Mr. Jungkook's Naughty Wife

Mr. Jungkook's Naughty Wife
BAB 69



Perlahan mata Yuna kembali terbelalak ketika ia melihat sebuah ruangan bertuliskan nama Gerld di sana.


"Ada apa?"tanya pria di sampingnya tanpa merasa apa pun.


"Serius? Kamu pemilik rumah sakit ini?"


Gerld menggeleng,"Milik keluarga!"


"Wahh luar biasa!"ujar Yuna menutup mulutnya.


"Kenapa? Bukankah tidak ada yang istimewa."


"Tidak ada?"


"Iya, ini sudah dari dulu."


"Keren!"


Jujur saja Yuna merasa tidak menyangka, benar kata orang bahwa orang kaya sesungguhnya tidak akan menghamburkan uang hanya untuk bersenang-senang bahkan mengakui bahwa ia kaya saja tidak pernah.


"Kalau begitu saya antar ke rumah, matamu masih harus istirahat dan jangan sampai terkena debu."ujar Gerld.


Pada saat ini yang wanita itu tangkap hanya kembali pulang untuk mencari tahu secara menyeluruh tentang keluarga Gerld, ia terlalu menganggap enteng.


"Terimakasih sudah mau mengantar pulang, permisi."ujar Yuna pergi.


Di dalam kamarnya Yuna segera mengambil laptop untuk menelusuri setiap detail keluarga Gerld.


"Astaga!"pekik Yuna terjungkal ketika ia berhasil melihat semuanya.


"Ini serius? Dia anak pengusaha.."


Tolong berikan Yuna napas tambahan karena saat ini ia sudah kehabisan napas melihat latar belakang keluarga Gerld.


Kalian selalu melihat drama orang kaya di televisi bukan jika anaknya dekat dengan wanita beda kasta maka mereka akan memberikan uang yang cukup besar. Tepat sekali seperti hal tersebut juga terjadi pada keluarga pria itu jika memang tidak cocok menurut mereka.


"Ada apa Yuna?"


"Tidak ada."


"Bagaimana dengan matamu? Apa yang dokter katakan?"


"Hanya iritasi karena debu dan layar handphone."


"Oh begitu, baiklah."


Sementara di lain tempat Gerld tengah mencari di internet tentang Yuna dan Jungkook yang tidak pernah ia temui titik terangnya.


Apakah Gerld menyukai Yuna? Jawabannya tidak tahu karena ia tidak pasti. Selama hidup tidak pernah ada wanita lain selain Ibunya jadi masih menjadi pertanyaan apakah pria itu menyukai janda anak satu tersebut.


Bagi Gerld status apa pun yang di miliki oleh wanitanya nanti itu tidak penting selama mereka saling mencintai dan setia tentunya.


"Gerld, makan cepat!"


Bergegas pria itu berlari menuju lantai bawah dengan anak tangga tiada habisnya.


"Kenapa kamu tidak pakai lift saja?"


"Berolah raga."jawab singkat dari Gerld yang membuat kedua orang tuanya menggeleng.


"Bagaimana dengan Alea apa dia sudah mengandung?"


Wajah Gerld seketika berubah,"Mengapa tiba-tiba bertanya soal ini? Bukankah seharusnya tanya pasa orang yang bersangkutan."


"Kenapa kamu jadi seperti ini semenjak Alea menikah? Sudah di beritahu untuk melamar wanita itu, keluarga kita sangat suka dengannya tapi kenapa merelakan dia menikah dengan orang lain?"


Dalam hati Gerld mendumel bahwa beruntungnya ia tidak menikah dengan Alea karena bisa-bisa hidupnya tidak tenang. Perubahan selalu ada pada setiap orang tapi Alea sudah sangat keterlaluan, merebut suami orang lain.


"Katanya dia menikah dengan Jungkook yang kembali dari kematiannya. Apa itu benar? Kamu melihat sendiri sosoknya kan?"


Nafsu makan Gerld seketika hilang jika banyak orang bertanya soal Alea bahkan suami yang sudah menyakiti istri dan anaknya hanya untuk menikah dengan wanita lain.


"Bisakah kita makan saja? Jangan membahas keluarga orang lain apalagi Alea. Aku sungguh muak mendengar namanya, hubungan kami juga tidak lebih dari teman."


"Kenapa? Kalian itu sahabat dari kecil."


Gerld membawa piring berisikan makanan di sana untuk melanjutkan di tempat yang tenang tanpa ada nama dua orang menjijikkan itu.


Taman rumah tidak jauh dari dapur, sambil melihat ikan Gerld menyantap kembali makanan yang masih tersisa banyak.


"Ada masalah apa?"suara serak nan menenangkan datang pada waktu yang tepat.


Gerld menggeleng, ia tidak mau menceritakan masalahnya pada sang Ayah.


"Coba cerita, tapi selesai kamu makan. Boleh?"


Gerld menggeleng cepat,"Tidak ada masalah besar, hanya saja Mama selalu menceritakan tentang Alea yang seharusnya menikah denganku. Bukankah Alea bahagia menikah dengan suaminya yang sekarang meski.."


"Meski?"


"Tidak ada, jangan terlalu di pikirkan."


"Boleh, apa?"


"Nanti datang ke ruangan kerja."


"Baik."


Menyelesaikan masalah perut kini pria itu berjalan menuju ruang kerja Papa nya yang berada di lantai tiga, dengan terpaksa ia menggunakan lift karena jaraknya jika menaiki anak tangga.


"Ada apa, Pa?"


Gerld di suguhi oleh setumpuk berkas di atas meja,"Papa tidak bisa memecahkannya, tolong kamu cek."


"Baik."


Pria bertampang tampan tersebut mengambil balpoin dan kertas untuk menuliskan setiap masalah yang terjadi pada setiap berkas untuk di sempurnakan.


"Ada beberapa kesalahan, Papa bisa cek ini aku sudah memberikan tanda."


"Baik, kamu memang yang terbaik."


Gerld tersenyum senang bisa membantu orang- tuanya menyelesaikan masalah.


"Kamu memang cocok jadi seorang CEO di perusahaan, apa kamu tidak tertarik untuk menjad.."


"Tidak, hanya menolong saja. Papa tahu apa yang Gerld inginkan dan saat ini aku sedang berada di pekerjaan yang memang aku inginkan."


Seorang Ayah hanya bisa menerima keputusan anaknya tanpa menghakimi atau memaksa harus sesuai dengan apa yang di ingikan.


"Baik, kamu memang melakukan keduanya dengan baik. Papa bangga dengan kamu yang mau berjalan di jalanmu sendiri."


"Terimakasih atas dukungannya."


"Bagaimana harimu menjadi dosen?"


"Menyenangkan, para mahasiswa sangat antusias akan pelajaran."


"Tentu saja karena dosennya tampan dan muda, jangan lupakan bahwa kamu sangat pintar."


Anak dan Ayah tersenyum mengembang ketika membahas masalalu mereka. Begini rasanya memiliki Ayah yang selalu mendukung dan ada di balik layar anaknya untuk tetap maju.


"Bagaimana apakah ada yang kamy sukai di sana?"


Pertanyaan menyesatkan dari Ayahnya membuat Gerld terdiam sambil berpikir.


"Pasti ada!"


"Tidak ada!"


"Jujur saja, Papa bisa melihat bahwa kamu memang mencintai salah seorang di sana. Benarkan? Saya ini Papamu wahai anak muda!"


Gerld tersenyum,"Sepertinya ada, dia seorang janda yang memiliki satu orang anak. Apa Papa ada masalah jika aku.."


Tepukan tangan pada Gerld membuat pria itu tersenyum,"Boleh?"


"Tentu, semua orang berhak di cintai. Boleh cerita mengapa dia bisa menjadi seorang janda? Apa suaminya meninggal?"


"Dia di tinggalkan hanya untuk menikah dengan wanita lain yang lebih kaya."


"Astaga ternyata ada yang seperti itu, lain kali kamu bawa dia ke sini boleh?"


"Bisa saja, tapi dia tidak akan mau."


"Mengapa?"


"Yuna sangat pemalu."


"Oh, namanya Yuna?"


"Iya."


Obrolan pria memang agak lain, mereka sampai lupa waktu membuat keduanya di marahi oleh Nyonya di rumah tersebut untuk segera tidur.


"Ayolah, kalian besok harus bekerja!"


Gerld tersenyum senang melihat kedua orang- tuanya saling mencintai satu sama lain.


"Kamu tidur, kenapa masih melihat kemari. Mau Mama yang menidurkanmu?"


"Tidak, tidak!"


Gerld memilih untuk menggunakan anak tangga, berjalan perlahan hingga sampai di depan kamarnya berada. Rumah megah yang hanya di isi tiga orang dengan beberapa pelayan tanpa ada tangisan seorang anak membuat istana itu seperti kastil kosong.


"Cepat berikan Mama cucu agar rumah ini bisa ramai, mengerti Gerld?"


Baru saja berpikir dalam isi kepala ternyata sudah bisa di tebak hebat oleh Ibunya, memang yang terbaik.


"Doakan saja."gumam Gerld perlahan tanpa di dengar Ibunya.