki.
"Eh eh? Jangan gitulah Yeon... Aku sayang kamu kok. Jadi jangan marah ya? hayu hayu, kita pergi bareng," Ucap Yuki yang meraih tangan Leon yang membuat Leon tersenyum tipis karena senang.
Sebenarnya tujuan Leon bukan ke apotik, tapi pergi ke toko baju dan tempat yang ingin di kunjungi istri kecilnya itu. Ia menggenggam tangan Yuki dengan erat, membuatnya senang untuk sekarang sebagai ganti satu minggu kemarin karena kesibukan Leon latihan.
"Jadi aslinya kita mau kemana?" Tanya Yuki padanya.
"Ke apotik nya belakangan aja. Kita pergi ke tempat yang loe mau," Jawab Leon yang membuat Yuki senang. Tanpa sadar, ia memeluk Leon dan mencium pipi lembutnya dengan manja.
"Makasih! Makasih banget! padahal udah berduaan sama kamu kayak gini aja udah bikin aku seneng," Ucap Yuki yang dekat sekali dengan Leon. Leon memerah karena terlalu dekat, ia pun menjauhkan Yuki darinya.
'Jantung gua! Hoohh...! Loe yang bikin gua jantungan, Gua kudu hati hati sama Miyu, bisa gawat kalo gua kambuh tiba tiba kek gini,' Batin Leon panik panik, ia tak menyadari kalau ia juga sudah mulai menyukai Yuki.
"Loe mau apa? Mau beli apa?" Tanya Leon padanya.
"Apa ya? Kita liat liat kesana aja. Lagi weekend gini mah, banyak makanan kan?" Tanya Yuki sambil menarik tangannya.
"Jadi mau jajan aja?" Tanya Leon balik padanya.
"Jajan aja, yang penting abisin waktu sama kamu. Oke? Kamu harus nurut sama aku, siap?" Jawab Yuki tersenyum licik, Leon punya firasat tidak enak tentang ini.
Yuki menarik tangan Leon dan mengajaknya kemana mana, kemana saja. Yang penting hanya berdua.
"Pake ini. Harus nurut, gak boleh gak nurut!" Titah Leon padanya. Leon bengong tak percaya, setelah Yuki menempelkan stiker, kini ia harus memakai bando anjing pula?
"Yu, gua malu diliatin orang banyak..." Ucap Leon berbisik di telinga Yuki.
"Ya ampun, gak papa. Gak usah malu, kamu ganteng kok." Jawab Yuki tersenyum puas.
Leon menutup wajahnya dengan kedua tangannya, tapi Yuki berusaha membuka wajahnya lagi.
"Jangan ditutup, gantengnya gak keliatan." Ucap Yuki melarang Leon melakukannya.
"Yaudah, kalo kamu deg²an gitu, pegang tangan aku, biar gak malu malu amat."
Setelah satu jam berkeliling, Leon akhirnya duduk karena ia kelelahan. Ia tak pernah berjalan jalan selama itu, apalagi matahari yang sedang terik menyengat menembus kulit putihnya. Sebagai permintaan maaf Yuki, ia pergi mencari air segar untuknya.
"Haah... Untung asma nya gak kumat... Hampir aja..." Gumam Leon lega.
Ia celingak celinguk mencari Yuki dan ingin memintanya untuk segera menyelesaikan jalan jalannya karena ia sangat pusing dan mual. Tapi Yuki belum kembali lagi dari sejak lima menit yang lalu. Leon terus melihat jam tangannya, menunggu Yuki. Apakah akhirnya Yuki meninggalkannya?
Apalagi Leon malu karena bando nya, orang orang memperhatikannya karena lucu dan gemas. Leon kembali menutup wajahnya karena memerah.
"Nih, minumannya. Kamu pasti haus buanget kan sambil nungguin aku?" Ucapnya pada Leon, ia menyesal karena berlama lama meninggalkan Leon sendirian.
"Lama." Ketus Leon mendelik padanya.
"Ya, maapin kan... Buat meraih dia aja susah banget. Banyak yang ngantri juga karna katanya enak dan seger." Ucap Yuki duduk di dekat Leon.
"Padahal apa aja bisa loe beli, gak usah yang lagi trend kayak gini. Es jeruk juga jadi," Jawab Leon menerima minuman itu dari tangan Yuki.
"Es jeruk mulu. Tadi aku sempet kesusahan karna kamu ngasihnya kartu item, jadi si amang nya juga bingung, makannya aku lama tadi,"
"Oh gitu? Kenapa gak minta yang cash?" Tanya Leon padanya.
"Lah iya juga ya? Aku gak kepikiran, Hehehehe, gak papa deh. nanti lagi aja." Jawab Yuki sambil meneguk minuman itu.
Leon tiba tiba bersandar di bahunya dan bermanja padanya. Ia mengeluh kalau ia sudah lelah dan pusing. Yuki pun membelalakkan matanya kaget, ia lupa kalau suaminya ini mudah kelelahan.
"Yaudah, kita pulang ya? Jangan pingsan dulu," Ucap Yuki sambil mengusap peluh di dahinya.
"Mana ada gua pingsan," Dalam hati, Leon bersorak gembira karena akhirnya bisa pulang dan melepas bandonya itu.
Setelah pulang, Leon langsung pergi ke kamarnya dan membaringkan tubuhnya yang ringkih itu. Ia pikir menjalani pernikahan di usia muda tidak seburuk yang ia bayangkan. Ia bahkan bisa bebas melakukan apapun, ia tidak perlu mendapat teguran lagi dari kedua orang tuanya, bahkan kakak dan kembarannya.
"Yeon~ Kita mau pake baju apa nanti malem?" tanya Yuki yang ikut naik ke kasur.
"Seterah, yang penting gak pendek dan sexy, cukup buat gua." Jawab Leon yang tetap memejamkan matanya.
"Beneran cuma itu doang? kenapa gak boleh yang pendek pendek?" tanya Yuki lagi, memancing apakah suaminya ini peduli padanya atau tidak.
"Ya loe pikir aja sendiri, boleh emang pake baju pendek? Loe mau buka aurat loe depan cowok lain? Nanti dosa loe ngalir juga ke gua karna gua tanggung jawab loe," Jelas Leon panjang lebar. Yuki tertawa dan menarik Leon agar menghadap dirinya.
"Masa sih? Yang bener...?" Yuki mencoba menjadi buas terhadap Leon, ia menyentuh dadanya perlahan, membuat Leon memerah dan malu.
"Loe apa apaan kayak gini?!" Tanya Leon kaget.
"Kan gak boleh buka aurat depan cowok lain, kalo cowok nya kamu boleh kan?"
"Bentar! Miyu! Gak lucu! Awas! Turun! Gak lucu Miyu!!!!"
Yuki semakin ingin menjaili suaminya itu yang semakin memerah karena ia terus menyentuh dadanya yang bidang.
"Haah... Haah... Haah... Miyu... Gak boleh... Haah... Haah..." Pinta Leon yang sudah tidak kuat.
Yuki akhirnya berhenti dan tertawa terjungkal jungkal melihat Leon yang sudah pasrah begitu. Padahal ia baru saja menyentuh dadanya, tapi Leon sudah bereaksi begitu.
Leon yang tidak terima karena di cabuli Yuki begitu akhirnya ia berada di atas Yuki karena Yuki yang memancingnya duluan.
"Loe... Udah buat gua runtuh... Loe kudu tanggung jawab," Ucap Leon yang sudah memerah.
"Y,yeon?! K,kamu... kenap-- Aaahh!!!"
Leon terjatuh di atasnya, membuatnya panik, kenapa Leon begini? Ia mencoba membangunkan Leon tapi tidak ada respon darinya.
Yuki pun membalikkan tubuh Leon agar ia bisa melihat Leon kenapa. Ternyata Leon tidak sadarkan diri dengan wajah yang memerah. Yuki kesal, bagaimana mereka akan melakukan 'Itu' Jika Leon yang baru saja di sentuh sedikit akan pingsan begini?!
Kenapa Yuki buas begitu?
Bersambung...