
"Memangnya Nona hendak memberikan apa untuk Tuan?"tanya Jimin yang tengah menyetir.
Yuna tersenyum,"Sebuah kue yang menurutku dia akan suka, tapi sayangnya aku melupakan hal itu."
"Satu minggu Nona melupakannya pantas saja Tuan seperti itu, apa sebelumnya Nona sadar?"
"Tidak, aku seorang pelupa bagaimana bisa mengingatnya. Ah sialan sekali!"
Sepuluh menit setelah obrolan itu berlangsung Yuna kini meminta Jimin untuk menepi di salah satu toko kue yang terlihat mewah.
Sebetulnya yang ingin di beli cukup sederhana namun pria tersebut sangat menyukainya.
"Apa ada pancake durian?"tanya Yuna pada pelayan di sana.
Pelayan tersebut menggeleng menandakan bahwa apa yang ia inginkan sudah terjual habis.
"Apa bisa membuatnya dulu atau dimana ada toko yang menjual hal serupa? Saya mohon."
"Sebetulnya sudah tidak ada lagi toko yang menjualnya hanya ada di sini, kalau begitu saya tanyakan dulu."
Yuna mengangguk,"Baik terimakasih."
Lima menit pelayan tersebut pergi hingga akhirnya kembali membawa kabar gembira.
"Baik, di tunggu di sebelah sana."
"Kalau boleh tahu membutuhkan waktu berapa jam atau menit?"
"Hanya dua puluh menit, mohon di tunggu."
Syukurlah masih bisa, Yuna merasa tenang sekarang karena Jungkook akan berhenti marah kepadanya.
Singkat cerita pancake yang di inginkan Yuna sudah selesai di buat, ia segera membayar serta meminta di bungkus dengan rapi seperti memberikan hadiah.
"Silahkan Nona."
Semuanya selesai, waktunya mereka pulang ke kediaman. Ketika di tengah perjalanan ada panggilan dari Jungkook yang membuat Jimin menepi terlebih dahulu, ia mengangkat panggilan tersebut sebelum melanjutkan perjalanan.
Yuna tidak bisa menguping dengan jelas hanya samar mendengar bahwa Jungkook akan menemui orang tuanya, apa dia sudah gila?
"Ada apa Jimin?"
"Biar nanti Tuan yang menjelaskan."
Mobil kembali berjalan sampai pada akhirnya tiba, Yuna menghela napas gusarnya sebelum menemui Jungkook yang tengah terduduk di ruang tamu.
Yuna tersenyum, membawa bingkisan di tangannya kemudian duduk di samping pria tersebut.
"Maaf, waktu itu aku lupa akan hadiah yang aku janjikan. Kali ini aku terlambat untuk mengingatnya, ini hadiah yang aku janjikan kepadamu."
Jimin yang melihat dari kejauhan tersenyum.
"Ayo terima saja Tuan, Nona hanya terlupa karena pekerjaan kuliahnya bukan berarti melupakan Tuan. Disa berjuang untuk mendapatkannya, dan lihatlah hadiah apa yang ia bawa itu."
Yuna mengangguk,"Kamu akan suka, bukalah."
Jungkook luluh, ia membuka kotak yang di bawa oleh Yuna tercium bau harum semerbak yang mampu membuat pria itu menoleh.
"Apa ini? Durian?"
Ketika di buka senyum indah Jungkook tergambar dengan indah, menatap pancake tersebut bergantian dengan Yuna.
"Betulkah? Kenapa kamu masih ingat?"tanya Jungkook terkejut.
"Tentu."
Yuna menatap Jungkook dengan mata berbinar seakan penuh dengan cinta.
"Terimakasih."
Kesalah pahaman di antara mereka akhirnya selesai dengan senyuman mengembang, namun masih ada satu hal yang di khawatirkan oleh Yuna saat ini tentang percakapan antara Jimin dan Jungkook yang dapat di tapsirkan bahwa itu tidak baik karena terlihat dari raut wajahnya.
"Apa aku boleh bertanya?"tanya Yuna membuat Jungkook terdiam.
"Tentang apa?"
"Tentang percakapan kalian, apa kamu akan kembali ke keluargamu?"
"Hm.. Aku akan mengatakannya."
Jujur Yuna tidak bisa membiarkan hal tersebut karena takut Alea mengetahui lalu meminta untuk menikah. Bagaimana dengan keluarga kecil mereka?
"Bagaimana kalau kita tidak bisa bersama?"
Jungkook meraih pergelangan tangan Yuna,"Aku hanya berbicara saja bukan berarti akan melakukannya sekarang ini. Perusahaan tidak ada yang menjabatnya, hanya Ayah saja. Jika mereka tahu aku masih hidup mungkin mereka akan bahagia lalu membiarkan aku untuk menjalani hidup sesuai keinginan."
Yuna memanyunkan bibirnya, ekpresi wajahnya berubah."Aku tidak mau kehilanganmu lagi, tahukan di sana ada Alea yang bisa kapan saja mencelakai serta menikah denganmu. Bagaimana dengan kami?"
Yang di katakan Yuna memang ada benarnya juga, tapi harus bagaimana lagi tidak mungkin Jungkook terus bersembunyi dari kedua orang- tuanya. Sebelum hal itu terjadi Jungkook akan memastikan bahwa semuanya benar selesai.
"Tenanglah Yuna, aku tidak akan gegabah. Kali ini aku hanya akan melihat saja, lagi pula mereka tidak akan senang karena aku sudah tidak bisa berjalan."
"Jungkook dengarkan, kamu masih bisa berjalan. Semangat jangan pantang menyerah seperti ini aku akan selalu ada di sampingmu, tapi aku mohon jangan pergi begitu saja. Kamu tahu mereka tidak menyukaiku lagi, lalu bagaimana bisa mereka menerimanya."
"Yuna, aku janji semuanya akan baik-baik saja."
"Tap-"
"Jangangan terlalu khawatir seperti itu, tenanglah cantik. Lihat dulu anakmu sana apakah dia membutuhkan susu atau tidak, Ayahnya sudah penuh dengan kasih sayang sekarang saatnya dia."
Yuna menatap mata Jungkook dengan penuh ancaman,"Awas saja kamu!"
Bukan tidak suka orang tua Jungkook tahu keadaannya yang sehat, Yuna hanya khawatir Jungkook tidak akan bisa bahagia atau mengambil keputusan seperti kala itu.
"Baik, aku pergi ya."
Di kamar Seol, Yuna melihat anaknya tidak rewel bahkan masih tertidur. Sayangnya hal tersebut tidak terlalu baik untuk bayi, maka dari itu ia segera membangunkan untuk minum susu meski dari formula.
"Ah bagaimana bisa kamu begitu baik, tidak menangis sedikit pun. Anakku memang sangat baik, terimakasih sudah mengerti."ujar Yuna.
Besok adalah hari pertama Jungkook melakukan terapi di rumah sakit, tapi sayang waktunya bersamaan dengannya kuliah. Mungkin hanya Jimin yang bisa sedangkan anaknya akan di asuh oleh sang Ibu.
Mata Yuna mulai merasa kantuk bersamaan dengan anaknya yang ada di gendongan, perlahan ia menidurkan kembali dengan dirinya yang terbaring di samping.
Baiklah tidur sebentar karena anak bayi akan terbangun ketika malam. Bukan begitu para Ibu?
Sekitar pukul delapan malam akhirnya Yuna terbangun dari mimpi indahnya, tebak apa yang sudah wanita itu jalani di alam mimpi? Keluarga yang bahagia.
Melihat seisi rumah nampak sepi Yuna segera mencari Jungkook sampai batang hidungnya terlihat. Pria itu tengah berada di kolam berenang bersama dengan Jimin di sana, entah membicarakan apa dengan wajah serius.
"Bagaimana perkembangan perusahaan?"
Suara samar itu yang dapat Yuna dengar selebihnya tidak tahu.
"Apakah mereka mengetahui bahwa aku masih ada?"
"Tidak Tuan, hanya saja Nona Alea selalu mencari. Apa mungkin dia tahu?"
Jungkook menggeleng,"Tidak ada yang tidak mungkin bagi dia, jangan biarkan dia tahu bahwa aku ada di sini."
Tidak sengaja Yuna menyenggol vas bunga yang berada tepat di sampingnya hingga terjatuh dan mengeluarkan suara yang mampu membuat kedua pria tersebut menoleh secara bersamaan.
"Yuna?"
"Nona!"
Pada akhirnya mereka menjelaskan semuanya pada Yuna tentang kecelakaan yang di rencanakan oleh Alea, untungnya Jungkook pintar sampai membuat rencana lain seperti saat ini.
Yuna tidak heran dengan wanita sombong bernama Alea, terlihat jelas di raut wajahnya tergambar bahwa ia tidak mau ada yang duri dalam perjalanan.
"Aku tahu kalian berjaga, tapi jika memberitahu keluarga itu sama dengan bohon. Bukankah wanita itu akan meminta menikah kembali lagi pula keluarga mereka pemilik saham terbesar."
"Aku rasa seperti itu, tapi.."
"Tenang Yuna, jangan cemas. Kembali saja istirahat dan jaga anak kita."
"Aku percaya pada kalian, tapi jangan lupa untuk besok Tuan."ujar Yuna sebelum ia pergi.
Setelah Yuna pergi Jungkook mengeluarkan satu kalimat terakhir,"Tolong jangan biarkan Yuna tahu secara menyeluruh cukup sampai di sana. Selebihnya hanya kita saja, mengerti?"
"Baik Tuan."