My Cold Friend Is My Husband

My Cold Friend Is My Husband
Chapter 12. Sakit



Setelah sampai di rumah...


Leon langsung mengambil tempat duluan setelah melepas jaketnya. Ia tidak mau melepaskan guling yang langsung ia peluk.


"Eh?! Kenapa nih?" Tanya Yuki sambil tersenyum heran.


"Ini milik gua, ini juga milik gua, selimut juga milik gua." Jawab Leon yang mengambil semuanya.


"Yah... Yeon serakah, kenapa di ambil semuanya??? Aku juga mau tidur disitu..." jawab Yuki yang ikut naik ke kasur.


Ia memandangi Leon yang pura pura tertidur agar tempatnya tidak dicuri Yuki. Yuki yang kesal langsung menggoyang goyangkan tubuh Leon dengan lembut, sangat lembut sampai rasanya seperti di empok empok.


"Yeon... Itu tempat aku... Pindah tempat gih,"


"Mmmh... No." Tolak Leon mentah mentah.


"Bukannya harusnya laki yang jagain cewek biar gak jatoh dari kasur? Kamu biarin aku jatoh ke bawah? Gituh?" Tanya Yuki yang diberi anggukkan oleh Leon.


"Kenapa...? Aku kan suka mojok ke tembok, itu ngurangin biar kamu gak ke tendang sama aku,"


"Akhirnya loe nyadar ya? ****** gua loe tendang kemarin malem!" Seru Leon kembali memerah.


Deg!


Yuki memerah karena malu. Benarkah? Tidak mungkin ia menendang ****** seorang Leon yang agung.


"Boong! Yeon, kamu gak boleh boong, kamu sengaja kayak gitu biar aku bobo di pinggir kan?"


"Hah! Buat apa gua boong? Mau masang cctv biar ada bukti? Kalo iya mau apa?" Tanya Leon yang tak tahan dengan sikap sok polos Yuki.


"Uuuh... kan ada guling yang jadi penghalang," Jawab Yuki tetap menolak.


"Guling, guling. gak ngaruh! Dahlah," Leon mengakhiri percakapan tak jelas nya dengan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


"Aaah... Yeon... Aku mau disitu..." Pinta Yuki sambil merengek, Leon mencoba mengabaikan permintaan Yuki.


"Aku minta maaf deh, aku gak mau bobo di lantai, dingin. Nanti kalo aku masuk angin, siapa yang bakal bikinin sarapan pertama kamu coba?"


Leon kembali membuka matanya perlahan. Tidak bisa di pungkiri, akhirnya ia menyerah karena tidak bisa menolak lagi.


"Cepet tidur sana," Titah Leon mendengus kesal.


"Ehek... makasih dedek Yeon, Saranghaeyo! Aku cinta kamyuuuuu... Much, much, much,"


"Ck, Jijik." Ketus Leon yang membuat Yuki kembali diam.


Yuki juga akhirnya mengambil selimutnya dan tidur menghadap tembok. Ia mencari posisi nyaman agar bisa tidur pulas, sebisa mungkin ia tidak akan menendang ****** Leon yang agung lagi. Kebiasaannya kecil tak bisa dihilangkan begitu saja.


'Kok angin malem nya bikin nusuk kulit? Gua dingin....' Batin Leon sambil mengusap usap tangannya.


Ia benar benar tidak mau Yuki sampai tahu hal besar ini. Sebisa mungkin ia tetap menyembunyikannya.


Sampai tiba keesokkan harinya...


Yuki terbangun lebih dulu karena merasa tidak enak, saat ia membuka selimutnya, ia terkejut karena ada bercak merah di kasurnya.


Secepatnya ia pergi ke kamar mandi dan mengganti semuanya. Ternyata ia kedatangan tamu tak di undang. Si merah datang hari ini, dan ia tak bisa melaksanakan shalat berjama'ah pertamanya bersama suami gemeznya.


"Aaah... kecewaaaa... kenapa kamu dateng sekarang sih? Nanti aja napa... Aku gak bisa shalat bareng Yeon, jahat banget sih..." Gumam Yuki yang terus berceloteh di kamar mandi.


Ia sadar kalau ia tak bisa berlama lama mandi di rumahnya, pasti saat keluar ia akan di omeli Leon lagi karena kelamaan di kamar mandi. Tapi... Saat keluar dari wc, ia tak melihat leon dengan baju koko nya lagi, Leon malah tidur lelap di atas kasur empuknya sambil di baluti selimut tebal dan hangat.


"Yeon... Bangun... Shalat subuh, " Ucap Yuki pelan pelan agar tak membangunkan Leon. Ia nampak mengernyitkan dahinya saat melihat Leon menggigil dan berkeringat dingin.


"Yeon! Kamu kenapa? Kamu sakit?! Astaghfirullah, badan kamu panas! Sepanas kompor gas baru mamah! Seru Yuki panik.


"S,ssyyuuut... S,suara loe berisik... banget... huuuh... " Jawab Leon yang membuka matanya sedikit.


Saat Yuki pergi, ia menghirup inhaler nya dan kembali menyembunyikannya di balim selimutnya. Asma nya sudah kambuh dari jam 1 malam, namun ia tak bisa membangunkan Yuki untuk dimintai tolong.


"Huuh... Huuh... Huuh..."


"Tenang ya Yon, aku bakal rawatin kamu," Ucap Yuki sambil tersenyum miris melihat keadaan Leon, padahal mereka baru saja berdebat tadi malam dan leon masih dalam keadaan baik baik saja.


"Loe... Sekolah... Aja... Gua... gak papa..." Jawab Leon terbata.


"Iya, aku bakal nurut sama kamu. Tapi aku bakal temenin kamu dulu, ya? Aku udah beliin bubur sama obat, aku gak bisa bikin bubur sekarang karena waktunya mepet. aku bantu duduk ya? Kuat gak?" Tanya Yuki setelah menempelkan Bye bye fever pada dahi Leon.


Sebisa mungkin Leon duduk dan menyandarkan tubuhnya. Napas nya agak memberat, ditambah wajah yang sangat memerah bagai bom yang sebentar lagi akan meledak.


"Di aduk jangan?" tanya Yuki pada Leon, ia hanya mengangguk lemas.


"Buka mulutnya, aaaa..." Intruksi Yuki sukses membuat leon membuka mulutnya.


Baru juga tiga suap, Leon sudah berhenti dan mogok makan.


"Kenapa? Lagi, ini masih banyak,"


"Kenyang..."


"Gak ada kata kenyang di rumus aku, makan setidaknya lima suap. Kamu baru makan tiga suap, berarti harus makan dua suap lagi," Ucap Yuki berusaha agar leon makan lagi, namun ia menggelengkan kepalanya.


"Mual... Uhuk uhuk,"


"Hmm... Yaudah, aku gak akan maksa kamu lagi, yang penting kamu udah ngisi perut biar bisa minum obat," Jawab Yuki sambil tersenyum.


"Bentar lagi... jam tujuh..." Kata Leon terbata.


"Tau kok," Jawab Yuki datar.


"Loe gak takut dihukum?" Tanya Leon heran.


"Nggak tuh, kenapa harus takut? Aku udah biasa di hukum yon... Cuma baru baru ini aja aku jadi rajin gara gara kebawa bawa sama kamu, sekarang kamu nya sakit. Jadi aku bakal dihukum lagi," Jawab Yuki lagi sambil memasang wajah imut di depan Leon.


"Huufffttt... Berangkat aja. Gua udah mendingan," Ujar Leon agar yuki tidak kesiangan.


"Siap pak boss," Kata Yuki sambil hormat pada Leon.


Saat hendak pergi, Yuki memberi tahu Leon bahwa dirinya kedatangan tamu merah, jadi ia menyuruh Leon untuk beristirahat di kamar sebelah dulu agar nantinya ia bisa membereskan bekas merah itu.


Di luar rumah...


Yuki siap siap mengikat tali sepatunya dan lompat kecil.


"Huuh... Mari maraton," Gumam Yuki serius.


Ia menyiapkan kakinya, memasang ketika ia akan lomba maraton dan akhirnya berlari sekencangnya layaknya atlit maraton.


Satu menit saja ia terlambat, ia akan mendapat amukan dari Gibran si ketua osis galak. Beruntung kecepatan berlarinya masih utuh seperti dulu.


"Halo kakak gibran... Aku gak telat kan?" Sapa Yuki sambil tersenyum.


Gibran hanya memerhatikan Yuki dari atas ke bawah. Ia lalu membuang napas kasar dan merapihkan tali sepatu yang sepertinya sedari tadi terlepas.


"E,eh?! Kakak! Jangan kak, gak sopan kalo aku kayak gini ke kakak, lepasin aja." Ucap Yuki merasa tak enak.


"Kalo kamu mau di pandang baik, jangan lupa liat penampilan dari atas sampe bawah."


'Eh?! ucapan kak gibran kayak deja vu,' Batin Yuki terdiam.


Bersambung...